Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Pengkhianat


__ADS_3

Didalam pelukan Chandra, Andini merasa begitu nyaman. Seperti mendapatkan sebuah benteng untuk dia berlindung. Sedangkan Chandra dihatinya dia merasakan adanya kehangatan yang hanya bisa dia dapatkan dari Andini seorang. Dan tanpa keduanya sadari setiap momen yang mereka lewati selalu ada yang mengabadikannya.


.


.


Chandra melepaskan pelukannya dan kini mereka sedang berhadapan. Matanya tidak pernah jenuh menatap Andini dengan tatapan cinta.


"And.. "


"Iya.."


"Tunggu sebentar disini kakak akan mengambil sesuatu, ok !"


"Siap tapi jangan lama," ucap Andini sambil cemberut.


"Iya.." Chandra membalasnya dengan senyuman.


Sepuluh menit kemudian namun Chandra masih belum menunjukan batang hidungnya. Sedangkan matahari akan semakin tenggelam, dan hari akan berganti malam. Andini tetap diam disana memandangi keindahan dunia yang ada disaat-saat tertentu.


Tiba-tiba saja Chandra duduk disebelahnya, ternyata dia pergi untuk mengambil sebuah gitar.


"Ka, kamu mau apa ?" tanya Andini.


"Satu hal yang tidak kamu tahu And, satu hal yang tidak pernah kamu tulis tentangku dalam diarymu adalah tentang musik. Aku bisa memainkan gitar ini, kamu mau mendengar aku bernyanyi ?"


"Tapi hari sudah semakin gelap, mungkin disini akan..."


"Apa kamu tidak mau mendengarkan suaraku, apa kamu khawatir suaraku fals, hmm.."


"Kakak ingin bernyanyi ???" Chandra mengangguk.


"Untukku ??" Chandra juga menjawab dengan anggukan.


"Baiklah.." Andini merangkul tangannya dan menyenderkan kepalanya di bahu Chandra.


Chandra mulai memetikkan senar-senar gitarnya setelah memasuki intro barulah dia mulai bernyanyi,


I miss you already


And you're not even gone


I wanna call you


We just hung up the phone


I wrote you a letter


And i threw it away


No matter how small i write it


There's always so much more to say


I'm not sayin' it's a competition


All I'm sayin' is..


I love you more than the bad days ahead


I love you more than the nights that we ended with slamming doors


Oh i love you more


There will be times when you heart will forget

__ADS_1


So I'll say it over and over again


So you know for sure


Darlin' i love you..


More than my bad jokes


That i take too far


You roll your eyes and then smile


'Cause you know that that's just who you are


I'm not sayin' that i'll soon be changing


All i'm sayin' is


I love you more than the bad days ahead


I love you more than the nights that we ended with slamming doors


Oh i love you more


There will be times when your heart will forget


So i'll say it over and over again.


So you know for sure


Darlin'i love you more


Doo doo doo. 34 kali


I'll love you more as the years pass us by


And you'll know for sure.


I love you more than the bad days ahead


I love you more than the nights that we ended with slamming doors


Oh i love you more


There will be times when you heart will forget


So I'll say it over and over again


So you know for sure


Darlin' i love you more....


I love you more..


I love you more.


Andini mendengarkan dengan begitu menghayati makna lagu tersebut, suara indah nan merdu milik Chandra mampu menenangkan hatinya yang masih sedang bergemuruh.


Tak terasa lagu itu sudah usai dinyanyikan oleh Chandra dan tak terasa langit sudah mulai menggelap. Matahari sudah beristirahat ditempatnya dan bekerja di tempat yang lainnya.


Kepala Andini masih setia bersandar di bahu Chandra. Tangannya masih melingkar di tangan Chandra seperti perangko yang senantiasa menempel pada kertas. Chandra merasa sangat bahagia, setidaknya dia bisa membuat Andini nyaman di sandarannya.


"Ka, suaramu merdu sekali. Aku baru mendengar suara yang begitu syahdu dan membuatku ingin mendengarnya lagi."


"Benarkah, bagus kalau begitu. Aku selama ini selalu menyembunyikan suara ini. Karena dulu saat aku masih remaja, aku selalu berangan-angan, aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang yang akan menemaniku hingga akhir hayatku. Aku tidak pernah tampilkan suaraku kepada siapapun dan hanya ayahku yang tahu itu."

__ADS_1


Andini mengulum senyumnya merasa bahagia karena dialah orang yang Chandra maksud.


" Ka, kalau boleh tahu lagu itu apa artinya ?"


"Kamu tidak tahu artinya ?" tanya Chandra. Andini hanya mengangguk, memberikan tanda 'ya'.


"Artinya aku mencintaimu."


"Benarkah ?"


"Iya, i love you artinya aku mencintaimu."


"Aku mencintaimu juga," ucap Andini sambil menatap Chandra secara lekat.


Chandra menoleh kemudian menyunggingkan senyumannya.


"Terimakasih untuk saat ini, untuk tiga belas tahun lalu dan untuk masa depan. Terimakasih, sudah mencintaiku." Chandra mencium kening istrinya itu dan satu tangannya menjentikkan jarinya dan lampu-lampu hiasan mulai menerangi mereka.


"Wooow.. Indahh sekali, aku suka," ucap Andini kegirangan.


"Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita hari ini, mari." Chandra beranjak dari duduknya, dia mengulurkan tangannya dan menarik Andini.


"Mari.." ucap Andini disertai senyuman yang selalu merekah.


Kemudian merekapun menikmati makan malamnya dengan sangat bahagia. Makan malam pertama yang begitu romantis bagi keduanya. Setelah usia pernikahan hampir delapan bulan. Chandra benar-benar ingin menebus segala kesalahannya. Chandra ingin menebus semua air mata yang terjatuh dengan membuatnya selalu tersenyum. Bahkan dia tidak menginginkan air mata, meski itu air mata kebahagiaan.


Beralih ketempat yang dimana hanya ada seorang laki-laki. Dia adalah Rendi, Asisten Pribadi Chandra. Dia terkulai lemas di apartemennya sendiri.


Setelah mendapatkan perintah dari Chandra pagi ini, Rendi segera meluncurkan aksinya. Secara perlahan dia mulai membuat perusahaan Chandra ambruk. Semua itu sudah dilakukannya dengan sangat rapih. Saat melakukannya tak ada setitik pun keraguan dalam dirinya.


Namun kini dia teringat akan almarhum Hermawan yang selalu baik terhadapnya. Pantaskan dia melakukan hal ini ? Tapi jika dia tidak melakukannya maka dia tidak akan tahu siapa dalang dibalik semua ini. Karena menurut informannya Budi hanyalah seorang pengacara dan tidak pernah menjalin hubungan dengan Chandra maupun Hermawan.


Tapi bagaimanapun dia sudah melakukannya, dia adalah seorang pengkhianat yang paling berbahaya.


Dia membaringkan tubuhnya kemudian memijit pelan keningnya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan.


Drrrrttt drttttz..


Ponselnya yang berada diatas nakas sedang bergetar, namun dia menghiraukan hal itu. Kepalanya sangat pusing sekali, otaknya terus saja mencari cara agar dia tidak melakukan apapun yang merugikan dirinya ataupun orang lain..


Drttttttz drrrrrrrrrttttz..


Ponselnya bergetar untuk yang kedua kalinya. Barulah ia mengambil ponselnya itu dan meletakannya pada telinganya.


"Hallo !!" ucap Rendi malas.


"Hallo ! Pak Rendi.."


"Pak Budi ?"


"Saya menyukai kinerja Anda, " ucapnya penuh teka-teki, "Tapi saya lebih menyukai jika Anda langsung membuatnya gulung tikar."


"Semua itu butuh waktu. Bagaimana dengan paman saya ?"


"Tinggal beberapa langkah lagi."


"Cih, kenapa tidak langsung mengeluarkannya saja." Rendi tersenyum sinis.


"Hahaha, Anda membalikan keadaan. Ingat Anda masih punya dua beban. Menghancurkan Perusahaan dan juga hubungan antara Chandra dan istrinya."


Rendi hanya terdiam mendengarkan ocehan Budi, yang entah siapa itu. Dalam pikirannya ingin sekali dia menghajar laki-laki tua itu yang bisa-bisanya memperalat dirinya dengan begitu picik.


"Kau tidak perlu mengingatkan ku, aku akan melakukan apa saja yang sudah aku janjikan."


Tut..

__ADS_1


Rendi menutup telponnya. Sungguh dia adalah seseorang yang sangat jahat, baru saja dia akan memulai hidupnya dengan baik namun ada saja yang membuatnya harus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hatinya.


Bersambung..


__ADS_2