
"Permisi Tuan, saya mengganggu Anda" ucap Doni.
"Iya ada apa Don ?"tanya Chandra.
" Apa yang sebenarnya terjadi. Ah maaf bolehkah saya mengetahuinya mengapa Bik Ijah diusir ?"
"Oh perihal itu" ucap Chandra sambil tersenyum simpul.
"Semua ini karena kesalahan saya Don, saya mengira cinta Andini itu adalah obsesi belaka, dan caranya mendapatkan saya dengan menggunakan trik-trik kotor. Tetapi saya salah dia tidak pernah melakukan trik apapun. Dan malah saya tahu itu ketika saya sudah menyakitinya."
"Apa menyakitinya ?" ucap Doni setengah terkejut.
"Apakah Andini tidak pernah menceritakan tentang saya kepada kalian ?"
"Andini, adalah teman saya tapi untuk mendengarkan curhatannya harus mendapatkan ijin darinya. Dan lagi pula ketika saya bertanya tentang Tuan, dia selalu bilang kalau tuan sangat baik dan jika tuan tidak ada dia selalu bilang kalau tuan sedang sibuk, hanya itu.."
"Benarkah dia selalu bilang seperti itu. Saya tidak menyangka bahwa dia benar-benar menutupi kesalahan saya.." Mendengar itu lagi-lagi membuat Chandra takjub kepada Andini.
"Apa dia sering berbohong seperti itu" tanya Chandra lagi.
"Berbohong ?"
"Ya.. Dia berbohong Don. Selama ini saya tidak pernah berbuat baik kepadanya. Saya menyelingkuhinya dengan Bella sahabatnya. Saya benar-benar menyakitinya."
"Apa ? Jadi selama ini dia menderita akibat Tuan, bukan karena Pak Agas"
"Pak Agas ?"
"Benar tuan, dia selalu menangis tapi dia bilang jika dia sangat mengkhawatirkan papanya. Saya tidak habis pikir tuan jika Anda begitu jahat kepada Andini" ucap Doni dengan sangat geram.
"Saya memang jahat dan saya sangat menyesali itu. Andini adalah wanita yang tidak pantas untuk disakiti. Tapi semuanya sudah terlambat saya benar-benar menyakitinya" ucapnya sambil menundukan kepala, seperti memang sangat menyesali perbuatannya.
__ADS_1
Chandra mengatakan kejadian sebelum Andini koma. Tidak ada lagi yang ditutupinya sekarang, bahkan dia memberitahu siapa Laura itu.
"Sekarang saya sangat menyesalinya Don. Ketika dia sudah koma saya tau bahwa saya sudah kehilangan cinta. Cinta tulus dari seseorang yang tulus mencintai saya. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan sekarang, saya merasa malu ketika saya berada dihadapan Andini, saya tidak bisa menjadi laki-laki terbaik dalam hidupnya."
"Lepaskan saja Andini perlu bahagia Tuan."
"Tidak mudah Don. Hati saya tidak menginginkan hal itu, saya baru menyadari bahwa saya sangat mencintainya, saya tidak ingin kehilangannya. Jika tuhan memberikan saya satu kesempatan setelah Andini sadar, saya ingin saya yang menjadi alasan Andini menjadi bahagia. Saya ingin memperbaiki keadaan ini. Dan juga saya sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan Andini bagaimana pun keadaannya."
"Apapun akan saya berikan untuk Andini Don.. Bahkan meski nyawa saya pun menjadi taruhannya. Saya akan lakukan itu" ucapnya lagi meluapkan segala keinginannya.
" Anda terlalu egois !" Kalimat itulah yang terlontar dari mulut seorang Doni. Tapi tidak membuat Chandra terkejut, dia menyadari bahwa dia memang sangat egois.
"Don untuk kali ini saja saya ingin menjadi egois dan lebih egois, saya benar-benar tidak ingin kehilangan Andini."
"Begini saja dihadapanmu saya janji saya tidak akan menyakiti Andini lagi jika saya menyakiti Andini kamu boleh melakukan apa saja kepada saya asal jangan pernah pisahkan kami" keukeuhnya.
"Aku tidak bisa melakukan itu, karena aku bukan siapa-siapa aku hanya Aspri Papanya. Tidak lebih. Satu hal yang mesti Tuan ingat jaga selalu Andini, aku akan membantu mencari wanita itu. Akan aku pastikan dia harus membayar semuannya"
"Terimakasih Don."
"Baik. Aku harus mencari barang yang mungkin bisa membuat Andini segera sadar."
"Cari saja aku tidak pernah tahu apapun tentang privasinya." Memang lelaki itu tidak pernah berani masuk ke kamar Andini, meski ia sejak SMA sudah bersahabat dengannya.
Chandrapun mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia mencari apa saja barang yang mungkin bisa membuat Andini sadar.
Dia melihat foto Andini saat zaman SD, SMP, dan SMA-nya yang terpampang dalam sebuah bingkai yang terletak di meja belajarnya. Tergurat senyum manis dibibirnya..
"Wujud cinta tidak pernah nyata, dan pada saatnya tiba kita tidak pernah bisa menyadarinya. Aku mulai mengerti definisi dari kalimat ini, ketika aku sadar aku sudah jatuh cinta namun aku terlambat untuk menyadarinya. Dan sekarang aku tidak pernah tahu apakah waktunya masih ada atau tidak. Aku sangat menyesali semuanya, aku begitu bodoh Andini aku bodoh.." lirihnya sambil mengelus foto Andini.
"Mengapa kamu mencintai laki-laki bodoh seperti ku, harusnya kamu tidak pernah merasakan sakitnya cinta. Harusnya orang sebaik kamu mendapatkan orang yang lebih baik dariku Andini." Air mata Chandra sudah menggenang di kedua sudut matanya.
__ADS_1
"Segera sadarlah.. Kamu tau aku rindu kamu menyediakan makanan untuk ku, aku ingin cah kangkung buatanmu Andini" ucapnya sambil menangis juga tersenyum kecut.
"Aku ingin kau menyiapkan baju untuku setiap pagi dan sore, aku rindu saat-saat itu. Kau tahu kau adalah wanita yang paling istimewa. Kamu sudah menjadi istri idaman para lelaki. Rasanya sesak saat tahu bahwa aku tidak pernah menyadari itu sebelumnya" lirihnya lagi sambil terus memandangi foto Andini. Dia kembali mengedarkan pandangannya, dia melihat buku, buku yang tidak asing baginya. Buku itu selalu Andini bawa kemana-mana saat dia masih SMP.
"Buku..." Chandra mengambil buku itu dan langsung membukanya. Disana terdapat banyak foto masa kecilnya.
"Jadi ini yang dimaksud Papa.. Anakmu manis sekali pah" Chandra mengulum senyumnya.
"Semua momen dia punya, bahkan diriku saja tidak pernah selengkap ini. Tulisan ini, tulisannya ketika zaman SMP.. Dia sungguh mencintaiku, tapi kenapa dia tidak pernah mengatakannya secara langsung kepadaku, bahkan aku kira itu hanyalah gosip."
****selingan****
"Aduh Chandra, Andini itu cewek masa mau ngeduluin sih, humph" ucap Author sambil melipat kedua tangannya didadanya.
"Ya kan sekarang gak mandang cewek sama cowoknya mbak Chilla" balas Chandra.
"Au ah lu mah emang gak punya hati gak pernah peka dasar karung beton, pohon pisang, hati landak, jantung rengit sia teh ahππ"
"Sabar Chill.."
"Bella...." Betapa terkejutnya Chilla melihat Bella kembali hidup.
...****iklannya udah****...
"Dia menulis apa saja yang menjadi hobiku, kesukaanku. Hump gadis konyoll.." Ia terus menyunggingkan senyumnya ketika membolak-balik diary Andini.
Setelah lembaran terakhir selesai dibaca, dia kembali menutup buku itu. Disimpannya kembali diatas rak seperti pada awalnya. Disamping buku itu terdapat buku yang hampir sama dengan buku yang pertama dia baca, diambilnya lagi kemudian dilihatnya,,
"Apa masih diary, berapa banyak diary yang dia punya ?" tanya Chandra kepada dirinya sendiri.
Dia mengambil satu persatu buku dirak itu dan diperiksanya kembali ternyata lima buku itu semua adalah diarynya dan kebanyakan tulisannya yang berkaitan dengan suaminya itu. Kaget bukan kepalang, berapa buku diary lagi yang belum ditemukannya karena terakhir dia membaca buku itu diarynya saat SMA-nya.
__ADS_1
"Wanita ini memang sangat senang menulis. Andini kapan kamu bangun dan menulis lagi. Kan kupastikan kali ini kisahnya akan membuatmu tertawa sendiri ketika sedang menulisnya. Ku merindukanmu Andini..." lirihnya sambil memeluk diary milik Andini.
Bersambung...