
Hari ini Andini akan pergi ke kantor, hari ini juga adalah hari pertamanya menginjak kantor suami dan ayah mertuanya.
Sebagai Presdir utama perusahaan dia harus menunjukan dirinya kepada semua karyawannya. Dia sudah memakai hijab dan pakaian formal seperti biasa dia pergi ke kantor Papanya. Dia terlihat sangat anggun dan juga cerdas.
Rendi sudah berada didepan untuk menjemputnya namun Andini ingin pergi sendiri menaiki mobilnya, dan akhirnya Rendi bertugas untuk mengarahkan jalan menuju kantor.
Ketika sudah dekat dengan lokasi, Rendi langsung menelpon seseorang untuk bersiap-siap menyambut Presdir utama mereka.
Semua orang sudah berjejer rapi dan dengan senyum manis yang terukir diwajah mereka untuk menyambut bos barunya. Dimulai dari jabatan yang tertinggi sampai yang terendah.
"Silahkan Nona" bisik Rendi pelan kepada Andini.
"Kau yang menyiapkan ini semua?" tanya kepada Rendi dengan berbisik pula. Dan dijawab dengan anggukan oleh Rendi.
Tidak menyangka dapat semeriah ini mereka menyambutnya, dan dia merasa dia akan mendapat keluarga baru disini.
Andini berdiri dihadapan semuanya mengucapkan sepatah dua patah kata.
"Kepada semua karyawan dan karyawati perkenalkan saya adalah Andini Maheswari saya diberi kepercayaan oleh ayah mertua saya Bapak Hermawan untuk menjaga perusahaan kita. Semoga semuanya dapat bekerja sama demi majunya perusahaan. Terimakasih." Itulah kata yang terakhir Andini ucapkan didepan mereka semua. Semuanya pun ikut berbahagia mereka juga merasakan adanya kehangatan dari sikap yang Andini tunjukan kepada mereka.
Setelah selesai semuanya pun membubarkan diri untuk kembali bekerja begitupun dengan Andini yang langsung diajak oleh Rendi untuk melihat ruangan kerja barunya, yang tentunya ruangan tersebut adalah ruangan ayah mertuanya.
Sesampainya disana terdapat sebuah meja oval berwarna hitam diatasnya bertengger sebuah papan nama bertuliskan Drs. Hermawan. Seketika bibir Andini tersenyum namun matanya berkaca melihat ruangan ayahnya itu. Rasa rindu kepada ayahnya kini mulai menyerangnya.
Disana pula terdapat sebuah bingkai foto berukuran besar, foto keluarga suaminya, Chandra dan kedua orang tuanya. Chandra yang saat itu masih SMP tampang imutnya terpampang nyata disana. Seketika pikirannya pun mengingat masa-masa dulu saat pertama kali mengenalnya. Senyum manis pun terukir di bibir kecilnya itu.
"Nona Andini, maafkan saya yang belum mendekorasi ulang ruangan ini, karena saya ingin ruangan ini sesuai dengan keinginan Anda, tolong beritahu kami desain apa yang Nona inginkan" ucap Rendi memecah kehingan yang terjadi.
"Ahh.. Biarkan saja seperti ini Ren, aku suka desainnya klasik dan tentunya ruangan ini akan selalu mengingatkan aku akan ayah."
"Baik Nona sesuai yang Anda perintahkan" ucap Rendi.
Setelah puas mengelilingi ruangan ayahnya yang sebentar lagi menjadi ruangannya, Andini meminta Rendi untuk mengantarnya ke tempat Chandra.
"Ren, aku ingin melihat ruangan Chandra" ucap Andini.
"Baik Nona saya akan mengantarkan Anda." Rendipun melangkah lebih maju dan menuntun Andini menuju ruang kerja Chandra.
Saat tiba diruangan tersebut baik Andini maupun Rendi tidak melihat siapapun ada disana. Karena heran Andinipun menanyakannya.
"Mengapa ruangan ini kosong ?"
__ADS_1
"Maaf Nona, Tuan Chandra sedang ada kepentingan diluar sedangkan Sekretarisnya, saya pun belum mendapatkan kabar tentang dirinya. Akan saya cari tahu dimana keberadaannya" ucap Rendi, diapun langsung menghubungi bagian personalia untuk mempertanyakan keberadaan Nina.
Namun ketika Rendi sedang menghubungi bagian personalia, mereka mengatakan bahwa tidak ada yang tahu tentang keberadaanya dan alasan mengapa dia tidak masuk.
"Sudahlah Ren jika memang tidak ada mungkin saja dia sedang bersama Chandra" ujar Andini, dia tidak ingin mempermaslahkan hal itu karena pikirannya kembali kepada Chandra yang katanya sedang ada urusan diluar.
Sorepun tiba, akhirnya hari pertama Andini bekerja disini sudah selesai. Saatnya untuk Andini pulang sekarang. Diapun melajukan mobilnya seperti biasanya.
Kini Andini sudah berada dirumahnya, saat baru saja dia keluar dari mobilnya dia dikagetkan dengan Bik Ijah yang sudah membawa tas besar.
"Bik.. Bik Ijah mau kemana kok bawa tas besar.." tanya Andini begitu heran.
Chandra yang mendengar suara Andinipun langsung keluar dan mengatakan,
"Aku yang sudah memecatnya, Bik Ijah sudah tidak bisa bekerja lagi disini."
"Ka Chandra.. Tapi tapi kenapa ka ?"
"Karena sekarang gajiku sudah tidak cukup untuk membayar ART."
"Tapi kan ka masih ada aku, biar aku aja yang bayar." Andini memberi saran.
"Ohh, sekarang kamu sudah sombong ya, mentang- mentang kamu sudah jadi CEO tiga perusahaan, kamu berani membantah aku sebagai suami" ucapnya dengan nada yang menggetarkan jiwa.
"Itu urasannya bukan urusanku. Dan kalaupun kamu ingin membantunya bantu saja dia, akan tetapi rumah ini sudah tidak membutuhkannya lagi" ucapnya dengan begitu angkuh.
"Tapi aku masih membutuhkannya ka.."
"Kewajiban kamu apa sebagai seorang istri ?" bentak Chandra.
"Melayani aku kan sebagai suami, lagi pula kamu masih bisa masak mencuci dan lainnya, untuk apa aku membutuhkan ART buang-buang uang saja." Tangannya sudah melingkar cantik didadanya.
"Tapi ka.." Lagi-lagi Andini berkata tapi yang membuat Chandra semakin geram.
"Tidak ada bantahan disini kepala keluarganya aku, jadi kamu harus mengikuti segala peraturan ku atau jika tidak ingin maka keluar dari sini" ucapnya sambil menekan kata keluar.
"huh..." Andini menghembuskan nafas dengan kasar.
"Tapi..." Andini mencoba memberinya pengertian,
namun Chandra berteriak "Andini....." itu adalah sebuah kata yang tidak bisa dia sangkal lagi.
__ADS_1
"Baiklah turuti saja maunya kali ini, toh akupun bisa mengerjakan semuanya" gumam Andini.
Diapun menghampiri Bik Ijah yang sudah menangis sedari tadi.
"Bik Ijah kenapa nangis ?"
"Non sudah jangan belain Bibi, sampai-sampai Non ribut sama Den Chandra. Bibi ikhlas kok Non, Bibi masih bisa cari kerjaan yang lain" ucap Bik Ijah dengan terisak.
"Bik, maafin ka Chandra ya Bik mungkin dia lagi pusing jadi Bibi juga kena marah. Bik soal tempat kerja mau enggak Bibi kerja dirumah bareng Bik Sri, kebetulan dirumah Papa lagi sakit jadi ngebutuhin banyak ART disana, Bibi mau ya kerja disana" pinta Andini.
"Ya anggap aja bukan dipecat Bik tapi pindah tugas, ya Bik ya." Andini memohon dengan sangat. Tangannya sudah menggenggam tangan Bik Ijah.
"Tapi Non.."
"Tenang Bik masalah gaji sama aja kok Bik dengan yang disini, lagipula kasian anak-anak Bibi. Ya bi yaa, sekalian bantu Andin juga.."
"Iya Non makasih..." Bik Ijahpun langsung memeluk Andini. Semula Bik Ijah sudah pusing ketika dia mendengar kata pecat dari majikannya. Namun tak lama kemudian Andini datang dengan membawa titik terang bagi kehidupannya. Hidupnya masih baik baik saja, anaknya masih bisa lanjut bersekolah dan dia juga masih bisa membiayai pengobatan suaminya.
Bik Ijahpun segera pergi ke alamat yang sudah Andini berikan kepadanya, awalnya dia ingin menyuruh Doni untuk datang menjemputnya namun ternyata Doni sedang sibuk dengan urusan pekerjaan. Bik Ijahpun mengerti keadaanya akhirnya Andini memesankan gojek untuk mengantarnya ke rumah Papanya.
Andini pun sudah masuk kedalam rumah..
"Huh... Sok perduli kamu, padahal aslinya wanita ular" cibirnya.
"Ka.. Apa yang kamu katakan, jelas aku perduli. Bik Ijah adalah orang baik. Dia gak pernah macem-macem sama aku maupun keluarga aku" geramnya. Tentu saja Andini masih kesal dengan perbuatannya yang sudah memecat Bik Ijah secara sepihak.
"Sudahlah terserah kamu tapi kamu harus ingat ini rumah aku, aku suami kamu dan kamu harus turuti apa yang menjadi perintahku" ucap Chandra.
Kemudian dia menghampiri Andini dan berdiri lebih dekat, Andini pun sedikit memundurkan dirinya merasa takut dengan tatapan Chandra.
"Jangan pernah menjadi booos dalam rumah ini" ucap Chandra tepat di tepi telinganya dan itu membuat Andini memejamkan matanya dan merasakan gemetar disekujur tubuhnya karena ketakutan.
Chandra pun melenggangkan kakinya melangkah lebih dalam menuju kamarnya.
"Ini akan menjadi permulaan untuk mu Andini.." bisiknya dalam hati disertai senyum seringai yang menakutkan.
Jelegheeeer
Mirip kek film film India gitu.. Hehe
Bersambung....
__ADS_1
like like, coment, vote, jadikan favo,rate5