
...Senyumanmu bagai oksigen bagiku...
...Sebuah sumber kehidupan untukku...
...Jadi tetaplah tersenyum...
...Untuk hidupku...
...Candi...
Namun nampak jelas di wajah Andini, kesedihannya akan perkataan antara ibu dan anak kecil tadi. Dia mendengar semuanya. Tak terasa air matanya membasahi pipinya sendiri. Dia menangis, meratapi kehidupannya. Dia lupa siapa dia yang sesungguhnya, dia lupa semua teman-temannya, dia tidak tahu mengapa papa dan mamanya tidak kunjung datang juga, dia hanya tau tentang dirinya yang masih berumur 6 tahun dan lebih parahnya sifatnya pun mengikuti usianya.
Siapa yang ingin begini ? Jawabannya tidak ada, baik Chandra maupun Andini dia tidak mau amnesia. Namun kini yang bisa dia lakukan adalah pasrah dan menyerahkan segalanya kepada tuhan yang Maha Esa.
Chandra segera menghampiri wanita yang sudah menjadi istrinya itu. "Andin.." panggilan itu membuatnya segera menghapus air matanya.
"Kakak" serunya dia kembali tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengannya.
"Kenapa ?" Ada perasaan sakit setiap kali melihatnya menangis. Sungguh lebih baik dia dipukuli ketimbang melihat Andini menangis.
Chandra menghapus sisa air matanya.
"Ini arum manisnya" ucapnya seraya memberikan gula kapas tersebut.
"Terimakasih ka." Dia menyambutnya dengan begitu senang.
"Enak sekali.." Dia mencicipinya dengan lahap.
"And.. Kamu memang Andini, meski sedang amnesia sekalipun. Kamu tidak pernah membicarakan kesedihanmu. Kamu selalu saja menutupinya seakan aku juga tidak boleh memikirkan ataupun merasakan kesedihanmu." Chandra menatapnya dengan tatapan sendu.
"Ka cobalah ini enak.." ucapnya sambil menyunggingkan senyuman menyembunyikan semua luka yang dideritanya.
Tiba-tiba saja dia menarik Andini kedalam pelukannya. Sungguh dia menangis dibahu Andini. Andini yang mendapat perlakuan itu hanya diam saja. Tanpa ada niatan membalas sekalipun. Dia tidak menangis dia hanya mendengar suara segukan dari Chandra. Seharusnya ini menjadi lukanya tapi Chandralah yang paling merasa kesakitan. Mungkin inilah yang disebut sebagai ikatan suami istri.
"Ayo kita pulang.." bisiknya pada telinga Andini.
"Baiklah..." Andini hanya menuruti perintahnya saja.
Kini mereka sudah berada didalam mobil, tapi Chandra masih tidak menyalakan mobilnya dia menatap Andini. Saat ini air matanya sedang dia tahan namun pikirannya sedang mencari cara agar Andini kembali tersenyum.
"Kakak, kakak kenapa ?" tanya Andini.
__ADS_1
"Tidak. Mm.. Kakak ingin mengajakmu kesuatu tempat, bagaimana apa kamu mau ?" tanyanya.
"Aku ingin tempat yang tidak terlalu ramai ka, tapi seru."
"Baik kakak akan mengajakmu ketempat yang lebih seru." Setelah mendengar ciri-ciri tempat yang ia inginkan, dia langsung berpikir pada suatu tempat.
Chandrapun langsung melajukan mobilnya. Membelah jalan ibu kota yang tidak terlalu ramai kala itu. Dia membawa Andini ke puncak yang ada di kota Bogor. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya mereka sampai pada tempat tujuannya.
"Kak dimana kita, udaranya sejuk sekali ?"
"Ini kita di puncak And. Puncak bogor. Ingat pada saat SMP kita pernah main kesini bersama teman-teman lainnya. Hanya saja kala itu kita datang pada jam sepuluh malam, jadi tidak terlalu jelas. Ayo kita kesana.." Chandra mengajaknya ke arah yang lebih tinggi.
"Sebentar yah tunggu disini dan jangan kemana-mana, jika ada orang jahat. Kamu berteriak saja ok !" Chandra berlari meninggalkannya.
"Kakak hanya sebentar" teriaknya lagi sambil berlari.
"Apa aku benar-benar pernah kesini bersamanya ?" ucap Andini bermonolog.
"Akh... Kenapa tiba-tiba kepalaku sakit sekali setiap aku mencoba mengingat masa laluku ?"
"Gelap ?" Samar-samar dia mengingat bayangan gelap, semuanya gelap. Entah apa artinya itu.
Tak lama kemudian Chandra datang dengan membawa seember air berisi sabun dan satu alat peniup gelembung. Ya mereka akan bermain gelembung sabun.
"Iya.."
"Besar sekali, wah.. " Andini nampak senang dengan apa yang dilihatnya.
"Ada yang kecilnya juga, jadi kamu bisa meniup gelembung sabunnya.."
"Benarkah.. ! Waahhh.... Aku ingin membuat gelembung yang lebih besar."
"Apakah kamu bisa ?"
"Bisa.. Lihatlah !!"
Gambar hanyalah sebagai ilustrasi
"Wah hebat sekali And, lihatlah kakak bawa tembakan gelembung, kakak akan membuat gelembung kecil, supaya gelembungmu mempunyai pasukan" terangnya.
__ADS_1
"Kaa... Aku bahagia sekali. Terimakasih" katanya dengan senyum yang sangat mempesona.
"Memang itulah tujuanku And, nembuatmu tersenyum karena senyumanmu bagai oksigen bagiku, sebuah sumber kehidupan untukku, jadi tetaplah tersenyum, untuk hidupku" batinnya.
Merekapun bermain dan tertawa bersama. Melupakan segala kepenatan yang selalu menghampiri mereka. Tempat itu benar-benar sesuai dengan keinginan Andini, seru namun tidak banyak pengunjung.
Ketika mereka sudah lelah bermain. Mereka terduduk menatap senja yang akan segera tiba sambil memakan bekal yang sudah disiapkan oleh Andini. Di puncak itu juga angin sangat gembira menghantam mereka.
"And... Kenapa tadi kamu menagis.Ceritalah And, kakak akan mendengarkanmu, kakak akan selalu menjadi pelindungmu. Ceritakan semuanya karena kakak adalah suamimu, kakak mesti tau apa yang sedang kamu rasakan.." Chandra berusaha membuat Andini tidak pernah menyembunyikan kesedihannya lagi.
"Tidak aku tidak akan menceritakannya."
"Kenapa ? Apa kamu tidak percaya dengan kakak ?"
"Bukan.. Hanya saja..."
"Ceritakan And !" pintanya dengan tegas seolah tidak boleh ada penolakan.
"Aku hanya sedih, aku tidak seperti mereka. Mereka mengingat semua masa lalunya sedangkan aku ? Mereka semua tau teman-temannya sedangkan aku ? Mereka semua tahu suaminya sedangkan aku ? Terkadang Andin pikir mengapa tuhan sejahat ini ? Apa salah Andin ? Kakak tau ini seperti tidak adil untuk Andin. Kakak bilang Andin adalah orang baik. Dan Andin pernah mendengar bahwa orang baik akan mendapatkan kebahagian yang tiada tara, tapi Andin... Katakan sejujurnya ka apa aku orang yang jahat, atau nakal. Katakan aku tidak akan marah, bahkan aku akan merubah takdirku. Aku letih hidup seperti ini ka.."
"Tidak ini bukan salahmu, ini salah kakak. Maafkan kakak atas keteledoran dan kesalahan yang kakak buat, seandainya saja malam itu kakak menjagamu, mungkin..."
"Tidak ini bukan salah kakak. Aku hanya ingin aku ingat kembali, aku hanya ingin tahu kita itu seperti apa. Aku ingin mengingat kenangan manis kita ka. Aku tidak ingin seperti buku kosong yang perlu tinta untuk mengulang kisah lagi."
Lagi-lagi Chandra hanya bisa membawanya kedalam pelukannya. Berharap pelukan itu bisa kembali membuat keduanya kuat, menghalau setiap masalah yang ada.
"Aku tidak tahu apa yang harus kini aku lakukan. Aku ingin Andini yang seperti ini saja, namun dia ingin mengingat semuanya" batinnya
"Tidak Chandra dia berhak mengingat semua yang terjadi kepadanya. Dia berhak memiliki ingatannya kembali, meski nanti dia akan memaafkanmu atau tidak itu akan menjadi urusanmu dimasa depan. Kamu hanya bisa pasrah dan berharap dia memaafkanmu. Kmu jangan egois yang terpenting saat ini adalah kebahagian Andini" batinnya lagi.
Sebagai seseorang yang bertanggung jawab atas Andini, dia mesti melakukan apa saja untuk kebahagiannya. Tentu saja ada sesuatu yang mesti dikorbankan. Egonya benar-benar harus dikubur selamanya.
Didalam pelukan Chandra, Andini merasa begitu nyaman. Seperti mendapatkan sebuah benteng untuk dia berlindung. Sedangkan Chandra dihatinya dia merasakan adanya kehangatan yang hanya bisa dia dapatkan dari Andini seorang. Dan tanpa keduanya sadari setiap momen yang mereka lewati selalu ada yang mengabadikannya.
Bersambung..
Kakak authorku semua yang sudah mampir jangan galau nanti aku mampir balik yoo😂.
Dan untuk pembaca rahasiaku. Tolonglah berbaik hati untuk men-share novel ini yah. Jan ke anak kecil aja. Okray😂
Like and love from you are that i want.
__ADS_1
ilal liqoo 👋