
"Kamu ada dimana ?" ucap Hermawan pada Chandra melalui sambungan telepon.
"Aku ada diluar ayah sedang meeting " ucap Chandra berbohong.
"Pulang. Aku tau kamu tidak sedang bekerja" tegasnya.
"Tapi Ayah" elaknya.
"Pulang atau aku tidak akan memberi perusahaan ini kepadamu." Ancam ayahnya.
"Memangnya ada apa Ayah" tanya Chandra.
"Pulang" bentak Ayahnya dan ''tut..'' Ayahnya langsung menutup teleponnya.
Setibanya Chandra di kantor ia langsung menghampiri ayahnya diruangannya.
"Ada apa ayah menyuruhku pulang ? " tanya Chandra.
" Laki laki seperti apa kamu berani-beraninya menyakiti hati seorang wanita." Hermawan mengatakannya tanpa basa basi.
"Santai yah, seorang wanita siapa yang mana ?" tanya Chandra bingung.
"Berarti memang benar ada wanita lain selain isteri mu " ucap Hermawan dengan geram.
"Aku tidak mengerti, maksud ayah apa."
"Ini " Hermawan melemparkan beberapa foto.
"I i itu teman ku yah" elaknya.
"Teman. Lihat ini." Dia memberikan ponsel yang berisi Video "Kau akan mengelak lagi. Ayah tidak habis fikir mengapa ayah memiliki anak sepertimu. Brengsek, baru saja sebulan lebih kamu menikah dan kau ..." ucapannya terpotong oleh Chandra.
"Ayah aku sudah bilang aku tidak mencintai Andini. Aku tidak bisa bersama Andini" ungkap Chandra.
"Chandra, jangan pernah katakan itu belajarlah untuk mencintai Andini."
"Tidak bisa Yah."
" Suatu saat kau akan menyesal dengan apa yang kau perbuat" bentak ayah Hermawan.
"Aku tidak akan pernah menyesali perbuatanku" ucap Chandra.
"Anak durhaka." Hermawan sudah siap melayangkan tangannya kepada Chandra. Namun seperkian detik dia urungkan dan menurunkan tangannya itu.
__ADS_1
"A aku sudah salah mendidikmu. Lina aku sudah tidak bisa mendidik anak kita. Katakan padaku salah apa aku Lina sehingga kita memiliki anak yang seperti ini." Dia ambruk terkulai lemas duduk dikursinya kembali, dia menangis dan memanggil manggil istrinya. Ya Lina adalah nama istrinya.
"Ayahh..." Chandra mencoba menghampiri Hermawan.
"Pergi kamu. Aku tidak akan menganggapmu sebagai anak jika kau masih belum mencintai Andini. " Terlihat dimatanya bulir air bening, tidak deras namun terlihat menyakitkan.
Chandra pun keluar dari ruangan ayahnya dengan perasaan marah, kesal dia juga mulai gusar dengan yang dikatakan oleh ayahnya. Karna jika sampai dia tidak mencintai Andini dia tidak akan dianggapnya sebagai anak. Otomatis perusahannya pun akan dipindah tangankan.
"Siapa yang telah melaporkanku. Apakah Andini, dia tidak bisa mendapatkanku lalu dia melaporkanku dan membuat ayahku marah kepadaku , jika memang dia melakukan itu, dia akan segera tau akibatnya dasar perempuan licik." Dia berpikir bahwa Andini yang telah mengadu kepada ayahnya.
"Aku benci kamu Andini. "
Prang dia memecahkan gelas yang sedang dia pegang
***
Sore itu Chandra pulang lebih cepat dari Andini, dia merasa kesal pada Andini yang di fikirnya telah mengadu hanya sekedar untuk mendapatkan cintanya.
Brakk pintu pun dibuka secara kasar. Untung saja bik Ijah sedang ada di belakang jadi tidak terlalu mendengar suara bantingan pintu itu.
"Andini .. Andini.. " teriaknya.
Dia mencari kemana mana akan tetapi yang dicarinya tidak ada.
"Non Andini belum pulang Den" ucap Bik Ijah takut.
Setelah mendengarnya Chandra pun masuk kekamarnya. menunggu Andini tiba sambil memikirkan caranya untuk menyiksanya.
Jam setengah enam sore menjelang magrib, Andini pun sudah berada didepan rumahnya diantar oleh taksi online pesanannya.
"Assalamualaikum" Dia membuka pintu dan segera masuk.
"Waalaikum salam, non sudah pulang. "
"Iya Bik baru saja. Ka Chandra sudah pulang Bik ?" tanyanya.
"Oh iya Non, itu tadi Den Chandra nyariin Non. "
"Ada apa Bik " tanya Andini heran.
"Kurang tau Non, tapi dilihat dari mukanya seperti sedang marah Non." Mengingat tadi ia melihat muka Chandra yang memerah.
"Lalu dimana dia." Matanya melihat kesana kemari mencari Chandra.
__ADS_1
"Tadi den Chandra pergi kekamarnya Non." Bik Ijah menunjuk kekamar Chandra.
"Ohh ya makasih ya Bik. " Andinipun segera kekamar Chandra dan masuk begitu saja.
"Ka.."
"Ini dia orangnya, apa yang telah kamu adukan kepada ayahku hah" bentaknya langsung saja tanpa basa basi.
"Maksud ka Chandra apa ?" Andini mengerutkan keningnya tidak mengerti.
Mendengus kesal, " Kamu bahkan berpura pura tidak tahu dihadapanku" ucapnya penuh penekanan.
"Berpura pura ? Ka sungguh aku tidak mengerti, ada apa ini?" tanyanya lagi.
"Kamu memata-mataiku lalu mengadukan kejelekanku kepada ayahku dan memintanya untuk mengancamku iya kan" ucapnya dengan geram.
"Kapan aku mengadu kepada ayahmu dan untuk apa aku memata matai mu, aku sangat percaya kepadamu? " jawab Andini.
"Apaa.. tidak mungkin reaksi ini, sepertinya benar dia tidak memata-mataiku dan berarti dia masih tidak tahu hubunganku. Lalu siapa dalang dibalik semua ini " batin Chandra.
" Halah udah jelas itu kelakuan kamu tapi kamu tidak pernah mau mengaku, dengar And jangan harap aku bisa mencintaimu dengan cara seperti ini." Chandra terus memarahinya.
" Aku tidak melakukan apapun yang mengharuskanku untuk mengaku, dan ya aku memang mengharapkan cinta darimu karna kamu adalah suamiku, bukankah itu adalah hal yang lumrah dan wajar jika aku mengharapkan itu. tolong jelaskan satu persatu ada apa sebenarnya, aku tidak mengerti."
"Buat apa dijelasin yang tentunya kamu udah tau sendiri, dengar And aku tidak menyukai caramu itu. Dan soal mobil akan ku tarik kembali ucapanku, aku tidak akan membelikannya."
"Aku tidak pernah memintamu untuk membelikanku mobil, aku hanya menginginkan cinta darimu, perhatian darimu sudah cukup untuku, uang memang sumber kehidupan dan salah satu sumber kebahagian, tapi yang dibutuhkan oleh seorang istri adalah cinta yang tulus dari suaminya " ucapnya tersulut emosi.
" Dan perlu kamu tahu ka aku tidak pernah mengadu kepada siapapun tentang kamu atau kehidupan rumah tangga kita. Aib ka itu adalah aib. Aku adalah istrimu, aku juga seorang istri yang mencintai suaminya mana mungkin aku menjelekan dirinya meski itu kepada ayahnya sendiri, bahkan jika ada yang menjelekanmu, menggunjingkanmu maka aku dulu yang merasakan sakitnya. Aku tau batasanku sebagai seorang istri." Andini sudah tidak dapat menahan emosinya karna dituduh yang tidak tidak oleh suaminya sendiri.
Setelah mengatakan itu Andini lari kekamarnya. Menangis, menyesal tentunya sudah berbicara kasar kepada suaminya sendiri. Dia menangis sejadi jadinya.
"Mengapa aku bisa bicara seperti itu ya Allah. Aku harus minta maaf kepadanya" gumamnya sambil menghapus air matanya itu " Kurasa lebih baik besok, semoga pikirannya sudah tenang " katanya lagi.
Setelah Andini meninggalkannya.
"Aaarrrrggghhhhh... Andini. " Dia mengusap kasar wajahnya. Bingung apa yang telah dilakukannya. Satu sisi merasa bahwa Andini pelakunya dan setelah mendengar penuturannya merasa bahwa Andini tidak pernah mengeluh tentangnya. Apalagi sampai mengadu kepada Ayahnya, bahkan dulu saja dia berbohong kepada Hermawan hanya demi menjaga Chandra dari amukan ayahnya itu.
"Aku pernah memintamu mengadu kepada ayah kalau kamu ingin cerai denganku, bukan memintaku untuk belajar mencintaimu Andini. Hanya kamu yang bisa membuatku merasa berantakan seperti ini dasar wanita ular" gumamnya.
***
Pagi harinya dia sudah bersiap untuk pergi sarapan akan tetapi sebelum sarapan dia ingin meminta maaf kepada suaminya. Pintu kamar Chandra tidak terkunci dan ia langsung masuk. Seperti biasa Chandra sedang mandi dan dia langsung menyiapkan baju untuknya.
__ADS_1
Bersambung...