Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Aku Kesini


__ADS_3

Michell sedang menatap dirinya di kaca besar miliknya. Selama beberapa jam ini dia terus saja memikirkan tentang Nina. Tidak ada satupun yang terlewatkan. Bahkan ingatannya kembali memutar memori masa SMA-nya dulu.


Sesekali dia melihat ponselnya berharap ada sebuah pesan dari Nina namun nyatanya tidak ada. Ada sebuah perasaan hampa dalam dirinya ketika dia tidak mendapat kabar atau mendengar suara Nina, meski itu hanya beberapa jam saja.


Kini dia sudah membaringkan dirinya diatas kasur, menatap langit-langit kamarnya. " Kenapa aku merasa bersalah melihat Nina menangis, kenapa aku begitu khawatir yah. Apa sebaiknya aku saja yang menelponnya, untuk menanyakan keadaannya" monolognya.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu itu mengagalkan niatnya untuk menelpon Nina.


"Kak.. Apa kau sudah tidur ?"ucap seseorang dari luar kamarnya.


"Tidak Ayuni, masuk saja pintunya tidak kakak kunci.."


Ceklek.


"Kakak kenapa, kok mukanya kusut gitu" tanya adiknya sambil menaik turunkan alisnya sendiri.


"Gak tau Yun.. Kakak bingung, pusing, galau, kacau, kesel, sedih, khawatir" keluhnya.


"Hmmm. Banyak banget kaya es campur. Emangnya siapa sih yang bikin kakak dokter tampanku galau ? Ka Andini ?" tanyanya.


"Andini ?" lirihnya.


"Bahkan aku baru ingat tentangnya, bagaimana keadaanya sekarang ya ?" tanyanya dalam hati.


"Hai kaa.." Ayuni menggerak-gerakan tangannya didepan Michell yang sedang melamun.


"Kok ngelamun sih. Ada apa ? Kakak kepikiran ka Andini, galau sama ka Andini. Denger ya kaa..." Ketika ucapannya belum selesai, Michell memotongnya lebih dulu.


" Bukan Yun.."


"Bukan ? Biasanya yang bikin kakak galau itu ka Andini.. Mmm apa jangan-jangan perempuan lain ya. Cie udah move on dong" godanya.


"Move on.."


"Apa bener aku move on ?"batinnya lagi.


"Kak. Hish malah diem. Kakak mikirin apa sih ?" tanya adiknya penasaran. Memang karena selama ini dia hanya menceritakan satu wanita yang dicintainya kepada mamah juga adiknya itu.


"Jadi gini Yun..." Michell menceritakan semua tentang Nina. Wanita yang sudah mengisi hari-harinya pada masa SMA dan juga wanita yang selalu membuatnya tertawa dan galau akhir-akhir ini. Dia juga menceritakan kenapa dia bisa sampai sekacau ini.


"Astaga kakak. Kakak ini gimana sih, jelas dia marahlah kalau kakak kaya gitu. Aku juga kalau ada di posisi itu, aku ngambek ka" ucap Ayuni dengan berapi-api. Dia merasa gemas dengan kelakuan kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Yun.. Kakak kan cuma gak suka aja tiba-tiba atasan kakak deketin kak Andini. Dan ya kalau kamu pengen tahu kak Andini itu amnesia dan cuma mengingat masa kecilnya pas umur 6 tahun selain itu dia gak inget apa-apa. Suaminya aja gak inget."


"Kak.. Kalau aku boleh saran. Kakak sebaiknya lupain ka Andini, dia udah punya suami kak. Ya walaupun suaminya kayak gitu juga. Dan setelah sering denger curhatan kakak tentang ka Andini, aku yakin kalau ka Andini itu walaupun sudah cerai, ya kalau terjadi ya. Aku yakin dia gak bakal milih kakak sebagai suaminya."


Michell sedikit merenungkan perkataan adiknya itu. Memang benar apa yang dikatakannya. Andini tidak akan pernah memilihnya meski itu sudah bercerai dengannya.


"Kak.. Jangan sampai buat orang lain gila lagi dengan pesona kakak" celetuknya.


"Maksud kamu apa ?"


"Itu kak Bella. Please akhiri semua ini. Kakak butuh bahagia meski itu tidak bersama dengan kak Andini. Mencari wanita itu bukan dari cantik dan pintar kak tapi juga dari baik dan setia dan wajibnya dia mencintai kakak. Ok ! Memang kak Andini yang berhasil merubah kakak. Tapi itu hanya sebuah jalan, bukan akhir tujuan kakak. Kakak ngertikan maksud aku ?" ucapnya sambil senyum menyeringai.


"Enggak.." balas Michell acuh.


"Dih.. Bodo ah.. Yang jelas dan singkatnya. Kalau kakak suka sama ka Nina kejar ka.." ucapnya sambil membanting pintu.


Brak..


"Kejar, move on, apa benar ya ???" Michell tampak memikirkan kembali perkataan Ayuni yang terakhir sebelum dirinya keluar. Malam itu menjadi malam yang tidak dapat membuatnya tidur. Pikirannya terus memikirkan apa yang sedang terjadi dengan perasaannya. Jika diibaratkan mungkin sekarang otaknya sedang memutar seperti baling-baling kipas angin dan sampai membuat kepalanya panas.


***


Pagi-pagi buta sekali dia sudah mandi. Benar saja dia tidak tidur selama semalaman. Jangan tanya keadaan matanya saat ini, dia sudah seperti panda di kartun WBB.


"Aku sudah menelponnya lebih dari 20 kali semalam tapi tak ada satupun yang diangkat olehnya. Apakah dia semarah itu. Tidak aku harus menjelaskannya, rasanya tidak enak sekali jika didiamkan seperti ini" monolognya pagi ini.


"Ka kau akan kemana sepagi ini.. ?" tanya adiknya.


"Iya sayang, kamu mau kemana, ini baru jam 6 loh. Ayo sarapan dulu, mama sudah buatkan kamu roti panggang. Ayo..!" ajak mamanya.


"Mam, Yun aku tidak bisa makan disini. Aku sedang terburu-buru. Tapi aku akan mengambil satu untuk dijalan ok !" ucapnya sambil mengambil roti.


"Aku pergi dulu mam"


"Hei. Bukannya makan dulu malah pergi gitu aja."


"Biasa mah kayaknya lagi ngejar cewe deh."


"Wahh.. Bagus itu" ucap mamanya sambil tersenyum sumringah.


***


Kini Michell sudah berada didepan rumah seorang wanita yang berhasil membuatnya tidak tidur semalaman. Ada rasa tidak percaya diri ketika dia sudah sampai didepan pintu rumahnya. Ingin mengetuk tapi dia urungkan. Dia membalikan dirinya dan mempersiapkan mental untuk bertemu dengan Nina.

__ADS_1


Tok tok tok..


Akhirnya dia memberanikan diri mengetuk pintu itu.


"Assalamualaikum.." ucapnya.


"Wa'alaikum salam eh siapa yah.." tanya wanita paru baya ketika sudah membukakan pintu.


"Saya Michell tan temennya Nina. Ninanya ada ?"


"Ouh ada-ada, silahkan masuk.." Wanita tua itu yang tak lain ialah ibu Nina mempersilahkannya masuk.


"Maaf ya rumahnya berantakan, terus panas, gubuk kecil lagi" ucap wanita itu sambil tersenyum.


"Ahh.. Tante, engga kok rumahnya unik" ucapnya sambil mendudukan dirinya di kursi.


"Sebentar Ninanya lagi sakit, kemaren dia pulang kakinya sampe berdarah-darah katanya sih jalan dari kantor. Dia lupa bawa dompet, sebentar ya saya panggilkan dulu." Ibu Nina pergi meninggalkannya sendiri.


"Berdarah, lupa bawa dompet" gumamnya. Pikirannya menerawang kemana-mana.


"Tunggu kemaren dia yang paling terakhir, jangan-jangan dia lagi yang bayarin semuanya ? Astaga Michell, dia pulang jalan kaki pasti gak punya uang." gerutunya didalam hati. Dia sangat hapal dengan kondisi keuangan Nina, wanita tangguh yanh menghidupi keluarganya.


Tak lama Ninapun datang dengan langkah yang tertatih-tatih. "Ngapain kamu kesini.." ucapnya dengan sangat ketus.


"Nin.." Michell pun berdiri dari duduknya.


"Aku mau ngomong sama kamu sebentar" imbuhnya lagi.


Nina yang melihat kearah mamanya yang mengangguk-angguk pun menurutinya. Kemudian dia duduk di kursi tamu miliknya.


"Nin.. Maafin aku, kaki kamu sampai kaya gini, ini semua gara-gara aku" sesalnya.


"Kakiku gak ada hubungannya sama kamu, mending kamu pergi dari sini." Lagi-lagi Nina mengusirnya.


"Nin.. Sebenernya aku kesini..."


Ucapannya terhenti, entah dia bingung mengatakannya. Nina menunggu kalimat selanjutnya dengan penuh cemas dan harap. Cemas karena dia takut kedatangannya kesini untuk menolaknya lagi sedangkan hatinya sangat berharap bahwa dia menyatakan cinta kepadanya.


"Akh.. Ada apa denganku ini. Dia tidak mungkin mencintaiku" batinnya sambil menatap Michell.


"Aku kesini...." ulangnya lagi.


"Ahh.. Kenapa lidahku kelu, kenapa aku tidak bisa mengatakannya" gerutunya dalam hati.

__ADS_1


bersambung..


jangan lupa like vote share😂


__ADS_2