
Keesokan paginya terjadi drama lagi antara mereka berdua di depan ayahnya Andini.
"Sayang, terimakasih sudah menyiapkan segalanya untuk ku, kamu memang istri terbaik" ucap Chandra sambil meremas tangan Andini tapi dia mencium keningnya.
"Ah iya ka sama-sama " ucap Andini sembari merasakan sakit ditangannya.
"Ahh kalian ini bikin aku jadi rindu Adilla istriku."
"Papa maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya gemas pada istriku, aku tidak bisa berjauhan darinya" ucap Chandra.
"Ah iya iya ya.. Kalian masih jiwa muda dan masih pengantin baru juga, jadi Papa tidak masalah akan hal itu."
"Pah mau berangkat ke kantor bersamaku ?" tanya Andini.
"Tidak sayang Papa sebentar lagi juga di jemput sama Doni. " Doni adalah sekretaris pribadi Papanya dia adalah orang terdekat kedua setelah Andini.
"Tuan sudah ada yang menunggu tuan diluar" ucap Bi ijah.
"Nah kan benar, ya sudah Papa duluan yah.. Papa ada meeting sama klien pagi ini" pamit Papanya.
"Ya sudah pah hati hati dijalan ya assalamualaikum" Andini menyalami tangan papanya itu begitu juga dengan Chandra.
"Waalaikum salam" Papa Andini pun keluar dari ruangan itu dan berangkat.
Sedangkan didalam rumah tersisa Andini dan Chandra, "Setelah ini kamu akan panggil siapa lagi ayahku atau masih ayahmu yang akan menginap disini saudaramu atau teman temanmu " sarkas Chandra.
"Aku tidak akan memanggil siapa-siapa dan tidak pernah memanggil siapa-siapa " jawab Andini tegas.
"Sungguh. Kamukan wanita picik pasti kamu akan memulai rencana lain iya kan ?" tanya nya curiga.
"Rencana apa ?"
"Aku tau kamu pintar Andini, kenapa kamu sekarang bodoh " ucap Chandra.
"Aku tidak pernah mempunyai rencana apapun ka. Sudah berulang kali aku jelaskan, Papa rindu padaku. "
"Rindu, bukankah kalian setiap hari bertemu ? Cih alasan yang tidak masuk akal. " Chandra berdecih.
"Memang kami sekantor tapi kami sangat jarang sekali bertemu. Selain rindu ayah tidak bisa memasak, disana ada satpam yang sama sekali tidak bisa memasak. Bi Sri sedang pulang kampung dan sore ini baru akan datang" ungkap Andini.
"Alasan lagi, kan bisa membeli makanan jangan repot-repot" sungutnya.
"Papa menderita penyakit jantung ka dan aku dari dulu melarang Papaku untuk makan sembarangan. Dan jika dia melanggar, makan sembarangan maka aku akan lebih marah kepadanya. Aku ingin merawatnya. Dia itu orang tuaku satu satunya ibuku sudah meninggal dunia. Dia tidak punya siapa- siapa selain aku" ucapnya sendu sambil menitikan air mata.
"Jika aku tidak mengizinkannya bagaimana ?
"Aku yakin kamu masih memiliki hati "
"Sayangnya aku tidak punya hati."
"Maka apapun akan ku lakukan supaya kamu mengizinkan" sanggupnya.
"Meski itu berpisah ?" tanyanya.
"Tidak, aku sudah berjanji kepada orang tua mu dan juga orang tuaku, aku tidak akan pernah bercerai" ucapnya.
"Kita lihat saja Andini sampai kapan kamu akan berteguh hati memegang janjimu itu" ucapan Chandra mengakhiri segala perbincangan mereka pagi ini.
****
Hari ini Andini sengaja tidak ke kantornya melainkan kerumah sakit dimana Michell bekerja. Dia masih penasaran soal Bella yang dibicarakan oleh Chandra. Dia berharap Michell tau sesuatu tentang Bella. Tentunya saja dia ingin dibantu oleh Bella untuk meluruskan permasalahan masa kecilnya itu.
Andini menancapkan gasnya agar ia bisa cepat datang ke rumah sakit. Setibanya dirumah sakit Andini langsung bertanya kepada resepsionis disana.
"Mbak, Apa benar disini ada dokter yang bernama Michell Ananta, Dokter Ortopedi" tanya Andini.
"Benar mbak. Ada apa yah mbak ini bukan pacarnya kan " sarkasnya.
"Pacar ? ahh bukan mbak saya temennya, saya sudah punya suami " sambil menunjukan cincin pernikahannya.
"Ohh temennya.." Resepsionis itu mengangguk angguk.
__ADS_1
"Memangnya kenapa yah mbak dengan teman saya " tanyanya lagi.
"Dokter Michell itu dokter terganteng dan teramah mbak mangkanya banyak yang nyari dan saya sudah diamanatkan jika ada yang mencarinya dan mengatas namakan dia adalah pacaranya maka saya harus menolaknya" ungkap nya.
"Oh seperti itu." Kali ini Andini yang menangguk-angguk.
"Iya Mbak. Tapi sebentar apa mbak ini sudah ada janji bersama beliau" tanya resepsionis itu.
"Belum mbak ini ada urusan penting boleh saya bertemu dengannya " ucap Andini lagi.
"Sebentar saya tanya dulu apa dia sedang sibuk atau tidak " resepsionis itu langsung menelpon Michell.
"Iya silahkan " Andini menunggu beberapa saat.
"Mbak kata Dokter Michell mbak harus menunggu" ucap si Resepsionis.
"Baik saya menunggu disana" sambil menunjukan taman di sekitar rumah sakit itu.
" Boleh mbak membantu saya untuk mengatakannya " pinta Andini.
"Iya mbak saya akan mengatakannya " ucapnya kemudian dia memerikan senyum ramah.
"Terimakasih " ucap Andini sembari tersenyum kemudian melenggang pergi menuju tempat yang sudah disetujui.
Saat Andini sedang duduk ditaman itu, ada seorang wanita cantik dibalut dengan dress selutut berwarna biru dengan rambut yang di ikat menghampirinya.
"Andini...." ucapnya yang sontak membuat Andini terkejut akan siapa yang memanggilnya itu yang kini berada di hadapannya.
"Bella " ucap Andini kemudian dia berdiri dan memeluknya dengan erat.
"Kamu dari mana saja Bell, aku sudah mencarimu tapi tidak pernah menemukanmu "ucap Andini kemudian dia melepaskan pelukannya itu.
"Aku ada saja " ucapnya singkat.
"Sumpah aku terharu banget kita ketemu disini, aku kangen banget sama kamu, gimana kabar kamu ?" tanya Andini.
"Aku baik-baik aja kok.." ucap Bella.
"Alhamdulillah tapi ngomong ngomong kenapa kamu ada disini " tanya Andini.
"Oh syukurlah bukan kamu yang sakit" ucap Andini.
"Ahh yaa. Kamu sedang apa disini And..." tanya Bella, dia menjadi curiga karena rumah sakit itu adalah tempat Michell bekerja.
"Aku mau bertemu teman juga." Andini tidak membicarakan temannya itu adalah Michell. Karena setau dia, Bella adalah orang yang sangat menyukai Michell.
"Kebetulan sekali bertemu dengannya disini, lebih baik aku atur jadwal untuk mempertemukannya dengan Chandra, mari kita mulai penderitaan untuk mu Andini.." batin Bella.
"Bell dimana saja kamu selama ini" tanya Andini.
"Aku, aku ada disini saja, oh ya Andini aku punya kabar yang lebih baik loh" ujar Bella.
"Apa ?" tanyanya semangat.
"Aku ingin memperkenalkan mu dengan pacarku, kamu maukan ketemu " ucapnya dengan senyum yang licik.
"Ouh ya.. Selamat yah aku turut bahagia."
"Ahh iya seharusnya begitu bukan . Bisakah kita nanti bertemu, nanti akan aku kirim lokasinya. Sebutkan nomor ponselmu" ucapnya kemudian mengambil ponselnya dan Andinipun menyebutkan nomor ponselnya.
"Oh iya Aku boleh minta tolong gak sama kamu..." ucapan Andini terpotong karna ponsel Andini berbunyi ...
Tring .. Tring...
"Maaf ya Bell ponselku berbunyi, aku angkat dulu yah"
"Iya "
Andini pergi sedikit menjauh dari Bella dan dia mengakat telponnya.
"Bu, ada dimana ?" tanya orang itu.
__ADS_1
"Saya sedang berada diluar, ada apa ? "
"Ini ada dokumen yang harus segera Ibu tanda tangani bu, karna sebentar lagi berkasnya akan kami kirimkan."
"Oh baiklah, tunggu saya sebentar lagi saya akan datang" ucap Andini
"Baik Bu" setelah Andini menutupnya kemudian dia menghampiri Bella untuk pamit pulang.
"Bell, aduh maaf yah aku harus balik lagi ke kantor, ada yang harus aku kerjakan. Nanti kita ngobrol ngobrol lagi oke" pamitnya.
"Ohh .. Oke. Nanti kamu harus datang yah" pinta Bella.
"Iya.. " Andinipun langsung pergi menuju kantornya dengan terburu-buru dan melupakan apa tujuannya.
Saat Andini sudah pergi Michell menghampiri tempat yang sudah di tunjukan oleh Resepsionis tadi. Bukan Andini yang dia temukan melainkan Bella.
"Ehh tumben Michell nyamperin, ada apa sayang" ucap Bella dengan gaya khasnya yang manja.
"Mau ngapain kamu nemuin aku " tanya Michell.
"Aku ?" Bella menunjuk pada dirinya sendiri.
"Sial ternyata si Andini mau ketemu Michell, kurang ajar dia. Ada apa hubungannya dengan Michell " Batin Bella.
"Aku kangen sama kamu, salah ya" ucap Bella lagi.
"Cihh... Kamu tuh udah ganggu aku, bohong lagi bilang udah nikah, kalau tau itu kamu aku males banget" ucap Michell sembari dia pergi meninggalkan Bella.
Saat di depan resepsionis tadi yang membantu Andini.
"Dokter kata wanita tadi dia akan menemui Anda lain kali tadi di kantornya ada urusan yang mendadak " ucap resepsionis.
"Apa, bukankah wanita itu adalah dia." Sambil menunjuk ke arah Bella .
"Bukan dokter, orang itu mengenakan kerudung. "
"Itu pasti Andini. Ada apa dia mencariku" batin Micheell.
"Apakah kau tau dia bertemu orang disana " tanyanya, karena dia yakin jika Bella bertemu dengan Andini pasti ada hal yang tidak baik.
"Aku tidak terlalu memperhatikannya Dok."
"Oke baiklah terimakasih"
"Jika Bella bertemu dengan Andini apa yang akan terjadi, tidak ini tidak baik. Aku tau sifat asli Bella, dia pasti merencanakan sesuatu atau sudah melakukan sesuatu, tapi bagaimana aku membuktikannya" ucap Michell.
"Jack. Kenapa aku bisa hampir lupa dengan dia, dia satu satunya temanku yang bisa meretas ponsel. Aish tak kusangka sekarang aku membutuhkanya. " Langsung saja dia menghubungi temannya itu.
Jack adalah teman seperkuliahannya di Sydney, dia mengenal Jack karena mereka sama sama masuk dalam gank dengan berotak super, meski sebenarnya didalam gank itu Michell menyandang peringkat kedua dari terakhir yang terdiri dari 10 orang yang artinya dia peringkat ke delapan. Tapi tetap saja meski demikian dia sangat dihormati di universitas itu.
Michell pun langsung mengotak atik ponselnya dan menghubungi teman lamanya itu.
"Hai jack" sapanya kepada teman lamanya itu.
"Ada apa ?" tanya Jack
"Kamu tau aku paling benci ketika kamu bilang ada apa " ujar Michell.
"Kenapa ?"
"Karena aku yakin kamu tahu apa yang aku butuhkan."
"Hehehe... Dan aku yakin kamu pun tau apa yang aku inginkan. "
"Baiklah berlibur dipulau Bali selama sepekan, bagaimana ?"
"Nice. Katakan " perintah Jack.
"Retas nomor ponsel seseorang, dan laporkan padaku apapun itu."
"Oke.. Kirimkan nomornya, dan tunggu informasi dariku" ucap Jack.
__ADS_1
Michell pun langsung mengirimkan nomor ponsel Bella. Dia ingin tau apa saja rahasia Bella dan rencana apa yang sedang dia geluti. Hatinya tidak bisa tenang ketika semuanya berhubungan dengan Andini. Dia tidak bisa begitu saja membiarkan orang yang di cintainya terluka. Meski dia tau bahwa Andini tidak pernah mencintainya. Tapi hatinya menolak untuk berdiam diri ketika orang disayangnya tengah dalam bahaya.
Bersambung