Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Pertolongan !


__ADS_3

Hari-hari sudah berlalu kedekatan Chandra dan Andini kecil semakin hari semakin membaik. Sepulang kerja biasanya dia selalu menemani Andini bermain hingga Andini terlelap tidur.


Beberapa hari ini pula Andini tak lagi menayakan dimana keberadaan papa dan mamanya, karena jika dia terus menanyakannya, wajah sedih Chandra terlintang terus dalam pikirannya. Meski dia amnesia tapi jiwanya adalah Andini, bagaimanapun Chandra tidak bisa begitu saja sepenuhnya dia lupakan. Walaupun selama sepuluh tahun ini dia selalu memupuk rasanya tanpa ada siraman dari orang terkasihnya itu.


Tapi tenang saja kini hati Chandra sudah terbuka lebar untuk Andini dan hanya untuk Andini. Terlebih lagi kini sekarang Chandra semakin perhatian, baik, selalu menurutinya dan selalu memberikannya cinta.


Masih dalam kata TAPI lagi-lagi sayangnya, Chandra hanya dikenal oleh Andini sebagai kaka penjaganya yang dibayar oleh Agas, bukan sebagai suaminya. Malang nian nasibnya. Namun apalah dikata semuanya sudah takdir sang penguasa. Dia menerimanya tanpa lagi mengadukannya. Ingat bukankah semuanya ini karena salahnya ??


"Tak perlu diingatkan aku sudah tahu.."ucap Chandra.


"Huh.. Songong sekali kamu😑" Othor Chila mendengus kesal.


***


Dikantornya Chandra sedang sibuk menelpon seseorang, namun tak kunjung diangkat juga. Lima kali dia mencoba menelponnya namun tidak ada satupun jawaban dari orang yang ingin ditelponnya itu.


"Nina..." panggilnya melalui sambungan kabel telepon padahal jarak diantara mereka hanyalah empat meter.


"Iya Pak.. Ada yang bisa saya bantu.." ucap Nina.


"Kau tau kemana perginya Rendi. Dia tidak menjawab telponku" keluhnya.


"Maaf Pak berhari- hari ini Pak Rendi kelihatannya sangat sibuk. Saya sering melihatnya keluar" ungkapnya.


"Apa dia sudah tidak ingin bekerja denganku sehingga dia bekerja semaunya seperti itu.." tanya Chandra dengan mode pelan. Akan tetapi kata-kata itu sangat berarti penuh.


"Saya kurang tahu Pak. Apa perlu saya telpon Pak ?" tawarnya.


"Tidak usah terimakasih. Sebaiknya kamu kembali bekerja."


"Baik Pak !!"


Chandra mematikan sambungan teleponnya bersama Nina.


Drttzzzz Drttttzzz..


Kali ini ponsel Chandra yang berdering, dia kira itu adalah telpon dari Rendi. Akan tetapi saat dia melihat nama di notifikasi tersebut, apa yang menjadi harapannya hanya menjadi harapannya saja.


"Iya Don ada apa ..."


"Kami sudah menemukan tempat tinggal Laura. Hanya saja lagi-lagi kami kehilangan jejaknya. Tapi kami sudah mengepung lokasi ini."

__ADS_1


"Benarkah, sungguh...." ucap Chandra tidak percaya.


"Iya, tapi jangan senang dulu, kami masih sedang mencarinya."


"Ya ya... Teruskan saja dan beri kabar yang baik untukku.."


Tut sambungan mereka sudah di putus oleh masing-masing pemilik ponsel.


Sedangkan ditempat yang sedang dikepung oleh pasukan Doni. Yaitu disebuah rusun yang banyak sekali penghuninya, mereka mencoba mengamati setiap tempat dirusun itu. Pasalnya Laura sudah memasuki salah satu rumah yang berada disana. Dan ketika mereka menyergap ternyata Laura sudah tidak ada disana. Mereka sangat yakin kalau Laura masih berada disana. Karena pasukan penjaga gardu depan juga gardu belakang belum mencium bau-bau Laura keluar dari lokasi tersebut.


Pasukan Doni terbagi menjadi tiga. Gardu depan yakni mereka yang menjaga di garis depan terdiri dari lima orang. Gardu tengah mereka yang saat ini tengah mengepung diarea dalam rusun tersebut, mereka beranggotakan 7 orang sedangkan yang ketiga adalah gardu belakang yang menjaga ditiap titik-titik yang mungkin saja menjadi celah untuk Laura kabur, mereka beranggotkan lima orang juga. Jadi total pasukan yang Doni bawa adalah sebanyak 17 orang.


Sementara di suatu tempat yang tidak bisa mereka jangkau. Yaitu sebuah lemari besar yang berada disebelah rumah yang mereka sergap tadi, disanalah Laura bersembunyi.


Dengan keringat yang terus mengucur, dan suara degupan jantung yang terdengar begitu nyaring dia terus bersembunyi. Dia sangat was-was dan takut. Dalam pikirnya 'jika sampai dirinya tertangkap maka habislah sudah'.


Sementara diluar rumah lemari tersebut, seseorang yang memakai topi hitam dan masker hitam sedang mengendap-endap memasuki rumah lemari itu. Rumah ini adalah rumah yang kelima yang dia masuki seperti maling, beruntung tak ada satupun yang menyadari kehadirannya.


Saat sudah tiba didalam rumah lemari tersebut, seseorang itu merasa anehh, " Kemana orang yang berada dirumah ini" batinnya yang melihat kesekeliling ruangan. Tidak ada satupun tanda-tanda adanya kehidupan dirumah tersebut.


Dia melihat lemari besar yang baginya sangat mencuri perhatian. Kemudian dia mendekatinya, semakin mendekatinya dan membuka


Krekeeettt....


"Syuuut !?" Seseorang itu menaruh jari telunjuknya dimulutnya. Memerintahkan Laura untuk diam.


"Ini aku !" ucapnya sambil membuka maskernya.


"Rendi ?" ucapnya terkejut juga senang karena bantuan sudah datang.


"Cepatlah pakai ini mereka sudah mengepung kita" perintahnya sembari memberikan ransel hitam yang sedari tadi melekat di punggungnya.


"Apa ini...?" Laura menerima ransel itu.


"Cepat buka dan pakailah kita sudah tidak punya waktu lagi. Aku akan membawamu keluar dalam situasi ini.."


"Baik.." ucapnya. Kali ini Laura mengikuti semua keinginan Rendi. Bagaimanapun dia tidak ingin sampai tertangkap oleh para pasukan itu.


"Ingat saat nanti kita keluar, kamu berpura-puralah, seakan-akan kamu akan segera melahirkan. Dan nanti jangan pernah tengok kebelakang. Ingat kita hanya fokus kedepan" perintahnya lagi ketika Laura sudah memakai pakaian orang hamil. Ya ransel itu berisi pakaian untuk seseorang yang berpura-pura mengandung.


"Pakai ini dipaha juga kakimu.."

__ADS_1


"Apa ini ??"


"Itu adalah darah segar dari sapi."


"Hah... !!!"


"Kamu ingin selamat atau tidak. Jika tidak aku akan pergi.."


"Tunggu.. Ya, ya aku sedang memakainya." Tak membutuhkan waktu yang lama dia sudah menumpahkan darah itu dipahanya dan membiarkannya mengalir begitu saja.


Sebelum keluar Rendi mendandaninya juga mendandani dirinya sendiri agar tidak ada satupun dari pasukan tersebut yang mencurigai mereka. Setelah dirasa selesai mereka keluar dari rumah tersebut dengan menggunakan masker hitam untuk menutupi wajahnya masing-masing.


Rendi sudah menggendong Laura dengan ala bridel style. Mereka kini sedang melewati pasukan gardu tengah. Saat mereka berlari tiba-tiba saja ada seseorang yang memanggilnya.


"Tunggu" ucap salah satu pasukan tersebut. Rendi menghentikan langkahnya. Sementara Laura sudah beraksi memegang perutnya dan mengaduh kesakitan.


"Pak, istri saya sebentar lagi akan melahirkan. Tolong untuk tidak mencegah saya" ucap Rendi dengan pura-pura panik.


"Buka masker kalian " ucap salah satu pasukan itu dengan garangnya..


"Akkkhhh... Aakkkhh... Saaakiit " lirih Laura.


"Sayang, sayang aku mohon tolong tunggu sebentar lagi saja. Tolong buka maskermu dan juga aku agar kita bisa cepat kerumah sakit" pintanya kepada Laura.


Laurapun membukanya dan dari mereka tidak ada satupun yang bisa mengenal Laura maupun Rendi. Semua ini berkat riasan yang tadi digunakannya.


"Kenapa kalian menggunakan masker.." tanya pasukan itu.


"Maaf Pak kami, saya dan istri saya sedang mengidap penyakit TBC. Saya tidak ingin menularkannya" ungkapnya. Entah alasan itu dari mana dia dapatkan.


"Yasudah.. Bawa sana istrimu.." ucap Pasukan tersebut.


Mereka berdua sudah berhasil melewati tantangan pertama. Kini saatnya mereka melewati garda terdepan.


Bersambung


Maafkan keterlambatanku...😢


jangan lupa like komen dan subrek ..


ya dukung aku.. gratis kok😉

__ADS_1


sambungan part ini sedang aku sempurnakan mohon bersabar jangan kaburrr tetap staytuned di ABCD..


__ADS_2