
Dua hari sesudah pertengkaran itu, setelah malam itu Chandra tidak tahu pergi kemana. Diapun tidak pernah kembali kerumah. Hilang bak ditelan bumi begitu saja. Rendipun masih mencarinya dengan perintah dari Andini.
Tepat hari ini, Agas perlu pergi ke dokter lagi untuk kontrol keadaan jantungnya. Andinipun ikut mengantarnya kerumah sakit bersama Doni.
Sekarang hati Andini sedang tidak baik-baik saja, bahkan dari kemarin Andini terlihat banyak melamun dan tidak fokus dengan keadaan yang ada disekitarnya. Jadi Doni menawarkan diri untuk masuk menemani Agas berkonsultasi.
Andinipun memperbolehkannya dan dia berkata dia akan menunggu mereka di taman depan rumah sakit.
Kini Andini sudah berada ditaman itu, memandang tanaman-tanaman hias yang tumbuh disana, akan tetapi pikirannya tetap kepada Chandra. Bila dijabarkan pikirannya itu kini seperti akar serabut banyak akan tetapi tidak ada satu pun solusi.
Contohnya seperti apa yang harus dia lakukan agar hubungannya membaik. Memberikan perusahaan itu ? Tidak, pasti Chandra akan meninggalkannya dan jika dia tetap mengikuti keinginannya maka dia harus siap menderita. Keduanya sungguh tidak berdampak baik baginya.
Ketika pikirannya sedang melanglang buana, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang menghampirinya.
"Hais kenapa aku selalu bertemu dengan mu selalu dalam keadaan seperti ini, wajahmu selalu cemberut, bibirmu itu sama sekali tidak ada senyuman dan lagi matamu selalu berkaca. Apa kamu baik-baik saja ?" tanya Rio.
"Dokter.." Berucap sambil mengingat.
"Rio.."ucap Dokter itu, kemudian dia duduk disampingnya.
"Ah ya... Terimakasih soal kemarin itu." Andini mengingat kejadian kemarin pada saat Papanya sedang dioperasi.
"Lihat bahkan kamu tidak memperhatikan perkataanku."
"Memangnya Pak Dokter bicara apa ?"
"Nona, kamu jangan terlalu banyak melamun itu tidak baik" ucapnya memberi saran.
"Tapi jika dilihat, sepertinya kamu banyak masalah. Yah aku siih bukan mau ikut campur urusanmu, hanya saja aku heran Ayahmu sudah sehat, tapi kenapa kamu selalu sedih. Apa ada hal lain ?" tanyanya, entah kenapa setiap bertemu Andini rasa keingin tahuan Rio semakin besar.
"Tidak ada" ucap Andini sambil tersenyum getir.
"Tidak ada ? Aku tidak percaya .. Nona Andini masalah itu untuk dihadapi bukan untuk dihindari, jika belum bisa menghadapinya setidaknya dengan bercerita hatimu akan menjadi sedikit lebih tenang."
Senyum Andini merekah mendengar ucapan Dokter Rio.
"Sungguh tidak ada.." Andini memang tidak akan pernah berbagi cerita selain kepada orang yang dia percayai atau buku diarynya.
__ADS_1
"Yah.. Ternyata kamu benar-benar tertutup rupanya. Tapi aku tidak pernah melihat suamimu, dimana dia?" ucapnya sambil melihat kesekeliling Andini.
"Dia sedang sibuk" ucapnya dengan nada sedikit kecil.
Andini akan selalu mengatakan bahwa Chandra sedang sibuk kepada siapapun yang menanyakannya termasuk kepada Papanya sendiri. Ditambah dengan kata embel- embel lainnya agar orang tidak mencurigai masalah pribadinya itu. Tapi kali ini dia tidak bisa menyembunyikannya dari Dokter Rio.
"Ahh.. Rupanya permasalahannya disini." Rio sudah bisa menebak faktor yang menjadi kesedihan Andini dengan hanya melihat dari raut wajahnya.
Andini seketika terdiam, Rio benar-benar peka terhadap perubahan sikapnya. Meski dia mencoba menutupinya tapi tetap saja kesedihannya selalu bisa diketahui.
"Laki-laki itu tidak hanya dia masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas dicintai dan tentunya lebih baik dari padanya. Kita tidak pernah tau masa depan, bagaimana kita akan menjalani hidup. Yang pasti teruslah semangat menjalani hidup ini dengan lebih baik" ucap Rio sambil menerka permasalahan yang diderita Andini.
"Mengapa kamu berkata seperti itu ?" ucapnya dengan nada tidak suka.
" Ah haha... Aku hanya meng-copy paste kata-kata hehe, dan sedikit menebak biasanya wanita hanya ingin dicintai, bukan ?" ucapnya ragu, sedikit takut membuat Andini marah.
"Haha.. Pak Dokter tolong jangan menebak lagi Anda salah" ucap Andini menetralkan suasana.
"Haha iya iya..." Rio tersenyum malu.
"Hais aku lupa kalau dia tidak suka orang lain mencampuri urusannya" bisiknya dalam hati.
"Pak Dokter ? Apa mukaku terlihat lebih tua darimu. " Kali ini Rio berniat membalas.
"Hah..." Andini heran dengan perubahan mimik wajahnya
"Pak bapak bukankah itu panggilan untuk orang tua, apa aku lebih tua darimu" ulangnya lagi.
"Ahh maaf aku hanya sekedar menghormati mu, inikan rumah sakit jadi aku memanggilmu dengan sebutan Pak." Kali ini Andini merasa kikuk.
"Haha.. Nona-Nona akhirnya aku bisa membalasmu juga ya, wajahmu terlihat sangat imut jika sedang merasa bersalah haha..."
Rio terbahak-bahak mentertawakan Andini yang sedang cemberut. Setelah merasa puas dia akhirnya berkata,
"Kata-kata bijak itu aku dapatkan dari sebuah novel judulnya "Cinta Dalam Diam" penulisnya Candi aku suka membaca novel dia tapi ceritanya sangat menyakitkan tidak ada kebahagian" ungkapnya.
"Memang cerita itu sangat menyakitkan bagi sebagian orang. Tapi perasaan kata-katanya hanya "Kita tidak akan pernah tau masa depan, bagaimana kita akan menjalani hidup. Yang pasti teruslah semangat menjalani kehidupan ini dengan lebih baik." Aku rasa hanya itu, dan itu berada di dalam bab "Takdir"."
__ADS_1
"Yaa betul. Kamu tau tentang novel itu" tanya Rio
"Aku tau karena aku yang menulis" batin Andini.
"Aku tau, itu bukan penulis terkenal. Tapi sebelum kalimat itu kamu mengatakan hal lain."
"Ah ya.. Kalau kalimat "Laki-laki itu tidak hanya dia masih banyak laki-laki lain yang lebih pantas dicintai dan tentunya lebih baik dari padanya." Itu adalah kata-kataku, ya bisa dibilang komentar untuk novel itu."
"Mengapa kamu berkomentar seperti itu, mencintai adalah hak setiap orang bukan dan tentunya cinta itu tidak bisa dipilih kepada siapa kita memberinya."
"Memang benar bahwa mencintai adalah hak setiap insan tapi bukankah dicintai juga adalah haknya."
" Tapi dalam novel itu juga tertulis "Cinta tak selalu bisa kau genggam. Jika kamu mencintai hanya karena ingin dicintai, maka itu bukanlah cinta. Jika kamu bisa menemukan pelita dalam hidupmu sendiri maka kamu tidak akan pernah berada didalam kegelapan" kamu ingat itu, itu berada didalam bab Definisi Cinta. "
" Mmm... Yah aku ingat, tapi menurutku itu adalah suatu kebodohan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu tentu tidak akan berakhir dengan baik."
"Itu menurut sudut pandang mu bukan sudut pandangku.." jawab Andini kesal.
"Hais kenapa wajahmu berubah jadi kesal begini ?"
" Hah ! Ah ya haha tidak kamu salah lihat" sangkalnya. Padahal dalam hatinya dia merasa kesal dengan perkataan Rio.
"Ouhh.. Haha.. Ya sudah sekarang kamu tidak lagi cemberut, aku kembali keruangan ku dulu, sepertinya ada yang sedang membutuhkan aku" ucap Dokter Rio sambil memperlihatkan poselnya yang sedang berdering.
Andini pun mengangguk sambil tersenyum mengiyakan Dokter Rio untuk pergi.
Kini tinggalah Andini sendiri lagi ditaman itu. Pikirannya kini beralih kepada Dokter Rio yang ternyata adalah penggemarnya meski pada kenyataannya Dokter Rio mempunyai sudut pandang berbeda dengan novel yang di buatnya itu, tapi bila dipikirkan lagi itu bukanlah suatu masalah.
bersambung...
...like dan vote kalian lah yang menyemangatiku saat ini.....
...haha......
...maafin kelakuan prichill yaa...😘...
...aku sayang kalian....
__ADS_1
...sehat sehat selalu😘...