Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Lakukan Sesering Mungkin !


__ADS_3

Sore itu Andini pulang lebih dulu dari pada Chandra. Setelah menaruh tasnya dan tas Papanya dia pergi ke dapur untuk memasak.


"Non, biar Bibi aja yang masak Non temenin tuan saja." pinta Bik Ijah.


"Enggak Bik, gak apa-apa. Papa kangen masakan buatan aku katanya " ucapnya kemudian tersenyum.


"Yaudah Bibi ngerjain yang lain dulu. Kalau Non butuh yang lainnya bilang aja yah" pamit Bik Ijah.


"Siap Bi"


sesangkan diluar, Chandra yang baru saja tiba bingung melihat ada sepatu laki-laki, " Sepatu siapa ini, Apa dia selingkuh ? " Pertanyaan itu sekilas menghinggapi pikiran Chandra.


Diapun langsung masuk dan mendapati pria tua tengah duduk dan menonton televisi.


"Papa " lirinya sembari mengkerutkan keningnya.


"Nak Chandra kamu sudah pulang. "


"Ahh iya Pah Assalamualaikum. " Chandra langsung menyalami Papa Andini.


"Sial kali ini aku harus berpura pura manis dihadapannya, wanita ular ini benar benar berbisa, saat aku mendiamkannya dia malah menghadirkan Ayahnya. Pintar" batin Chandra.


"Waalaikum salam Nak, bagaimana kabarmu" tanya Agas, mertuanya.


"Baik Alhamdulillah Pah, Papa sendiri ?"


"Alhamdulillah Papa juga baik. Oh iya Papa akan menginap disini dirumah Papa tidak ada siapapun. Dan juga Papa sangat merindukan Andini dan kamu " ucap Agas.


"Ahh.. Kenapa Papa seperti sedang meminta izin. Pintu ini akan selalu terbuka 24 jam untuk Papa." Dalam hatinya dia sangat merutuki ucapannya itu.


"Terimakasih Nak."


"Pah aku permisi dulu ya, aku mau mandi dulu. Oh ya Andini sudah tunjukan kamarnya kan ?"


"Iya Nak sudah."


"Ya sudah Pah aku ke kamar dulu" pamit Chandra kemudian ia masuk kekamarnya.


****


Didapur Andini sudah selesai memasak kemudian dia bergegas pergi ke kamarnya untuk mandi dan setelah itu makan bersama.


Saat makan baru saja akan dimulai,


"Sayang, kenapa kamu tidak bilang Papa datang kesini " ucap Chandra mengawali percakapan.


"Apa !! Manis sekali dia. Eitts kok aku gini yah. Mungkin saja dia sudah memaafkan aku" batin Andini.


"Ahh aku sudah memberitahumu tapi ponselmu.... " ucapnya terbata, takut salah bicara.


"Oh yaa.. Waduh sayang maaf ponselnya aku mode diam tadi ada meeting, aku lupa " ucapnya tersenyum dan menunjukan ponselnya.


"Iya tidak apa-apa ka. "


"Yasudah ayo pah kita mulai makannya, masakan istriku ini enak loh dia sangat jago memasak, aku juga sering nambah makasih ya sayang" ucap Chandra dan hanya dibalas dengan senyuman oleh keduanya.


Setelah selesai makan,


"Mm.. Maaf ini Pah. Aku masih banyak sekali pekerjaan jadi bolehkah aku pamit " ucap Chandra.


"Iya boleh Nak. Semangat kerjanya mungkin sebentar lagi dirumah ini ada anggota baru. "

__ADS_1


"Anggota baru " ucap Chandra dan Andini berbarengan, tidak mengerti dengan ucapan papanya.


"Iya.. Anak kalian" ucap Agas dengan senyum tidak dimengerti.


"Papa.. Doakan saja aku sedang berusaha " ucap Chandra.


"Hehe anak yah tentu saja tidak akan" Batin Chandra.


"Ahh.. Sudahlah Pah.. Papa ini " ucap Andini kikuk.


"Hahaha. Sayang jangan seperti itu, artinya kita harus melakukannya sesering mungkin hahaha" ucap Chandra.


"Wah wah .. Papa pesen dua cucu sekaligus" goda papanya.


"Papa sudah ..." ucap Andini.


"Yasudah pah permisi aku ke ruang kerja ku dulu" pamitnya.


Saat Chandra sudah pergi, mereka kembali mengobrol.


"Nak.. Nak Chandra itu menyenangkan juga ya orangnya. Dia nyambung kalau diajak ngobrol" ucap Papanya memuji menantunya. Namun Andini hanya diam menunduk.


"Nakk... Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini ?" tanya Agas.


"Papa aku sangat bahagia" ucap Andini seraya tersenyum.


"Alhamdulillah.. Papa tidak salah memilih suami untukmu."


"Tidak pah. Semua ini sudah ditakdirkan untuk ku.


Aku sangat menyayanginya juga mencintainya" ucap Andini.


"Semoga apa yang dilihat oleh mu benar Pah." Suara batin Andini.


"Kamu jangan menyia-nyiakannya Nak" ucap Papahnya.


"Tidak akan Pah"


"Jika ada masalah harus bicarakan baik-baik, jangan kabur dari rumah" nasehatnya.


"Iya Pah."


"Terus jangan sampai bercerai. Perceraian itu adalah perbuatan yang sangat di benci tuhan kita."


"Tentu tidak akan Pah. Aku tidak akan bercerai dengannya " ucap Andini mantap.


"Aku tidak akan bercerai dengannya namun dia ingin sekali aku menggugat cerai untuknya. Papa.. Lalu apa yang harus aku lakukan jika kamu tahu akan hal ini ? Menuruti kata hatiku atau menuruti keinginannya " bisik Andini dalam hatinya.


Setelah lama berbincang dengan Papanya Andini pergi kekamarnya karna waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam waktunya untuk ia dan Papanya beristirahat.


Dia pun segera masuk kekamarnya. Saat membuka kamarnya Andini langsung ditarik oleh seseorang yang ada didalam kamarnya.


"Aaaahhh" ucap Andini kaget. Namun mulut Andini langsung ditutup oleh lengan seseorang itu.


"Diam." Chandra langsung melepaskan tangannya. Ya seseorang itu adalah Chandra.


"Ka... Kamu ngapain ada disini" ucap Andini.


"Syuuuuttt kamu lupa ini rumah siapa. Ini rumah aku dimana pun aku itu bukan masalah" ucapnya setengah berbisik. Tentu dia tidak ingin Ayah Andini mendengar keributan mereka.


"Iya.. Tapi kenapa tumben ada di kamar ku" ucap Andini pun sama setengah berbisik.

__ADS_1


"Kamu ngerencanain ini."


"Apa ?" Andini tidak mengerti.


"Berlaga tidak tahu apa apa. Cihhh.. Wanita ular. Kau pikir ini sedang main film. Sandiwaramu cukup bagus " ucapnya berdecih.


"Sandiwara ? Maksudmu ? " Andini masih tidak mengerti.


"Picik. Setelah kamu mengadu kepada ayahku, sekarang kamu membawa orang tuamu kerumah ini. "


"Soal membawa papa aku minta maaf ka. Dan aku sudah bilang, kamu tau itu kan ?" Ya memang Andini sudah menghubunginya namun tidak tersambung.


"Apa yang kamu inginkan " tanya Chandra.


"Apa " Andini benar-benar tidak mengerti yang dimaksud Chandra.


"Ouhh kamu mau aku berbuat baik sama kamu, maafin kamu gitu aja iya hah" bentaknya namun suaranya masihh berbisik.


"Ka.. Kamu masih marah sama aku"


"Tentu saja. Orang sepertimu tidak pantas untuk aku maafkan."


Andini menghela nafas, kemudian dia meraih tangan Chandra dan memegang nya dengan erat, menatapnya dengan lekat,


"Aku gak tau kamu kenapa sebenci ini sama aku. Aku gak tau apa yang udah aku aduin sama ayah mertua. Dan aku gak ada niat buat ngajak papa nginep, dia sendiri yang mau. Aku gak bisa menolaknya, dia orang tuaku"


"Lepas.. Lepaskan tanganmu Andini" Chandra menepisnya dan Andini tersungkur.


"Ouhh iya.. Papa mu meminta anak. Jangan harap Andini. Aku sangat membencimu. Apa kamu bilang cinta, kamu cinta sama aku. Bahkan kamu tidak bisa membiarkan aku bahagia Andini. Kamu selalu menyiksaku dari dulu sampai sekarang" tambahnya lagi.


"Maksudmu apa ? aku memang mencintaimu, aku memang mengagumimu sedari dulu tapi aku tidak pernah menyiksamu, bagaimana mungkin aku bisa..." ucap Andini tidak mengerti.


"Kamu adalah orang yang memisahkan aku dengan orang yang aku cintai. Kamu menjadi penghalangnya. Kamu egois Andini. Cintamu egois dan melukai banyak orang" ungkapnya.


Lagi lagi memang Andini tidak mengerti dengan yang diucapkannya.


"Siapa orang yang kamu cintai ka dan siapa orang yang sudah aku sakiti. Aku benar benar tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. "


"Bella. Dia sangat menderita karna kamu" ungkapnya.


"Ka dia sahabat aku mana mungkin aku membuatnya menderita."


pok pok pok


Chandra menepuk tangannya.


"Mana ada penjahat yang mau ngaku Andini. Kamu tau dulu aku sangat menyukainya, dan kamu hadir hanya memisahkan kita. Kamu bahkan menyuruhnya untuk menjauhiku tidak hanya dia semua murid perempuan disekolah, kamu melarang mereka untuk berdekatan denganku"


"Kapan aku melakukan itu. Bahkan aku menyuruhnya untuk bersama denganmu, aku memang menyukaimu dari dulu semenjak kita bertemu tapi ...." ucapannya terpotong.


"Halah Andini. Semuanya aku sudah dengar dan aku sudah membuktikannya kamu memang wanita jahat Andini. Kerudungmu hanya alat siasat untuk menutupi wajah aslimu. "


"Kaa..." Andini geram dengan kata kata terakhir Chandra.


"Dengar jika bukan karna Papa mu dan ayahku aku tidak akan berbuat baik padamu" ucap Chandra dan ia langsung melenggang pergi dari kamar Andini.


Setelah Chandra pergi, Andini menghemaskan tubuhnya diatas kasur, dia sudah lelah hampir setiap hari pasti ada saja topik yang bisa diributkan.


"Mengapa ya Allah kenapa dia berbeda, aku tidak mengerti ucapannya. Aku tidak pernah menyiksanya aku memang mencintainya, bahkan aku merelakan Bella bersamanya agar dia bahagia tapi kenapa dia bilang aku memisahkannya setauku Bella mencintai Michell. Tidak kenapa seperti ini aku harus mencari Bella, mungkin Michell tau dia berada dimana. Dengan begitu aku bisa meminta Bella untuk mengatakan kebenarannya, ya permudahkanlah urusanku Ya Allah demi rumah tangga kami " batinnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2