
...Setiap rasa sakit akan memberikan pelajaran dan setiap pembelajaran akan mengubah seseorang....
..._Anonim...
...*******...
Pagi itu Andini meninggalkan mereka berdua di meja makan, Andini sudah tidak tahan dengan Chandra yang selalu memojokannya, tidak adakah harga bagi dirinya lagi ? Mengapa Chandra yang dulu dia kenal sekarang berbeda 300 derajat, dia kenal bahwa Chandra lembut dan juga begitu menghargai wanita. Tapi sekarang dia begitu tidak menghargai wanita.
"Kenapa Chandra, katakan apa salah ku ? " ucapnya dengan memukul-mukul stir mobilnya, dia menangis di dalam mobil dalam perjalanan menuju kantor.
"Aaaaaaa, aku juga seorang wanita terlebih aku ini isterimu Chandra, apakah kau sadar akan hal itu, apakah kau tidak ingat, hari itu kamu menjabat tangan Papaku dan meminta hak atas diriku, kau akan bertanggung jawab atas diriku, bahagiaku sedihku tapi, tapi mengapa kau tidak pernah menghargai diriku sedikitpun hu hu hu hu..."
"Aku mencintaimu Chandra tak apa jika kau tidak membalasnya setidaknya kau menghargaiku sebagai isterimu, aku tidak pernah membenci mu meski kamu sudah bermain di belakangku dan itupun bersama temanku sendiri, aku sudah memaafkan mu. Karena aku tahu cinta itu tidak bisa dilupakan begitu saja tapi tolong disini ada aku, aku adalah isterimu hu hu hu.."
Perasaan Andini benar-benar hancur terbukti dengan air matanya yang tidak pernah berhenti menetes. Sakit yang dirasakan didalam dadanya seperti kulit yang sedang di tusuk, seperti kulit yang di sayat lalu di lumuri dengan cuka.
Kini bukanlah kantor yang menjadi tujuannya akan tetapi makam ayah mertuanya.
Sekuat-kuatnya seorang wanita, setegar-tegarnya seorang wanita dia pasti membutuhkan seseorang sebagai sandarannya. Papanya sedang tidak mungkin dijadikannya sandaran, suaminya sendiri adalah pelaku yang menyebabkan air matanya terus mengalir. Dia tidak memiliki siapapun lagi selain Agas dan Chandra. Teman ? Dia tidak memiliki teman yang bisa dia percayai, seorang Andini tidak pernah menceritakan kisahnya kepada orang lain selain diarynya sendiri.
"Assalamualaikum Ayah" ucapnya ketika baru saja tiba dipemakaman ayah dan ibu mertuanya itu.
"Ibu.." seru Andini kepada almarhum ibu mertuanya.
"Maafkan Andini Yah.. Dulu ayah meminta Andini untuk selalu memaafkan anakmu, tapi saat ini Andini belum bisa memaafkan kesalahannya yang baru saja dia perbuat Ayah, maafkan Andini. Andini sangat terluka Ayah, Ka Chandra dia dia
..." Air matanya kembali mengalir ketika pikirannya memutar memori kejadian kemarin dan pagi ini.
Lama sekali dia menangis sampai kelelahan dan suaranya pun menjadi sedikit lebih serak.
"Astagfirullah.. Aku tidak boleh terus begini. Ayah sudah tenang bersama bunda disana, aku tidak boleh mengganggu ketenangannya dengan menceritakan masalah duniaku. Bagaimanapun kita sudah berbedaa.. Maafkan aku Ayah.." gumamnya ketika dia sudah sadar dengan apa yang dilakukannya. Kemudian dia menghapus jejak air matanya itu dan menadahkan tangan keatas untuk mendoakan kedua mertuanya itu.
Menangis membuatnya kehilangan begitu banyak energi, perutnya yang baru terisi sedikit itu sekarang sudah meminta jatah lagi. Diapun meninggalkan pemakaman itu dan pergi menuju restoran.
Kini dia sudah berada direstoran dan sudah memesan makanan. Dia sengaja tidak berangkat kekantor karena dia benar-benar tidak mood, menstruasinya yang baru saja tiba dan juga Chandra yang tidak menghargainya benar- benar membuatnya muak dan tidak ingin bertemu siapapun.
Saat sedang membolak balik makanan yang berada dihadapannya, seseorang menarik kursi yang berada dihadapan Andini sekarang.
Kreeet...
__ADS_1
"Hai.." sapanya.
"Pak Dokter !" Andini terkejut akan kehadiran Dokter Rio.
"Panggil saja Rio" ucapnya sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ada disini ?" tanya Andini.
"Kamu tidak bekerja ?" dijawab dengan pertanyaan oleh Rio.
"Aku sedang tidak ingin bekerja" jawabnya, kemudian dia memakan makanan yang sedari tadi dia acak-acak.
"Bagus, dan aku sedang tidak ingin bertemu pasien" ucapnya asal.
"Hemm. Apa kau ingin makan sesuatu, silahkan saja pesan, aku yang akan membayarnya." saran Andini, dengan suara seraknya.
"Haha.. Aku sudah memesan makanannya tapi belum datang juga. Kalau mau meneraktir lain kali saja. Kenapa matamu sembab ? Oh tidak, aku yakin pasti jawabanya tidak kenapa-napa." ungkapnya kembali mengingat pertemuan pertama mereka dirumah sakit.
Andini hanya diam mendengarkan ocehan Dokter Rio sambil memakan makanannya.
"Baiklah dengarkan aku, dengarkan baik-baik perkataan ku yah" ucapnya dengan nada sedikit mengancam.
Tersenyumlah disaat kau bahagia, dan tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Lakukanlah sesuatu yang bisa membuatmu bahagia.
Janganlah pernah kau menagis untuk sesuatu yang tidak seharusnya kau tangisi.
Menurutku menangis tidak akan menyelesaikan masalah malah akan membuat masalah. Bagaimana tidak setelah kamu menangis hidungmu akan berair, matamu menjadi sembab, kamu tidak cantik lagi.
Begini akan aku ajari bagaimana caranya tersenyum itu, seperti ini hehe..
Dan caranya tertawa itu seperti ini hahaha..
Gampang bukan ?
Kita harus belajar dari pengalaman bahwa waktulah yang akan mengobati rasa sakit dan membalut luka-luka dihati dengan kebahagian."
Andini mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Rio dengan begitu cermat. Dia begitu kagum akan kata- kata yang baru saja Rio ucapkan. Setidaknya itu benar benar mendamaikan perasaan nya saat ini.
"Darimana kamu mendapatkan kata-kata seindah itu ?" tanyanya begitu penasaran. Apakah dia menjiplak lagi seperti tempo hari, batinnya.
__ADS_1
"Dari dirimu" ungkapnya yang sontak saja membuat Andini terbelalak kaget.
"Apa ?" tanya Andini memastikan bahwa dia tidak salah dengar.
"Ahh ya dari matamu itu kan sembab jadi aku sedikit mengolah kata. Bagaimana apa aku bisa menjadi novelist" kelakarnya.
"Ouh haha..." Andini ber-oh ria tanpa mencurigai maksud terdalamnya. "Bagus.. Aku suka. Sepertinya sebentar lagi akan ada seorang Dokter yang akan merangkap sebagai Penulis" sindirnya.
"Haha ... Ide bagus" jawabnya.
Merekapun berbincang-bincang dengan senangnya. Sejenak Andini melupakan permasalahan yang sedang melandanya itu. Kehadiran Dokter Rio membuatnya sedikit lebih menenangkan jiwa-jiwanya yang sedang terluka.
Namun di sudut ruangan yang tidak disadari oleh mereka, ada sepasang mata yang menatap mereka dan mengabadikan mereka. Siapa lagi kalau bukan mata-mata Chandra, yang dia suruh untuk selalu mengikuti kemanapun Andini pergi.
Dikantornya.
Chandra yang sedari tadi menunggu kabar dari seseorang pun langsung mendapat pesan dari orang tersebut.
"Jadi kau pergi dari rumah dengan terburu-buru itu karena kau ingin bertemu dengan dia, Andini. Huh kau bermain di belakangku. Lihat pelajaran apa yang bisa aku berikan kepadamu." Tangan Chandra mengepal keras. Ketika dia melihat foto kebersamaan Andini dan Rio.
Bersambung...
Question from Author.
Pelajaran apa yang akan di berikan kepada Andini.
a. Sosiologi
b. Ekonomi
c. Bahasa Inggris
d. Bahasa Arab
e. Matematika
jangan lupa dukungan nya.
dan ingat pesan emak😇
__ADS_1