Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Dingin


__ADS_3

...Aku yang sangat menginginkan cintanya...


...Maka aku akan menerima setiap konsekuesinya...


...Dengan waktu yang aku punya...


...Aku yakin bisa merubah pandangannya kepadaku....


...Dengan restu MU Ya Allah.......


...**..**..**..**..**..**..**..**..**..**..**..**..**..**...


Pagi harinya dia sudah bersiap untuk pergi sarapan akan tetapi sebelum sarapan dia ingin meminta maaf kepada suaminya. Pintu kamar Chandra tidak terkunci dan ia langsung masuk. Seperti biasa Chandra sedang mandi dan dia segera menyiapkan baju untuknya.


Chandra membuka pintu kamar mandinya. Dia melihat Andini ada dikamarnya namun dia sedang tidak mau berbicara dan menganggap Andini tidak ada


"Ka ini pakaiannya" ucap Andini dan tak lupa memberinya sebuah senyuman. Akan tetapi Chandra tidak menggubrisnya dan tidak pula mengambil pakaian yang sudah disediakan oleh Andini.


Dia mengambil pakaiannya sendiri di lemarinya.


"Ka. Soal yang kemarin aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk berbicara dengan nada tinggi dan berbicara cukup kasar" ucap Andini tulus.


Tapi lagi-lagi Chandra hanya diam, bungkam seribu bahasa, saat hendak melewati Andini, dia meraih tangan Chandra,


"Ka tolong maafkan aku " ucapnya sambil memandangi mata Chandra. Tetapi Chandra menepisnya dan terus berjalan dan diikuti terus oleh Andini dari belakang.


"Ka jika tidak ingin memaafkanku setidaknya kamu sarapan terlebih dahulu. " Tidak ada tanggapan dari Chandra.


"Ka ..." lirihnya yang lagi lagi menahan tangan Chandra.


"Andini " bentaknya serta sorot matanya yang tajam membuat siapa saja yang melihatnya benar benar ketakutan.


Andini melepaskan tangannya dan membiarkannya pergi begitu saja.


"Ya Allah kaa.. Kenapa kamu berubah. Hanya karna kesalahan yang aku tidak tahu. Ya robb. Tunjukan padaku apa yang terjadi sebenarnya" batin Andini menjerit. Tapi apa yang bisa dia lakukan selain bersabar. Nasib rumah tangganya ada pada dirinya, jika dia mampu maka dia lulus dari ujian ini.


****


Sudah tiga hari pertengkaran itu berjalan. Andini masih mencoba meminta maaf kepada Chandra. Tetapi Chandra masih diam dengan sejuta bahasa. Dia juga selalu melewatkan sarapan paginya. Andini pernah membuatkan minuman untuknya tetapi selalu dibuang tepat didepan matanya, bahkan pernah satu hari itu dia membuatkan minuman sampai lima kali. Dan lima kali juga Chandra membuang minumannya dan untuk yang kelima itu dia membuangnya tepat dimuka Andini.


Andini terus melayaninya tanpa ada keluhan tapi tetap saja selalu tidak dihargainya.


Andini hari ini berangkat kekantor sudah tidak lagi memesan taksi online. Akan tetapi dengan mobil dia yang dulu sempat ayahnya pinjam. Ayahnya seperti itu tidak suka menghamburkan uang jadi sengaja meminjam mobil Andini. Bukan hanya itu maksudnya juga agar Chandra dan Andini semakin dekat meski hanya dengan mengantar dan menjemput. Tapi itu adalah hal yang sia-sia, Andini berangkat bekerja selalu dengan taksi online.


Siang ini saat sebentar lagi memasuki waktu makan siang dia mendapat pesan dari ayah mertuanya.


"Nak. Siang nanti ayah ingin makan siang denganmu di restoran Selayar, bisa kan. Ayah tunggu "


Diapun menjawab pesannya


"Baik yah. Aku akan segera kesana"

__ADS_1


Diapun segera menjejakkan gasnya menuju sebuah restoran.


Setibanya dia disana, ayah mertuanya sudah menunggu tepat dimeja nomor 24


"Assalamualaikum Ayah, maaf aku terlambat." Andini menyalami tangan orang tua itu kemudian mendudukan dirinya.


"Waalaikum salam tidak Nak kau datang tepat waktu" ucap Hermawan.


"Oh ya kemana Ka Chandra, apa dia tidak ikut ?" tanya nya karna tidak melihat Chandra.


"Tidak, ini hanya makan siang untuk kita berdua saja."


"Ouhh iya, tapi ada apa ya yah ?"


"Begini Nak... " Saat ingin meneruskan, ucapannya terpotong oleh seorang pelayan yang tiba tiba datang.


"Maaf ibu pak ini daftar menunya silahkan dipesan " ucap pelayan restoran .


"Silahkan kamu pilih dulu makanannya." Mertuannya mempersilahkan menantunya untuk memilih.


"Baik mbak saya pesan ini dan ini" tunjuk Andini pada buku menu yang dipegangnya.


Setelah memesan ayah mertuanya melanjutkan obrolan yang sempat terpotong itu.


"Begini Nak. Ayah ingin berbicara tentang Chandra."


"Ada apa Ayah tentang ka Chandra, apa dia baik baik saja."


"Ayah kenapa Ayah bicara seperti itu. Kenapa dengan Ka Chandra, menurutku Ayah sudah mendidiknya dengan baik. " Andini tidak berkata jujur, karna dalam fikirannya bagaimanapun Chandra adalah suaminya, dia tidak ingin mengadu.


"Tidak Nak. Ayah tidak mendidiknya dengan baik. Tapi ayah mohon untuk selalu memaafkannya, bersabar akan dirinya, ayah mohon jangan pernah meninggalkannya " lirihnya.


"Ayah, ayah ini kenapa. Aku begitu mencintainya mana mungkin aku melepaskannya. Bahkan perasaanku ini sudah ada sejak dulu sebelum ayah datang kerumahku untuk menjodohkan kami."


"Sungguh benar begitu. Bisakah kau berjanji untuk tidak meninggalkannya, agar hidup ayah menjadi tenang. Demi ayah " ucapnya memohon dengan tulus.


"Ayah aku janji akan selalu menjaganya mencintainya dan tak akan meninggalkannya " ucap Andini.


"Ayah sangat bahagia mendapat menantu seperti mu. Baik cantik pintar dan sabar, Didunia ini wanita sepertimu sudah sangat langka " ucapnya dengan rasa penuh kebahagian.


"Ayah memangnya aku itu badak yang hampir langka. " Mereka pun tertawa bersama layaknya seorang ayah dan anak kandung.


Sebenarnya masih ada begitu banyak pertanyaan yang hinggap dalam hatinya. Namun dia tidak ingin menanyakan apapun kepada mertuanya, takut nanti dia kelepasan membicarakan sikap Chandra.


Sejenak melupakan apa yang terjadi saat ini


Dan mengingat kembali kenangan dulu saat pertama jumpa, sikap dinginnya yang mampu menggoyahkan hati Andini. Dan membuatnya selalu ingin menjadi matahari dalam hari harinya. Meski dirinya sendiri adalah malam yang gelap dan begitu dingin, namun saat ini Andini sudah bisa menjadi mataharinya, akan tetapi cahaya itu tidak dapat menembus kegelapan di relung hati Chandra. Karena itu Chandra belum dapat merasakan kehadirannya.


"Entahh apa yang terjadi padamu Chand.. Aku hanya berharap suatu hari nanti kau dapat merubah itu. Terkadang aku menyukaimu yang dulu meski cuek akan tetapi aku masih bisa melihat senyummu. Meski itu bukan untukku, tapi aku bahagia ...." lirihnya disela sela sedang menikmati makan siangnya.


"Oh iya Nak. Ayah ingin mengatakan bahwa ayah akan pergi ke Surabaya sekitar dua pekan disana, untuk peresmian cabang baru. "

__ADS_1


"Wah selamat ayah.. Ayah memang pembisnis yang hebat "


"Ini semua berkat Papa mu dia yang baik pada Ayah mertuamu ini. Dia orang yang selalu membantu Ayah dan Ayah sangat beruntung bertemu dengannya."


"Ayah kata Papaku ayah adalah temannya sedari kecil. Bisakah kau menceritakan tentang kalian berdua kala itu terutama Papaku " pinta Andini, dan Hermawan pun menceritakan kisahnya dulu.


***


Saat tiba dikantornya Andini langsung masuk keruangannya. Betapa terkejutnya dia melihat papanya sudah duduk manis ditempat duduknya.


"Papa.. Tumben disini kenapa gak bilang bilang ?"


"Sengaja Papa tau ko anak apa dari mana."


"Tau dari siapa Pah"


"Hermawan, mertuamu. Dia izin dulu sama papa."


"Ouhh."


"Tadi kalian ngobrolin apa ?" Papanya begitu kepo.


"Enggak ngomong apa apa cuma pengen makan siang bareng aja pa. Kenapa papa gak ikut kan biar rame" tanyanya.


" Papa gak boleh ikut sama mertuamu."


"Haha.. Wah wahh wahh benar benar besan papa itu yah."


"Papa hari ini mau pulang kerumah mu boleh ?"


"Hah.. Bagaimana ini ?" batin Andini.


"Mm boleh pah. Tumben papa ingin pulang kerumah ku. "


"Papa kangen sama masakan kamu, lagian bik Srinya lagi gak ada kamu taukan Samsul satpam kita gak bisa masak."


"Iya iya bener Mang Samsul paling gak bisa masak. Ohh iya sebentar lagi acara haulnya kematian anaknya bik Sri ya pah ?"


"Nah itu kamu tau."


"Papa mau pulang bareng mobil aku atau mobil papa sendiri " tanya Andini.


"Mobil kamu aja deh. Nanti mobil Papa biar Doni aja yang bawa."


Donii adalah salah seorang teman Andini, dia bekerja sebagai asisten pribadinya Papa Andini, dia anak dari orang yang tak punya, akan tetapi dia memiliki kecerdasan yang menarik bagi ayah Andini.


"Oke.. Kita pulang bareng. "


Dan merekapun pulang bersama menuju rumah Andini. Sebenarnya Andini bingung harus menolak atau mengiyakan permintaan ayahnya apalagi dengan keadaan rumah tangganya saat ini.


"Bagaimana pun nanti akan ku terima konsekuesinya." Hati Andini membatin.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2