Antara Benci Cinta & Dendam

Antara Benci Cinta & Dendam
Cembukur ! Eh, Emang Aku Siapa ?


__ADS_3

"Nina Michell" ucap Chandra yang terkejut melihat siapa yang datang.


"Pak Chandra..." sapa Nina sambil menunduk memberi hormat.


"Hai.." ucap Michell dengan senyum seringainya.


"Kalian sudah saling mengenal ?" tanya Nina penasaran melihat sikap keduanya. Chandra yang dengan muka masamnya dan Michell dengan muka yang tidak dapat diartikan.


"Bukan tidak mengenal dialah orang yang selalu menjadi penghalangku" batin Michell


"Huh kenapa dia ada disini, apa dia benar akan merebut Andiniku ?" bisik Chandra.


"Huh Chandra kali ini aja kamu bilang ANDINIKU kemarin kemana aja." Kesal author.


"Hallo !" Nina menggerakan tangannya kekiri dan kekanan. Membuyarkan lamunan mereka masing-masing.


"Ehh.. Dia adalah mus.. Te teman ku" ucap Chandra.


"Oh kebetulan sekali.." ucap Nina sambil tersenyum.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan hubungan pertemanan mereka" batin Nina yang sedari tadi melihat mimik muka dari kedua orang dihadapannya itu.


"Pak.. Ini ada sedikit bingkisan, tolong di terima " ucapnya seraya memberikan keranjang buah.


"Ah.. Terimakasih Nina" ucap Chandra sambil menerimanya.


"Oh ya Nina. Kebetulan sekali kamu berada disini, saya ingin membicarakan sesuatu denganmu tentang pekerjaan. Bisa kita keluar sebentar" ucap Chandra.


Nina pun langsung mengikutinya keluar. Sedangkan Michell menatap sendu Andini yang masih belum sadar juga dari komanya. Dia mulai mendekati Andini. Matanya tetap setia menatapnya, dan tak terasa


"And.. Bagaimana kabarmu ? Apakah kamu tidak lapar, sudah tiga hari ini kamu masih saja tidur pulas. Apakah badanmu tidak pegal And.. Ada banyak yang ingin aku ceritakan kepadamu, tentang semua yang terjadi disekitar kita. And.. Bangunlah !! Aku merindukanmu" ucapnya sambil mengelus lembut wajah Andini.


"Michell" ucap Nina dan juga Chandra bersamaan.


Sontak membuat Michell langsung membalikkan badannya.


"Ahh.. Kalian sudah selesai bicaranya ?" ucapnya untuk menetralkan suasana yang menurutnya cukup seram. Apalagi melihat tatapan Chandra.


"Iya kami sudah selesai.." ucap Nina dengan nada yang tidak suka. Tentu saja dia hanya berharap Michell menjelaskan kejadian tadi akan tetapi dia tidak menjelaskannya.


Melihat raut muka Nina yang berubah, Michell pun langsung menjelaskannya.


"Maaf dia ini juga sahabatku Nin.." ucapnya demikian.


"Ekhemm... Nin kamu kenal Michell " tanya Chandra.


"Ya.. Kami adalah teman saat SMA" jawab Michell..

__ADS_1


"Kenapa aku merasa sakit ketika dia bilang jika aku ini temannya. Bukankah kami memang hanya teman ya ?" batin Nina didalam hatinya sambil menatap nanar Michell.


"Ckk ckk.. Aku bertanya kepada Nina bukan kepadamu " decak Chandra.


"Lalu apa masalahnya jika aku yang menjawab, jawaban kami pasti sama kok" ketus Michell.


"Iya memang kita adalah teman Pak" ucap Nina dengan senyum getir.


Sesekali dia menatap Andini yang sedang koma, "Kenapa aku merasa bos ku ini bukan hanya sekedar sahabat dalam hati Michell, melainkan lebih dari sahabat. Aishhh... Ternyata benar semakin keras aku berjuang dalam melupakan mu tapi kamu tetap berdiri teguh dihatiku meski kamu menyakiti sekalipun. Apakah aku sedang cemburu lagi ?" batin Nina lagi.


"Nina... Apakah sudah menjenguknya.. " ucap Michell.


"Ah ya.. Pak semoga Ibu Andini segera siuman, dan bisa cepat kembali bersama kita lagi."


"Terimakasih Nina sudah menjenguk istri saya" balas Chandra.


Merekapun akhirnya berpamitan untuk pulang. Nina yang merasa hatinya sedang tidak baik-baik saja tidak bisa menyembunyikan perasaannya itu baik didepan Chandra maupun Michell. Bahkan ketika Michell menawarinya untuk pulang bersamapun dia menolak dan lebih memilih pulang dengan naik taksi online.


Michell pun meninggalkannya dan ketika Nina sedang memesan taksi, tiba-tiba saja ponselnya mati. Ya dia lupa mengisi batrei ponselnya.


Sempat berpikir untuk kembali lagi ke ruangan Andini. Tapi bukankah dia akan merasa sangat canggung, disana ada Chandra atasannya. Dan lagi pula hatinya merasa sakit jika mengingat Michell sedang mengelus pipinya.


Dia pun berdecak kesal. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan ke depan berharap ada pangkalan ojek dan lainnya. Dia terus berjalan tetapi tidak ada satupun taksi maupun ojek yang melewatinya. Berjalan terus hingga malam pun berubah menjadi lebih gelap lagi, angin dingin sudah menerpanya disertai suara gemuruh petir menambah suasana mencekam. Menandakan malam ini akan hujan karena rintiknya pun sudah menyentuh telapak tangannya.


"Hais .. Sesial inikah jika aku marah pada orang yang sedang sakit, tuhan mengapa kau tidak memikirkan nasibku." Nina berjalan sambil menendang-nendangkan kakinya.


Tid.. Bunyi klakson dari mobil yang berada dibelakangnya.


"Sudah kesalnya Nona Nina.." tanya Michell dengan senyum seringainya.


"Michell.. Kenapa kamu ada disini ? Bukankah kamu sudah pulang ?" tanyanya dengan nada jutek.


"Ya.. Aku pulang lagi, ada yang ketinggalan" ucapnya santai.


"Ohh..." Mode ketus Nina masih berjalan.


"Ayo.."


"Apa ?" tanyanya tanpa melihat Michell.


"Naik.. Mau hujan nih.."


"Bukannya kamu ada yang ketinggalan ?"


"Iya kamu !"


Deg.. Nina pun terkejut mendengar perkataan Michell. Dia pun langsung menolehkan kepalanya dan menatap Michell. Dia merasakan aneh dengan hatinya, berdesir entah apa itu. Tapi rasa gengsinya terlalu tinggi diapun menolaknya lagi.

__ADS_1


"Aku tidak butuh becandaan mu, pulanglah !" Nina kembali melanjutkan perjalanannya.


"Hei.. Apa kamu ingin hujan-hujannan di malam hari begini ?"


"Bukan urusanmu.."


"Hei hidungmu baru saja sembuh kau ingin membuatnya rusak lagi."


"Hmm.."


"Lihat saja jika rusak aku tidak akan menyembuhkannya, bahkan aku akan membuat hidungmu tidak ada sekalian."


"Hei.."


"Apa ? "


"Jika kamu masih tidak mau masuk aku akan lebih memperburuk hidungmu.. Masuklah lagi pula ini sudah malam sebentar lagi hujan. Buruan masuk ! Atau kamu mau aku gendong yah " tanyanya dengan senyum yang usil.


"Haisshh... "


Brugh... Akhirnya Nina sudah masuk ke mobil Michell.


Byuuuurr... Hujan dengan langsung mengguyur kawasan itu. Tanpa aba-aba lagi hujan itu langsung bisa membasahi siapapun yang ada dibawahnya.


"Untung kamu udah masuk" ucap Michell sembari melajukan mobilnya.


"Kamu kenapa ?" tanyanya heran yang melihat wajah Nina sedari tadi di tekuk.


"Eh kok diem aja sih, aku tanya kamu kenapa kelihatannya kaya bete gitu" tanyanya sekali lagi.


"Ya iyalah bete tiba-tiba elus pipi orang aja." Namun kata-kata itu hanyalah bisikan dihati Nina.


"Chell, aku pusing. Tadi Pak Chandra ngasih aku banyak kerjaan. Boleh di percepat aja mobilnya. Aku ngantuk pengen rebahan" pintanya. Padahal Chandra sama sekali tidak memberikannya pekerjaan.


"Yaudah !!" Michell menuruti perkataannya.


Didalam hatinya, " Aku tahu kamu lagi kesel karena lihat aku sama Andini kan, maaf Nin aku belum bisa kontrol diriku sendiri kalau udah liat Andini. Aku gak bisa bohong kalau aku udah move on seratus persen. Aku masih mencintainya tapi aku akan berusaha buat ngelupainnya. Itu janji aku Nin. Tunggu aku, sebenernya aku juga tau Nin kamu suka aku. Tapi alangkah baiknya aku suka kamu tanpa alasan bahwa aku ingin melupakan Andini. Aku gak mau jadiin kamu pelampiasan. Aku juga masih punya pertanyaan ke diriku sendiri apa aku juga mencintaimu ? Aku masih berusaha untuk menjawab pertanyaan aku sendiri." Michell menatapnya dengan nanar.


Perasaannya masih berkecamuk. Dia harus bisa menentukan pilihan yang terbaik tanpa ada hati yang tersakiti, baik itu dirinya sendiri ataupun Nina.


Bersambung...


_________


Disini suka ada yang melampiaskan perasaannya ke seseorang. Tolonglah sadar bahwa orang itu bukan pengganti 😈


Maaf Prichill telat up date kemarin reviewnya du hari. Entahlah apa yang terjadi dengan NT πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2