
Voilaaaa, ketemu lagi sama aku. Penulis nubie dari Negeri Dongeng. Okelah, langsung aja, yess. Kuy, kita kemoooonn.
Eitzzz! Baca 7 episode pertama dulu, okey. Setelahnya, silakan memilih mau meneruskan membaca atau stop.
Cekidot 😉
Pembukaan Apartemen Infinity by Liam Group, mahakarya arsitektur karya Ryuji Nobi berkolaborasi dengan sang pewaris tunggal, Finn Elard Liam, berjalan meriah. Acara terselenggara bukan tanpa maksud.
Chris selaku Co-Founder dan CEO Liam Group mengatakan, pembukaan bertujuan untuk memperkenalkan kepada publik agar masyarakat dapat melihat hunian paling hits di Jakarta. Desain bangunan unik tersebut memiliki rancangan setinggi 30 lantai. Mencakup 375 unit apartemen dan 150 kamar hotel.
Chris pun sekaligus memanfaatkan momen tersebut. Ia memperkenalkan sang putra sebagai CEO baru menggantikan dirinya kepada khalayak ramai. Sebagai seorang Ayah, ia dengan bangga menyebutkan nama anak tunggalnya agar naik ke atas podium.
Setelah bertahun-tahun meminta sampai merayu. Chris dengan dibantu Diana, akhirnya bisa meluluhkan sang putra untuk menjadi CEO.
Finn Elard bukan tanpa alasan menolak. Pasalnya, ia juga memiliki sebuah perusahaan yang bergerak di bidang sama dengan Liam Group. Hanya saja skalanya masih kecil. Walaupun begitu, dengan kegigihan setidaknya bisnis tersebut berjalan lancar.
Maksud hati, hanya ingin berdiri sendiri untuk menunjukkan kemampuan. Tapi, apa daya. Menjadi anak tunggal membuat lelaki itu tak kuasa terus-menerus mengabaikan kenyataan. Kalau sekarang atau nanti, tetap harus memegang kerajaan bisnis turun-temurun dari almarhum sang kakek selaku Founder.
Finn Elard, pria bertubuh tegap, tinggi, tampan, murah senyum, dan berkarisma. Seperti yang sudah disebutkan, ia merupakan anak tunggal dari Chris Liam dan Diana Rosaline. Usianya sudah menginjak 33 tahun, tetapi sampai saat ini belum berkeinginan untuk melepas masa lajang.
Di kalangan wanita, Finn Elard memiliki daya tarik sangat kuat. Ia terkenal dengan julukan ‘Lady killer’. Memulai hubungan dan setelahnya akan memutuskan begitu saja adalah hal biasa untuk pria itu. Meskipun begitu, entah mengapa masih saja banyak wanita yang tak kapok menjalin kasih dengan si Playboy.
Ketika acara memperkenalkan diri usai. Finn berjalan-jalan mengitari acara. Langkahnya terhenti saat melihat satu sosok menarik di depan. Senyum pun terbit dan tanpa membuang waktu mengayunkan kaki mendekati.
Finn berdeham beberapa kali. Membuat seorang wanita berparas cantik mau tak mau menoleh.
“Aku merasa senang. Ternyata di acara membosankan ini ada bidadari,” puji Finn.
Wanita itu menoleh, menatap datar, dan kembali fokus pada piring yang tengah ia pegang. Menaruh satu per satu aneka kue ke dalam wadah tersebut. Mengabaikan pria tampan yang masih setia berdiri di samping.
“Ternyata begini rasanya terabai. Cukup menusuk hati.” Lanjut Finn dengan nada pura-pura sedih.
Sandra menoleh kembali. “Maaf. Tapi, saya sedang fokus dengan kue-kue lezat ini.” Ia kembali mengambil beberapa.
__ADS_1
“Ah, begitu. Ternyata keberadaan mereka lebih menyenangkan daripada aku yang menghampiri.” Finn tersenyum manis.
Sandra menoleh dan tersenyum. “Oh, jadi Anda sengaja menghampiri. Saya cukup tersanjung, Pak Finn Elard Liam.”
“Menyebut namaku dengan kumplet. Ternyata aku cukup terkenal juga.”
“Ayah Anda menyebutkannya di atas podium tadi. Lagi pula, siapa yang tidak mengenal casanova seperti Anda?”
Finn mengangkat satu alisnya. “Casanova? Julukan menjengkelkan. Tapi, berhubung nona cantik yang mengatakan, aku memberimu maaf.”
Huh, beri maaf? Marah pun aku tak peduli, gumam Sandra.
Sandra tersenyum sesaat kemudian memasang wajah datar. “Permisi.”
“Tunggu.” Finn memegang lengan Sandra.
“Lepaskan tangan Anda, Pak Finn,” ucap Sandra menatap tajam.
Finn melepasnya. “Maaf. Aku hanya mau tahu siapa namamu?"
“Hei, tadi kamu menyebut namaku dengan kumplet. Jadi, aku bukan pria asing.”
Aduh, iya, bener. Sandra, oh, Sandra. Terkadang IQ lo bisa tiarap juga. Sandra membatin.
Akan tetapi, Sandra mencoba tak peduli dan ingin melangkah pergi. Namun, baru mau mengayunkan kaki. Tristan memanggilnya dengan lantang dan lengkap.
“Sandra Rein!” Tristan menepuk bahu sang adik. “Di cari dari tadi ternyata ada disini.”
“Sandra Rein.” Finn menyebut lengkap nama wanita yang membuatnya terpesona.
Duh, Abang gue selalu jadi biang kerok, batin Sandra.
Tristan melirik ke arah pria di dekat Sandra. “Pak Finn. Oh, maaf. Barusan saya tidak melihat Anda.”
__ADS_1
Finn menepuk bahu Tristan. “Tidak usah terlalu formal. Panggil Finn saja.”
Tristan mengangguk. “Oke.”
Kebetulan, Tristan tipikal pria santai dan tidak suka kekakuan. Jadi, ia cukup senang bertemu seseorang yang merupakan pewaris tunggal, tetapi terlihat easy going.
“Kalian ....”
“Kita berdua bersaudara, Finn. Ini adikku, Sandra.” Lalu, Tristan mengulurkan tangan. Mengajak berkenalan. “Tristan.”
Finn menerima jabat tangan tersebut. “Finn.” Kemudian, tersenyum ke arah Sandra. “Senang bertemu kalian berdua disini. Boleh ikut gabung?”
Pertemuan pertama yang sangat mengesankan untuk Finn. Akan tetapi, tidak bagi Sandra.
Duduk satu meja bersama. Finn dengan netra pekatnya terus memandang ke arah Sandra.
Sandra mencoba mengabaikan tatapan tersebut dan memilih fokus memakan kue. Sejujurnya, ia risi sekaligus jengkel.
Pasalnya, Sandra cukup tahu reputasi Finn. Ia tak mau menjadi korban berikutnya. Apalagi, hanya ditenteng ke sana-sini kemudian ditinggal pergi.
Bahkan, Sandra berpikir cukup jauh sekali. Kalau perempuan-perempuan yang pernah bersama Finn adalah teman tidurnya juga. Membayangkan hal tersebut membuat wanita itu ngeri. Padahal, itu hanya pengiraan saja.
Satu pesan masuk di aplikasi hijau milik Finn. Ia mengambilnya di dalam saku dan melihat sebentar. Kemudian, mengetikkan sesuatu disana.
[Kita putus]
Menaruh kembali ponsel tersebut di saku dan tersenyum manis ke arah Sandra. Saat tatapan mata mereka bertemu. Finn mengerlingkan matanya.
Cih, playboy tengik! Sandra membatin.
Kem Hussawee as Finn Elard Liam
Im Jinah as Sandra Rein
__ADS_1