
Dua bulan, masa terberat bagi Finn jauh dari istri tercinta. Hidup terasa hampa dan hambar.
Makan tak enak. Tidur tak nyenyak. Malas bergerak. Dada pun sesak.
Namun, kini senyum kembali mengembang. Meski beberapa jam lalu mendapat kado termanis dari Sandra. Yakni, satu tinju di perut.
Sejak pagi, usus halus hanya mencerna dua buah pisang dan segelas susu hangat. Air satu liter menjadi pelengkap. Lantas, mendapat tinju. Sungguh semakin perih saja, bukan?
Jika sang tersangka bukan Sandra, mungkin sudah Finn balas lebih sakit. Namun, sayangnya wanita tercinta adalah pelaku tunggal. Jadi, terpaksa pasrah menerima dengan hati lapang.
“Honey, besok kita pulang ke rumah danau, ya?”
Sejak mengetahui perihal Finn yang selalu mengunjunginya meski tak pernah bersua. Amarah perlahan menguap. Sandra pun sadar, ia juga salah. Jadi, emosi bisa dengan mudah meredup.
Meski jengkel mendengar penuturan Finn yang sempat tergoda. Tapi, ia memberi maaf. Toh, tidak sampai bergulat di atas ranjang.
Tiga tembakan dan satu tinju yang dilayangkan pun di rasa cukup melegakan hati. Jadi, tak perlu memperpanjang lagi.
“Iya, ke mana pun kamu ingin pergi, aku ikut dan menurut.”
“Suami yang manis.”
Finn mencium puncak kepala Sandra. “Bee ...,” ucapannya menggantung.
“Apa?”
“Kamu pasti sedih atas kepergian anak kita?”
“Memang kamu tidak sedih?”
“Aku sedih. Hanya saja, aku tahu kamu lebih bersedih lagi.”
“Aku kuat. Aku sudah mengikhlaskannya.”
Finn kembali menciumi puncak kepala sang istri. Ia begitu menyayangi wanita yang kini tengah di dalam dekapan.
“Bagaimana kondisimu pasca kecelakaan?” tanya Finn seraya semakin mengeratkan pelukan. Ia tak memungkiri jika rasa bersalah masih bersemayam.
Saat ini, keduanya tengah berbaring di atas lantai. Beralaskan satu kasur tipis berukuran 120x200cm dengan ketebalan busa 5cm. Satu selimut menutupi tubuh Sandra dan Finn.
Hanya ada satu bantal yang dipakai Finn. Karena, Sandra memilih menjadikan lengan berotot sang suami sebagai bantalan.
Mereka berada di ruangan milik Finn. Sementara Roy tidur di ruang sebelah.
Sandra dan Finn belum berniat tidur. Mereka ingin berbincang-bincang lebih dulu.
“Sudah jauh lebih baik. Tadi pagi medical chek-up ke rumah sakit bersama mami dan bunda. Minggu depan hasilnya keluar,” jawab Sandra.
“Maafkan aku tak berada di sisi saat masa sulitmu.”
“Tadinya aku kecewa dan marah denganmu. Tapi, setelah tahu semua, aku mengerti. Maafkan bunda dan mami juga. Mereka hanya tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Jadi, melampiaskan kemarahan kepadamu dan melarang bertemu.”
Sandra tak mau menambah perpecahan di antara Finn, Diana, dan Helena. Jadi, berkata seperti itu agar sang suami memaklumi. Ia hanya ingin semua berjalan damai kembali tanpa saling membenci.
“Mana mungkin aku berani marah kepada dua ratu. Bisa dipecat menjadi anak dan menantu.”
Keduanya tertawa kecil.
“Tapi, kamu bilang tahu semua? Mengetahui apa maksudnya?”
“Suster di rumah sakit dan Roy memberi tahu. Kalau kamu setiap hari selalu datang berkunjung dan membawa satu tangkai bunga mawar merah.”
“Ah, jadi begitu.”
“Kenapa kamu senang sekali memberiku bunga mawar merah? Sudah menikah pun kamu tidak pernah absen melakukan hal tersebut.”
__ADS_1
Sejak peristiwa ‘ngapel’ sampai menikah dan saat ini. Finn selalu memberi Sandra satu tangkai bunga mawar merah. Bagi pria itu, akan ada yang kurang jika tak berbuat demikian satu hari saja.
Seperti pada waktu sang istri pulang ke rumah kedua orangtuanya selama satu bulan. Dan, saat mereka memiliki masalah kesibukan dan komunikasi. Bunga tersebut ikut absen.
“Banyak orang bilang, bunga mawar merah adalah simbol cinta dan keromantisan. Aromanya yang harum bisa membuat kita sedikit rileks. Mawar merah pun masih menjadi primadona di kalangan para bunga. Seperti kamu, primadona di hatiku.”
Sandra tersipu. “Lalu, kenapa selalu satu tangkai saja? Jangan menjawab kalau bunga yang lainnya ada di hatimu. Itu sudah basi.”
Finn tertawa kecil. Kemudian, berkata dengan nada serius. “Karena, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cinta.”
Refleks Sandra beranjak bangun dan duduk bersila. Ia bertopang dagu dengan menaruh siku di atas kaki bagian atas. Lalu, menatap Finn lekat dan berbinar-binar.
“Wahai, Perayu Ulung. Pipi ini sudah berona merah. Hentikan kata-kata manismu itu.”
Finn turut bangun dan mengikuti gaya Sandra duduk. Mereka berdua berhadap-hadapan dengan saling melempar pandangan.
“Aku terlalu tersiksa dua bulan tak bertemu. Jadi, biarkan pria budak cinta ini melampiaskan kata-kata asmara kepada sang tercinta, untukmu Sandra Rein, My Bee.”
“Aku tak tahu harus membalas apa? Bolehkah aku memandangi wajahmu saja sampai puas?”
Finn tersenyum. “Apa pun yang kamu ingin. Lakukanlah. Dan, kamu suka jika aku beri bunga setiap hari, ‘kan?”
“Tentu. Asal itu darimu. Aku suka.”
“Jantung ini rasa mau melompat mendengarnya.”
“Lompatlah, asal jangan jauh-jauh. Nanti tersasar di Club.”
Finn mendengus. “Kita sedang dalam suasana penuh cinta. Aku pun sedang merayu dan kamu malah menyindir. Hancur sudah semuanya.”
“Jika kamu tergoda lagi dengan yang lain. Aku akan melayangkan surat cerai. Kita selesai saja.”
“Bee, astaga. Iya. Aku sudah kapok. Sumpah. Demi Tuhan. Aku tak akan mengulangi. Tidak enak jauh darimu. Aku kedinginan.”
“Finn Elard!” Apa-apan, sih, dia. Bikin salah tingkah aja.
Sandra mengernyit. Mencerna maksud ucapan Finn. Kemudian, menegakkan duduknya dengan wajah terkejut.
“Loh! Jadi, tadi kamu turn on?”
“Aku ini pria normal. Menurut Anda bagaimana, Nyonya Finn Elard Liam?”
Sandra cekikikan kemudian berkata seolah-olah iba. “Kasihan.”
Finn kembali mendengus. “Kalau memang kasihan, kamu ....”
“Tidak!” Setidaknya jangan disini. Astaga, Finn. Kenapa pembicaraan ini menjadi keluar jalur.
“Pelit sekali.”
Sandra tak menyahut.
“Ti amo,” lanjut Finn tersenyum dan mengerling.
Sandra tersenyum. “Honey, boleh aku bertanya?”
“Tanyakan apa pun. Mulai sekarang kita memang harus banyak saling bertanya dan memberi jawaban. Komunikasi kita yang buruk beberapa waktu lalu hingga membuat keadaan kacau. Biar menjadi pelajaran.”
“Ya, kamu benar. Jangan sampai itu terulang lagi. Kita berdua salah. Kamu setuju?”
Finn mengangguk. “Ya, itu kesalahan kita berdua. Lalu, kamu mau bertanya apa?”
Finn dan Sandra terdiam sejenak dengan mata masih saling memandang. Beberapa saat dalam keheningan.
“Kenapa kamu mengundurkan diri menjadi CEO Liam Group?” tanya Sandra memecah sunyi.
__ADS_1
“Papi yang minta.”
“Kenapa?”
“Papi berasumsi kalau ada seseorang yang sedang mengincarku.”
“Mengincarmu? Kamu punya musuh?”
“Dunia bisnis itu keras. Jadi, mungkin saja.”
Sandra terdiam dengan pikiran melanglang buana. Kemudian, kembali bertanya, “Lalu, apakah Field Construction merugi sampai kamu melakukan PHK massal?”
Finn membisu. Kemudian, beranjak bangun. Ia melangkah menuju jendela dan menatap keluar dengan pandangan sendu.
Melihat sikap Finn. Sandra merasa bersalah telah bertanya, tetapi ia harus tahu.
Sandra bangun. Lalu, menghampiri dan memeluk Finn dari belakang. Menyandarkan kepala di punggung atletis sang suami dan melingkarkan kedua tangan di perut.
“Aku menyinggungmu?”
Finn menggeleng seraya memegang tangan sang istri. “Tidak. Hanya saja aku malu denganmu. Ekonomi suamimu saat ini tengah memburuk. Aku nyaris miskin. Entahlah, apakah aku masih sanggup membahagiakanmu?”
“Apakah di matamu kebahagiaan bagiku artinya memberi uang yang banyak?”
Finn membalikkan badan. “Aku hanya mau membahagiakanmu. Memberi segala yang kamu ingin. Tapi, sekarang … mungkin untuk sementara waktu tak bisa memberikan apa pun. Aku selalu khawatir tentang ini.”
“Khawatir aku meninggalkanmu? Perkara kamu tak lagi memiliki apa pun untuk memberiku sesuatu?”
Finn terdiam. “Maaf. Seperti yang aku bilang. Aku hanya mau memberi semuanya dan itu membutuhkan uang, bukan?”
Sandra mundur beberapa Langkah. Membuat Finn mengernyit.
“Kamu benar. Semua membutuhkan uang. Dan, kamu sudah tak punya apa pun. Lantas, untuk apa lagi aku bersamamu? Haruskah kita mengakhiri semua di Pengadilan Negeri?”
Finn menghampiri Sandra, ingin memeluknya. Namun, tangan sang istri menahan.
“Bee, aku tak ingin berpisah denganmu.”
“Katakan? Apakah aku menikahimu karena kamu pria kaya?”
Finn menggeleng. “Tidak. Aku yang mengejarmu.”
“Lalu, kenapa ucapan barusan seolah-olah aku hanya mau bersama karena kamu pria kaya raya?”
“Maaf.”
“Jadilah pria setia dan terus jatuh cinta padaku. Itu saja cukup. Harta kita bisa cari bersama. Ayo, bangkit! Ke mana suamiku yang selalu menyombongkan kehebatan dan kecerdasannya? Aku lebih suka kamu yang sombong!” Sandra berkata dengan berapi-api. Ia benci melihat sang suami yang terlihat lemah dan pasrah.
Finn menatap Sandra. “Maukah kamu terus mendampingiku sampai berada di titik normal kembali?”
”Tidak!”
Finn memandang Sandra sendu. “Bee ….”
“Asal kamu setia. Aku akan selalu ada di sisimu untuk selamanya. Sampai mataku menutup dan terkubur tanah merah.”
Finn langsung menghambur kepelukan Sandra. Kali ini, tak ada penolakan. “Aku akan setia kepadamu sampai jiwa terlepas dari raga dan kembali kepada Sang Pemilik.”
“Mulai sekarang kita akan menghadapi semua masalah bersama. Oke.”
Finn mengangguk. “Aku mencintaimu, My Bee.”
“Aku juga mencintaimu, My Honey.”
“How lucky i am to have you.”
__ADS_1
Pelukan semakin erat. Sandra pun turut membalas.
Finn merasa beruntung memiliki Sandra. Wanita yang belum lama ia buat sakit hati akibat ulahnya yang hampir main gila. Tapi, sang istri masih memberi maaf. Bahkan, kesempatan dan dukungan tanpa pamrih mengalir.