ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Target


__ADS_3

Belakangan ini, Finn dan Sandra memiliki kesibukan tak berkesudahan. Sudah dua Minggu mereka hanya saling menyapa basa-basi saat pagi dan waktu beranjak tidur.


Sandra dan Finn akan berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Lelah badan dan pikiran membuat mereka memilih lekas ke alam mimpi.


Finn pun sedang mengejar target. Ia butuh banyak biaya untuk bangunan miliknya agar tidak mangkrak di tengah jalan.


Pasalnya, peristiwa beberapa bulan lalu mengubah niat awal. Ketika pembangunan sudah dalam tahap pengerukan. Lahan basah persis di sebelah bangunan dijual. Finn sempat menolak.


Akan tetapi, pemilik tersebut datang beramai-ramai dengan saudaranya, memohon. Mereka beralasan kalau tanah tersebut merupakan milik keluarga besar sebagai harta warisan.


Mereka mengatakan lagi, akan membagi-bagikan uang tersebut kepada seluruh keluarga besar untuk membeli rumah. Karena, selama ini hidup mengontrak. Jadi, tanah tersebut merupakan harapan.


Pendirian pun goyah. Tapi, bukan karena alasan mereka. Melainkan sayang.


Maksudnya, Finn berpikir, sangat sayang juga jika tanah tersebut jatuh ke tangan orang lain. Secara itu merupakan lahan basah.


Dengan berbekal keyakinan semua akan baik-baik saja. Dan, khayalan akan keuntungan berkali-kali lipat terus menari di kepala jika bangunan itu selesai nanti. Finn mantap membeli lahan tersebut.


Usai urusan jual-beli selesai. Sambil menunggu pengurukan rampung. Finn mulai mengubah semua dan menggambar ulang.


Pembangunan pun menjadi melebar dan membutuhkan biaya yang juga ikut menggendut. Itu semua di luar perhitungan.


Oleh karena itu, Finn bekerja lebih keras lagi supaya pembangunan tidak mandek. Meski tetap pilih-pilih, tetapi ia menyikat hampir semua proyek. Uang banyak, saat ini suami dari Sandra membutuhkan itu.


“Roy, menurutmu berapa lama aku bisa menyelesaikan bangunan itu? Apakah bisa cepat?” tanya Finn.


“Asal ada uang semua bisa cepat, Bos. Tapi, sayangnya perusahaan sedang mentok. Jadi, berjalan lambat.” Roy menjawab dengan realistis.


“Kau benar. Pembelian tanah itu di luar perhitungan. Tapi, kalau tidak dibeli sayang juga.”


“Lalu, sekarang apa rencana kita, Bos?”


“Kirim proposal proyek ke beberapa perusahaan. Usahakan kita menang tender.”

__ADS_1


“Kenapa Anda tidak meminta pinjaman modal kepada bos besar saja? Sederhana, ‘kan?”


“Hei! kau mau menaruh mukaku di lantai menjadi keset bertuliskan welcome. Begitu?”


“Bukan begitu, Bos. Anda kan putranya. Tak ada yang salah jika meminjam uang kepada orangtua sendiri.”


“Lalu, melihat bos besar membusungkan dada ke arahku. Kemudian, mengambil perusahaan kebanggaanku secara perlahan untuk melebur menjadi satu dengan Liam Group. Orang tuaku pasti menjadikan itu sebagai jaminan. Susah payah merintis dari nol! Kau sendiri tahu persis jungkir baliknya perjalanan Field Construction, Roy Aldebaran!” kesal Finn.


“Bos, Anda ini rumit sekali. Toh, Liam Group akan jatuh ke tangan Anda juga.”


“Saya tahu. Tapi, minimal harus ada pembuktian juga dari sang putra mahkota, bukan? Mumpung masih muda, masih memiliki daya dan pikiran cemerlang. Pakai itu semua. Jangan hanya bisanya meneruskan usaha orangtua saja. Walaupun mempertahankan juga tidak semudah membalik telapak tangan. Mengerti kau, Roy Aldebaran?”


Roy terpaksa mengangguk. Ia tak pernah menang berargumen melawan sang bos ketika kepala doi mulai berasap.


Kalau boleh jujur, Roy sendiri tak mengerti akan jalan pikiran sang bos. Bergelimang harta, memiliki takhta, tetapi masih mau bekerja keras membanting tulang mati-matian. Bahkan, sampai pusing tujuh keliling perkara dana pembangunan.


Tapi, Roy juga salut akan kegigihan sang atasan. Bos-nya yang terlihat dari luar sangat badboy dan seolah-olah hanya penikmat harta orangtua. Padahal, jauh dari hal tersebut tipe pemikir dan pekerja keras.


Memang pada kenyataannya banyak yang tertipu oleh tampilan luar Finn. Bahkan, Sandra sendiri pernah mengakui kekeliruan tersebut.


“Kau yakin aku bisa libur dengan tenang besok? Jangan sampai mengganggu aktivitasku nanti karena ada kerjaan terlewat!” seru Finn.


“Oleh karena itu, hari ini Anda disarankan lembur, Bos.”


Finn berdecak kesal. “Keluar kau! Melihat wajahmu membuatku muak!”


“Sabar, Bos. Besok kan sudah saya beri libur.” Roy tak beranjak sedikit pun. Ia malah menyodorkan tumpukan dokumen untuk ditanda tangan.


Finn mendengus. Menggerutu sampai kuping Roy panas.


Roy memilih diam daripada menjadi santapan sang bos. Pekerjaan yang meningkat akhir-akhir ini membuat kewarasan atasannya sedikit oleng. Pria ramah itu mulai menjelma bagai devil berwajah merah dan bertanduk dengan tongkat garpu di tangan.


Kata sang bos, lebih baik memarahinya kemudian plong. Daripada hawa panas ia bawa ke rumah dan bertengkar dengan istri tercinta. Oleh sebab itu, Roy pasrah menjadi bulan-bulanan Finn demi keutuhan rumah tangga Putra Mahkota Liam Group.

__ADS_1


🌺🌺🌺


Sandra terpaksa mengebut semua pekerjaan yang masih ada sebelum resmi mengundurkan diri. Sebentar lagi waktu itu tiba.


Meeting, menggambar desain, berdiskusi dengan klien, briefing dengan trio ABC. Jangan lupakan bertemu muka dengan Tristan, membahas perusahaan sekaligus bertukar pikiran tentang pekerjaan masing-masing. Kehidupan Sandra belakangan ini hanya seputar itu. Saking ingin mengundurkan diri dengan tenang. Ia rela memeras pikiran dan waktu.


Pikir Sandra, toh sebentar lagi ia akan bebas dan memiliki banyak waktu untuk Finn. Jadi, sekarang sibuk tak apa-apa.


Sandra pun bersyukur kalau akhir-akhir ini sang suami juga sibuk. Setidaknya tak ada dari mereka yang protes akan masalah waktu dan kemesraan.


“Mbak Sandra, benar mau mengundurkan diri?” tanya polos Cyra.


Sandra dan trio ABC saat ini tengah rapat mengenai desain interior untuk klien. Membahas rancangan biaya dan desain unik untuk barang custom made. Namun, pembicaraan menjadi keluar jalur.


“Iya. Ini proyek terakhir,” jawab Sandra memaksakan sebuah senyum.


Cyra tiba-tiba memeluk Sandra. Ana pun menjadi latah untuk mengikuti.


Sementara Benny mau banget ikutan, tetapi takut dilempar keluar jendela karena memeluk sembarangan. Jadi, lelaki bertubuh tinggi dan kurus tersebut memilih gigit jari. Sambil sesekali menarik air liur yang hampir keluar.


“Kita bertiga sedih. Nanti pasti bakal kangen banget sama Mbak Sandra.” Ana berkata sendu.


“Iya. Kita semua nanti pasti saling merindukan,” sahut Sandra mencoba bijak. Padahal, ia pun sedih bukan main.


Sandra mengusap punggung keduanya.


“Kapan-kapan kita bolehkah main ke rumah Mbak Sandra?” tanya Benny malu-malu.


“Tentu. Mainlah ke rumah. Kapan pun jangan sungkan. Datang saja. Oke.” Mata Sandra mulai berkaca-kaca. “Duh, suasana jadi mellow gini. Sudah, ya. Kita bisa mewek nanti. Pokoknya, aku sayang kalian.” Ia melepas pelukan.


Trio ABC tersenyum mendengar penuturan sayang dari sang bos. Mereka bertiga pun sangat menyayangi Sandra.


Mereka berempat kembali melanjutkan pekerjaan. Saling memberi gagasan. Sedikit adu argumen, tetapi happy ending. Tak banyak kendala berarti. Berbeda pandangan dalam mengemukakan pendapat itu hal biasa dalam kerja tim.

__ADS_1


“Mbak, jangan lupa besok ada meeting penting dengan klien.” Ana mengingatkan.


Sandra hanya memberi jempol dan tersenyum sebagai jawaban.


__ADS_2