ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Calon suami idaman


__ADS_3



Menikah karena terpaksa tak akan pernah ada dalam kamus Sandra. Namun, situasi saat ini seolah-olah berkata demikian. Oleh karena itu, otaknya terus bekerja, menggali kebaikan-kebaikan Finn. Agar bisa merelakan dengan ikhlas hati, jiwa, dan raga untuk sang calon suami.


Sandra juga terus memikirkan tentang pengorbanan dan perjuangan Finn untuk membuatnya jatuh cinta. Bahkan, mencoba meyakinkan diri kalau sang ceo sudah benar-benar insaf.


Bagaimanapun buruknya tabiat Finn di masa lalu. Sandra harus bisa menerima. Toh, semua sudah berlalu.


Walaupun tak memungkiri. Wajah terbengang dengan pikiran masih bimbang dan ragu pun terkadang masih sering terjadi. Seperti saat ini, beberapa kali sang calon mertua memanggil. Baru ia tersadar.


“Iya, Mi.”


Berkat protes sang calon mertua yang enggan dipanggil ‘Tante’. Kini Sandra memanggil ‘Mami’.


“Memikirkan apa, Nak?”


“Maaf, Mi. Aku hanya tidak percaya sebentar lagi akan menikah. Itu saja.” Sandra memberi alasan seraya tersenyum.


“Sandra, kamu memikirkan perangai buruk Finn?”


“Oh, itu ... tidak, Mi.” Sandra tersenyum kikuk. Kok Mami tahu?


Diana meraih kedua tangan Sandra. “Hanya kamu satu-satunya wanita yang Finn cinta. Anak itu sudah berubah. Caranya memandangmu, hampir sama seperti melihat Mami. Lelaki badung itu telah menyayangi dan jatuh hati kepadamu. Percayalah pada ucapan Mami.”


“Iya, Mi.” Semoga, Mi.


“Kalau Finn berulah, adukan kepada Mami. Biar Mami pecat menjadi anak.”

__ADS_1


Sandra tertawa. “Mami, nanti Finn sedih dipecat menjadi anak.”


“Biar saja. Biar kapok. Berani mempermainkan calon menantu kesayangan keluarga Liam, awas saja! Mami akan mengusirnya. Toh, Mami sudah punya kamu. Nanti kamu saja yang menjadi anak Mami.”


Sandra tersenyum kemudian memeluk Diana. “Makasih, Mi. Sandra sayang Mami.”


Diana membalas pelukan tersebut seraya mengusap punggung Sandra. “Mami juga menyayangimu. Jangan banyak pikiran lagi, ya. Nanti cantiknya hilang.”


Sandra mengangguk dan tersenyum bahagia. Karena, ia merasa beruntung memiliki calon mertua rasa orangtua kandung.


🌺🌺🌺


Waktu bergulir dengan cepat. Tak terasa hari pernikahan sudah tinggal sebentar lagi. Sandra dan Finn memercayakan konsep akad nikah dan pesta kepada salah satu WO ternama Tanah Air. Setelah sebelumnya, tentu saja berdiskusi terlebih dahulu.


Beberapa saat sering bersama Diana dan Finn pun membuat Sandra kagum. Pasalnya, perilaku pria yang akan menikahinya terhadap sang mami membuat pikiran ragu itu berubah.


Finn memperlakukan sang mami layaknya ratu. Ia begitu menurut, menaruh rasa hormat, menyayangi, dan menjaga dengan baik. Bahkan, memegang erat tangan wanita paruh baya itu ke mana pun saat bepergian. Menurut Sandra, Ibu dan anak itu sangat romantis.


Sejak itu, Sandra meyakinkan diri kalau Finn memang pria baik. Terlepas dari sifat playboy dari sang calon suami, ia yakin kalau lelaki itu telah berubah.


Sandra pun sekarang telah mantap untuk menyongsong masa depan. Ia tak lagi ragu. Bahkan, sangat percaya kalau Finn akan menyayanginya juga.


Bukankah, anak laki-laki yang bisa menghargai sang ibu dengan sangat baik. Pasti akan memperlakukan istrinya kelak sama persis seperti itu. Dan, Sandra juga meyakini hal tersebut.


Di mata Sandra saat ini, Finn adalah calon suami idaman.


Bicara soal perasaan pun. Getaran aneh akhir-akhir ini sering menghampiri Sandra ketika berada di dekat Finn. Meskipun ia belum bisa memastikan apakah itu cinta atau sekadar rasa kagum. Namun, adik dari Tristan itu berjanji akan mulai belajar mencintai Finn dengan sepenuh jiwa raga.


“Baby. Kenapa melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?” suara tanya Finn memecah lamunan Sandra.

__ADS_1


Sandra tersenyum dan menggeleng. “Tidak ada.”


Setelah selesai dengan sesi hari terakhir foto pranikah. Mereka langsung meluncur ke butik milik salah satu desainer hits Indonesia.


Keduanya akan melakukan fitting terakhir pakaian pengantin. Karena, Minggu depan adalah hari pernikahan mereka.


Sebelum turun dari mobil, Finn meraih tangan Sandra dan mengecupnya.


“Baby, kamu sudah siap untuk menjadi istriku?"


“Finn, undangan sudah tersebar. Tentu saja aku harus siap, ‘kan?”


“Aku sangat mencintaimu, Sandra Rein. Kamu sudah jatuh cinta padaku?”


“Aku harus menjawab apa? Bolehkah jika aku bilang sudah mulai menyukaimu. Setidaknya untuk saat ini dulu.”


Finn tertawa. “Aku seperti om-om yang memaksa anak gadis untuk menikahinya.”


“Om-om? Terdengar menggelikan.” Sandra tertawa.


“Usia kita terpaut delapan tahun. Jangan melupakan itu. Walaupun wajah tampanku terlihat seperti seumuran denganmu, awet muda.”


“Percaya diri sekali.”


Keduanya tertawa.


Finn mengecup puncak kepala Sandra. Menatapnya intens. “Aku akan setia menunggu kata cintamu.”


Sandra mengangguk. “Iya.”

__ADS_1


“Ayo, kita turun. Aku tidak tahan berlama-lama menatapmu. Membuat gairahku rasanya seperti terbakar. Dan, aku masih harus bersabar selama satu Minggu lagi. Sungguh menyiksa.” Finn keluar dari mobil dan memutar membukakan pintu untuk Sandra.


Sandra memijit pelipisnya. Dia kenapa menyeramkan, sih? Agak ngeri sebenarnya harus membayangkan tinggal satu atap dengan Finn. Gue serasa akan menjadi santapan lezat. Habis sudah, batinnya pasrah.


__ADS_2