ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Bertarung lagi


__ADS_3



Peluh keringat bercucuran. Namun, sang wanita tak mau berhenti menyerang. Meninju, menendang. Mengerahkan segenap kekuatan. Tapi, sang lawan selalu menangkis.


Merasa kesal, mengapa tak satu pun tinju atau tendangan berhasil mendarat. Sandra berteriak jengkel. “Honey, kamu tu seharusnya mengalah! Aku kan perempuan! Beri aku kesempatan meninju dan menendangmu meskipun hanya satu kali!”


“Hei, My Bee. Aturan dari mana itu? Tidak mungkin lawanmu mau menyerah. Masih bagus juga aku hanya menahan, tidak menyerang.”


“Aku kesal sama kamu!”


“Aku sayang sama kamu.”


“Honey ....”


“Bee.”


Sandra mengerucutkan bibir. “Capek.” Ia mendudukkan diri di atas lantai dengan meluruskan kedua kaki.


Finn tertawa. Ia ikut mendudukkan diri di samping Sandra.


“Gerakan sudah lumayan. Hanya tinggal menambah tenaga.”


“Ini gara-gara kamu ngajak begadang terus. Jadi, aku lemas.”


Finn menoleh. Mencubit gemas pipi sang istri. “Apa-apaan itu? Alasan saja.”


Sandra berdecak. “Lima belas menit lagi. Mulai kembali, ya?”


“Tadi juga baru lima belas menit. Kamu sudah keok.”


“Capek.”


“Padahal, pemanasan sudah cukup.”


Sandra mengembuskan napas berat. “Mungkin aku harus punya coach pribadi.”


“No.”


“Kamu tu cemburu gak jelas.”


“Karena aku cinta. Kalau tidak, aku mana peduli.”


Sandra menyandarkan kepala di atas bahu Finn. “Aku juga cinta kamu.”


Finn tersenyum. “Aku bisa mengajarimu. Asal kamu profesional. Jangan banyak ngambek dan mengeluh. Waktunya latihan semangat.”


“Aku semangat, tetapi ngantuk. Kamunya lemburin aku terus. Weekend gak bisa kalau libur dulu.”


“No. Tidak ada libur-libur. Nikmat begitu, sayang melewatkannya biar pun satu hari. Lagi pula, jam tidur kita hampir sama. Tapi, aku bersemangat. Jadi, jangan menjadikan urusan ranjang sebagai alasan,” ucap Finn lembut.


Sandra mencebik. “Pokoknya sebagai ganti karena kamu tidak mau mengalah. Antar aku perawatan sampai selesai.”

__ADS_1


Finn menoleh. “Ajak Vivian saja, ya. Aku yang bayar semua tagihan. Habis dari salon, kalian juga boleh belanja. Sepuasnya.” Daripada harus menemani wanita nyalon.


“Benar, ya, aku dan Vivian boleh shopping sesuka hati?”


“Iya.”


“Selama aku ke salon dan shopping. Kamu mau melakukan apa?”


“Aku punya tiga proyek. Mau menyelesaikan salah satunya di rumah. Jadi, nanti telepon Vivian agar kesini menjemputmu. Oke.”


Sandra mengangguk. “Honey, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Apa?”


“Kenapa perusahaanmu tidak digabungkan saja dengan Liam Group? Supaya lebih besar.”


Finn menggeleng. “Field Construction adalah namaku, Finn Elard. Perusahaan kebanggaanku. Membangunnya dengan uang dan tenaga sendiri mulai dari nol. Tanpa menjual nama Liam Group atau putra Chris Liam. Tertatih-tatih. Hingga sekarang, meskipun belum kokoh benar. Tapi, sudah bisa berdiri dengan seimbang.”


Sandra memeluk Finn. “Aku bangga padamu. Dulu, aku pikir kamu hanya pria bajingan manja yang hanya bisa berfoya-foya dengan uang orangtua. Tapi, ternyata kamu laki-laki hebat.”


“Sudah kubilang. Aku terlahir sebagai pria yang berkompeten. Kamu sudah percaya, ‘kan?”


“Iya, Tuan Sombong. Aku percaya.”


Keduanya tertawa.


“Tak banyak yang tahu mengenai perusahaanku. Hanya Mami, Papi, Roy, kamu. Dan, beberapa klien yang berani membayar mahal jasaku. Mereka yang tahu kualitas.”


“Kenapa harus merahasiakan?”


“Jadi, Roy juga bekerja di Field Construction? Dia orang kepercayaanmu?”


“Iya. Kamu tahu, Bee. Aku mungkin terlihat cuek, masa bodoh. Tapi, sejujurnya, tipikal pria pemerhati yang tak mudah percaya kepada orang lain. Jadi, ketika memercayai seseorang. Aku akan menggenggamnya. Agar berada di dekatku terus.”


“Bee, semakin aku mengenalmu secara karakter. Kamu tahu? Aku semakin jatuh hati pada pesonamu.”


Finn mengangkat Sandra ke atas pangkuan. “Jadi, kita sudah saling jatuh hati pada pesona masing-masing.”


“Iya. Kamu priaku yang hebat dan menawan.”


“Sering-seringlah memujiku. Aku senang mendengarnya dari bibirmu yang ranum.”


“Apa pun untukmu, Lelakiku.”


“Apakah seperti ini rasanya nge-fly?”


“Bisakah memakai kiasan yang indah, Honey?”


“Dunia ini sudah terasa indah sejak bertemu denganmu, Bee.”


Sandra tersenyum. Kemudian, menangkup kedua pipi Finn. “Ingin setiap waktu selalu indah?”


“Katakan.”

__ADS_1


“Bukakan lowongan di Field Construction. Untuk wanita cantik, ahli mendesain interior, tetapi sudah menikah.”


“Ah, sayang sekali. Kenapa sudah menikah? Aku mencari yang single.”


Sandra memukul lengan Finn. “Kamu tega. Kejam. Aku akan adukan kepada Mami kalau kamu berulah lagi.”


Finn memencet hidung Sandra. “Kita sedang dalam mode romantis. Kenapa merusak momen, wahai pengadu? Lagi pula, di perusahaan tidak akan pernah ada lowongan untuk wanita tersebut. Apalagi, jika memiliki nama Sandra Rein. Aku akan langsung menolaknya.”


“Kenapa?”


“Aku takut wanita itu bukannya bekerja dengan baik. Tapi, justru akan terus menggoda sang owner. Nanti kalau tergoda bagaimana?”


“Ish, itu terbalik. Yang genit itu si pemilik perusahaan.”


“Aku dengar si pemilik perusahaan sudah insaf. Ia juga sangat bahagia dengan pernikahannya.”


“Oh, ya? Syukurlah. Aku senang mendengarnya.”


Keduanya saling pandang kemudian tertawa.


“Bee, boleh aku minta sesuatu?”


“Honey, orang kaya sepertimu tidak baik masih suka meminta.”


Finn mencubit gemas pipi Sandra. “Untung sayang.”


Sandra tersenyum. “Katakan. Kalau aku sanggup. Akan aku beri.”


Finn mengelus pipi Sandra. “Jika aku mengatakan sesuatu padamu. Aku mohon percayalah. Dan, jika ada berita di luaran tentangku yang tidak baik. Konfirmasi kebenaran langsung kepada suamimu. Oke.”


“Aku sedang mempelajari itu. Sejauh ini, kamu masih bisa aku percaya.”


“Jika membuatmu ragu. Janji jangan menggunakan emosimu. Tanya kepadaku. Aku akan menjelaskan semuanya.”


“Iya.”


“Well. Ayo, kita latihan lagi.”


Keduanya beranjak bangun.


“Honey, kamu mengalah, ya.”


“Tidak.”


Sandra mencebik. “Tega.”


“Itu namanya sportif. Mau menang harus berusaha. Latihan yang benar.”


“Iya-iya. Suami kejam.”


“Bee ....”


Sandra cengengesan. “Maksudnya suami idaman.”

__ADS_1


Finn tersenyum. “Ayo, kalahkan aku!”


__ADS_2