ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Hancur


__ADS_3

Berita pengunduran diri Finn telah rilis. Jadwal yang di janjikan pagi hari mundur menjadi sore tepat pukul empat. Semua media online langsung memuat kabar mengejutkan tersebut. Media cetak pun bersiap akan menerbitkan dengan menjadikan sebagai topik utama.


Tak ada penjelasan mendetail perihal pengunduran diri sang pewaris. Baik Chris ataupun video yang menampilkan Finn hanya mengatakan mengundurkan diri sesaat. Sontak saja suami dari Diana itu mendapat serangan pertanyaan dari para pencari berita.


Kadung terjebak para wartawan. Chris dengan mimik tenang memberi sedikit alasan mengada-ada. Namun, masih masuk logika. Ia mengatakan jika Finn ingin mengurus sang istri yang baru saja mengalami kecelakaan.


Selanjutnya bisa ditebak, para wartawan langsung menanyakan perihal keadaan Sandra. Chris menjelaskan apa adanya. Setelah itu, bergegas pergi karena tak mau banyak bicara lagi.


Melihat berita yang tersebar cepat, baik di media elektronik ataupun media online. Alexander yang tengah menikmati segelas kopi hangat di depan televisi, tertawa bahagia. Pikirnya, jabatan sang rival sebagai CEO telah lenyap. Tinggal menghancurkan karir yang lain.


“Secepatnya, aku akan membuatmu jatuh miskin. Lalu, Sandra tak akan pernah lagi sudi bersamamu. Sudah berselingkuh, tak memiliki harta pula. Apalagi, yang bisa diharapkan dari suami tak berguna sepertimu, Finn Elard Liam.” Alexander kembali tertawa. Kali ini dengan terbahak-bahak.


🌺🌺🌺


Di gedung perkantoran Field Construction


“Roy, sewa orang dan cari jalang itu sampai dapat. Kerahkan mereka, seret wanita sialan itu ke hadapanku hidup-hidup.” Finn berkata dengan sorot mata tajam. Tangan mengepal erat menahan gejolak emosi.


“Bos, Anda akan membunuhnya atau ...?” tanya Roy menggantung.


“Aku membutuhkannya untuk menjadi saksi. Hanya keterangan wanita itu yang bisa membuat Sandra kembali kepadaku. Tapi, jika jalang itu tak mau bekerja sama.” Finn menatap Roy lekat. “aku akan menyiksanya sampai mau menurut. Kalau masih menolak, mungkin aku akan mengakhiri hidup perempuan itu dengan cara menyakitkan.” Ia menatap sebuah pistol di tangan dengan sorot tajam dan mimik kejam.


Roy susah payah menelan salivanya. Ia cukup gemetar melihat wajah Finn untuk kali pertama terlihat sangat bengis. Nada suara pun penuh aroma dendam. Tersirat kalau sang bos tidak sedang bermain-main.


Pria ramah yang tak pernah mau mengasari kaum hawa secara fisik itu, kini tak peduli. Ia menjelma bagai iblis. Kemarahan dan keegoisan telah membutakan mata. Di tambah dengan ketakutan, jika kapan pun bisa saja kehilangan sang istri. Itu semua semakin membuat sisi gelap di dalam diri bangkit.


“Baik, Bos. Segera saya kerjakan.” Roy undur diri dan segera menelepon seseorang untuk mencari Kanaya.


Finn membuka galeri foto di ponsel. Membuka gambar Sandra. Wajah bengis tadi berangsur menghilang berganti dengan sendu. Ia merindukan sang istri.


“Sandra, aku tidak akan pernah melepasmu. Sampai kapan pun, kamu akan tetap menjadi istriku. Kita akan terus bersama ... selamanya. Tunggu aku kembali.” Bibir Finn bergetar dengan tangan mencengkeram erat benda pipih itu.


Keesokan hari di gedung Field Construction


“SIAL!”


Finn mengamuk. Mendorong semua benda yang berada di atas meja kerja hingga berjatuhan ke lantai. Kemudian, beranjak bangun. Ia memijat pelipisnya dengan wajah gusar.


Lalu, menaruh kedua telapak tangan yang mengepal di atas meja kerja. Menunduk lemah. Sejurus kemudian memukul meja beberapa kali. Berteriak kencang. Menyugar rambut ke belakang dan mengusap wajah secara kasar.


Roy baru saja memberi tahu jika proyek yang ia incar. Sampai harus rela berada di sana selama tiga hari untuk berkompetisi. Tapi, gagal memenangkan tender tersebut.


Sebuah perusahaan yang tidak pernah menang tender. Tapi, kali pertama justru PT. Pembangunan Adi Perkasa membuat Field Construction kalah.


Bagaimana mungkin Finn tidak meradang. Padahal dilihat dari segi apa pun ia merasa seharusnya menang telak.


“Bos, ada satu kabar buruk lagi,” suara Roy pelan dan hati-hati.


“Sial kau, Roy! Tak bisakah memberiku kabar gembira!” seru Finn kemudian terdiam sejenak. Lalu, bertanya, “Katakan, apa itu?”


“Wanita itu tak ditemukan di mana pun. Jejak terakhir dari ponselnya berada di sebuah gedung kosong. Namun, tempat tersebut tak ada siapa pun. Di sana hanya tertinggal sebelah sepatu yang ujungnya baret-baret seperti terseret. Terdapat jejak darah mengering juga dekat heels tersebut.”


“Kau ingin bilang kalau ada yang memukuli wanita itu. Kemudian, dibawa paksa dengan cara diseret. Lalu, sepatunya terlepas satu? HAH! Drama sekali!” Finn menggelengkan kepala, tak percaya.


“Kurang lebih memang seperti itu, Bos.”


“Tidak bisakah kau mengecek CCTV setempat?”


“Sayangnya, gedung tersebut berada di kawasan sepi. Area sekitar sana hanya berupa tanah kosong dan pepohonan rimbun.”

__ADS_1


“Apakah wanita itu ada yang mengincar juga selain aku?”


Roy mengangkat bahu. “Mungkin.”


“Ya, Tuhan! Untuk pertama kalinya aku pusing setengah mati tanpa ada satu pun jalan keluar. Lalu, bagaimana caranya aku meyakinkan Sandra?”


“Bos, anggap saja ini jalan untuk menebus dosa Anda kepada Ibu Sandra. Supaya Anda sadar dan berhenti meremehkan janji suci pernikahan. Jadi, suatu saat Anda bertengkar kembali dengan Ibu Sandra, akan berpikir ribuan kali untuk melampiaskannya kepada wanita malam.”


“Aku tidak tidur dengannya! Berengsek kau, Roy! Kau bilang percaya padaku!”


“Saya percaya. Akan tetapi, apakah Ibu Sandra dan yang lain mau memercayai Anda juga?”


Finn terdiam. Ia membenarkan ucapan Roy. Sekeras apa pun berteriak bilang tak tidur dengan jalang, tetap saja siapa yang mau percaya. Belum lagi reputasi masa lalu sebagai playboy. Di tambah bukti foto dan video kebersamaan singkat dengan Kanaya. Meski hanya sekedar duduk minum, tetapi terlihat intim.


Sandra, aku tak peduli mereka tidak mau percaya. Tapi, aku harap kamu mau memercayai. Finn membatin penuh pengharapan.


🌺🌺🌺


Hari terus berjalan dengan cepat. Tak terasa sudah dua Minggu tanpa bisa melihat Sandra. Finn mulai menunjukkan kelesuan.


Ingin pasrah, tetapi itu berati kalah. Ingin berjuang, entah bagaimana caranya menghadapi orangtua yang memiliki riwayat penyakit jantung.


Finn tak mau mementingkan ego dengan melihat ayah mertuanya kembali sakit. Iya, kalau selamat seperti beberapa waktu lalu. Jika tidak, bukankah hanya akan menambah deretan masalah saja. Sandra pun pasti akan langsung membenci.


Setiap hari, Finn datang ke rumah sakit, menitipkan sesuatu kepada suster untuk diberikan kepada Sandra. Ia hanya bisa menatap ruang rawat sang istri dari kejauhan.


Meski begitu, Finn tetap datang berkunjung. Ia hanya berharap, semoga Sandra memiliki rasa rindu yang sama.


🌺🌺🌺


Melangkah masuk dengan lunglai ke ruangannya di Field Construction. Di dalam sudah ada Ramon dan Roy. Finn tersenyum tipis ke arah sang sepupu.


“Rumah sakit. Ada apa, Roy?” jawab Finn dengan bertanya balik.


“Di proyek milik Anda, pekerja demo, Bos. Mereka meminta gaji yang tertunda selama dua minggu ini.”


Finn terdiam sesaat. Kemudian, memberi titah, “Bayarkan segera. Lalu ... hentikan pembangunan untuk sementara.”


Roy mengangguk, tak berani membantah.


“Finn, kenapa lo gak meminta bantuan Om Chris?” tanya Ramon.


Finn menggeleng. “Gue masih punya uang dan beberapa aset.”


“Bos, ingat. Perusahaan masih memiliki utang kepada beberapa kreditur, bulan depan jatuh tempo.” Roy memperingatkan.


Ramon terkejut. Beberapa tahun lalu, ia memang mengetahui perihal Finn yang memiliki perusahaan sendiri dari Chris. Namun, memang tak pernah membahas karena sepupunya sendiri tak pernah menyinggung hal tersebut.


Pikir Ramon, mungkin Finn akan membicarakannya ketika perusahaan itu sudah besar sebagai kejutan. Tapi, sekarang justru harus mendengar langsung kabar Field Construction tengah di ambang kehancuran.


Niat kedatangan yang tiba-tiba pun ingin mengejutkan Finn. Tapi, ternyata justru menjadi kebalikan. Sepertinya sang sepupu juga menganggap biasa saja jika ia mengetahui perihal Field Construction. Atau mungkin sudah menebak kebocoran rahasia tersebut ulah dari Chris. Jadi, tak perlu bertanya lagi.


“Finn, kalo lo gak bisa bayar. Lantas mereka mengajukan hal ini ke Pengadilan Niaga, lo bakal dinyatakan pailit. Bicarakan dengan Om Chris, minta merger dengan Liam Group atau akuisisi. Setidaknya perusahaan gak jatuh ke tangan orang lain. Tetap lo sendiri yang mengendalikan.” Ramon mencoba memberi solusi.


“Gue masih bisa mengatasinya, Ramon. Lo gak perlu khawatir.” Finn dengan kepala batunya masih enggan untuk melakukan hal tersebut. Ia pun tetap bersikeras pada pendirian, membuat sang sepupu dan Roy gemas.


“Dasar keras kepala! Gue cabut!” Ramon beranjak bangun dan keluar dari ruangan Finn dalam keadaan kesal.


Finn tak menyahuti Ramon. Ia hanya memandangi kepergian sang sepupu sampai menghilang dari pandangan.

__ADS_1


Finn mengalihkan kembali pandangannya kepada Roy. “Berapa total kekayaanku? Jika cukup, jual dan bayarkan semua. Kecuali, gedung yang akan mandek itu dan tempat ini.”


“Sebagian aset Anda sudah atas nama Ibu Sandra, Bos. Termasuk rumah danau. Harus mendapat persetujuan istri Anda untuk menjual.”


“Jangan mengganggu gugat apa yang sudah atas nama Sandra. Itu sudah milik istriku. Jual yang masih atas namaku saja.”


“Baik, Bos.”


Sebagai bawahan, selain menurut. Apalagi, yang bisa diperbuat. Meski Roy sangat menyayangkan sikap gengsi dan keras kepala sang bos yang tak mau meminta bantuan Chris.


Satu minggu kemudian


Roy memberikan bukti pelunasan utang kepada Finn.


“Habis sudah.” Finn berkata lirih seraya menatap lembaran kertas di tangan. “Tapi, setidaknya Field Construction tak memiliki utang lagi, kan?” Ia tertawa. Menertawakan hidupnya yang nyaris jatuh miskin.


Roy mengangguk lemah. Ia turut bersedih atas banyaknya kehilangan aset sang bos.


Hening!


“Bos, kenapa tidak bertanya-tanya mengenai begitu mudahnya aset-aset Anda terjual dengan cepat?” tanya Roy memecah keheningan.


“Siapa peduli? Toh, yang penting semua terjual dan perusahaan bisa membayar utang.”


“Tapi, Bos ....”


Finn mengangkat tangannya. Ia tak mau lagi mendengar Roy berbicara.


“Roy, apakah masih ada uang untuk membayar gaji dan pesangon kepada seluruh karyawan Field Construction?”


“Saya akan mengeceknya.”


Satu jam kemudian


“Ini, Bos.” Roy memberikan laporan keuangan kepada Finn.


Finn menerima laporan tersebut. Ia menatapnya sendu.


Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. “Bayarkan kepada seluruh karyawan termasuk dirimu, Roy. Katakan kepada semua jika aku memberhentikan mereka. Mulai besok tidak perlu lagi datang ke kantor.”


“Bos ....”


“Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu, Roy. Kerjakan saja apa yang aku perintahkan. Sekarang, keluarlah. Aku tak ingin diganggu.”


“Bos ....”


“Satu lagi, katakan kepada mereka, aku mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang baik selama ini. Katakan juga, aku minta maaf jika memiliki banyak kesalahan. Terkhusus untukmu, Roy.” Finn memutar kursi membelakangi sang asisten. “Kau boleh pergi.”


Roy menunduk lemah dan berbalik keluar dari ruangan Finn. Ia tak menyangka akan seperti ini nasib akhir sang bos yang terkenal sangat genius dalam keahlian merancang bangunan. Menemani merangkak dari nol, tetapi belum juga mencapai angka sepuluh. Sudah harus terjun kembali menuju titik awal.


Finn pun terpaksa melakukan PHK massal. Karena, satu bulan ini sudah tak ada satu pun pemasukan. Pasalnya, tidak ada lagi proyek yang masuk.


Keadaan tersebut yang membuat Finn terpaksa memberhentikan semua karyawan. Pasalnya, jika tetap mempertahankan, ia takut tak bisa membayar gaji mereka. Karena, semua uangnya tak banyak bersisa.


Meski tak mendapat proyek, bukankah biaya operasional perusahaan dan gaji karyawan harus terus berlanjut. Itulah salah satu alasan kuat yang membuat Finn melakukan PHK.


Finn mengambil ponsel. Membuka galeri untuk melihat foto Sandra dan menatapnya sendu.


“Sandra, keadaan ekonomiku sedang buruk. Haruskah aku egois tetap berjuang mempertahankanmu? Atau merelakan saja dirimu? Karena, jika bersamaku saat ini, hanya kesusahan yang akan kamu dapat.”

__ADS_1


__ADS_2