ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Bro-sis goals


__ADS_3

Warintorn Panhakarn as Ramon Jeffry



Kim Ji Won as Amanda Monica



Satu Minggu dengan wajah murung. Bibir seksi yang biasa selalu melengkung ke atas kini membentuk garis lurus. Bicara pun seadanya saja. Jika ditanya menjawab, kalau tidak memilih diam.


Khawatir dengan keadaan sang putra. Diana menghubungi Ramon dan Manda untuk menanyakan kepada Finn permasalahan apa yang tengah menimpa.


“Mami, Manda kangen. Maaf, Marcel gak bisa ikut. Lagi di luar kota dan anak-anak sama Mama pergi ke mal.”


“Mami juga kangen. Ya, sudah gak papa.” Terdengar helaan napas dari Diana. “Kapan Mami bisa ajak cucu ke mal juga? Rayulah si Finn supaya cepat menikah seperti kalian.”


“Oke, Mi. Kita siap menjalankan misi.” Manda mengerling ke arah Diana seraya mengangkat jempol.


Diana tersenyum kemudian menatap Ramon. “Grace ke mana?”


“Tadi Grace mau ikut, Mi. Tapi, ada Oma datang. Jadi, hanya bisa titip salam aja buat Mami. Katanya kangen kue buatan Mami.” Ramon menjelaskan perihal ketidakhadiran sang istri.


“Kalau sudah senggang, bawa Grace kemari. Nanti Mami buatkan yang banyak.”


“Beres, Mi.” Ramon tersenyum.


“Ya, sudah. Langsung saja ke kolam renang. Perjaka tua itu sedang merenung di ayunan. Jangan lupa pesan Mami. Suruh cepat nikah.”


“Oke.” Keduanya berbarengan menyahut. Lalu, segera berjalan ke arah di mana Finn berada.


Tanpa bersuara, Manda dan Ramon langsung duduk mengapit Finn.


Finn menoleh ke kiri dan kanan. “Tumben.”


“Mami Diana sedih lihat anak perjaka tuanya banyak melamun. Kata Mami, takut lo menenggelamkan diri di kolam renang.” Manda berucap asal.


“Kata lo, bukan Mami!” sewot Finn.


Manda dan Ramon cekikikan.


“Kenapa lo seminggu ini galau aja? Sampe bikin Mami khawatir. Jangan bilang kalo lo lagi jatuh cinta?” Ramon mengasumsikan.


“Ho, oh. Kayaknya kali ini gue jatuh cinta beneran?”

__ADS_1


“NAH!” seru Ramon.


“TU KAN!” timpal Manda.


“Damn it! Berisik!”


Ramon tertawa. “Sorry. Kita syok.”


“Langsung, deh, lamar. Mami pengen banget punya cucu,” ucap Manda.


“Lamar?” tanya Finn dengan wajah bingung.


“Iya, lo lamar doi. Terus nikah, lanjut skidipapapcikidawuhuy, tu cewek bunting, lahiran, dan kesampean Mami punya cucu.” Ramon mengerling menggoda ke arah Finn.


“Apaan, sih, Mon? Lo kira segampang itu nikah.”


“Lo keseringan kawin tanpa nikah, sih. Jadi, gak tahu nikmatnya bikin anak pas udah sah. Sensasinya gak kalah!” Ramon berseru.


“Lo nyindir gue!”


“Iye, gue lagi nyindir lo, Finn Elard Liam, anaknya Papi Chris dan Mami Diana. Perjaka, tetapi bukan perjaka,” ucap Ramon puas.


“Sok tahu lo! Pergi sana lo pada!”


Finn mendengus ke arah Ramon. “Nah, dengerin tu si Manda. Omelin aja tu si Ramon.”


“Tenang aja, Finn. Sebagai sepupu paling cantik, gue pasti belain lo. Biar pun ucapan Ramon semua adalah seribu persen benar.”


“Manda!”


Ramon dan Manda tertawa terbahak-bahak.


“Mampus lo! Lagian, sejak kapan Manda punya sifat belas kasihan sama kita berdua sampe mau membela?”


“Punya sepupu pada sinting!” seru Finn kesal.


“Ya, udah. Kita berhenti bercandanya. Sekarang kita mode serius.” Manda memegang bahu Finn dan mengarahkan tepat di depannya. “Kalo lo beneran jatuh cinta? Terus masalahnya di mana?”


Finn mengembuskan napas berat. “Dia gak nyari pacar, tetapi suami.”


“Loh, malah bagus dong,” sahut Manda.


“Gue belom siap nikah.”

__ADS_1


Ramon langsung memiting leher Finn erat. Kesal dengan jawaban sang sepupu yang masih saja lebih senang dengan pergaulan bebas daripada mempunyai istri sah.


“Ramon, tahan! Gue mau ambil golok dulu buat menebas tu leher.”


“Cepat ambil. Kita sikat aja, nih, orang. Biar berkurang lelaki bejat di muka bumi.”


Finn memutar bola matanya malas. Ia malah tak berontak. Membiarkan kedua sepupunya berbuat sesuka hati. Namun, saat Ramon memelintir lehernya dengan kencang. Baru, CEO itu mengaduh kesakitan dan minta dilepaskan.


Finn memegang lehernya dan mengusap dengan tangan setelah Ramon melepas pitingan.


“Sekarang lo mau apain tu cewek?” Manda bertanya.


“Maksud lo?”


“Lo bilang jatuh cinta, tetapi kenapa gak mau menikahi doi?”


“Bukan gak mau, tetapi belom siap, Manda. Gue hanya takut saat menikah nanti bikin Sandra sakit hati.”


“Namanya Sandra?” tanya Ramon ingin meyakinkan.


Finn mengangguk. “Dia beda. Gue takut sifat playboy gue kumat pas nikah. Kasihan anak orang nanti.”


“Ya, lo tobat dong!” seru Ramon.


“Sejak gue ketemu Sandra. Gue udah gak jalan sama cewek mana pun. Di pikiran gue hanya ada dia.”


“Nah, awal yang bagus tu!” Manda menyahut dengan semangat.


“Kalo gue udah nikah terus kumat, gimana?”


“Tenang. Gue sama Manda siap, kok, menabur sianida di minuman lo.”


“Setuju,” sahut Manda mengangguk.


“Eh, apaan lo berdua?”


“Finn, jalan satu-satunya supaya insaf lo abadi memang hanya itu. Mengirim lo ke alam baka!” Ramon berseru.


Finn berdecak kesal. “Sepupu iblis! Udah, deh. Terus gue harus gimana?”


“Lo pikirin baik-baik. Itu cinta atau nafsu lo doang. Terus, buat rencana tentang masa depan pernikahan versi lo kayak gimana? Dan, coba merealisasikan persiapan dulu pada kenyataan mulai dari sekarang.” Manda menerangkan.


“Versi gue?"

__ADS_1



__ADS_2