ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Tingkah Finn


__ADS_3

Mual muntah berangsur hilang. Aktivitas berjalan dengan baik. Meeting lancar. Tender gol.


Kini, sepasang suami-istri itu tengah sibuk berkutat di depan layar komputer masing-masing. Sandra tengah mendesain kamar tidur anak. Bukan untuknya melainkan kepentingan blog.


Kali ini, tema yang dipilih adalah desain kamar tidur anak laki-laki dan perempuan berukuran 3x3. Ketika tangan istri dari Finn tersebut sudah mulai bermain. Bisa dipastikan hasilnya akan luar biasa meski berukuran kecil.


Suara ketukan mengalihkan pandangan suami-istri tersebut dari layar. Ketika Finn menyuruh masuk. Pintu langsung terbuka dengan menampilkan Roy. Sang asisten membawa sebuah piring berisikan makanan yang sedang hits milik selebgram ternama, yakni keju aroma.


“Bu, orang kitchen sudah menggorengnya. Mau saya taruh di mana?” tanya Roy kepada Sandra.


Sandra semringah. Lantas, menjulurkan kedua tangan. “Tolong kemarikan, Roy. Aku mau langsung memakannya. Terima kasih.”


“Iya, Bu.” Kemudian, Roy keluar ruangan.


Finn memerhatikan Sandra yang terlihat gembira. Sang istri mencium aroma makanan tersebut seolah-olah hidangan teramat lezat.


Lalu, mulai makan dan membiarkan camilan tersebut berada di bibir yang tengah mengunyah, tetapi mengatup. Wanita tercintanya mengigit sedikit demi sedikit. Sementara kedua tangan sibuk bekerja.


Finn menggelengkan kepala melihat kelakuan sang istri. Mau makan, bukannya berhenti dulu mendesain, batinnya.


Gemas melihat camilan tersebut menjorok ke depan bibir. Finn mencaploknya. Mengunyah tepat di depan benda kenyal milik Sandra.


Sontak Sandra kaget kemudian terbengang. Meski sering beradu bibir. Tapi, kali ini sensasinya dirasa berbeda. Detak jantung pun mulai tak keruan.


Finn tersenyum dan mengecup benda kenyal milik sang istri satu kali. “Manis, seperti rasa bibir kamu.” Kemudian, menjauhkan wajahnya dan kembali fokus di depan layar.


Finn tidak menyadari kalau kelakuannya barusan membuat sang istri kikuk. Sandra berdeham untuk netralisasi diri sendiri dari kecanggungan.


🌺🌺🌺


“Honey, kamu yakin mau makan sepuluh potong ayam bakar itu?” Sandra tercengang melihatnya. Bahkan, sang suami sudah menghabiskan tiga.


Finn mengangguk. “Kamu mau?”


“Satu saja.”


Finn memberikannya. Sandra menggigit ayam bakar itu. Mereka makan tanpa nasi.


Ketika Finn menoleh. Mata langsung berfokus dengan air liur hampir menetes. Entah kenapa dalam pandangannya saat itu melihat sang istri menyantap ayam bakar terlihat sangat menggiurkan. Rasa ingin mencicipi makanan yang tengah dilahap Sandra. Tanpa permisi, ia menarik tangan wanita tercinta kemudian menggigit bekasan gigitan tersebut. Lalu. mengunyah cepat.


Lagi-lagi, Sandra kaget dan terbengang.


“Kenapa rasa ayam bakar di tanganmu ini lebih enak?” tanya Finn heran sendiri.


“Hah! Masa?” Sandra pun tak kalah heran.


“Iya.”


Untuk membuktikan, Sandra mengambil ayam bakar di piring Finn dan menggigit sedikit. Sejenak merasakan dan berpikir di mana letak perbedaan rasa makanan tersebut.


Sandra menoleh ke arah Finn. “Sama saja, kok. Enak.”


“Beda, Bee.”


“Sama.”


“Beda.”


Sandra menaruh ayam bakar di tangannya tadi. Kemudian, mengambil yang lain. Menggigit, mengunyah.


“Tak ada bedanya.”


“Masa?” Finn menarik lagi tangan Sandra dan menggigit ayam bakar bekasan gigitan sang istri. “Mungkin karena sudah terkontaminasi oleh bibirmu. Jadi, rasanya jauh lebih enak.”


Pipi Sandra langsung bersemu merah. Demi Tuhan! Finn Elard Liam, aku benar-benar seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Polah manismu sedari tadi membuatku salah tingkah dan berbunga-bunga. Padahal, kamu sering melakukannya, tetapi tetap saja jantung tak pernah bisa diajak kompromi kalau kamu tengah begini. Jadi, pengen melahapmu. Gemas! batinnya.

__ADS_1


Sore hari di Gedung Field Construction


Ponsel Finn berdering. Nama ‘Mami Tercinta’ tertera di layar.


“Iya, Mi.”


“Finn, jam berapa kamu mau datang?”


“Datang? Ke mana, Mi?”


“Oh, anak ini minta dijewer, ya. Hari ini ulang tahun pernikahan Mami dan Papi.”


Finn menepuk jidat. Ia benar-benar lupa.


“Maaf, Mi. Finn lupa.”


“Berhubung Mami sedang berbahagia karena Sandra hamil. Jadi, Mami dengan ikhlas memaafkan. Lekas datang, ajak istrimu. Kita makan malam bersama.”


“Iya, Mi.”


Sambungan telepon terputus.


Dengan cepat Sandra bertanya, “Ada apa?”


“Hari ini ulang tahun pernikahan mami dan papi.”


“Loh, kamu ini. Kenapa bisa lupa? Sempat tidak, ya, membeli kado dulu?”


“Kadonya sudah.”


“Oh, ya? Kamu sudah menyiapkan apa?”


“Calon anak kita yang berada di perutmu. Itu kado buat mereka.”


Sandra tersenyum dan mencubit gemas pipi Finn. Sudah sedari tadi ia ingin melakukan hal tersebut. “Pintarnya.”


Sandra mencubit lengan Finn. “Kamu tu bicaranya. Mereka orangtua kamu. Awas, ya. Aku akan adukan kepada mami.”


“Mengutip kata-kata Tristan ‘Dasar Pengadu’.”


Sandra mencubit lagi pipi Finn. “Biar saja nanti mami memarahimu.” Lantas menjulurkan lidah meledek sang suami dan mengeloyor lebih dulu keluar ruangan.


Finn menggelengkan kepala. “Untung kesayangan.”


🌺🌺🌺


“Mami, selamat ulang tahun pernikahan. Berbahagialah selalu bersama papi selamanya. Sandra sayang Mami dan Papi.” Sandra mengecup pipi Diana dan Chris bergantian. Lanjut, menghampiri Helena dan Theo.


Finn juga melakukan hal yang sama seperti Sandra.


Semua sudah berkumpul di meja makan. Helena dan Theo sengaja di undang Diana agar sang menantu bisa melepas rindu kepada kedua orangtuanya.


Setiap tahun, Diana tak pernah menginginkan sebuah pesta ulang tahun pernikahan mewah. Ritual wajib yang biasa ia lakukan hanya makan malam bertiga dengan sang putra. Itu sudah sangat membuatnya bahagia. Kecuali, beberapa tahun lalu, tepat pada saat usia perkawinan ke-25.


Pesta pernikahan perak itu, baru dilangsungkan secara meriah. Satu ballroom hotel pun sampai penuh oleh para tamu.


“Bagaimana kondisi kehamilanmu, Sandra?” tanya Diana sebelum acara makan malam di mulai.


“Berjalan dengan baik, Mi,” jawab Sandra.


“Syukurlah.” Kemudian, Diana menatap sang putra. “Lalu, kondisimu bagaimana, Finn? Masih suka mual, pusing, dan lain-lain?”


“Asal Sandra selalu berada di dekatku, semua teratasi, Mi.” Finn sedikit berbohong. Karena, ia enggan membuat para orangtua khawatir.


“Honey ….”

__ADS_1


Buru-buru Finn menyambar bibir sang istri agar tak buka suara. Mencium sebentar dan berkata, “Terima kasih, Bee. Selalu menemani dan mengurusku di kantor. I love you.” Kemudian mengerling.


Sandra terdiam. Lalu, tanpa sadar mengangguk.


“Mami senang mendengarnya. Selalu berbahagia, ya,” ujar Diana.


“Tentu, Mami Sayang.” Finn tersenyum dan memberi kedipan mata kepada sang mami.


Diana menggeleng-gelengkan kepala. Karena, kelakuan putra semata wayangnya tak berubah. Persis sang suami, hobi mengerling.


“Kalau begitu, kita mulai makan saja.” Diana menutup obrolan di meja makan.


Baru saja mulai makan. Namun, semua mata tertuju kepada Sandra dan Finn.


Finn terang-terangan meminta Sandra untuk menyuapinya menggunakan tangan langsung. Sang istri sempat menolak karena takut mendapat protes dari para orangtua.


Namun, Finn menampilkan wajah memelas seraya mengucapkan kata-kata yang membuat Sandra tak bisa menolak. Sang suami beralasan kalau itu permintaan sang janin. Pria tersebut juga mengatakan, hanya mau makan jika istrinya melakukan hal tersebut. Alhasil, wanita itu mengalah.


“Oke.” Sandra menaruh sendok dan garpu. Lalu, mulai menangkup nasi dan lauk pauk dengan jemari. Lantas, menyodorkan kepada sang suami.


“Kamu dulu.”


Sandra kembali mengalah. Ia menyuapi makanan tersebut ke dalam mulutnya. Lalu, mengambil lagi nasi dan lauk pauk dan memberikan kepada Finn.


Finn sudah membuka mulut. Ia mengunyah dengan wajah semringah.


Sandra tahu, ia dan Finn sedang menjadi pusat perhatian. Namun, mencoba tebal muka.


“Sangat enak. Lagi, Bee.” Finn membuka mulut bersiap menerima suapan berikutnya dari istri tercinta.


Mereka makan bergantian. Usai menyuapi Finn. Sandra akan melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri. Hingga tak terasa dua piring nasi tandas.


Tangan Sandra berakhir dengan penuh bekasan makanan. Ia mau beranjak bangun bermaksud ingin mencucinya. Namun, Finn menahan.


“Mau ke mana?” tanya Finn.


“Cuci tangan.”


Finn tersenyum. Meminta sang istri tetap duduk. Kemudian, meraih tangan tersebut dan menjilat-jilat hingga bersih.


Sandra tercengang. Mencoba menarik, tetapi Finn memegang tangannya sangat kuat.


Para orangtua pun tak kalah terkejut. Namun, mereka enggan untuk berkomentar. Sedari tadi pun memilih diam.


Tak ada sedikit pun perasaan marah atau sebal melihat kelakuan Finn dan Sandra. Para orangtua hanya kaget. Sejurus kemudian, justru senyum terbit dari bibir mereka.


“Selesai. Mulai sekarang, setiap aku mau makan. Suapi dengan tanganmu, ya. Tak usah pakai sendok dan garpu, tidak enak,” ujar Finn.


Tak ingin pembicaraan menjadi panjang karena menolak. Apalagi, ada sang bunda yang notabene pasti memarahi jika tak patuh kepada suami. Jadi, Sandra mengangguk.


“Wah, Finn, Sandra. Bunda senang melihat keharmonisan kalian.” Helena mengucapkannya dengan berbinar-binar.


“Aku pria paling beruntung karena mendapatkan Sandra, putri Bunda dan Ayah,” jujur Finn.


“Bunda senang mendengarnya.”


“Mami pun turut berbahagia. Teruslah seperti itu. Kita para orangtua sangat lega dan tak terlalu khawatir lagi terhadap rumah tangga kalian.”


“Mami, kenapa mengkhawatirkan hal tersebut?”


“Tentu saja karena sifatmu yang buruk di masa lalu. Mami takut kamu kumat lagi.”


“Finn tak akan melakukannya lagi, Mi. Sudah kapok,” bela Sandra. Kemudian, menoleh ke arah sang suami. “Betul kan, Honey?”


Finn menjawil hidung Sandra. “Tentu.”

__ADS_1


Asah-asih-asuh, tiga hal yang saat ini Sandra dan Finn coba selalu terapkan dalam rumah tangga mereka. Berharap setelah melakukannya dalam kehidupan, akan bermuara kepada keharmonisan dan kebahagiaan.


__ADS_2