
Episode kali ini mengambil sudut pandang dari Sandra.
Lebih mengejutkan lagi, suster itu bercerita hal lain yang membuatku mematung. Namun, aku menyimak setiap kata yang keluar dari bibir perawat itu. Rasa hatiku begitu sakit mendengar kisah tersebut.
Suster mengatakan, kalau Finn ikut di dalam mobil ambulans yang membawaku ke rumah sakit usai kecelakaan. Kata perawat itu, suamiku menangis dan meminta maaf.
Aku bertanya, dari mana mendapat cerita tersebut? Suster itu bilang dari teman sesama paramedis yang kebetulan sedang bertugas di dalam ambulans pada saat kecelakaanku terjadi.
Suster kembali bercerita, jika Finn menunggu sampai selesai. Bahkan, ketika mendengar anak kami keguguran pun, suamiku menangis pilu di depan pintu Ruang ICU.
Akan tetapi, begitu kesadaranku kembali. Finn tak diberi izin masuk untuk melihatku. Bunda dan mami adalah sang pelaku, kata suster itu yang mengatakan jika menyaksikan langsung hal tersebut.
Suster bercerita kembali, jika Finn setiap hari datang membawa sekuntum bunga mawar. Menitipkan kepada perawat yang sedang berjaga untuk diberikan kepadaku. Namun, tak pernah sampai ke tanganku. Karena, bunda dan mami melarang.
Suster itu mengatakan, jika Finn selalu berdiri dari jarak cukup jauh hanya demi memandangi kamar rawatku. Lalu, selalu bertanya bagaimana perkembanganku kepada perawat yang tengah berjaga. Kemudian, meminta merawat dan menjagaku dengan baik.
Jujur, hatiku sakit mendengar perlakuan bunda dan mami kepada Finn. Seburuk apa pun suamiku, bukankah masih berhak menjenguk.
Padahal, hampir setiap hari aku berharap kalau Finn tiba-tiba datang. Meski hanya satu kali saja. Ternyata, beginilah yang terjadi.
🌺🌺🌺
Aku pun memutuskan terus mencari berita-berita mengenai Finn. Salah satu artikel menarik perhatianku untuk membuka, yaitu PHK massal sebuah perusahaan kontraktor, Field Construction.
Berita macam apa ini? Apakah Finn bangkrut? Lalu, ke mana Papi Chris? Kenapa tidak menolong? Atau mungkinkah mami melarang?
Oh, tidak. Kenapa aku jadi berpikiran buruk begini terhadap mami?
Walaupun wajar jika terlintas pikiran buruk. Karena, tak ada satu pun keluarga yang menceritakan hal tersebut kepadaku. Aku seperti dipermainkan. Apakah karena saat itu aku sakit, mereka menjadi enggan bercerita?
Pantas saja aku tak diberi izin memiliki ponsel untuk sementara waktu. Bahkan, di kamar rawatku yang notabene kelas VVIP, tetapi tak memiliki pesawat televisi. Ah, aku benci pikiran buruk ini.
Kejutan demi kejutan sungguh membuatku ingin menodong Finn dan semua keluarga dengan banyak pertanyaan. Aku tidak suka dipermainkan. Aku akan sangat marah jika ada yang melakukannya.
Lalu, melihat kenyataan kalau saat ini semua orang termasuk Finn mempermainkanku. Jelas saja aku tak suka. Sekarang, aku benar-benar marah.
Segera saja aku mencari alamat email Field Construction.
__ADS_1
Usai mengetahui keberadaan Finn dari Roy. Aku berniat akan pergi ke sana. Aku butuh penjelasan.
Notifikasi kembali masuk. Roy mengirimkan video dan banyak foto beserta satu kalimat yang membuat kelu.
Video yang kuduga hasil diam-diam yang di ambil Roy. Video itu memperlihatkan Finn yang terdiam dengan kepala menengadah ke atas. Menatap lekat cukup lama ke arah kamarku yang berada di lantai dua.
Aku terdiam sesaat. Lalu, menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Aku butuh ketenangan untuk melanjutkan melihat foto-foto lain yang dikirim Roy.
Begitu tenang. Lalu, mulai melihat satu per satu gambar hasil jepretan yang kuduga sama, diam-diam. Finn tengah memandangi kamar rawatku.
Ternyata suster itu tak membual. Finn memang selalu datang ke rumah sakit.
Foto-foto sisanya menunjukkan Finn tengah berada di area luar sekitar rumahku. Sama seperti video, memperlihatkan suamiku tengah memandang ke atas ke arah kamar, setiap hari.
Sedih dan menyakitkan hati melihat kenyataan ini. Kenapa mami dan bunda mengabaikan suamiku? Apakah mereka tidak meminta Finn untuk menjelaskan duduk perkara?
Kenapa semua orang meninggalkan suamiku seorang diri di saat keadaan yang terpuruk seperti ini? Finn pasti sangat terpukul atas kecelakaanku dan kehilangan calon buah hati kami.
Lagi pula, ini semua bukan sepenuhnya salah suamiku. Aku yang kurang hati-hati dalam menyetir mobil.
Atau ... karena perselingkuhan itu? Aku yakin semua sudah tahu perihal Kanaya dan Finn di Club. Oleh sebab itu, tak memberi izin Finn menjengukku. Tapi, sudahkah mereka mendengar penjelasan suamiku?
Aku kembali menatap layar dan membaca satu kalimat panjang dari Roy.
Bos memang sedih telah kehilangan banyak aset, tetapi kehilangan Ibu Sandra lebih membuatnya bersedih, terpukul, frustrasi hingga menutup diri tanpa mau lagi berbicara, dan semua orang meninggalkannya sendirian.
Usai membaca kalimat panjang tersebut lidahku kelu. Aku berkaca-kaca. Sepersekian detik kemudian air mata meluruh.
Finn, kenapa kamu menjadi seperti ini? Air mataku semakin deras mengalir. Rasanya sakit sekali.
Oh, Tuhan! Aku minta tolong untuk menyudahi penderitaan Finn. Aku juga turut andil atas kehancuran semua ini. Kami berdua salah.
Tangisan semakin menjadi-jadi. Dada terasa sesak seolah-olah ada yang mengimpit dengan bibir dan tubuh bergetar hebat.
🌺🌺🌺
Di dalam kamar, aku merenung. Aku teringat kembali video dan foto perselingkuhan Finn dengan Kanaya. Seketika darahku mendidih. Di tambah teringat calon anakku yang keguguran.
__ADS_1
Aku melangkah menuju lemari, mengambil sebuah brankas kecil. Terdapat sebuah pistol yang kusimpan rapi dan rapat. Aku memandangi senjata api itu dengan sorot tajam dengan wajah Finn terus menari-nari di kepala.
Tiba-tiba, aku teringat obrolan kami beberapa waktu lalu.
“Jika aku mengatakan sesuatu padamu. Aku mohon percayalah. Dan, jika ada berita di luaran yang tidak baik. Konfirmasi kebenaran langsung kepada suamimu. Oke.”
“Aku sedang mempelajari itu. Sejauh ini, kamu masih bisa aku percaya.”
“Jika membuatmu ragu. Janji jangan menggunakan emosimu. Tanya kepadaku. Aku akan menjelaskan semuanya.”
Ya, kamu memang harus menjelaskan semua, Finn.
🌺🌺🌺
Tanpa banyak berpikir, aku melangkah masuk. Gedung itu memiliki penerangan temaram, seperti tak terurus. Namun, aku tetap bertekad ke dalam.
Seketika aku menggeleng. Aku lupa jika sudah satu bulan terakhir gedung ini hanya memiliki satu orang penghuni, yaitu Finn. Wajar saja jika terlihat remang dan terabaikan.
Aku melangkah terus dengan menggenggam pistol. Mendorong pintu ruangan Finn dan masuk. Mengacungkan senjata api itu tepat ke arah suamiku.
Memandang wajah suamiku langsung setelah dua bulan tak bertemu. Aku merindukanmu, Finn.
Tapi, lihatlah, Finn. Keadaanmu mengejutkanku. Kamu yang selalu menjaga penampilan. Kini terlihat tak terurus dengan gurat wajah tampanmu terlihat menyedihkan.
Belum juga aku bersuara, tetapi Finn lebih dulu berkata dengan nada sedih. Perkataan yang lebih mirip sebuah permintaan.
Apa yang baru saja aku dengar? Finn memintaku menembak dengan janji tak akan menghindari peluru.
Apa-apaan ini? Finn, kenapa kamu menjadi lemah begini? Kenapa kamu pasrah begitu saja sampai rela mati?
Sungguh aku benci dirimu yang seperti ini. Menyerah dengan mudah pada kehidupan. Ke mana perginya Finn-ku?
Finn yang kukenal tak mudah menyerah, bersemangat, hebat, kuat, tenang, genius, dan sombong. Akan tetapi, sekarang ....
Baiklah jika kamu menantangku, Finn. Aku akan mengakhiri semua. Aku bersiap melepaskan peluru.
Namun, sebelumnya aku menyatakan cinta lebih dulu kemudian kata benci. Benci akan keegoisan Finn karena ingin meninggalkanku sendirian di dunia.
__ADS_1
Setelah kepergian buah hati kita. Apa kamu pikir aku akan begitu saja membiarkanmu menyusul ke akhirat?
Aku tak akan membiarkan itu terjadi, Finn Elard Liam!