ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Ngapel


__ADS_3


Cinta datang tanpa permisi. Merasuk begitu saja ke sanubari. Mengoyak jiwa ketika rindu. Membuat netra menjadi sendu.


Degup jantung bagai irama cinta mendayu. Menyuarakan untaian kalimat terindah dengan suara parau. Suasana hati pun seketika syahdu. Sang pujaan masih tak terjangkau.


“Sandra, kenapa sulit meraihmu? Aku harus berbuat apa agar engkau takluk? Aku hanya mau kamu, Baby.”


Kekosongan hati telah terisi. Gairah hidup bersemangat kembali.


Berharap bisa merengkuh ke dalam dekapan. Sekadar melepas kerinduan. Tapi, ternyata hanya angan.


Netra pekat diam menatap langit kamar. Otak terus bekerja mencari cara.


“Tunggu!” Finn menjetikkan jari seraya tersenyum.


Ia memiliki ide bagus untuk proyek meraih cinta sang terkasih. Finn beranjak bangun. Bergegas berganti pakaian dan mengambil kunci mobil.


Melaju cepat di jalanan ibu kota. Berhenti sesaat di sebuah kios bunga. Senyum tak lepas dari bibir seksi sang ceo.


“I am coming, Baby.”


🌺🌺🌺


Tiada hari tanpa keributan. Helena dan Theo memilih tak peduli pada polah tingkah putra-putrinya. Angan rumah ramai akan suara cucu, justru selalu saja Tristan dan Sandra yang mendominasi.


Melihat sang putri pun, Helena pasrah. Perempuan, tetapi tidak bisa diam. Hobinya beradu mulut dengan Tristan.


Suara bel berbunyi, Helena langsung beranjak bangun untuk melihat siapa tamu di malam minggu.


“Cari siapa?”


Finn membalikkan badan kemudian tersenyum manis. Lalu, mencium tangan Helena.


“Malam, Tante. Saya Finn Elard. Saya ingin bertemu Sandra sekaligus berkenalan dengan Om dan Tante.”


Ucapan Finn bagai melihat pelangi setelah hujan. Helena pun menampilkan senyum merekah. Di tambah pria yang mencari sang putri berparas tampan bak pangeran di Negeri Dongeng.


Namun, sepersekian detik kemudian mengubah mimik wajah bahagia tadi menjadi normal. Pasalnya, ia takut salah dengar. Untuk memperjelas, Helena bertanya agar semakin yakin.


“Kamu tadi bilang mau bertemu siapa?”


“Sandra, Tante.”


Helena menajamkan pendengaran. Memandangi sang pemuda dari atas sampai bawah. Kemudian, bertanya kembali. Karena, rasa tak percaya masih menghinggapi.


“Apa yang kamu maksud itu Sandra Rein?”


“Betul, Tante. Sandra Rein. Putri Tante Helena dan Om Theo. Juga adik dari Tristan.” Finn menyebut lengkap dengan senyum sumringah masih terpatri.


Helena spontan masuk ke rumah dan menutup pintu dengan keras. Namun, beberapa detik kemudian membuka lagi seraya tersenyum malu.


“Maaf. Tante terbawa euforia. Lupa kamu masih di luar. Silakan masuk, Finn.”


Jujur, Finn memang kaget saat pintu itu tertutup dengan kencang tepat di depan wajahnya. Namun, begitu terbuka kembali, ia tersenyum lagi.


“Iya, Tante. Terima kasih.” Kemudian, memberikan satu buket mawar merah kepada Helena. “Ini untuk Tante.”


“Loh, bukan buat Sandra?”


“Untuk Sandra ada lagi, kok, Tante.”


“Kamu itu, sudah ganteng, romantis pula.” Helena menepuk bahu Finn kencang. Lalu, mencubit gemas pipi sang ceo seraya tersenyum bahagia. “Ayo, masuk, Finn.”

__ADS_1


Finn terkejut kembali. Ia tak menyangka polah sang calon mertua begitu bersemangat.


“Iya, Tante.” Finn mengekor di belakang Helena.


Helena dan Finn baru saja memasuki ruangan di mana Theo berada. Maksud hati ingin memperkenalkan kepada sang suami. Akan tetapi, tiba-tiba mendengar suara teriakan Sandra.


Sandra pun terlihat berlari ke arah sang ayah. “AYAH! Minyak wangi favorit aku pecah sampe tiga botol sama Abang! Pokoknya gak mau, suruh ganti!” Ia berbicara dengan kecepatan persis kereta ekspres.


Kemudian, Sandra duduk di atas pangkuan Theo. Memeluknya erat seraya menggoyang-goyangkan kaki persis anak kecil tengah merajuk.


Theo pun enggan menengahi. Ia hanya mengembuskan napas lelah melihat kelakuan putra-putri tercinta.


Tak berapa lama, si tersangka datang.


“Enggak sengaja, Yah. Tadi mau pinjem flashdisk. Eh, kesenggol.”


“Enggak peduli. Pokoknya ganti.”


“Iya, Dek. Nanti diganti.”


“Enggak boleh bohong. Abang tu suka iya-iya doang. Ujungnya lupa.”


“Iya, kali ini bener. Cerewet.”


Sandra mengadu lagi pada Theo. “Omelin Abang, Yah. Dari tadi juga ganggu aku terus.”


“Ngadu aja terus. Lo juga pelit, gak mau bantu Abangnya yang lagi kesusahan.”


“Lo yang pacaran sama Kak Kanaya, kenapa jadi gue yang ribet?”


“CUKUP! Mau sampai kapan kalian bertengkar. Enggak malu ada tamu?” Kemudian, Helena menatap Finn tak enak hati seraya meminta maaf.


“Finn!” teriak Sandra dan Tristan kompak berbarengan ke arah Helena dan sang ceo berada.


Finn menyambut tangan Tristan. “Aksi lo berdua, pokoknya gue tonton.” Kemudian, mengarahkan pandangan pada beradik-berkakak itu secara bergantian seraya tersenyum.


Spontan Sandra tersadar kalau ia tengah berada di atas pangkuan sang ayah. Ia segera beranjak turun. Duh, malu banget, sih, batinnya.


Ah, ternyata terlihat dingin, tetapi sangat manja. Melihat kelakuanmu, justru semakin membuatku bersemangat memiliki. Baby, kamu menggemaskan, batin Finn.


Sandra mengayunkan kaki perlahan hendak pergi. Tapi, suara Helena menghentikan langkahnya.


“Sandra! Finn kesini mau ngapel. Cepat ganti baju dulu.”


Ngapel? Finn dan Sandra bergumam hal yang sama.


Finn tak berpikiran jika kedatangannya dianggap sebagai kencan. Tapi, sudah pasti CEO itu senang bukan main.


Langkah pertama berjalan mulus. Bahkan, diluar dugaan, gumam Finn.


Sementara Sandra harus menghela napas berat atas ucapan sang bunda. Bahkan, tak ada pembelaan dari Finn sendiri kalau mereka tak punya hubungan apa pun.


“Bunda, aku dan Finn ....”


“Dek, cepat ganti baju. Biar gue yang menemani Finn dulu. Enggak usah dandan heboh. Nge-date lo di bangku depan rumah doang.” Tristan memotong ucapan Sandra.



Sandra berjalan dengan mengentak. Ia kesal


“Thanks, Trist.”


“Buat lo apa yang enggak.” Trisan menepuk bahu Finn.

__ADS_1


Finn menghampiri Theo lebih dulu untuk bersalaman sekaligus memperkenalkan diri. Setelah itu baru mengikuti Tristan ke luar.


🌺🌺🌺


“Buat kamu.” Finn memberikan satu kuntum mawar merah kepada Sandra.


Sandra menerima dengan terpaksa.


“Bunga buat nyokap gue perasaan sebuket. Kok, Sandra satu doang, Finn?” tanya Tristan usil.


“Itu hanya simbol. Karena, bunga yang lain ada disini.” Finn menunjuk dadanya. “Kalau Sandra mau ambil. Gue rela kasih semua.”


“Wow! Bisa aja lo. Udah, ah, ogah gue lama-lama duduk bareng orang kasmaran. Bikin sirik doang. Gue cabut ke dalem, Finn.” Tristan menepuk bahu sang ceo. “Selamat berjuang.”


“Pengertian banget lo, Trist. Thanks.”


Tristan tertawa. “Sesama laki-laki masa gak paham.” Kemudian melirik ke Sandra. “Dek, jangan judes-judes. Entar gak nikah-nikah lo.”


“Abang! Resek lo!”


Tristan kabur dengan cepat seraya tertawa terbahak-bahak. Namun, baru saja melangkah masuk, Helena menarik tangan sang putra.


“Tristan, apa pekerjaan Finn?” tanya Helena pelan.


Tristan berbisik di telinga sang bunda. “CEO, Bund. Finn anak konglomerat.”


“Serius kamu?”


“Dua rius malah. Pepet terus Finn, Bund. Kapan lagi punya calon mantu tajir melintir.”


“Benar juga. Tapi, kok, Sandra kayaknya gak suka. Finn anak baik, ‘kan?”


“Biasa perempuan, Bund. Sandra lagi ngambek dapet bunga satu kuntum doang sementara bunda sebuket.”


“Aih, anak itu. Masa cemburu sama Bundanya sendiri?”


Dalam hati Tristan sudah cekikikan. Ia berhasil mengerjai sang bunda.


“Sandra lagi merajuk biar keinginannya terkabul.”


“Memang Sandra mau apa?”


“Mungkin bunga sekebon.”


“Kamu ini bercanda saja. Sudah sana. Ganggu banget.” Helena mengusir Tristan dan melanjutkan acara mengintip sang putri.


Hah! Kan tadi Bunda yang narik tangan gue, gumam Tristan menggelengkan kepala kemudian melangkah pergi.


Sepuluh menit dalam keheningan.


“Cemberut aja cantik.”


Sandra memutar bola matanya malas. Ia terpaksa menemani sang ceo karena Helena memaksa. Jika menolak, omelan tiada akhir akan terus berselancar dari mulut ibu suri.


Antusias Helena bagai kembang api tahun baru di langit malam. Semangatnya menyala-nyala. Di pikirannya saat ini hanya satu, Sandra dan Finn harus sampai ke jenjang pernikahan.


“Finn, mau apa kamu kemari?”


“Kata Tante Helena, aku ngapel.”


Sandra kesal bukan main. Ingin memaki dan mengusir Finn, tetapi sang bunda memantau dari balik kaca.


Kenapa jadi runyam gini, sih? Bunda juga kayaknya suka sama Finn. Alamat gue bakal nikah beneran sama si Playboy, nih. Sandra membatin frustrasi.

__ADS_1


__ADS_2