
Ketika mendapat kabar dari Roy perihal kondisi Finn. Dua ratu langsung bergerak cepat untuk menyusun rencana. Mereka menyuruh sang asisten untuk membelikan lima test pack sekaligus dari merek yang berbeda-beda.
Saat bertemu Sandra dan berbincang-bincang sebentar. Lalu, membujuk istri dari Finn itu untuk pergi ke dokter kandungan.
Finn dan Sandra berpikir lebih dulu, baru kemudian mengangguk setuju. Begitu mendapat angin segar. Dua ratu langsung menunjukkan alat tes kehamilan. Merayu Sandra agar mau ke toilet untuk melakukan tes awal.
Sandra menurut, tak berniat menolak. Finn sendiri menyerahkan persetujuan penuh kepada sang istri.
Test pack sudah berjajar di atas meja. Helena, Diana, Finn, dan Sandra duduk sambil memandangi alat tes kehamilan tersebut. Beberapa menit kemudian mulai ada perubahan. Dua garis dengan sangat jelas tercetak di sana. Bukan hanya satu, tetapi kelimanya menunjukkan hasil yang sama.
Keempatnya saling beradu pandang. Kemudian, Helena, Diana, dan Finn secara bersamaan menatap Sandra. Tak lama senyum pun terbit dari bibir mereka bertiga.
Finn yang berada tepat di samping Sandra langsung memeluk erat sang istri. Tak dinyana, ia menangis.
Diana dan Helena pun tak mau kalah, mereka berdua turut mengeluarkan air mata bahagia. Lantas berpelukan.
“Jeng Diana, kita akan punya cucu.”
“Iya, tak menyangka sebentar lagi kita akan dipanggil Oma.”
“Kita akan menjadi orangtua, Bee. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Ini terlampau membahagiakan. Aku sangat mencintaimu dan calon anak kita.” Finn mengucapkannya dengan bibir bergetar. Jangan lupakan bulir air mata yang masih mengalir.
Sementara Sandra terpaku, tak tahu harus membalas perkataan suaminya dengan kalimat apa. Jadi, ia hanya mengangguk seraya mengusap punggung tegap Finn.
Sandra pun tak menyangka akan secepat ini Tuhan memberikan kembali kepercayaan kepadanya. Kali ini, ia akan menjaga dengan baik sang calon jabang bayi.
Ruangan Finn sekarang berisik oleh suara tangisan. Membuat Roy yang berada di luar langsung masuk karena khawatir terjadi sesuatu. Namun, terkejut begitu mendapati semua orang saling berpelukan dan menangis.
🌺🌺🌺
Sandra menjalani rangkaian pemeriksaan awal. Seperti mengukur berat badan, tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh.
Finn meminta dokter kandungan yang akan memeriksa Sandra adalah wanita. Ia tak mau ambil risiko menjadi cemburu jika yang menangani sang istri adalah dokter pria. Tak mau berdebat, semua menyetujui.
Usai pemeriksaan, dokter menyarankan kembali lagi untuk melakukan USG dua minggu kemudian. Tepat, sang janin nanti berusia tujuh minggu.
Selanjutnya, ada beberapa rangkaian tes darah. Seperti, golongan darah, Hemoglobin, HCG, Rubella. Pemeriksaan tersebut memang tidak wajib. Namun, biasanya dokter menyarankan untuk memastikan apakah ada penyakit tertentu atau tidak.
Berhubung Sandra pernah memiliki riwayat keguguran. Meski penyebabnya adalah kecelakaan. Finn, Helena, dan Diana tetap saja tanpa berpikir mengangguk setuju. Mereka ingin ibu dan janin selalu dalam keadaan baik dan sehat.
Finn pun meminta kepada dokter agar memberikan yang terbaik untuk istri dan janin yang tengah di kandung. Kali ini, ia ingin anaknya nanti benar-benar terlahir dalam keadaan hidup, sehat, dan sempurna tanpa kurang satu apa pun.
Sandra menurut saja. Ia justru senang, Finn, sang bunda, dan Mami mertua memerhatikannya.
🌺🌺🌺
Helena dan Diana mengikuti Finn dan Sandra ke Rumah Danau. Tanpa merasa perlu meminta izin, dua ratu mengumpulkan semua asisten rumah tangga. Memberi wejangan kepada mereka agar lebih memerhatikan sang nyonya yang tengah hamil muda.
Mulai dari makanan yang harus bergizi dan menyehatkan. Sampai kebersihan rumah. Tak boleh ada genangan air yang akan berbahaya jika terinjak Sandra, kamar mandi jangan sampai licin, dan lain-lain. Mungkin, jika dibuat dalam bentuk cerpen, petuah tersebut bisa mencapai ratusan kata.
__ADS_1
Sandra pun cukup lelah mendengarkan fatwa yang panjang tersebut. Ia sampai menggelengkan kepala.
Aku ini hamil, bukan sakit. Oh, Mami. Oh, Bunda. Aturlah sesuka kalian para orangtuaku tersayang. Asal masih boleh menulis blog, aku akan menurut apa pun itu, batin Sandra pasrah.
Hampir satu jam berada di rumah danau, Helena dan Diana pamit pulang. Mereka berpesan kepada Finn agar menjaga sang istri dengan baik dan benar.
Finn menjawab singkat, ‘iya’, seraya tersenyum manis.
🌺🌺🌺
“Honey, hentikan kelakuanmu.”
“Aku ingin anak kita tahu kalau sang daddy sangat mencintainya.”
“Tapi, aku mau tidur.”
“Tidurlah.”
“Bagaimana aku bisa tidur kalau kamu menciumi perutku terus?”
Finn langsung menurunkan kaus yang dipakai Sandra. Lalu, beringsut membaringkan tubuh ke samping sang istri. Ia menopang kepala dengan tangan kiri dan sebelah kanan dimanfaatkan untuk membelai pipi wanita tercinta.
“Aku terlalu bahagia.”
“Aku pun.”
“Nanti jauh dariku kamu mual, pusing, dan lain-lain. Kalau tak bisa bekerja, bagaimana?”
“Aku akan menahannya.”
“Yakin?”
Finn menjawil hidung Sandra. “Yakin.”
Sandra menarik tangan Finn dan tangannya sendiri. Mengarahkan ke arah perut. Mengusap secara bersamaan dan berkata lembut, “Sayang Mommy, maukah kamu memindahkan rasa mual, pusing, muntah, dan lain-lain dari Daddy? Biar Mommy saja yang merasakan. Supaya Daddy bisa bekerja.”
“No. Bee, jangan begitu. Aku tidak mau kamu sampai kurang asupan gizi perkara tak berselera makan. Jadi, biar saja aku yang merasakan mual dan lain-lain. Aku pria kuat, bukan lelaki lemah.”
“Honey, kamu tu ngomongnya ….”
Finn mencium bibir sang istri agar diam. Menyesap beberapa saat sebelum akhirnya melepas dan berucap, “Kamu dan calon anak kita harus sehat terus dan makanlah yang banyak. Aku sendiri akan selalu baik-baik saja. Oke.”
“Tapi ….”
Kembali, Finn meraup bibir sang istri. Kali ini, dengan sangat rakus. Pergulatan antar dua benda kenyal berlangsung dengan durasi cukup lama. Keduanya saling membalas dan mencecap. Tak ada satu pun di antara mereka mau menyudahi pertikaian tersebut. Keributan yang nikmat.
Keesokan paginya
Sudah hampir satu jam, Finn menetap di dalam kamar mandi. Tepatnya, berada di depan wastafel. Ia terus muntah-muntah. Isi sarapan sudah sukses keluar semua. Namun, hasrat mual dan terus mengeluarkan apa-apa yang ada di dalam perut masih menggebu.
__ADS_1
Sandra pun dengan setia menemani dan memijat tengkuk sang suami. Berharap mengurangi hasrat tersebut.
Namun, entah mengapa pagi ini, berada di dekat sang istri tak mempan mengenyahkan rasa mual dan muntah. Kondisi Finn pun tak seperti biasa, sangat parah.
Perut Finn pun terus bergolak melakukan perlawanan. Sampai pada titik yang keluar hanya berupa cairan berwarna kuning dengan meninggalkan rasa pahit di tenggorokan.
Pria yang semalam menyatakan diri sebagai lelaki kuat. Justru kini terlihat lemah dengan bulir keringat membanjir.
“Honey, kamu libur saja, ya,” ujar Sandra seraya terus memijat dan mengusap punggung sang suami. Ia iba melihat keadaan Finn.
Finn menggeleng. “Nanti siang, aku ada meeting penting dengan klien.”
“Kalau begitu, biarkan aku ikut untuk mengurusmu.”
“Ada Roy.”
“Menurutlah denganku, Honey. Biarkan Roy mengurus pekerjaanmu. Dan, aku mengurusmu.”
“Oke.” Finn menyerah.
Lalu, rasa mual dan keinginan untuk muntah datang lagi dan lagi. Finn nyaris tak berdaya. Saat sedikit reda, Sandra langsung memeluk sang suami dan menangis.
“Honey, aku tidak tega melihatmu seperti ini. Pasti sangat menyiksa, ‘kan?”
Finn tak menjawab pertanyaan Sandra. Ia justru mengatakan hal lain.
“Bee, aku menyayangimu dan mami. Sudah jangan menangis, ya.” Ternyata berat menjadi wanita hamil. Aku yang hanya merasakan seperti ini saja kewalahan.
“Iya. Kami juga menyayangimu.” Tangis Sandra semakin kejer.
“Loh, kok, malah tambah kencang. Sudah jangan menangis. Aku baik-baik saja.” Finn mengusap punggung Sandra lembut.
“Aku kasihan sama kamu. Pasti sakit dan rasanya tak enak terus-menerus mual dan muntah. Belum lagi rasa yang lain.”
Finn mengeratkan pelukan. “Bee, aku minta maaf pernah menyakitimu. Aku akan selalu berusaha menjadi suami yang baik untukmu.” Ia berkata dengan suara lirih.
“Aku sudah memberimu maaf. Lupakanlah masa lalu. Kamu tu suami idaman. Kelak pun, akan menjadi Daddy kesayangan anak-anak kita.”
“I love …,” Belum selesai mengucapkan kata cinta, perut Finn kembali bereaksi.
Buru-buru Finn melepas pelukan dan beralih ke wastafel. menembakkan lagi cairan berwarna kuning dan pahit.
Ketika mereda selama lima belas menit, Sandra memutuskan memapah sang suami ke atas kasur. Finn duduk bersandar, ia sudah merasa lebih baik. Lalu, meminta sang istri melakukan hal yang sama.
Kemudian, Finn berbaring dengan posisi kepala berada di atas pangkuan Sandra. Ia mengarahkan wajahnya ke perut sang istri. Melingkarkan kedua tangan di pinggang wanita tercinta seraya menciumi bakal calon bayi mereka.
“Hei, Boy. Daddy punya feeling kamu adalah laki-laki. Ketika nanti sudah besar, kita adu tinju dan menembak. Oke. Kalau kamu menang, boleh memiliki Mommy selama satu hari. Tapi, jika kalah, jangan dekat-dekat Mommy sampai satu bulan. Karena, Mommy hanya punya Daddy. Kamu cari pacar saja sana, ya.”
“Finn Elard! Apa-apaan, sih?”
__ADS_1