ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
John Beck


__ADS_3

Ramon dan Tristan sudah sampai di kediaman Manda. Tinggal menunggu Finn datang.


Sepuluh menit kemudian mobil Finn terlihat memasuki pekarangan rumah Manda. Ia bergegas turun dan menghampiri mereka.


“Sorry, telat. Nunggu Sandra cabut duluan dari kantor biar gak curiga.” Finn memberi alasan.


“It’s okay, Finn. Kita langsung aja ke ruang kerja gue, ya,” sahut Manda beranjak bangun dan melangkah lebih dulu masuk ke rumah. Ketiga pria tampan itu pun mengekor.


“Sepi banget, Mand? Ke mana Marvel, Marinka, dan Marcella?” tanya Finn.


“Marvel sekolah, sore baru pulang. Para princess di ajak Marcel nge-mal.”


Finn hanya ber’o’ ria.


Manda mulai membuka layar komputer. Memperlihatkan kepada mereka hasil temuannya kemarin dari isi email John Beck.


Manda memberi tahu perihal email-email tersebut. Ketiga pria itu memerhatikan dengan serius. Terutama Finn.


“Ternyata dalang di balik kalahnya gue saat kompetisi proyek adalah Alexander. Licik!” Finn mulai emosi.


“Dugaan gue ternyata benar,” timpal Ramon.


“John juga menekan banyak para pengusaha agar tidak bekerja sama dengan Field Construction. Kalau tak menurut, ancaman usaha mereka hancur akan terwujud. Semuanya tentu saja atas titah dari Alexander,” jelas Manda.


Manda pun memperlihatkan sebuah bukti pesan protes di aplikasi hijau milik tangan kanan sang bule. Salah seorang pengusaha merasa keberatan karena menilai perusahaan Finn sangat bonafide.


“Satu pesan itu cukup mewakili semuanya, Finn. Pengusaha yang protes itu tetap saja tak berkutik saat ancaman akan dibuat bangkrut terbit dari John Beck,” sambung Manda.


“Bule itu benar-benar memiliki power luar biasa sampai bisa membungkam banyak pengusaha! Benar-benar licik!” seru Ramon kesal.


“Benarkah Alex melakukan semua hal keji itu hanya untuk mendapatkan Sandra?” tanya Tristan masih merasa tak percaya akan kegilaan sang bangsawan.


“Ya. Alex ingin menyingkirkan gue, Trist. Dengan berbagai cara demi bisa bersama Sandra,” jawab Finn.


“Dia seorang bangsawan. Seharusnya gak sulit mendapatkan wanita dengan kasta yang sama.” Tristan semakin tak habis pikir.


“Tristan, lo terlalu naif. Cinta kadang gak peduli akan hal tersebut. Apalagi, orang gila seperti Alexander. Dari caranya untuk mendapatkan Sandra sudah kelihatan banget kalau bule itu ambisius dan sangat terobsesi dengan adik lo,” sanggah Manda.


“Sandra adalah wanita cantik, cerdas, mandiri, kuat, pandai menjaga kehormatan, dan harga diri. Adik lo tipe perempuan yang bisa menerima dan menutupi segala kekurangan pasangannya. Dia juga sangat menggemaskan. Ah, jadi rindu.” Finn tersenyum semringah saat mengatakan dua kalimat terakhir.


“Gue turut senang. Sepupu berengsek gue akhirnya bisa mendapatkan wanita yang baik dan tepat. Banyak-banyaklah bersyukur, Finn. Awas lo menyakiti Sandra untuk kedua kali. Gue gak sudi bantu lagi.” Manda memberi peringatan.


“Anggap aja sekarang adalah karma lo, Finn. Di saat jatuh cinta benaran setengah mati, malah dapat saingan berat. Mungkin, supaya lo gak bertingkah lagi. Karena, sudah tahu kalau di luar sana ada laki-laki yang mencintai Sandra tengah menunggu. Sekali istri lo lepas dari pelukan, bule kelas kakap itu siap menangkap.” Ramon mengingatkan.


“Iya. Gue bakal jaga baik-baik Sandra dan gak akan lagi berulah,” ucap Finn mengerti.


“Gue gak sangka. Adek gue yang berisik banget bisa jadi incaran bangsawan macam Alexander.” Kemudian, menoleh ke arah Finn. “Tapi, gue bersyukur elo yang menjadi suami Sandra, bukan bule jahat itu. Toh, elo juga keturunan konglomerat.”


Finn tersenyum dan mengangguk. “Thanks, Trist.”


“Oke. Kita lanjut lagi. Mand, teruskan,” pinta Ramon.


Manda mengangguk. “Persis dugaan Finn dan Ramon, Kanaya berada di mansion Alex. Ini isi pesan John Beck kepada anak buahnya saat menyuruh mengeksekusi perempuan itu. Kalo gue rasa, wanita itu disekap.” Manda berasumsi.


“Otak di balik semua ini adalah Alex. Sejujurnya, sekarang gue gak mau peduli tentang Kanaya berada di mana. Toh, Sandra sudah dipelukan. Saat ini, satu saja keinginan gue. Bule sinting itu berhenti untuk mengusik ketenangan rumah tangga gue bersama Sandra. Hanya itu!” tegas Finn.


Baru saja Ramon ingin mengomentari Finn, tetapi urung karena ponselnya berdering. Ia melihat siapa si penelpon. Kemudian, mengangkat telepon tersebut.


“Halo.”


“Bos, Ibu Sandra berada di gedung Hamilton Company bersama seorang wanita. John Beck baru saja menghampiri. Tangan kanan Pak Alexander itu mengantar mereka ke ruangan atasannya.”

__ADS_1


Ucapan tersebut membuat Ramon kaget. Ia melirik ke arah Finn. Membuat sang sepupu mengerutkan kening.


“Ikuti mereka terus.”


“Maaf, Bos. Kami tak ikut naik ke atas. Tidak sembarang orang bisa ke ruangan Pak Alexander.”


“Baiklah. Kalian pantau saja. Satu jam dari sekarang jika mereka tak kembali. Telepon lagi.”


“Baik, Bos.”


Telepon terputus. Beberapa foto kemudian dikirim oleh anak buah Ramon lewat aplikasi hijau. Sang pengacara membuka gambar tersebut.


“Ada apa?” tanya Manda dengan mimik cemas.


Ramon menatap lekat Finn. “Sorry, Finn. Secara diam-diam gue meminta beberapa orang untuk mengikuti lo dan Sandra. Gue hanya mau memastikan lo berdua aman.”


Finn mengangguk, tak mempermasalahkan hal tersebut. Justru berterima kasih. “Lalu, apakah sesuatu terjadi?” tanyanya.


“Saat ini, Sandra dan Vivian berada di gedung Hamilton Company. John Beck membawa mereka ke ruangan Alexander,” terang Ramon.


“APA?” Tristan dan Finn berteriak berbarengan.


Finn langsung beranjak bangun, tetapi tangannya ditahan Manda.


“Finn, sabar dulu,” ucap Manda.


“Sandra ada bersama Alex, Mand! Kalau terjadi sesuatu bagaimana?” Finn menampilkan wajah kalut.


“Finn, gue tahu lo khawatir. Tapi, ada anak buah gue mengikuti Sandra dan Vivian. Kita tunggu satu jam lagi. Kalau nanti mereka gak muncul. Kita bertindak,” timpal Ramon.


“Gue gak bisa menunggu satu jam. Di sana ada ada dua orang wanita yang gue sayang. Gue cabut.” Tristan baru saja mau beranjak pergi, tetapi Ramon menahan.


“Trist, di sana penjagaan ketat. Bahkan, anak buah gue gak bisa naik ke ruangan Alex. Ingat, bule itu memiliki banyak pengawal. Apalagi, itu di kandangnya sendiri,” jelas Ramon.


“Lo bisa jamin Sandra dan Vivian keluar dengan aman?” tanya Finn menarik kerah kemeja Ramon dengan sorot mata tajam.


“Iya.” Ramon menepis tangan Finn.


“Sudah-sudah! Finn, lo tahu betul kalau Ramon memiliki banyak anak buah andal. Buktinya, saat di puncak honeymoon kalian berjalan lancar, kan? Mereka juga akan menjaga Sandra dan Vivian. Oke. Gue juga sama cemas, tetapi kita harus tenang dan bersabar menunggu.” Manda mengusap punggung Finn untuk menenangkannya kemudian menepuk pelan bahu Tristan.


Semua kembali duduk. Namun, sudah tidak bisa lagi fokus. Keheningan yang berselimut keresahan tak memungkiri semakin menyergap mereka.


Beberapa saat kemudian bunyi pesan masuk dari aplikasi hijau milik Ramon. Pengacara itu langsung membuka. Kemudian, memperlihatkan beberapa foto yang anak buahnya kirim.


Foto kedua wanita yang menjadi penyebab sedari tadi keadaan hening dan resah. Mereka terlihat keluar dari lift. Satu foto lainnya tampak Sandra tengah berbincang dengan John Beck di depan toilet.


Kemudian, ponsel Ramon berdering. Ia segera mengangkatnya.


“Ya.”


“Bos, Ibu Sandra dan wanita lainnya, sudah keluar dari gedung Hamilton. Saya akan mengikuti mobil mereka.”


“Jangan sampai kau kehilangan jejak.”


“Baik, Bos.”


Telepon terputus.


“Finn, Tristan, mereka sudah meninggalkan gedung Hamilton Company.” Ramon melaporkan.


Seketika helaan napas lega terdengar dari Tristan, Finn, dan juga Manda.

__ADS_1


“Syukurlah.” Oh, Bee. Apa yang kamu inginkan dari si berengsek itu? Pria itu jahat! Hari ini, kelakuanmu sukses membuatku cemas setengah mati. Bisa gila aku kalau kehilanganmu.


Ponsel Finn berdering. Terlihat di layar nama ‘My Bee dengan emoji bunga mawar merah di sampingnya’. Tak mau membuang waktu, ia langsung mengangkat telepon tersebut.


“Halo, Bee. Kamu baik-baik saja, ‘kan? Tidak ada yang terjadi denganmu, ‘kan? Kamu di mana sekarang? Aku cemas.”


Rentetan pertanyaan yang diberikan Finn membuat ketiga orang yang mendengar melongo. Tapi, mereka memaklumi.


“Honey, banyak sekali pertanyaannya? Aku malas jawab.”


“Bee ….”


“Aku sudah mau pulang. Aku langsung ke rumah saja, ya? Tidak usah balik ke kantor lagi.”


“Oke. Itu lebih baik. Pulang ke rumah, istirahat sebentar, makan, lantas tidur, ya.”


“Aku tidak mau tidur.”


“Ya, sudah. Kamu di antar Vivian, ‘kan?”


“Iya.”


“I love you, My Bee.”


“I love you too, My Honey-honey-honey. Dah.”


“Dah, My Lovely Bee.”


Telepon terputus.


Finn menatap layar ponsel. Ia senyum-senyum mengingat panggilan dengan nada ceria dari Sandra tadi.


Suara berdeham dari Manda mengalihkan tatapan Finn. Ia langsung kembali dalam mode normal.


“Sudah tidak cemas lagi kan, My Honey-Bee?” goda Manda.


“Iya, Manda Sayang.” Finn mencubit gemas pipi ibu tiga anak itu. Kemudian, menatap sang pengacara. “Thanks, Ramon.”


Ramon mengangguk. “Bayaran anak buah gue jangan lupa. Nanti gue totalin. Tagihan mau dikirim ke mana? Rumah danau atau Field Construction?” candanya.


“Ramon, sepupu lo ini lagi menipis isi dompetnya. Sebagai orang kaya dari lahir dan masih tajir, lo bisa kan menalangi dulu? Begitu gue balik kaya, semua akan lunas. Oke,” sahut Finn mengerling.


"Jijik gue sama kedipan mata lo!" seru Ramon bergidik.


"Masa? Sandra aja klepek-klepek," sahut Finn.


"Gue Ramon. R-A-M-O-N, Ramon. Bukan Sandra," balas sang pengacara.


Kemudian, Manda dan Tristan tertawa. Ramon dan Finn pun ikut melepas tawa.


Canda-tawa yang selalu hadir sebagai selingan agar suasana tetap mencair.


Satu jam kemudian


“John Beck mengirimi Sandra pesan.” Manda memperlihatkan kepada semua.


[Ibu Sandra, ini nomor ponsel saya, John Beck]


“Sandra membalas. Lihat.” Manda kembali memberi tahu.


[Oke. Sampai ketemu besok jam sepuluh, Pak John]

__ADS_1


“Apa-apaan ini?” Finn langsung beranjak pergi dan tak menggubris panggilan semua orang. Hanya saja, ia menangkap satu suara dari Tristan.


“Finn, jangan memarahi Sandra atau lo akan menyesal kehilangannya lagi! Tanya adek gue baik-baik!”


__ADS_2