
“Finn, kapan kamu nikah?”
“Kapan-kapan, Mi.”
“Finn!”
“Mami, masih pagi. Pelankan suara. Kita sedang sarapan.” Chris memperingati sang istri dengan lembut.
“Anak dan bapak sama saja. Mami mau gendong cucu. Lihat tuh si Manda seumuran Finn sudah punya anak tiga. Si Ramon juga mau dua. Terus kapan giliran kamu?” tanya Diana sedikit berteriak di akhir kalimat ke arah sang putra.
Lagi dan lagi. Finn harus tebal kuping mendengar omelan sang mami. Selalu saja membandingkannya dengan Manda dan Ramon. Mereka berdua merupakan sepupu sekaligus teman mencurahkan isi hati.
“Mami Finn yang cantik. Finn juga maunya menikah. Tapi, dengan siapa? Belum ada yang klik.”
“Bagaimana mau klik kalau kerjaan kamu mempermainkan mereka terus, Finn Elard!”
Finn menghela napas lelah. “Memang belum ada yang cocok, Mi.”
“Mami akan buat biro jodoh buat kamu.”
“Ya-ya. Terserah Mami. Asal siap saja jika rumah ini nantinya akan berubah menjadi lautan wanita.” Finn berdiri dan mencium pipi Diana dan Chris. “Aku berangkat.”
“Lautan wanita? Apa maksudnya, Pi?”
__ADS_1
“Mami lupa jika anak itu banyak fans-nya.”
“Iya, benar juga. Tapi, Mami heran, Pi. Sebegitu banyaknya wanita, masa satu pun gak ada yang nyangkut. Pokoknya, sekali Mami dengar Finn jatuh cinta. Langsung akan Mami lamar gadis itu.”
Chris mengembuskan napas lelah. “Terserah Mami saja. Sudah aku mau berangkat.”
🌺🌺🌺
Sudah satu bulan ini sejak pertemuan terakhirnya dengan Sandra membuat Finn terus memikirkan wanita itu. Wajahnya selalu terbayang-bayang.
Rasanya belum pernah Finn merasa seperti ini terhadap seorang wanita. Karena, biasanya ia tak pernah memikirkan atau memedulikan kaum mereka.
“Kenapa gue jadi uring-uringan gini? Seharusnya perempuan yang memikirkan gue, bukan sebaliknya. Baiklah, Sandra Rein. Kamu harus bertanggung jawab!”
Finn, si Pencinta Wanita pun telah men-jomlo selama masa tersebut. Padahal, biasanya usai putus, besok pun sudah dapat ganti. Usut punya usut, ternyata ia sedang enggan menjalin kasih dengan yang lain. Saat ini, sang ceo hanya menginginkan Sandra seorang.
Namun, Finn adalah Finn. Tak ada satu orang wanita pun yang boleh mengatur hidupnya yang bebas.
Kemarahan mereka akibat diputus sepihak pun, Finn tak pernah peduli.
Lebih parahnya, ada yang sampai merengek minta kembali. Namun, bagi Finn, jika sudah putus pantang untuk merajut kasih lagi. Sekali saja cukup. Begitu pemikiran pria yang disebut casanova oleh Sandra.
“Casanova?” Finn menggeleng mendengar sebutan itu dari Sandra. “Sepertinya akan sulit mendapatkanmu, Baby. Tapi, jangan sebut namaku Finn Elard jika tak bisa menaklukkan wanita. Kamu pasti akan menjadi milikku. Kita lihat saja nanti.”
__ADS_1
Finn tersenyum penuh arti. Namun, segera mengubah mimik wajahnya begitu suara ketukan pintu terdengar.
“Masuk!”
Roy, sekretaris merangkap asisten pribadi Finn masuk ke ruangan.
“Bos, saya sudah mengirimkan email kepada Luxury Interior Design. Besok adalah hari pertemuan dengan mereka jam sepuluh pagi.”
“Siapa yang datang?”
“Sesuai pesan Anda. Ibu Sandra Rein.”
“Kerja bagus, Roy.”
“Kita hanya punya waktu satu jam untuk konsultasi. Selebihnya harus berangkat meeting sekaligus makan siang dengan Adiyaksa Group.”
“Mundurkan jadwal dengan mereka menjadi pukul dua siang.”
“Baik, Bos.”
“Kalau sudah tidak ada lagi yang lain. Silakan keluar.”
“Permisi, Bos.”
__ADS_1
Setelah memastikan Roy pergi. Finn membuka galeri di ponselnya. Mencari foto Sandra. Ia mendapatkan gambar tersebut dari juru kamera yang sengaja disuruh diam-diam untuk memotret wanita incarannya. Hal tersebut dilakukan saat acara pembukaan satu bulan lalu.
“Sandra Rein. Kita akan bertemu lagi, Baby.” Finn berucap penuh makna seraya menatap foto tersebut lekat. Kemudian, menyunggingkan senyum.