ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Bersemangat kembali


__ADS_3

Menjalani kehidupan seperti roda yang terus berputar. Bergelindingan ke mana pun saat sang tuan membawa. Terkadang berada di jalanan yang mulus tanpa hambatan. Namun, tak jarang melintasi jalan penuh batu kerikil. Bahkan, ada kalanya tergelincir kemudian jatuh terbalik.


Menjalani kehidupan pun tak semudah menulis setiap hurufnya di atas secarik kertas kosong. Dua kata lantas selesai. Pada kenyataan, panjang dan berliku-liku.


Kadang sampai sedu sedan. Meski bahagia juga sering berjumpa. Tak jarang datar saja seperti televisi dengan layar masa kini, flat. Apa pun itu intinya satu, mensyukuri saja.


Sandra pun selalu mencoba menerapkan hal demikian dalam hidupnya. Mensyukuri dan menjalankan saja semua yang sudah Tuhan gariskan.


“Apa rencanamu sekarang, Honey?” tanya Sandra.


“Memulai semua dari nol dengan bekerja keras. Tapi, yang paling utama, aku ingin membuatmu bahagia.”


“Aku sekarang berbahagia.”


Finn mengecup tangan Sandra. “Entah, perbuatan baik mana yang sudah kulakukan di masa lalu sampai bisa memiliki istri nyaris sempurna begini.”


“Kamu memang pria beruntung. Sementara aku ….”


“Bee, please. Jangan meneruskan ucapanmu kalau tidak enak didengar.”


Sandra tertawa. Di sela tawa, ia berkata, “Aku juga beruntung.”


Finn menjawil hidung Sandra. “Gemas banget sama kamu. Tapi, sekarang aku pengangguran.”


Sandra makin memperkencang tawanya. “Kita memang serasi.”


Finn menaikkan satu alisnya. “Apa yang serasi? Lalu, kenapa kamu tertawa keras begitu? Menertawakan suamimu yang tak memiliki pekerjaan? Berani, ya.” Ia menggelitik perut dan pinggang Sandra seraya ikut terbahak-bahak.


“Ampun! Sudah, Honey! Ampun! Aku tidak menertawakanmu.” Sandra mendorong tangan Finn menjauh. Lalu, menutupi bagian tubuhnya tersebut dengan tangan. Agar tak lagi menjadi sasaran jemari usil sang suami.


“Lantas?” Finn menarik leher Sandra lembut. Sang istri pun diam saja. “Katakan? Atau aku akan menjatuhkan kita berdua ke danau,” candanya.


“Kamu sadar tidak kalau kita berdua sekarang sama-sama pengangguran? Padahal, dua bulan lalu masih sibuk berkutat dengan setumpuk pekerjaan. Sampai bertemu dan mengobrol pun tak sempat. Sang Pemilik Dunia sedang menyentil kita agar bisa introspeksi diri. Tapi, jangan menyalahkan Sang Khalik. Melainkan semua terjadi akibat ulah kita sendiri.”


“Kamu benar. Sekarang semua harus memulainya dari nol.”


Sandra meyingkirkan tangan Finn. Menoleh ke arah sang suami dan bertanya, “Honey, jujur padaku. Kamu benar-benar sudah tak memiliki apa pun?”


“Kamu mau mendengar?”


“Tentu. Katakan.”


“Harta yang aku punya hanya tinggal gedung Field Cosntruction dan satu lagi gedung dengan pembangunan yang mandek.”


“Loh, rumah danau ini bukankah milikmu? Lalu, beberapa properti perumahan, tanah kosong, dan apartemen bukankah kamu punya?”


“Sudah aku jual sebagian untuk menutupi utang dan membayar gaji juga pesangon para karyawan.”


“Sebagian lagi?”


“Itu milikmu. Termasuk rumah danau ini.”


Sandra mengernyit. “Apa maksudnya?”


“Kamu ingat beberapa bulan lalu pernah aku suruh tanda tangan beberapa dokumen?”

__ADS_1


Sandra terlihat berpikir kemudian mengangguk. “Iya.”


“Nah, itu semua adalah dokumen balik nama atas namamu.”


“Iyakah?”


Finn mencubit gemas pipi Sandra. “Bee, makanya kamu itu kalau disuruh tanda tangan jangan main beri saja. Baca dulu. Untung aku yang meminta. Coba kalau orang lain, bisa-bisa kamu kena tipu.”


“Justru karena kamu yang meminta, aku tak perlu membacanya lagi. Kamu kan tak mungkin menipuku.” Sandra membela diri.


“Tetap saja, lain kali kamu harus membacanya lebih dulu.”


Sandra menyipitkan mata ke arah Finn. “Jadi, sekarang rumah danau ini milikku. Itu berarti kapan pun bisa mengusirmu dari sini. Betul, ‘kan?”


Finn terkejut. “Bee, Apa-apaan itu?”


“Hei, Tuan Sombong. Mulai sekarang kamu harus menurut atau aku usir!”


Finn berdecak, “Menyesal aku memberikannya padamu.”


Sandra tertawa terbahak-bahak. “Terlambat.”


Finn mencebik. “Menyebalkan!” Kemudian ikut tertawa.


Beberapa saat kemudian mereka berhenti tertawa. Sandra pun menyandarkan kepala di bahu Finn.


“Honey, ayo kita bangun kembali Field Construction. Beri aku izin bekerja di tempatmu. Kita bisa cari klien bersama.”


“Kamu? Bekerja? Tidak-tidak-tidak-titik! Nanti kita sama-sama sibuk lagi. Aku tak mau mempertaruhkan rumah tangga kita.”


“Itu tak akan terjadi lagi, bukankah aku bekerja di kantormu. Setiap hari kita bertemu dalam satu gedung yang sama. Tak akan lagi lost contact.”


“Tapi ….”


“Aku tahu. Bahkan, keahlian kita saling berkaitan. Tapi, tetap saja. Aku tidak mau kita punya masalah rumah tangga lagi karena kesibukan.”


“Setelah usahamu normal kembali, aku janji akan mundur. Selama bekerja pun aku akan ikut ke mana pun kamu pergi.”


“Kenapa ingin membantuku?”


“Karena aku istri yang cantik.”


“Jawaban macam apa itu?”


“Boleh, ya?” Sandra bergelayut manja di lengan sang suami.


“Memang kamu mau bersamaku terus, mengikuti ke mana pun? Bertemu klien dan lain-lain.”


“Bukankah itu ide bagus. Aku jamin kita tak akan lagi memiliki masalah rumah tangga seperti apa yang kamu takutkan. Kita mungkin akan sibuk. Tapi, aku berada di depan matamu.”


Finn menatap lekat Sandra. “Benar juga.”


“Jadi?”


“Kamu diterima.”

__ADS_1


Sandra terbengang sesaat kemudian langsung memeluk Finn erat. “Thanks, Honey.”


“Senang?”


“Senang sekali. Aku minta gaji tiga kali lipat dari Luxury Interior Design, ya.”


Finn menggelengkan kepala, tetapi kemudian setuju. “Oke. Tapi, aku bayar kalau kekayaan sudah kembali.”


“Kalau begitu, secepatnya aku akan membuatmu kaya lagi. Demi gaji tiga kali lipat.”


Finn membalas pelukan Sandra. “Terima kasih mau mendukung dan membantuku.”


“Sudah bersemangat kembali.”


“Tentu.”


“Ayo, mulai besok kita fighting! Kita bangun kembali bisnis yang sempat jatuh. Kita juga akan mendapatkan lagi para klien dengan modal kegeniusanmu dan keahlianku.”


“Tidak besok juga, Nyonya Finn Elard Liam, tetapi minggu depan. Setelah hasil medical check-up keluar dan semua bagus. Kamu baru boleh mulai bekerja.”


“Oke. Siap, Bos.”


“Tapi ….”


Sandra melepas pelukan dan menatap Finn. “Ada apa lagi?”


“Sejak dua bulan ini, aku selalu mencari klien ke mana pun, tetapi tak pernah dapat. Bahkan, gagal memenangkan tender. Entahlah, tak biasanya begitu.”


“Kita akan mencari tahu penyebabnya mulai minggu depan.”


Finn mengangguk dan tersenyum. “Oke.”


“Siap bekerja sama dengan pegawai barumu yang cantik?”


“Tentu. Aku sudah siap. Jangan menggoda bosmu, ya.”


“Percaya diri sekali.”


Mereka tertawa bersama.


“Well, Nyonya Finn Elard Liam. Sebelum kita kembali sibuk. Bagaimana kalau satu minggu ini kita bersenang-senang?” Finn berbisik, “Honeymoon ke puncak. Tertarik?”


Sandra yang tengah tersipu mencoba menguasai diri dengan bersikap biasa. Lalu, bertanya, “Kamu punya uang?”


“Astaga, Bee. Aku memang nyaris miskin, tetapi bukan benar-benar jatuh miskin. Kalau hanya ke puncak saja masih sanggup.” Finn mencebik. Ia merasa keki sang istri menembaknya dengan kata-kata demikian.


Sandra tersenyum. “Aku hanya memastikan. Karena khawatir kita jadi gelandangan di sana,” candanya.


“Bee!”


“Ups! Keceplosan.”


“Sandra Rein!”


Sandra tertawa. Ia tahu jika sang suami tak benar-benar jatuh miskin. Namun, seandainya pun terjadi, adik dari Tristan itu memiliki banyak tabungan. Hasil bekerja di Luxury Interior Design, transferan rutin setiap bulan dari mami dengan nilai fantastis, belum lagi dari sang suami sendiri yang juga selalu memberi uang banyak. Dan, semua itu tak pernah terpakai karena segala kebutuhan sudah tersedia.

__ADS_1


Sandra berniat akan memakai uang tersebut untuk mereka ketika kelak membutuhkannya.


Saat ini, Sandra hanya ingin menikmati masa-masa yang sempat hilang bersama Finn di ujung dermaga. Duduk berdua. Saling bercanda ria. Sesekali melontarkan kata-kata menggoda.


__ADS_2