ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Sesal


__ADS_3

Tiba di lokasi kejadian, suasana jalan tol cukup macet. Banyak pengendara memelankan laju kendaraan mereka. Hanya demi melihat kecelakaan tersebut meski dari kejauhan. Polisi pun memasang garis batas berwarna kuning. Mobil ambulans gawat darurat juga sudah hadir untuk menolong korban.


Finn dengan wajah panik dan detak jantung yang tak keruan, langsung berlari. Namun, tak bisa mendekat karena polisi menghalangi.


Sontak saja Finn mengamuk dan berteriak. Ia mengatakan jika korban adalah istrinya.


Roy yang mengekor di belakang sang bos, membenarkan ucapan tersebut. Ia menyela dengan berbicara baik-baik kepada petugas kepolisian. Agar mengizinkan mereka mendekati tempat kejadian perkara.


Bersyukurnya, polisi mengerti dan mengizinkan mendekat. Finn langsung berlari menghampiri tubuh Sandra. Petugas medis pun bersiap menaikkan korban ke dalam ambulans.


Begitu tubuh Sandra berada di dalam, Finn turut masuk. Sang ceo menolehkan kepala ke arah Roy yang berdiri di depan pintu ambulans.


“Roy, bawa mobil, ikuti aku ke rumah sakit.” Finn melempar kunci dan ditangkap sempurna oleh sang asisten.


“Baik, Bos.” Roy mengangguk patuh dan segera pergi untuk mengikuti perintah.


Mobil ambulans ditutup dan segera melaju menuju rumah sakit.


Selang oksigen sudah terpasang. Petugas medis yang berada di dalam bersama Finn dengan sigap menangani Sandra. Memastikan korban mendapatkan pertolongan pertama terlebih dahulu.


Finn memandangi tubuh dan wajah Sandra. Nyaris semua berlumuran darah. Dengan gemetar, ia memegang tangan sang istri. Menggenggam erat dan menciuminya.


Air mata pun mulai luruh. “Bee, maaf.”


Hanya butuh lima belas menit perjalanan untuk sampai. Karena pada kasus kecelakaan biasanya korban akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Apalagi, sudah dalam kondisi kritis.


Finn ikut mendorong brankar yang membawa tubuh Sandra. Ia berhenti tepat di depan ruang ICU. Karena, selain petugas medis, siapa pun termasuk keluarga tidak boleh masuk.


Finn menunggu Sandra dengan perasaan bercampur aduk. Roy menemani dan mendudukkan diri tepat di samping sang bos.


“Ini semua salahku. Seharusnya aku yang diberi celaka, bukan Sandra.” Finn berkata lirih. Raut muka terlihat sepaket kumplet, kusut, cemas, sedih, takut. Punggung ia sandarkan pada kursi seraya menatap lekat pintu ruang ICU.


“Kita doakan saja Ibu Sandra masih diberi keselamatan, Bos.”


“Aku suami yang buruk, Roy.”


“Anda suami dan pria yang baik, Bos. Setelah ini, berjanji saja untuk setia.”


“Aku setia. Hanya semalam pikiranku sedang jelimet.”


“Anda tidur dengan wanita itu?”

__ADS_1


“Kalau aku bilang ‘tidak’. Apa kau mau percaya?”


“Saya percaya, Bos.”


“Kau percaya bukan karena takut aku pecat, ‘kan?”


“Anda tidak akan memecat saya, Bos. Saya asisten yang loyal dan bisa dipercaya.”


“Sial. Kau benar.”


Hening!


Beberapa jam kemudian


“Bos, saya izin ke kantin sebentar.”


Finn mengangguk. Begitu mendapat persetujuan, Roy langsung berlalu pergi.


Roy mendudukkan diri di salah satu kursi di kantin dan mulai mengurus beberapa pekerjaan. Ia menelepon sekretaris bos besar. Mengatakan perihal kecelakaan dan meminta tolong agar menyampaikan pesan tersebut kepada Chris.


Roy juga meminta maaf karena baru mengabari. Ia benar-benar lupa akibat menemani sang bos yang tengah dalam keadaan terpuruk.


Sang asisten juga mengatur ulang jadwal Finn. Membatalkannya untuk satu minggu ke depan.


Finn membaca puluhan pesan kerinduan Sandra dari beberapa hari lalu. Saat ia masih berada di luar kota. Seulas senyum sekaligus penyesalan muncul. Kemudian, mulai berharap bisa mengulang waktu.


Finn terus membaca. Sampai pada beberapa pesan terakhir berisi tiga video dari Sandra. Di lihat dari waktu pengiriman adalah pagi tadi.


Finn membuka satu per satu video tersebut. Wajah Sandra langsung muncul dengan mimik ceria seraya menunjukkan test pack garis dua.


Video pertama ....


Honey, lihat test pack ini. Muncul garis dua. Aku hamil, kita akan menjadi orangtua. Pantas saja, beberapa hari terakhir kepalaku sering pusing, terkadang mual juga menyerang. Sangat parah ketika pagi hari dan akan membaik begitu menjelang siang. Awalnya, aku pikir sakit akibat kelelahan. Ternyata tengah mengandung.


Finn menampilkan wajah terkejut. Ia menganga tak percaya jika Sandra tengah mengandung ... anaknya. Seketika senyum semringah muncul. Namun, segera memudar mengingat baru saja sang istri mengalami kecelakaan.


Finn menatap pintu ICU dengan sorot mata ketakutan. Sekarang, ia tidak hanya mengkhawatirkan satu orang, melainkan dua nyawa sekaligus. Sang istri dan calon buah hati.


Finn mengusap wajahnya kasar. Ia menunduk lemah dengan bibir bergetar.


“Oh, Tuhan. Selamatkanlah istri dan anakku. Bee, maafkan aku.”

__ADS_1


Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Ia menguatkan hati untuk melihat video berikutnya.


Video kedua Sandra kirim dengan jeda waktu sekitar sepuluh menit dari yang pertama. Dengan porsi wajah ceria sudah mulai berkurang ....


Honey, kamu sangat sibuk, ya? Kamu senang tidak aku hamil? Jangan marah lagi, ya. Aku cinta kamu.


Mata Finn mulai berkaca-kaca. Penyesalan semakin merasuk.


“Bee, aku juga cinta kamu, sangat. Aku pun senang, Bee. Senang kamu hamil. Oh, Tuhan. Sekali lagi aku memohon kepada-Mu, selamatkanlah mereka. Aku rela bertukar nyawa asal keduanya baik-baik saja.” Finn menangis. Air mata luruh dengan rasa sakit tepat di dada. Penyesalan pun semakin menembus relung hati.


Selang beberapa menit kemudian, Finn menghapus bulir air mata. Ia kembali membuka video terakhir.


Video dengan mimik kembali ceria. Memperlihatkan Sandra dengan balutan pakaian warna biru langit. Wajah ia poles bedak tipis dengan pipi berona blush-on pink dan bibir berwarna senada.


Honey, aku sudah berdandan cantik. Aku mau ke kantormu. Setelah pekerjaanmu selesai nanti, antar aku periksa kandungan, oke. Aku berangkat sekarang.


Finn langsung menunduk lemah dengan mata terpejam. Menahan segala rasa pedih yang menghantam bertubi-tubi.


Beberapa menit kemudian pintu ruang ICU terbuka. Dokter yang menangani keluar. Segera Finn menghampiri dan bertanya mengenai kondisi Sandra dan calon buah hati.


“Dokter bagaimana keadaan istri dan anakku?” Wajah Finn cemas. Jantungnya berdebar menunggu jawaban dari sang dokter.


“Istri Anda selamat, tetapi kondisinya masih kritis.”


Finn menampilkan wajah lega. Setidaknya Sandra masih hidup. Namun, sepersekian detik kemudian berubah saat mendengar penuturan berikutnya dari sang dokter.


“Maaf, saya tidak bisa menyelamatkan janin yang tengah dikandung istri Anda. Janin yang baru berusia 4 minggu membuatnya tak bisa bertahan di tengah benturan yang cukup keras,” lanjut sang dokter.


Usai mengatakan hal tersebut, sang dokter menepuk bahu Finn. Bermaksud menguatkan kemudian berlalu pergi.


Finn mematung dengan bibir bergetar. Kaki pun tak lagi kuat menopang bobot tubuhnya. Ia meluruh ke lantai. Lutut menjadi tumpuan berdiri.


Finn menggeleng lemah. Mengacak rambut. Mengusap wajahnya secara kasar seraya berteriak. Jerit kesedihan.


Kemudian, menunduk lemah. Duduk bersimpuh. Menaruh kedua telapak tangan di atas lantai.


Finn mengepalkan kedua tangannya dan mulai memukul lantai tersebut berkali-kali.


“Bee, maafkan aku. Nak, maafkan Daddy.”


Finn terpukul, menyesal, dan merasa bersalah. Semua menyergap secara bersamaan.

__ADS_1


Kecelakaan yang menimpa Sandra merupakan pukulan berat bagi Finn. Rasa tak sanggup membayangkan sang istri nanti ketika mengetahui calon buah hati mereka telah tiada.


Finn saja bisa sefrustrasi ini, entah dengan Sandra. Ia hanya berharap ketika saatnya tiba. Sang istri bisa kuat menghadapi kenyataan yang ada.


__ADS_2