ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Insiden bangun tidur


__ADS_3

Mentari telah naik. Bersinar semakin terang. Namun, lelah badan membuat kedua insan tak mengindahkan sang surya. Mata tetap terpejam.


Saling mendekap memberi rasa hangat. Kenyamanan tak terelakkan.


Sayangnya, akan ada saja yang mengganggu. Suara dering ponsel milik Finn adalah si tersangka. Akan tetapi, sang empunya tetap terlelap.


Suara tiada henti justru membuat Sandra terusik. Membuka mata perlahan. Sejenak mengerjap.


Jemari yang berada tepat di atas perut sixpack bergerak turun. Hingga menyentuh sesuatu benda cukup keras. Terserang penasaran dan setengah kesadaran. Sandra menggenggamnya erat.


Finn masih menutup mata, tetapi ia melenguh, “Oh, Baby.”


Wajah Sandra seketika panik. Melepaskan genggaman kemudian mendongak. Lalu, berteriak kencang. “FINN!” Tangan dan kaki refleks mendorong tubuh sang suami hingga terjatuh ke lantai. “MAU APA KAMU DISINI? JANGAN KURANG AJAR!”


Finn mengaduh kesakitan. Ia bangun. Namun, langsung mendapat serangan bantal dan guling terbang. Tepat mengenai wajah.


“KELUAR!” teriak Sandra.


Gemas dengan tingkah Sandra. Finn langsung naik ke atas kasur dan memeluk sang istri erat agar diam. Pasalnya, wanita itu terus meronta.


“Baby, berhenti berteriak dan memberontak. Aku ini suamimu. Lupa kemarin kita sudah menikah, huh?”

__ADS_1


Sandra terdiam. Duh, kenapa gue sampe lupa, ya? Malu banget, ih, batinnya.


“Finn, itu ... anu ... itu ....”


Finn menaikkan Sandra ke atas pangkuannya. Menatapnya lekat. “Sudah ingat?”


Sandra cengengesan. “Maaf, Finn. Aku lupa. Nyawa ini belum sepenuhnya terkumpul.”


Finn mengembuskan napas berat. Ia berkata dengan lembut seraya membelai rambut Sandra. “Sudah semalam aku ditinggal tidur. Malam pertama terlewat begitu saja. Lalu, pagi ini mendapat kado darimu yaitu mendorongku ke lantai. Indahnya dunia pernikahan kita, Baby.”


“Maaf. Aku gak sengaja. Kaget bangun tidur ada orang lain. Biasanya kan sendiri.”


“Lalu, semalam mau beralasan apa, hm?” tanya Finn menahan senyum melihat mimik Sandra yang merasa bersalah, terlihat sangat menggemaskan.


Finn tertawa kemudian mencium pipi sang istri. “Enak saja mau kabur. Mendapatkanmu sampai ke atas pelaminan saja setengah mati aku berjuang. Jangan bermimpi bisa meninggalkanku, Baby. Dan, aku tidak marah, hanya gemas denganmu.”


“Aku memang mau menikah satu kali seumur hidup. Hanya denganmu. Jadi, kamu harus sayang terus padaku. Jangan mendua atau aku ...."


Finn mencium bibir Sandra. "Aku tidak akan mendua. Karena, aku ingin menua bersamamu."


Sandra tersenyum. Lalu, teringat sesuatu. "Finn.”

__ADS_1


“Apa?”


“Tadi ponselmu berbunyi.”


“Biarkan saja.” Finn menyentuh pipi Sandra. “Bagaimana kalau sekarang kita bekerja?”


Sandra mengernyit. “Tristan memberiku libur satu bulan. Lagi pula, bukankah kita mau ke Maldives.”


Finn mencubit gemas pipi Sandra. “Bekerja yang enak supaya menjadi anak. Masih ada waktu.” Ia menaik turunkan alis kemudian mengerling dan tersenyum menggoda.


Sandra menunduk. Ia menyembunyikan rona pipi yang memerah karena malu mendengar perkataan Finn.


Belum juga mulai, suara bel terdengar. Mencoba mengabaikan, tetapi tak juga berhenti.


“Aku buka pintu dulu. Siapa tahu penting.”


Finn terpaksa mengangguk.


Saat pintu terbuka, langsung saja sang tamu menyelonong masuk.


“Finn, sekarang kamu mandi. Turun ke bawah untuk makan. Satu jam lagi kalian berdua sudah harus berada di Bandara.” Kemudian, menoleh ke arah Sandra. “Kamu mandi di kamar Mami saja. Biar cepat. Bawa bajumu sekalian, ya.”

__ADS_1


Sandra mengangguk patuh.


Finn mengembuskan napas berat. Gagal lagi, batinnya.


__ADS_2