
Rapat tertutup dan penting dengan pembahasan gedung yayasan untuk difabel masih berlangsung. Ryuji Nobi dan Finn Elard Liam menjadi pemimpin dalam pertemuan. Membahas bangunan yang hampir satu tahun berjalan.
Pembangunan bukan hanya di satu titik saja. Selain di Jakarta, ada juga di beberapa kota lain seperti Yogyakarta, Bandung, Aceh, Surabaya, dan Papua. Rencananya jika semua telah rampung. Kota lainnya akan menjadi target.
Ryuji dan Finn menyepakati jika desain gedung di semua kota sama. Berbentuk huruf U dengan tiga lantai dan lima lantai untuk kota Jakarta dan Yogyakarta. Karena, tempat itu bukan hanya untuk tempat tinggal para penyandang difabel.
Akan tetapi, juga untuk sekolah dengan metode pembelajaran akademik dan life skill. Seperti beberapa program, contoh membatik, melukis, menjahit, bermain alat musik modern atau tradisional, membuat aneka kerajinan tangan. Semua itu membutuhkan ruang-ruang tersendiri dan khusus.
Sekali lagi, itu semua keinginan Diana. Baik Chris, Finn, ataupun Ryuji hanya mengikuti. Kebetulan sang penggagas ide memberi kejutan dengan kehadirannya dalam rapat hari ini.
Di ruangan hanya ada beberapa orang yang berkepentingan saja. Finn, Sandra, Chris, Diana, Ryuji dan asistennya, juga Roy.
Pertemuan yang sudah di mulai dari pukul 8 pagi, baru selesai pukul 2 siang. Berhubung pria-pria yang terlibat di dalam adalah orang sibuk. Jadi, rapat tak bisa sampai seharian.
Ryuji dan sang asisten sudah pulang. Chris dan Roy pun telah kembali ke ruangannya. Tinggal Finn, Sandra, dan Diana yang masih berada di dalam ruang rapat.
“Sandra, ikut Mami shopping, ya. Kita berbelanja sepuasnya hari ini.” Diana berkata semringah.
Sandra menatap Finn. “Bolehkah, Honey?”
Finn membelai puncak kepala Sandra. “Tentu, Bee. Bersenang-senanglah bersama Mami.”
“Makasih, Honey.” Kemudian, Sandra meraih tangan Diana. “Yuk, Mi.”
Diana mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
“Mami, jangan lupa kembalikan Sandra.” Finn menggoda Diana.
“Kamu yang harus menjemput Sandra di rumah. Kalian berdua sudah lama tidak makan malam bersama Mami dan Papi.” Diana menginstruksikan dengan menunjuk ke arah sang putra dan Sandra.
“Iya, Mami Sayang. Aku menurut,” jawab Finn tersenyum.
Diana dan Sandra langsung keluar ruangan dengan riang.
🌺🌺🌺
Memasuki salah satu mal di kawasan Selatan, Jakarta. Keluar-masuk beberapa toko ternama dengan banyak kantong paper bag. Dua pengawal Diana dengan sigap membawakan semua barang belanjaan.
Shopping pun belum usai. Euforia berbelanja dengan sang menantu membuat Diana kalap. Meminta Sandra memilih apa pun. Bahkan, ia ikut mengambilkan.
Gaya berbelanja kalangan berduit yang santai dan tidak berbelit. Mengambil sesuka hati tanpa melihat harga. Suka, comot. Senang, bayar. Tertarik, bawa ke kasir. Memiliki banyak uang menjadikan semuanya mudah.
“Sandra, ada lagi yang kamu inginkan?”
“Aku sampai tidak tahu lagi apa yang aku ingin, Mi. Semua sudah Mami beri. Mungkin sudah cukup, Mi.”
“Kamu tidak boleh sungkan kepada Mami. Katakan apa pun. Mami pasti akan memberikannya untukmu.”
“Mami.” Sandra memeluk Diana. “Aku beruntung memiliki mertua sebaik Mami.”
“Mami pun beruntung memiliki menantu sepertimu.” Diana mengelus punggung Sandra.
__ADS_1
Sandra melepas pelukan. “Tapi, Mi. Kenapa Mami hanya berbelanja sedikit? Sementara aku banyak sekali.”
“Mami tidak membeli apa pun.”
“Loh, itu bukannya belanjaan Mami?”
“Itu untuk Bunda-mu.”
Sandra tercengang kemudian tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki mertua rasa orangtua kandung. Sangat baik dan perhatian.
“Bunda pasti senang, Mi.”
Diana tersenyum. “Mami senang jika kalian bahagia.”
“Iya, Mi.”
“Ya, sudah kita pulang saja, ya. Bersiap untuk makan malam.”
“Iya.”
Diana meminta beberapa karyawan toko turut membantu membawakan kantong belanjaan menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi. Karena, tangan kedua pengawalnya sudah penuh dengan paper bag.
Berhubung yang berbelanja adalah pelanggan loyal lagi royal, mereka dengan senang hati membantu. Tip berupa beberapa lembaran rupiah berwarna merah pun, diam-diam akan singgah di kantong begitu sampai tujuan.
Diana akan menyelipkannya dengan menyertai jari telunjuk menempel di bibir. Meminta mereka diam. Lalu, berucap lembut, “Untuk jajan bakso. Terima kasih, ya, sudah membantu.” Kemudian, menepuk bahu mereka dan berlalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Diana tipikal wanita berduit yang ramah dan baik hati. Tak pernah sekali pun memaki atau bersikap angkuh. Menyuruh selalu dengan kata tolong bernada lembut. Sesudahnya, ucapan terima kasih tak pernah tertinggal.
Oleh karena itu, tak heran jika kedatangan Diana akan disambut antusias layaknya tamu agung.