ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Peresmian


__ADS_3



Acara peresmian gedung yayasan difabel yang terdapat di Jakarta mulai berlangsung. Sandra datang bersama Finn dengan balutan dress cantik berwarna putih, berlengan panjang, dan selutut. Rambut ia gerai dengan polesan riasan wajah tipis. Wanita cantik itu melengkapi penampilan dengan mengenakan flat shoes warna senada.


Sementara Finn datang dengan memakai kemeja pink. Balutan jas, celana, dan sepatu sneakers putih turut menyemarakkan.


Sejak kapan aku memiliki kemeja berwarna pink di dalam lemari? batin Finn.


Kemeja Finn atas pilihan Sandra. Hal tersebut sempat membuatnya harus terdiam. Memperdebatkan warna pink itu dalam pikiran. Namun, sejurus kemudian mengangguk karena tak mau mengecewakan wanita tercinta.


Sandra dan Diana berdiri di tengah bersisian dengan para suami. Sementara Ryuji Nobi sebagai arsitek yang berkolaborasi bersama Finn dalam pembangunan berada di samping Chris.


Senyum semringah tak lepas dari bibir mereka. Gedung yang berada di Jakarta, rencananya akan menjadi pusat dari seluruh yayasan di berbagai kota.


Yayasan difabel di Jakarta sudah berjalan sejak satu bulan lalu. Peresmian baru dibuat hari ini karena menunggu Chris dan Finn memiliki waktu kosong bersamaan. Maklum saja, keduanya merupakan pemimpin perusahaan yang super sibuk.


Diana dan Sandra diberi kesempatan untuk menggunting pita. Para suami sengaja menyerahkan tugas kehormatan tersebut kepada mereka.


Setelah Diana selaku Ketua Yayasan selesai memberikan sambutan. Dalam hitungan ketiga, istri dari Chris dan Sandra menggunting pita. Tepuk tangan meriah langsung menyambut resminya gedung tersebut.


Beberapa saat kemudian, Sandra meminta Finn untuk menemani berkeliling. Melihat-lihat seluruh ruangan kelas yang sedang berlangsung. Mereka di antar mengitari semua oleh beberapa orang pengurus yayasan.


Ketika berada di kelas lukis, Sandra bertanya tentang kondisi salah satu murid laki-laki. Seorang wanita yang merupakan guru melukis memberi tahu kalau siswa tersebut berusia sepuluh tahun. Mengidap kelainan cerebral palcy yang disebut spastic diplegia. Kelainan tersebut menyebabkan kaki anak itu menjadi kaku, kencang, dan sulit untuk digerakkan. Ketika ingin pergi ke mana pun harus dibantu oleh kursi roda. Namun, masih bisa bicara meski terbata.


Guru melukis menambahkan penjelasan lebih lanjut kalau siswa tersebut merupakan anak tunggal. Juga sudah tiga tahun menjadi yatim piatu. Selama masa tersebut tinggal dengan sang paman.


Sandra tak mampu berucap apa pun. Netranya hanya memandangi anak tersebut dengan harapan saat besar nanti bisa menjadi pelukis terkenal.


“Boleh aku menyapanya, Bu?” tanya Sandra kepada sang guru lukis.


“Tentu, Ibu Sandra. Silakan,” jawab sang guru lukis.


Sandra masuk ke ruang kelas dengan Finn mengekor. Sementara Diana dan Chris berada di ruang kantor bersama Ryuji.


Sandra duduk di sebuah kursi di samping sang siswa. Lalu, memperkenalkan diri. “Hai, namaku Sandra Rein. Kamu boleh memanggilku, Sandra. Boleh aku tahu siapa namamu?”


“Ry-an. Bo-leh a-ku pang-gil ka-kak.” Lantas, anak tersebut tersenyum dan terus memerhatikan Sandra.


Sandra mengembangkan senyum. “Boleh. Lalu, apakah wanita dalam lukisan itu adalah ibumu?” Ia menunjuk gambar tersebut dengan tangan.


Ryan mengangguk. “Ka-kak sa-ngat can-tik. Bo-leh a-ku me-lu-kis wa-jah Ka-kak?”


“Wah, Kakak senang sekali. Tentu saja boleh. Kakak akan menjadi wanita kedua yang sangat beruntung setelah ibumu. Lakukanlah. Lukis dengan cantik.”


“Ten-tu. A-ku a-kan mem-be-ri-kan lu-ki-san i-tu ke-pa-da ka-kak ka-lau su-dah se-le-sai.”


“Minta tolong kepada ibu guru agar menghubungi kakak jika sudah selesai. Kakak akan datang untuk mengambilnya.”


Ryan mengangguk dan tersenyum.


Melihat interaksi antara Sandra dan Ryan membuat hati Finn menghangat. Ia merasa beruntung dan tak salah memilih wanita cantik tersebut sebagai pasangan hidup. Putra dari Chris itu pun meyakini, kelak anak mereka lahir sang istri pasti akan menjadi ibu yang baik dan penyayang.


🌺🌺🌺


Malam hari di dalam sebuah kamar di Rumah Danau. Sandra dan Finn merebahkan tubuh di atas pembaringan setelah dari pagi sampai sore berada di yayasan.


“Kamu pasti lelah?”


“Iya. Tapi, aku senang berada di sana.”


“Aku pijat kakimu, ya?”


“Kamu bisa?”


“Mau mencoba merasakan?”


“Oh, Honey. Bisakah kau tidak terlalu banyak memiliki kebisaan? Aku malu sebagai wanita justru tak pandai apa pun.”


Finn beranjak bangun. Ia mulai memijat kaki Sandra seraya berkata, “Sebagai suami-istri, kita harus saling melengkapi. Kelebihan yang kamu punya, menutupi kekuranganku. Begitu pun sebaliknya.”


“I love you, My Sweet Husband.”


Finn tersenyum. “Kata cintamu membuat api asmara di hatiku semakin berkobar. I love you too, My Lovely Wife.”


Sandra tersenyum. Kemudian, kembali membicarakan aktivitas mereka tadi siang.

__ADS_1


“Honey, aku banyak mendapat pelajaran saat berada di Yayasan.”


“Apa saja?”


“Salah satunya, meski memiliki kekurangan, tetapi mereka sangat bersemangat. Kita yang di beri fisik sempurna dan lengkap oleh Tuhan harus banyak bersyukur dan malu jika bermalas-malasan.”


“Kamu benar.”


“Aku pun semakin kagum karena dengan keterbatasan tak menghalangi kreativitas mereka. Tuhan menganugerahi anak-anak itu keahlian. Jika terus diasah, aku yakin suatu hari nanti akan menjadi orang besar. Minimal memiliki penghasilan sendiri.”


Finn mengangguk setuju dan berkata, “Kamu tahu, Bee? Salah seorang di antara mereka ada yang bercita-cita menjadi seorang pengacara. Mami menceritakannya beberapa hari lalu.”


“Aku senang mendengarnya. Anak-anak yang berpotensi. Apakah yayasan akan membiayai sekolah mereka sampai tinggi, Honey?”


“Tentu. Kenapa tidak?”


“Kalian orang kaya berhati mulia.”


“Hidup hanya sebentar. Harta titipan semata. Mati pun tak akan dibawa sampai liang lahad.”


“Aku semakin sayang denganmu, mami, dan juga papi.”


“Kami pun sangat-sangat-sangat menyayangimu.”


Sandra tersenyum semringah.


Tiga puluh menit kemudian


Acara memijat telah berubah menjadi panas. Setelah di rasa cukup merelaksasi sang istri. Finn mulai melakukan penelusuran di seluruh area tubuh Sandra dengan kedua tangan.


Sandra yang hampir terpejam. Seketika melebarkan bola mata. Namun, hanya diam pasrah oleh perbuatan tangan lincah sang suami.


“Bee, bolehkah?”


“Apakah penolakan berlaku?”


Finn mengerucutkan bibirnya. “Bee, jangan begitu.”


“Lakukan dengan pelan dan lembut.”


Mendapat lampu hijau, Finn langsung melebarkan senyum hingga deretan gigi yang rapi dan putih terlihat. “Tentu.”


Kecupan berlanjut turun secara perlahan hingga berhadapan dengan mainan favorit Finn. Memilin-milin dengan tangan dan bibir seksi tak tertinggal ikut merasai. Mencecap mulai dari lembut sampai hasrat menggelora.


“Finn ….” Sandra terus mendesah dengan kedua tangan mengacak dan menarik rambut Finn. Sesekali menggigit bibirnya untuk menahan rasa nikmat hasil perbuatan sang suami.


Puas menikmati. Bibir seksi sang ceo mulai turun gunung menuju lembah lembap surga dunia. Menelusurinya dengan pelan dan lembut.


Tubuh polos Sandra, memudahkan bibir seksi Finn traveling. Tinggal lahap saja.


“Finnnnnnn ….”


Cukup lama melahap area sana. Finn mengubah posisi menjadi woman on top.


Sejak Sandra mengandung. Finn memilih bermain aman. Salah satunya dengan posisi tersebut.


Finn sudah tak berani lagi meminta berbagai macam gaya. Ia cukup tahu diri.


Di tengah kehamilan, Sandra masih mau melayani hasrat yang semakin menggila saja, pria itu sudah bersyukur. Pasalnya, saat Sandra mengandung. Tubuh sang istri terlihat semakin berisi dan keseksian wanita tercinta berkali-kali lipat meningkat.


Kalau sudah seperti itu, Finn mana tahan!


Permainan panas pun masih terus berlangsung secara pelan, lembut, tetapi sensasinya tetap membuat mulut keduanya mengerang penuh kenikmatan.


🌺🌺🌺


Keesokan harinya




Sandra melangkah menuju dapur. Ia melihat sang suami memakai apron dan berdiri di depan kompor. Namun, wanita itu mengernyit melihat suasana yang sepi. Biasanya, siang hari masih berseliweran para asisten rumah tangga untuk mengurusi makan mereka.


“Honey, ke mana para asisten rumah tangga? Kenapa kamu yang memasak?” Sandra memeluk Finn dari belakang. Menyandarkan kepala di punggung tegap sang suami. Tangan pun menyusup masuk kaus dan mengelus perut six-pack itu.


“Aku mengusir mereka semua. Seharian ini, aku hanya mau berduaan denganmu.”

__ADS_1


“Aku mencium rencana nakal.”


Finn tertawa kecil. “Takut, huh?”


“Asal bermain lembut.”


“Tentu, Lebahku.”


“Kamu masak apa?”


“Spaghetti carbonara.”


“Aku sudah tidak sabar ingin mencicipinya.”


“Kalau begitu, duduklah. Karena tingkahmu membuatku kurang konsentrasi.”


“Aku suka mengelus perutmu.”


“Yakin hanya suka mengelus perutku saja?”


“Honey!” Sandra mencubit gemas pinggang Finn.


Finn mengulum senyum. “Nanti kamu bisa melakukan apa saja terhadap perutku bahkan seluruh bagian tubuh mana pun. Aku akan pasrah.” Kemudian, Finn membalikkan tubuhnya. “Tapi, sekarang bisakah nyonya Finn Elard duduk dengan tenang dulu. Mau aku gendong menuju meja makan atau jalan sendiri?”


“Pilihan pertama.”


Finn memencet hidung Sandra. “Gemas sama kamu.” Lalu, membopong sang istri dan mendudukkannya di atas kursi. “Sebentar lagi masakan siap. Bersabar, ya.”


“Oke.”


Finn tersenyum dan menepuk pelan kepala Sandra. Kemudian, kembali bergelut dengan masakan.


Lima belas menit kemudian, satu piring munjung spaghetti carbonara telah tersaji di atas meja makan. Finn sengaja menaruh dalam satu wadah saja. Agar sang istri menyuapinya.


Setelah satu sendok makan untuk diri sendiri, Sandra menyendoknya lagi dan memberikan kepada Finn. Begitu terus hingga tandas.


“Masakan ini enak. Kamu memang suami yang nyaris sempurna.”


Finn memegang dadanya dan berujar, “Hatiku meleleh mendengar pujianmu.”


Kemudian, keduanya tertawa.


“Honey, kamu merasa tidak kalau hidup kita jauh lebih bahagia dan tenang setelah semua selesai?”


“Ya. Seharusnya sejak awal aku mengizinkanmu berbicara dengan Alex. Jadi, tak perlu cemas berkepanjangan.”


“Kamu, sih, tidak menurut. Cemburu terlalu berlebihan.”


“Loh, aku cinta. Jelas harus cemburu dan waspada.”


Sandra mengerucutkan bibirnya. “Dasar posesif.”


“Pria posesif ini lelaki tercintamu.”


Sandra mengangguk setuju. “Honey, sore nanti aku berenang.”


“Pakai bikini, ya?”


“Tidak mau.”


“Hanya jenis pakaian itu yang cocok untuk ibu hamil agar perutmu tak sesak oleh baju yang ketat.”


Sandra berpikir sejenak kemudian mengangguk. Melihat hal tersebut, membuat Finn tersenyum senang.


Padahal, teori tersebut asal saja Finn ucapkan. Entah benar atau tidak pria itu kurang paham, ia berjanji akan mencari tahu setelah ini. Sekarang yang terpenting untuknya sang istri akan sangat seksi sore nanti.


“Tapi, aku mau berenang sendiri. Kamu jangan ikut, ya? Nanti menggangguku.”


Senyum tadi langsung lenyap mendengar ucapan Sandra barusan. “Aku harus menjagamu.” Finn memberi alasan lagi.


“Aku bisa menjaga diri sendiri.”


“Bee, please.”


“Menjaganya cukup diam duduk di pinggir kolam. Jangan ikut masuk ke dalam air.”


“Oke.” Tapi, bohong.

__ADS_1


Lantas, Finn tersenyum misterius.


Saling jatuh cinta. Saling memuja. Semoga ketenangan turut serta seirama. Agar bisa menjalani kehidupan dengan damai dan bahagia.


__ADS_2