
Tepat pukul 11 malam pulang ke rumah. Membuka pintu dan mendapati sang istri tercinta terlelap di atas sofa dengan melentang. Kedua kaki dan satu tangan pun luruh.
Finn menghampiri. Menaruh tas di atas meja. Kemudian, memandangi wajah Sandra yang sebagian tertutup rambut.
Finn merapikan rambut Sandra. Tersenyum. “Obat rasa lelahku. Hanya dengan memandangimu saja, membuatku senang.” Ia mengecup bibir terkatup itu.
Finn melepas jas dan mengendurkan dasi. Ia mengangkat Sandra. Membopong menuju kamar mereka.
“Finn. Kamu sudah pulang,” suara Sandra parau.
Mata tertutup tadi perlahan terbuka. Meski belum sempurna melihat, tetapi Sandra tahu itu sang suami dari harum tubuhnya yang khas. Walaupun perpaduan aroma woody dan citrus sudah sedikit memudar.
Finn tersenyum. “Aku menganggu tidurmu?”
Sandra menggeleng. Mengalungkan kedua tangan di leher Finn. Mengecup dua kali jakun sang suami dan bergeser sedikit. Mencium di area sana, menyesapnya kuat-kuat beberapa kali.
“Bee, apakah bauku tidak merusak indra penciumanmu?”
Sandra tak menjawab. Ia terus melakukan hal tersebut di area leher Finn. Bahkan, dengan lihai tangan mulai bekerja. Menarik dasi, membuangnya sembarang. Kemudian, membuka kancing bagian atas sang suami.
Sandra berhenti. Lalu, menatap Finn lekat. Membelai bibir seksi sang suami dengan jemari.
“Aku tahu kamu lelah. Aku mau mengobati. Kamu ... cukup diam.”
Finn menatap Sandra. Tersenyum semringah. Tak menyangka istri cantiknya begitu pengertian.
“Aku menurut.”
“Good boy.”
Finn menaruh perlahan sang istri di atas ranjang. Namun, dengan cepat Sandra membalik keadaan.
Finn berada di bawah. Sandra mendudukkan diri tepat di atas pusaka sang suami.
Dengan gaya menggoda, Sandra membuka semua kancing. Membuka dan membuang kemeja ke lantai.
Permainan pun Sandra mulai. Finn menepati janji untuk diam.
Menikmati setiap permainan lembut sang istri. Finn melenguh tiada henti.
Untuk pertama kali, Sandra mengendalikan sang kuda jantan. Membuatnya tak berdaya di bawah kungkungan tubuh mungil yang juga sudah polos.
__ADS_1
Letusan lava pun tak lagi bisa ditahan. Meletus berbarengan dengan bunyi teriakan sensual dari bibir mereka berdua.
Finn memeluk erat Sandra. Menciumi bahu polos sang istri berkali-kali.
Ketika merasa deru napas sudah mulai teratur. Finn menurunkan Sandra. Memeluknya erat kemudian keduanya terlelap.
🌺🌺🌺
Bangun pagi dengan kehebohan. Lelah bermain-main semalam membuat keduanya kesiangan. Pukul 07.30 baru membuka mata. Terburu-buru mandi, sarapan, dan bergegas pergi ke luar.
“Bee, aku mencintaimu. Tapi, sungguh aku terlambat. Aku punya janji pukul 9 pagi dengan klien. Jadi, maafkan aku tidak menghabiskan sarapan.” Setelah mencium kening sang istri, Finn bergegas masuk ke mobil.
“Dah, Honey! Aku juga cinta kamu!” teriak Sandra.
Finn membalas dengan menyembulkan kepalanya dari kaca mobil. Melambaikan tangan, memajukan bibir mode kiss you, dan mengerling.
Finn duduk bersandar kembali. “Pak Andre, tolong antar ke gedung perkantoran Hamilton Company.” Lantas, ia menyebutkan alamat tempat tersebut kepada sang sopir.
“Baik, Bos.”
Finn mengambil ponselnya. Men-dial nomor sang asisten.
“Halo, Roy. Langsung saja ke gedung Hamilton Company. Kita bertemu di sana.”
Finn langsung menutup telepon. Menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Kali pertama dalam hidupnya terlambat untuk bertemu klien.
🌺🌺🌺
Usai mendapat pesan dari Roy untuk langsung menuju ruang rapat. Finn bergegas melangkah dengan cepat. Menaiki lift dan ketika keluar sedikit berlari-lari kecil.
Sebelum masuk, Finn mengatur deru napas agar lebih teratur. Menarik gagang pintu ke bawah. Melangkah masuk dengan percaya diri seraya tersenyum dan tidak lupa mengucapkan maaf.
“Silakan duduk, Pak Finn. Hanya terlambat lima belas menit. Tidak masalah.” Alexander tersenyum semringah.
“Terima kasih pengertian Anda, Mr. Alexander.” Finn mendudukkan diri di samping Roy dan tepat berseberangan dengan Alexander.
“Panggil Alexander saja. Saya cukup fasih berbahasa Indonesia.” Alexander menatap Finn lekat.
“Baiklah, Pak Alexander. Supaya imbang,” ujar Finn melempar senyuman.
“Apakah Anda sehat, Pak Finn?” tanya Alexander.
“Tentu.”
“Saya pikir Anda sakit. Karena, banyak tanda merah di leher Anda.”
__ADS_1
Roy menatap dan mengamati leher sang bos kemudian berbisik, “Semua pria tahu tanda apa itu, Bos.”
Finn memaksakan sebuah senyum. Mengabaikan tatapan orang-orang yang mengarah tepat di lehernya. Tanda cinta dari Sandra.
“Oke. Kita mulai saja rapatnya.”
Alexander harus terpaksa profesional. Padahal, ia kesal bukan main membayangkan sang wanita impian di atas ranjang bersama Finn. CEO Hamilton Company itu tak menyangka jika Sandra-nya yang tenang dan selalu sopan bisa membuat sang rival memiliki banyak tanda merah.
Alexander, fix cemburu. Niat untuk menghancurkan Finn semakin menggebu.
Usai pembicaraan basa-basi. Rapat serius di mulai dengan Alexander langsung memberikan tiga proposal proyek. Memercayakan Field Construction untuk membangun gedung baru mereka.
Harga yang mereka tawarkan cukup membuat Finn kaget. Jumlah kemarin meningkat. Bahkan, jika memakai jasa sekelas Liam Group pun, nominal tersebut masih terlalu besar.
Akan tetapi, Finn meragu. Bagaimana bisa sekelas Hamilton Company yang notabene berada di atas Liam Group membayar dengan nominal sangat besar?
Finn tahu, mungkin desainnya menarik dan kekuatan bangunan pun tak perlu dipertanyakan lagi. Namun, entah kenapa otak warasnya tetap tak percaya.
Finn menyangsikan bukan tanpa sebab. Ia memiliki alasan tersendiri.
“Bagaimana tawaran kita, Pak Finn? Anda bisa langsung mengerjakan tender ini jika setuju.”
Sejenak Finn mengernyit . Tapi, langsung menormalkan kembali mimiknya agar tidak terlihat mencurigakan.
“Terima kasih sebelumnya untuk Anda selaku CEO Hamilton Company, Bapak Alexander. Suatu kehormatan mendapat tawaran fantastis dari perusahaan ternama milik Anda. Saya cukup tersanjung. Tapi, bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan untuk Anda?”
“Tentu, silakan.”
“Maaf sebelumnya, Pak Alex. Apa pertimbangan Anda memilih memercayakan Field Construction untuk menangani tiga gedung sekaligus? Dan, itu semua tanpa melalui persaingan antar kontraktor.”
“Ah. Jadi, Anda meragukan kemampuan sendiri?” Pertanyaan bernada rendah dengan sorot mata meremehkan.
Finn tersenyum. “Well, saya tidak ingin menyombongkan diri. Tapi, saya rasa jawaban Anda tersebut bukanlah sebuah jawaban.” Ia berhenti sejenak. Menatap pria berwajah bule diseberang sana dengan lekat.
“Begini, Pak Alexander. Tak banyak yang tahu keberadaan Field Construction. Tapi, sekelas Hamilton Company mampu mengetahuinya dan langsung memercayakan. Seperti yang saya bilang tadi, tanpa melalui persaingan. Anda pasti memiliki alasan pribadi, bukan?” lanjut Finn.
“Apakah hal tersebut cukup penting untuk kita bicarakan?” tanya Alexander dengan mata menyipit.
“Baiklah, Pak Alexander. Jika itu memang tak penting untuk Anda. Tak apa.”
“Bukankah seharusnya Anda senang mendapat proyek besar?”
Finn tersenyum. Ia menampakkan gesture dan wajah tenang. Tampak berbanding terbalik dengan Alexander yang menampilkan sikap dan mimik kesal lagi tak sabar.
“Jika saya menolak. Apakah Anda tersinggung, Pak Alexander?” tanya Finn dengan suara pelan, tetapi tegas.
__ADS_1
Finn dan Alexander saling melemparkan pandangan. Gesture tubuh dan wajah mereka masih sama seperti sebelumnya.