
Pembicaraan serius beradik-berkakak beberapa waktu lalu direkam di kepala Tristan. Saat di mana Vivian marah karena Kanaya meminta uang. Kemudian, Sandra pun ikut memberi pendapat.
Sandra mengatakan agar Tristan datang ke Australia tanpa memberi tahu kekasihnya terlebih dahulu. Meminta sang abang menguntit Kanaya. Melihat kebenaran dengan mata kepala sendiri.
Saat itu, Tristan hanya diam. Tidak mengiakan atau menolak.
Melihat Tristan tak memberi respons. Sandra kembali bicara. Jika apa yang ia sarankan semata demi kebaikannya sendiri.
Istri dari Finn itu menambahkan kalau seorang adik tidak akan menjerumuskan kakaknya sendiri. Malah ingin yang terbaik.
Pertahanan Tristan mulai goyang. Perkataan Sandra dianggap masuk akal. Meskipun sering terlihat tak akur, tetapi mereka saling menyayangi. Dan benar, itu demi kebaikannya sendiri.
Untuk merealisasikan rencana, Tristan mencari waktu yang tepat dan sedikit lowong. Ia hanya tak mau mengabaikan perusahaan demi urusan asmara sang ceo.
Tristan menyelesaikan semua pekerjaan yang ada. Meminta Sandra meng-handle kantor selama ia absen.
Sebelum berangkat, Tristan menelepon Sandra. Namun, hanya diam.
Sandra pun cukup peka akan kerisauan hati Tristan. Ia mengawali pembicaraan. Mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.
Akhirnya, Tristan membuka suara. Namun, hanya menitip pesan untuk tak memberi tahu di mana keberadaannya kepada Ayah, Bunda, dan Vivian. Ia hanya tak mau mereka bertiga khawatir.
Tristan hanya pamit kepada kedua orangtuanya tanpa mengatakan apa pun.
Tiba di Negeri Kanguru. Tristan menginap di sebuah hotel tak jauh dari tempat tinggal Kanaya.
Hari kedua di sana, Tristan memulai pengintaian. Seharian menguntit, tetapi hasilnya nihil.
Hari berikutnya pun hampir sama. Sudah lewat pukul sembilan malam, tetapi Kanaya tak menunjukkan aktivitas kalau ia berselingkuh.
Baru saja ingin kembali ke hotel. Sang target keluar dari tempat tinggalnya. Menghampiri sebuah mobil putih yang terparkir di pinggir jalan.
Dengan menyewa sebuah taksi. Tristan mengikuti. Berhenti tepat di depan sebuah club. Ia terdiam sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk.
Ingar-bingar musik dari permainan seorang DJ menggema. Lampu kelap-kelip menghiasi dan bau alkohol pun cukup menyengat.
Banyaknya orang di dalam membuat Tristan kesulitan mencari keberadaan Kanaya. Ketika mata menjelajah kemudian berhenti di lantai dansa. Target ditemukan.
Tristan melangkah mendekat untuk memastikan. Menurunkan topi dan memakai kacamata juga masker agar terlihat samar.
Ternyata benar. Wanita yang tadi keluar memakai jaket tertutup sampai lutut. Kini hanya mengenakan tank top di atas pusar bertali satu dengan hotpants.
Tristan kaget dan jengah ketika melihat pakaian Kanaya. Kekasih yang biasa menggunakan pakaian sopan itu kini menjelma bagai seorang jalang.
__ADS_1
Selain berdandan seksi, berjoget dengan sensual. Kanaya juga membiarkan seorang pria menggerayangi tubuhnya. Menyentuh area sensitif tanpa marah sama sekali. Justru terlihat menikmati.
Menjijikkan, batin Tristan.
Tristan melangkah sedikit menjauh. Tapi, ia masih mengintai.
Terlihat Kanaya dan teman-temannya kembali ke tempat duduk. Tertawa tanpa beban dengan beberapa lelaki ikut bersama mereka.
Tristan mendekat. Duduk tepat menghadap di mana Kanaya berada. Namun, masih dalam mode penyamaran. Perbincangan mereka membuat ia menajamkan indra pendengaran.
Meski hatinya sudah remuk redam, tetapi Tristan menahan segala rasa. Ketimbang harus terus-menerus hidup dalam kebohongan yang kekasihnya buat.
“Nay, kapan kita bisa liburan lagi?” Salah satu wanita di kelompok itu memulai pembicaraan.
“Mau ke mana? Tenang saja. Gue tinggal minta duit.”
“Minta lebih banyak lagi, Nay. Cowok lo kan sekarang CEO.”
“Beres.”
Tristan menggelengkan kepala. Tak sangka jika sang kekasih sering meminta uang untuk bersenang-senang.
“Babe, hati-hati Tristan nanti curiga. Ingat kan waktu itu kamu pernah dihajar seorang wanita. Takutnya perempuan itu mengadu.”
Di balik masker, Tristan tersenyum kecut. Kanaya yang polos ternyata bisa memiliki pemikiran licik. Bahkan, bersekongkol dengan kekasih berwajah bule itu untuk memerasnya tanpa tahu malu.
Ucapan Vivian ternyata bukan bualan semata. Kini Tristan merasa bersalah kepada wanita itu.
“Gila, ya. Beruntung banget lo, Nay. Punya cowok tajir, baik, ganteng, tetapi sayang bodoh."
“Bagus dong kalau dia bodoh. Semoga seterusnya begitu. Supaya kita semua bisa terus berfoya-foya!” seru Kanaya.
Semua tertawa.
Tristan mengepalkan kedua tangan. Ingin rasanya memukul mereka satu per satu. Karena, telah berani menertawakan dan mengatakan ia bodoh.
Walaupun pada kenyataannya itu benar. Cinta membuat Tristan bodoh sampai tak memercayai perkataan Vivian.
Baiklah, Kanaya. Aku rasa ini sudah cukup. Tak perlu banyak melihat dan mendengar lagi, gumam Tristan dan mulai beranjak bangun.
“Hai, Kanaya.” Tristan membuka topi, kacamata, dan maskernya. Berdiri menjulang di depan mereka semua.
Kanaya terkejut. Ia duduk di samping seorang pria yang tengah merangkulnya. Yakni kekasih bule dari Negeri Kanguru.
__ADS_1
Kanaya sontak langsung menepis rangkulan itu dan dengan panik menghampiri Tristan.
“Tristan. Ini ... ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kita semua teman. Bukan begitu?” Kanaya menoleh ke arah semua temannya meminta pembelaan.
Semua teman Kanaya mengangguk. Tapi, ekspresi kaget tetap tak memungkiri kentara terlihat di wajah mereka.
“Teman? Padahal aku tidak bertanya apa pun. Hanya menyapamu.”
Seketika Kanaya membeku. Ucapan Tristan bagai sebuah pedang menikam dada dan tepat mengenai jantung.
“Tristan ....”
“Jangan menyentuhku.” Tristan menepis tangan Kanaya yang mencoba memeluknya.
“Maaf.”
“Maaf? Untuk apa? Karena telah mengatakan aku bodoh? Menertawakan bersama teman-temanmu akibat ketololan seorang Tristan? Atau sebuah perselingkuhan?”
Semua teman dan kekasih Kanaya diam tak ada yang berani menyela.
“Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
“Bagus. Katakan itu kepada kedua orangtuamu. Ah, tetapi tunggu. Apa mereka tahu kelakuanmu disini?”
“Trist, aku mohon jangan mengatakan apa pun kepada mereka. Kedua orangtuaku tak tahu aku sudah di DO dari tempat kuliah. Oleh karena itu, aku masih ada di Sydney. Aku malu kembali ke Indonesia.” Kanaya kelepasan bicara.
“DO?” Tristan memejamkan mata. Menghela napas berat. “Sudahlah. Aku tidak peduli lagi pada urusanmu.”
“Trist ....”
Tristan mengangkat satu tangannya agar Kanaya diam.
“Kanaya. Kita putus. Silakan lanjutkan kembali hidup bebasmu. Permisi.”
“TRISTAN!” Kanaya mencengkeram lengan Tristan.
Tristan melepaskan tangan Kanaya. Menatapnya lekat. “Saran dariku, pulanglah ke Indonesia. Minta maaf kepada kedua orangtuamu. Ceritakan semua perihal kuliah dan hidupmu selama disini. Lalu, kembalilah menjadi Kanaya yang baik dan berharga. Seperti dulu, sebelum kamu datang kesini untuk melanjutkan S2.”
Tristan tersenyum. Menepuk pelan puncak kepala Kanaya untuk terakhir kali. Kemudian, berlalu pergi.
Sama seperti Sandra. Beradik-berkakak tersebut enggan untuk mengotori tangan mereka untuk sebuah perselingkuhan yang sudah terjadi. Keduanya memilih mengakhiri hubungan tanpa ada keributan. Meski luka hati menganga sangat lebar.
Beruntungnya, kewarasan dan kesabaran menyelimuti. Jadi, bisa terlihat tenang dan kuat di depan pasangan yang telah berselingkuh. Setidaknya, tak tampak menyedihkan.
__ADS_1
Padahal, sedih, marah, kecewa tengah menguasai. Tapi, kontrol emosi yang baik. Membuat semua menjadikannya samar.