ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Kangen


__ADS_3

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Liam Group tengah berlangsung. Salah satu pembahasan adalah transisi CEO. Chris selaku Co-Founder sekaligus CEO saat ini bersiap memberikan salah satu posisinya kembali kepada sang putra, Finn Elard Liam.


Finn datang seperti biasa bersama sang asisten loyal, Roy Aldebaran. Ia memenuhi janji kepada Chris untuk kembali menjabat sebagai CEO Liam Group.


Para pemegang saham tak berpikir dua kali untuk kembali menerima pria berkompeten tersebut. Mereka justru menyambut sangat antusias.


Lusa nanti, Liam Group telah berencana mengadakan konferensi pers. Mengumumkan kepada khalayak ramai akan kembalinya Finn Elard menjadi CEO. Undangan sudah disebar kepada seluruh media baik cetak maupun elektronik.


Usai rapat rampung, Finn mampir ke ruangan Chris. Mengobrol sejenak dengan sang papi.


“Sudah bersiap kembali menjadi CEO Liam Group?”


“Terpaksa, Pi.”


“Kamu ini selalu saja setengah hati dengan Liam Group. Jadi, tidak sabar menunggu anakmu lahir, besar, dan memegang kerajaan bisnis keluarga ini dengan senang hati.”


“Pi, proses tersebut butuh waktu mungkin sekitar tiga puluh tahunan lagi. Bersabarlah denganku yang setengah hati ini. Meski begitu, aku akan tetap bekerja dengan baik untuk membesarkan Liam Group. Papi tidak perlu khawatir.”


“Ya, itu memang harus kamu lakukan. Bekerja keraslah terus. Karena, perusahaan ini juga akan jatuh ke tangan anakmu.”


“Iya, Pi.”


“Lalu, apa kabar pembangunan gedung yang kamu gaungkan akan menjadi toko retail perkakas terbesar di Indonesia?”


“Sudah 40% berjalan, Pi.”


“Lumayan cepat.”


Finn mengangguk. “Aku menggelontorkan banyak uang untuk pembangunan.”


“Jika kamu gengsi menerima bantuan Papi. Pinjam saja.”


“Kalau kepepet, kali ini aku janji akan meminta bantuan.” Finn beranjak bangun. “Aku harus kembali ke kantor, Pi. Roy sudah menunggu di luar.”


Chris mengangguk. “Sampaikan salam Papi kepada Sandra. Jaga istri dan calon anakmu dengan baik.”


Finn mengangguk kemudian memeluk sang papi dan keluar ruangan.


🌺🌺🌺


Keesokan hari


Sejak semalam, Sandra terus menggelendot dengan Finn. Hingga pria itu kesulitan bergerak bebas.


“Bee, aku harus berangkat ke kantor. Ini sudah siang. Roy terus menelepon, memintaku cepat datang karena ada rapat penting.”


“Bisakah hari ini kamu di rumah saja?”


“Bee, bukan aku tak mau. Tapi, hari ini terakhir aku berada di Field Construction. Karena besok sudah harus bekerja di Liam Group.”


“Tapi, kan kamu masih bisa datang kapan pun ke Field Construction?”


“Iya. Itu benar. Tapi, hari ini aku ada meeting penting. Aku juga harus memastikan semua beres sebelum meninggalkan kantor.”


Sandra mulai menangis. “Aku kangen kamu.”


Finn mengernyit. Merasa aneh akan kata-kata tersebut. Setiap hari bertemu, kenapa kalimat rindu itu seolah-olah menyesakkan dada. Pasalnya, tak biasanya air mata turut mengiringi.


Finn menghapus air mata di pipi Sandra. “Jangan menangis. Aku janji langsung pulang ketika semua selesai. Atau kamu mau ikut ke kantor?”


“Tidak mau. Aku capek.”


“Kalau begitu, jangan pergi ke mana pun. Diam di rumah. Aku akan secepat mungkin menyelesaikan semua pekerjaan dan pulang.”


“Tapi, aku mau melihat terus wajahmu.”


Finn menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Ia berpikir sesaat kemudian berkata, “Berhubung aku sibuk dan kamu tidak mau ikut ke kantor. Kita video call saja. Bagaimana?”


Sandra terdiam kemudian mengangguk. “Jangan memutus sambungan.”


“Oke. Aku akan meminta Roy memegang ponsel saat rapat nanti. Sekarang berhenti dulu menangisnya.”


Sandra menurut. Ia berhenti menangis. Kemudian, melingkarkan tangan di leher sang suami. “Gendong.”


“Siap, Lebahku.” Finn langsung mengangkat Sandra. Sang istri pun segera melingkarkan kaki di pinggang suami tercinta.


Mereka berdua saling bersitatap.


“Kiss me,” pinta Sandra.


Tanpa menyahut, Finn langsung menabrakan bibir mereka. Menyesap benda kenyal lembut nan manis tersebut.

__ADS_1


Lalu, Finn melepasnya dan bertanya, “Kenapa tumben sekali manjamu berlebihan, hm?”


“Tidak tahu?”


Malas beradu argumen. Finn memilih menganggapnya selesai. “Aku berangkat, ya.”


“Cium aku lagi.”


Finn terbengang sesaat mendengar permintaan itu kembali. Namun, ia langsung memenuhinya.


“Sebentar lagi, ya. Karena ponsel di saku celanaku terus berdering. Roy pasti sedang mengomel di kantor.”


“Libur saja. Kamu bisa rapat secara online.”


“Bee, tolong jangan mempersulit pekerjaanku. Aku mencari uang untuk kita.”


Mata Sandra kembali berkaca-kaca. “Aku hanya mau seharian ini sama kamu. Kenapa menolak?” Saat ia berkedip tumpah sudah air mata yang sempat tertahan.


“Bee, jangan menangis lagi.”


“Aku punya banyak uang di tabungan. Ambil saja semua untuk membayar waktumu hari ini agar menemaniku.”


Finn tercengang mendengar penuturan Sandra. “Bee, hanya sebentar saja. Aku akan menyelesaikan urusan dengan cepat. Lagi pula, bukankah tadi kita sudah sepakat untuk video call.”


Sandra memeluk Finn. Ia memarkir kepala di bahu sang suami. “Janji cepat pulang.”


“Iya. Aku janji. Mau aku bawakan apa pulang nanti?”


Sandra menggeleng. “Aku hanya mau kamu.”


“Oke. Sekarang, berhenti menangis dan biarkan aku pergi ke kantor agar bisa cepat pulang.”


“Kamu belum cium aku lagi.”


Finn menurunkan Sandra di atas kasur. Mencium bibir sang istri sebentar kemudian pamit bekerja. Tak lupa kata cinta terucap sebelum benar-benar pergi.


Finn tak mengizinkan Sandra mengantar sampai mobil. Khawatir sang istri kembali menahan kepergiannya ke kantor.


🌺🌺🌺


Demi kedua bosnya tetap langgeng. Roy mengikhlaskan diri menjadi relawan penyambung kebahagiaan mereka. Dua tangan pun turut bekerja. Satu memegang ponsel untuk menyoroti Finn agar tetap berada di layar. Dan, yang lain sibuk mencatat poin-poin penting pembicaraan.


Usai rapat dan semua keluar, kecuali Roy dan Finn. Sang bos mengambil alih kembali ponsel tersebut dan menyalakan volume suara.


“Bee, kenapa terus-menerus menangis?”


“Aku rindu.” Sandra mengucapkannya dengan lirih.


Roy yang turut mendengar menjadi tersipu. Padahal, kata-kata itu bukan untuknya melainkan sang bos.


“Aku juga rindu. Sabar, ya. Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan lagi.”


“Cepat pulang.”


“Iya. Boleh aku matikan ponselnya?”


“Tidak boleh.”


“Oke. Tapi, aku tidak bisa terus berbicara denganmu. Tak apa, ya?”


“Iya.”


Finn menaruh ponsel tepat di depannya. Lalu, mengalihkan tatapan kepada Roy.


“Roy, semua sudah kau bereskan?”


“Sudah, Bos. Besok Anda bisa tenang meninggalkan kantor. Saya pun sudah meminta beberapa orang untuk terus memberi informasi mengenai kondisi kantor dan proyek-proyek kita. Seperti sebelumnya saja.”


Finn mengangguk. “Oke. Berikan semua berkas yang harus aku cek dan tanda tangan. Supaya cepat selesai dan aku bisa pulang cepat.”


“Kita kerjakan di ruangan Anda saja, Bos. Karena, Sebagian berkas berada di meja Anda.”


“Oke.”


Mereka berdua beranjak bangun dan keluar menuju ruangan Finn. Lantas, ia mendudukkan diri di kursi kerajaannya dengan sang asisten duduk tepat di depan.


Finn menaruh terlebih dahulu ponsel di atas meja. Menyandarkan benda pipih tersebut pada vas bunga agar bisa menyorot. Supaya Sandra bisa terus melihatnya.


Roy memberikan beberapa berkas agar Finn menandatanganinya. Baru saja mau mulai membuka, Sandra memanggil.


“Honey.”

__ADS_1


Finn langsung menutup berkas dan meminta waktu sebentar kepada Roy.


“Ada apa, Bee? Kamu tidak lelah terus menangis?”


Sandra menggeleng. Ia tengah berada di atas kasur. Sesekali terlihat menghapus air mata dengan selimut.


“Kalau kamu sudah pulang, aku baru berhenti menangis.”


“Lalu, menyambutku dengan mata bengkak dan wajah yang basah oleh air mata?”


Sandra terdiam. Beberapa saat kemudian kembali bersuara.


“Tapi, aku masih cantik.”


“Iya, itu sudah pasti. Tapi, lebih baik kamu berdandan agar semakin cantik. Pakailah gaun tidur menerawang berwarna merah kesukaanku. Maukah kamu bersiap-siap melakukan hal tersebut untukku?”


Finn mencoba merayu Sandra dengan tujuan agar sang istri berhenti menangis. Ia sudah tak tega melihat wanita tercinta masih saja berurai air mata. Sang ceo tak tahu apa yang menyebabkan ibu hamil tersebut sejak semalam menjadi melankolis dan kelewat manja.


Sial bagi Roy karena harus kembali mendengar pembicaraan intim tersebut. Namun, sang asisten bersyukur karena hanya ada ia seorang di ruangan. Jika tidak, sudah pasti akan banyak memakan korban salah tingkah akibat obrolan kedua bosnya itu.


Roy pun hanya bisa berpura-pura tak mendengar meski wajah sudah memanas. Ia memilih menunduk dan menggaruk kepala yang tak gatal untuk mengurangi kecanggungan.


“Ya, sudah. Aku berhenti menangis. Tapi, jangan tutup sambungan.”


“Iya. Aku teruskan pekerjaan dulu. Oke, My Lovely Wife.”


Sandra mengangguk.


Finn membuka berkas kembali dan menandatanganinya. Sebagian ia baca terlebih dahulu untuk memastikan semua benar.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Niat pulang cepat ternyata gagal. Pekerjaan yang menumpuk adalah tersangka utama.


Sejak dua jam lalu sambungan video call pun sudah terputus. Karena, ponsel Sandra mati.


“Roy, besok jangan sampai datang telat. Siapkan semua untuk acara konferensi pers dan berkas-berkas lain Liam Group dan Field Construction.”


“Siap, Bos.”


“Aku pulang duluan. Kau tak masalah menyelesaikan semua sendiri, ‘kan?”


“Tentu tidak, Bos. Silakan pulang saja, kasihan ibu Sandra sudah menunggu Anda.”


“Terima kasih, Roy.” Finn menepuk bahu sang asisten kemudian berlalu pergi.


🌺🌺🌺


“Mba, di mana ibu?” Finn bertanya kepada asisten rumah tangga begitu tiba di rumah.


“Di kamar, Pak,” jawab sang asisten rumah tangga.


“Ibu sudah makan?”


“Sudah, Pak.”


Finn mengangguk. “Pergilah istirahat. Terima kasih untuk hari ini.”


“Anda mau saya siapkan makan dulu, Pak?”


“Tidak.”


Sang asisten rumah tangga mengangguk lantas keluar rumah.


Finn pun melangkah menuju lift dengan tujuan kamar tidur. Begitu tiba, ia membuka pintu perlahan dan mata langsung berfokus ke arah ranjang.


Finn mendekat. Memandangi Sandra yang tengah tertidur dengan selimut membalut. Rasa bersalah muncul.


Sesaat kemudian, Finn memutuskan untuk mandi. Lalu, berniat untuk menyusul sang istri menuju alam mimpi. Hari ini, ia sangat lelah.


Keesokan paginya


Sandra kesal bukan main begitu bangun tidur tak melihat Finn di sampingnya. Bertanya kepada asisten rumah tangga ternyata sudah berangkat.


Sandra mengambil ponselnya yang ternyata mati. Ia mengisi daya sebentar. Kemudian, membuka benda pipih tersebut. Terdapat satu notifikasi pesan dari Finn.


[Bee, maafkan aku berangkat tak membangunkanmu. Jangan marah atau menangis, ya. Pagi ini ada konferensi pers. Jadi, aku harus on time. Setelah selesai, aku akan meneleponmu. I love you, My Lovely Wife]


[Sudah semalam tak bertemu. Pagi ini pun begitu. Padahal, aku sudah memakai gaun tidur merah dan berdandan cantik. Kenapa tak dibangunkan? Tega!]


Pesan tersebut Sandra kirim untuk Finn sebagai balasan. Wajahnya kini bermuram durja. Air mata pun kembali mengalir.


Dengan bibir bergetar akibat menangis, Sandra berbicara kepada sang janin seraya mengelus perutnya. “Sayang, Mommy kenapa menangis terus, ya? Biasanya kalau kangen Daddy tidak sampai begini.”

__ADS_1


__ADS_2