ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Gaun tidur


__ADS_3

Karena sang empunya kamar tidak mengindahkan suara ketukan. Tristan memutuskan membuka pintu dan masuk. Terlihat Sandra berada di balkon tengah duduk terbengang.


Tristan melangkah mendekati. Mendudukkan diri tepat di samping Sandra.


Sandra menoleh dan tersenyum. “Bang.”


Tristan meraih tangan Sandra dan mengusapnya lembut. “Dek, masih berasa banget lo mengintil gue mulu ke mana-mana. Enggak sangka sekarang udah gede. Eh, lusa menjadi istri orang. Bakalan sepi rumah ini karena kita gak akan pernah ribut lagi.”


“Kita masih bisa adu mulut di kantor, Bang.”


Keduanya tertawa.


Tristan menatap Sandra lekat. “Dek, jaga diri lo ketika nanti jauh dari gue, Bunda, dan Ayah. Walaupun gue tahu, Finn pasti akan menjaga lo dengan baik.”


“Kenapa gak dari kemarin lo manis kayak gini, sih, Bang?”


“Jangan merusak suasana, deh. Gue kan mau berduaan sama lo sebelum resmi cabut dari rumah ini.”


Sandra langsung memeluk Tristan dari samping. “Gue sayang elo, Bang.”


“Gue apa lagi.” Tristan membalas pelukan Sandra. Membelai rambut sang adik dan mengusap punggungnya lembut.


“Janji sama gue jangan sering lembur. Kasihan Bunda dan Ayah kesepian.”


“Iya, bawel.”


“Gue bakalan kangen Bunda, Ayah, elo, dan rumah ini.”


“Kalo begitu lo harus sering datang. Oke.”


“Iya.”


“Gue minta maaf suka iseng sama lo.”


“Iya, gue juga minta maaf sering sewot sama lo.”


Keduanya mengangguk.


“Dek, menjadi istri seorang Finn Elard gak akan mudah. Hati dan mental lo kudu sekuat baja. Kalau suatu saat terdengar kabar atau gosip gak enak tentang suami lo nanti. Jangan langsung termakan isu. Cari kebenarannya dulu. Oke.”

__ADS_1


“Iya. Jaga gue dari jauh, Bang.”


“Pasti. Telepon gue ketika sesuatu terjadi. Gue bakal langsung datang.”


“Thanks, Bang.”


Suara berdeham menghentikan aktivitas kemesraan beradik-berkakak itu. Sandra dan Tristan menoleh. Vivian sudah berdiri di samping keduanya dengan cengar-cengir.


Beradik-berkakak tersebut melepaskan pelukan mereka.


“Trist, gue juga mau lo peluk dong.”


“Peluk elo di kamar gue. Mau?"


“Ogah. Entar gue bunting.”


“Gue bakal tanggung jawab.”


“Entar si Sundel Bolong ngamuk sama gue kalo gak jadi nikah sama lo.”


“Itu pacar gue. Masih aja lo sebut sundel bolong.” Tristan berdiri dan mencubit gemas pipi Vivian.


“Cocok, sih. Bagaimana dong?” sewot Vivian seraya menepis tangan Tristan.


Terkadang Tristan bingung, salah apa Kanaya kepada Vivian. Sampai-sampai, wanita yang sudah dianggap adik itu begitu membenci sang kekasih. Setiap bertanya alasan dibalik kata-kata tersebut, jawabannya selalu sama yakni cocok.


Seperti ada makna lain yang tersembunyi. Dan, itu hanya Vivian seorang yang mengetahui jawabannya apa. Bahkan, Sandra pun tak paham.


“Masih aja. Sundel bolong tu maksudnya apa, sih, Vi? Gue penasaran.”


“Sundel bolong adanya waktu kapan?”


“Malam.”


“Nah, tu pinter.”


Sandra mengernyit kemudian menggeleng. Ia memilih mengabaikan. Karena, jika bertanya lebih lanjut lagi, Vivian pasti kembali memberi jawaban teka-teki.


“Terus, apa yang lo bawa itu? Gede banget.”

__ADS_1


Vivian menjadi teringat akan niat kedatangannya. Kemudian, menarik tangan Sandra masuk. Keduanya mendudukkan diri di atas kasur.


“Mana koper lo?”


“Tu di sana.” Tunjuknya ke arah depan lemari lewat ekor mata.


Vivian beranjak bangun dan menyeret koper tersebut mendekati kasur kemudian membukanya.


“Kado buat lo, langsung gue taro koper aja, ya.”


“Eh, tunggu. Lo ngasih apaan itu?” Sandra menahan tangan Vivian.


Vivian duduk kembali di atas kasur. Ia membuka paper bag besar dan mengeluarkan semua isinya ke ranjang.


Sandra mengambil satu dan memandanginya. “Jangan gila, Vi. Gue gak mau, ah.”


Sandra ingin menyingkirkan semua pemberian Vivian, tetapi sang empunya pemberi kado protes sekaligus kesal.


“Lo gak menghargai gue banget!”


“Bukan begitu. Tapi, kan ....”


Vivian turun untuk melihat isi koper Sandra. Lalu, tersenyum mengejek ke arah sang sahabat. “Lo mau bulan madu atau traveling bareng gue. Ya, kali baju dinas honeymoon kayak begini.”


“Piama kan memang buat tidur.”


“Kurang hot! Gaun tidur dari gue, harus lo pake saat malam pertama dan malam-malam lain. Sengaja gue beli banyak buat elo. Buat jaga-jaga kalo si Finn mengganas dan menyobek tu gaun.”


Sandra menganga tak percaya oleh ucapan Vivian. Bahkan, sohibnya itu menjelaskan detail sekali.


“Gue benaran curiga. Masa sampe tu gaun sobek aja, lo paham banget. Lo masih perawan, ‘kan?”


Vivian menyentil kening Sandra sampai membuatnya mengaduh. “Mulut lo mau gue obras atau lakban? Sembarangan aja kalo ngomong.”


Sandra mencebik seraya mengusap keningnya. “Gue malu pakenya, Vi. Enggak usah, deh.” Pake baju biasa aja, otak si Finn udah mesum kalo lihat gue. Mana nyosor mulu. Apa kabar tu gaun seksi? Hah! Alamat nambah terus. Enggak kelar-kelar.


“Udah gue taro semua. Gue gak mau lagi menganggap lo tetangga, kalo sampe tu gaun tidur enggak dipake.”


“Ngeselin lo!”

__ADS_1


“Bomat.”


Sandra mengembuskan napas berat. Tamat sudah riwayat gue, batinnya.


__ADS_2