ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Memberi kesempatan


__ADS_3

Finn menyambar benda kenyal berwarna pink milik Sandra dengan bibir seksinya. Ia sedang tak berminat mendengar penolakan kembali. Jadi, membungkamnya dengan ciuman adalah cara terbaik.


Namun, Finn hanya menempelkan bibir mereka.


Sandra pun tak menolak, ia diam saja. Bahkan, menutup mata. Selang beberapa menit kemudian sang ceo melepaskan ciuman tersebut.


Sandra membuka mata. Menatap lekat Finn tanpa bicara.


Finn menyentuh bibir Sandra dengan jemarinya. Kemudian, mengelus pipi berona merah muda itu lembut. Lanjut membelai puncak kepala sang wanita tercinta.


“Aku tak bisa lagi mengontrol perasaan kepadamu. Berkali-kali mencoba menepis, tetapi hasilnya malah semakin menggebu. Percaya atau tidak, ini kali pertama untukku. Si berengsek jatuh cinta kepada wanita cantik yang bernama Sandra Rein. Sialnya, ia memiliki pengalaman tak mengenakkan dengan lelaki jenis tersebut. Aku tahu, kategori pria bajingan tak akan pernah bisa menembusi hatimu.”


Finn meraih kedua tangan Sandra. Menarik napas sesaat. “Tapi, bolehkah aku memohon satu kali saja? Tolong beri aku kesempatan. Biarkan aku membuktikan kalau playboy ini sudah insaf dan telah bertekuk lutut kepadamu. Please.”


Mendengar penuturan Finn, hati Sandra menghangat. Ia bisa merasakan jika kata-kata itu begitu tulus. Akan tetapi, adik dari Tristan itu tetap bersikap waspada.


“Finn, pikirkan lagi. Siapa tahu kamu hanya terobsesi denganku? Yakinkan dahulu itu cinta atau bukan.”


Finn tersenyum. “Aku, Finn Elard Liam. Tak pernah mengatakan cinta kepada wanita mana pun. Selain kepadamu, Sandra Rein.”


“Bohong.”


Finn menggeleng. Ia menaruh tangan Sandra di atas kepalanya. “Aku berani sumpah. Apa yang kukatakan adalah kebenaran.”


Sandra terdiam. Ia tak lagi bisa berkata-kata. Tapi, ketakutan akan pengkhianatan kembali terulang tetap masih bersemayam. Jadi, wanita itu memilih bungkam.


Hening!


Finn mengecup tangan Sandra. Ia tak pernah sefrustrasi ini menghadapi wanita.

__ADS_1


“Sandra, boleh aku minta sesuatu?”


“Apa?”


“Biarkan aku berjuang mendapatkan cintamu. Tapi, aku mohon buka hatimu. Supaya dia dapat merasakan keberadaanku."


“Finn ....”


Finn menutup mulut Sandra dengan telunjuknya. “Aku tak akan memaksa. Tapi, setidaknya coba dulu.”


“Finn, citramu sebagai playboy masih belum bisa aku terima. Aku masih takut kalau dengan image itu hubungan kita tak akan berhasil. Nanti hanya membuang-buang waktu. Aku lelah bermain-main. Mengertilah.”


Finn mengembuskan napas berat. Rasanya ia ingin memutar waktu dan menjadi pria dengan citra baik-baik. Sang ceo pun mencoba untuk tetap tenang. Walaupun hatinya setengah mati kalang kabut menghadapi Sandra.


“Hei, Cantik. Biarkan aku memperjuangkan dulu. Beri aku kesempatan untuk merebut hatimu. Membuktikan juga kalau aku sudah dengan kulit baru. Pria tampan yang setia kepada satu wanita yaitu kamu.”


Sandra menatap lekat Finn. Ia tak tahu harus berkata apa. Rasanya egois jika tak memberi kesempatan. Bukankah, setiap orang berhak mendapat maaf dan mengubah diri menjadi lebih baik.


Finn mengembangkan senyumnya. “Aku akan membuktikan. Bersiaplah untuk mendapat serangan cinta dariku.”


“Terserah. Tapi, awas menipuku. Aku akan benar-benar menembak kepalamu.”


“Dengan apa? Kamu tidak punya pistol.”


“Aku sudah memilikinya dari satu bulan lalu.”


“Wow! Kamu mengerikan, Baby.”


“Mau mundur? Silakan saja.”

__ADS_1


“Tidak akan.”


“Kalau begitu, aku akan menyiapkan banyak peluru lebih dulu. Untuk berjaga.”


“Ah, sebuah peringatan. Baiklah. Siapa sangka dibalik wajah cantikmu ternyata memiliki kesenangan berbeda dari wanita kebanyakan. Tapi, aku suka. Aku yakin hubungan kita akan berhasil. Karena, pria sepertiku memang membutuhkan sosok perempuan tangguh sekaligus manja.”


Sandra tertawa. Kemudian, berkata, “Semoga saja kamu tidak tersiksa karena harus setia dengan satu wanita.”


Finn tersenyum. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku.”


“Sama-sama.”


“Cantik.”


“Perayu ulung.”


“Ayolah, Baby. Jangan mulai.”


Tanpa keduanya sadar. Gagang pintu bergerak ke bawah kemudian terbuka.


“Sandra!”


“Finn!”


Sejoli belum resmi baik menikah ataupun sebagai kekasih itu menoleh. Sandra refleks langsung melepaskan pegangan tangan Finn.


“Bunda!”


“Mami!”

__ADS_1


Mereka berempat saling melempar pandangan.


__ADS_2