
Duduk di dalam ruangan dokter kandungan dengan Diana menemani. Finn membutuhkan penjelasan detail terkait kondisi Sandra. Ia harus tahu semua tanpa ada satu pun yang terlewat.
“Ibu Sandra memang masih koma, tetapi janin yang dikandung baik-baik saja. Meski belum tersadar, sebagian besar organ ibu Sandra masih berfungsi secara normal. Selama tekanan darah dapat terkontrol dan jantung terus memompa, perfusi akan cukup untuk bayi dalam kandungan. Saya pun selalu mengontrol setiap hari kondisi ibu Sandra dan kehamilan beliau. Hal ini merupakan sebuah berkah dan keajaiban dari Tuhan untuk keluarga kecil Anda, Pak Finn.”
Seketika kelegaan tercetak di wajah Finn. Ia memang mengkhawatirkan kondisi sang janin di tengah keadaan Sandra yang koma. Saat ini, setidaknya satu hal yang mencemaskan hilang. Tinggal menunggu keajaiban lain, yakni wanita tercinta siuman.
“Terima kasih, Dokter. Terima kasih telah memberikan yang terbaik untuk Sandra.”
“Jujur, saya terkejut oleh keadaan janin yang baik-baik saja saat sang ibu tak sadarkan diri dengan kondisi cukup mengenaskan. Anak Anda seperti memiliki keinginan untuk terus hidup dan itu kemauan yang sangat besar. Dan, tentu menjadi tugas kami para tenaga medis untuk memberikan yang terbaik kepada semua pasien. Selain itu, Tuhan pun turut andil dalam menyelamatkan istri dan baby Anda.”
“Iya, Anda benar. Tuhan sangat berbaik hati kepada kami.”
Finn juga teringat kata-kata Sandra ketika beberapa waktu lalu saat tengah berhadapan dengan John beserta komplotan mereka. Istrinya mengatakan kepada sang janin untuk terus hidup karena ia anak yang kuat.
Boy, kamu memang anak yang penurut, kuat, dan cerdas. Persis apa yang selalu mommy ucapkan untukmu. Daddy menyayangimu dan juga mommy. Finn berucap dalam hati kala mengingat kalimat yang Sandra sering ucapkan.
Puas mendengar penjelasan dokter kandungan, Finn dan Diana keluar ruangan. Lalu, mereka melanjutkan menemui dokter ahli bedah yang menangani Sandra.
Dokter tersebut mengatakan kalau kondisi Sandra saat datang sudah sangat mengkhawatirkan. Tubuh terluka akibat tembakan. Bersyukur luka tembak tidak mengenai dada. Meski nyaris saja mendekati area sana. Jadi, nyawa masih bisa tertolong walaupun dengan kondisi sangat lemah dan banyak mengeluarkan darah.
Belum lagi, ternyata Sandra mengalami dehidrasi dan kelelahan hebat di tengah masa kehamilan. Rangkaian hal tersebutlah salah satunya menjadi penyebab Sandra belum juga sadarkan diri.
“Finn kita kembali ke kamarmu, ya?” Diana ingin sang putra istirahat usai banyak mendengar penjelasan para dokter.
“Iya, Mi.”
🌺🌺🌺
“SANDRAAAAAAA!!!”
Berulang kali meneriakkan nama tersebut. Sesal, sakit, sedih. Semua rasa menjadi satu berkumpul mengeroyok Alexander. Jantungnya seperti diremas dengan aliran darah seolah-olah berhenti mengalir. Hidup, tetapi serasa mati.
Suara berdeham menghentikan teriakan Alexander. Seorang wanita berjas putih dengan mengalungkan stetoskop berdiri tepat di samping sang bangsawan.
Alexander menoleh dan terpaku sesaat. Lalu, berkata, “Maaf, suara teriakan saya mengganggu.”
“Untungnya Anda berteriak di rooftop dan hanya ada saya disini. Jadi, cukup saya seorang saja yang merasa gendang telinganya terganggu.” Sang dokter tersenyum simpul.
Alexander tersenyum kikuk. “Maaf. Saya hanya ....” Ia tak meneruskan kembali ucapannya.
“Meluapkan rasa sesak di dada.” Sang dokter menatap Alexander. “Itu hal lumrah untuk melegakan hati dan pikiran. Jadi, lakukan saja.”
“Sudah cukup.”
__ADS_1
“Oh, ya?”
“Dokter ....”
“Panggil Cindy saja. Kebetulan nama wanita yang Anda teriakan adalah pasien saya, Ibu Sandra Rein. Saya dokter kandungannya.”
“Kandungan? Sandra hamil?”
“Ya. Calon anak mereka sangat kuat. Ia terus hidup dan dalam keadaan baik-baik saja di dalam perut sang ibu. Sungguh keajaiban yang jarang terjadi. Tuhan sangat bermurah hati kepada pasangan suami-istri tersebut.”
“Saya senang mendengarnya.”
“Jika Anda perlu teman bicara? Saya bersedia mendengarkan. Kebetulan saya sedang jam istirahat.”
Alexander menatap sang dokter. “Saya mencintai pasien Anda. Akan tetapi, tak tahu bagaimana caranya melupakan rasa yang sudah salah tempat tersebut?”
Cindy menatap Alexander. Ia tak cukup kaget mendengar hal tersebut mengingat pria di sampingnyalah yang membawa Sandra seraya menangis meminta agar wanita itu diselamatkan.
“Saran saya, berbicaralah dengan suami dari ibu Sandra. Mungkin setelah itu, Anda akan memiliki alasan untuk melupakan cinta salah tempat tersebut.”
“Bicara dengan Finn?”
Cindy mengangguk.
🌺🌺🌺
Keesokan harinya
Duduk di taman bersama Manda. Sang sepupu yang menyarankan demikian. Sambil katanya menunggu jam besuk tiba.
Tak berapa lama, Alexander datang dan berdiri menjulang di depan Finn. Sontak Manda jengkel. Baru saja ingin mengusir sang bangsawan, interupsi menghentikan rencana tersebut.
“Manda, biarkan Alex bicara.”
“Boleh kita hanya bicara berdua saja?”
Finn melirik sang sepupu. “Manda, bisa minta tolong tinggalkan kita berdua?”
“Tapi, Finn ....”
“Gue akan baik-baik saja. Please.”
“Oke. Gue duduk di ujung taman. Gue gak bisa meninggalkan lo lepas dari pantauan. Apalagi, bersama orang asing.”
__ADS_1
Alexander diam mendengar penuturan Manda dan mewajarkan sikap waspada tersebut.
Finn mengangguk. “Oke.”
Sepeninggal Manda, Alexander mendudukkan diri tepat di samping Finn.
“Terima kasih sudah menolong kami. Jika bukan karenamu, mungkin kami sudah mati.” Finn membuka percakapan.
Finn mengatakan hal tersebut karena sudah mengetahui jika yang membawa mereka ke rumah sakit adalah Alexander. Ramon yang memberi tahu semuanya.
“Maaf, telah menyebabkan semua kekacauan itu harus terjadi.”
“Kita ambil saja hikmah dari semua rangkaian kejadian tersebut. Semoga nanti tak akan lagi pernah terjadi kejadian serupa terulang.”
Alexander menatap Finn. “Saya pastikan tak akan pernah terjadi lagi.”
“Terima kasih.”
“Saya juga mau berterima kasih karena Anda telah mencabut segala tuntutan.”
Finn menghela napas. “Sandra menyukai ketenangan. Lagi pula, ia akan sangat kelelahan jika harus menghadapi sidang dan interogasi para petugas kepolisian nanti. Jadi, lebih baik menyudahi semua sampai disini dan dengan damai, bukan?”
Finn telah mencabut segala tuntutan baik tragedi berdarah tersebut, penculikan, mengenai John Beck, dan lain sebagainya yang sempat dilayangkan Ramon saat ia belum sadarkan diri. Ketika mengetahui semua, suami dari Sandra itu langsung meminta penyidikan dan tuntutan dihentikan hari itu juga.
Awalnya, Ramon dan seluruh keluarga besar menolak. Namun, setelah Finn memberikan alasan atas nama Sandra yang lebih menyukai perdamaian. Akhirnya, semua menurut.
“Maaf, telah menghancurkan kehidupan kalian.”
Finn menatap lurus ke depan. “Kau tahu, Lex? Sandra bukanlah tipe wanita yang mudah ditaklukan. Saya pun memperjuangkannnya nyaris menyerah kala mendapatkan respons terus-menerus hanya berupa kesinisan dan tatapan benci. Namun, semangat bangkit kembali ketika saya menyadari kalau hati ini telah jatuh cinta. Meski masih mendapat penolakan, tetapi saya bertekad untuk memiliki.”
“Sampai pada waktu, Sandra membalas cinta saya satu hari sebelum masa pernikahan kami tiba. Ketika itu, saya berjanji hanya akan membuatnya bahagia.” Finn melanjutkan ucapannya.
Alexander terdiam. Sandra-nya memang wanita berharga. Bahkan, suami yang begitu ia cinta pun, ternyata melewati masa sulit pendekatan.
“Kalian memang pantas untuk berbahagia.” Alexander menatap Finn lekat. “Setelah Sandra sadar, saya akan langsung terbang ke Inggris. Mungkin tak kembali lagi ke Indonesia. Untuk saat ini, izinkan saya juga ikut menunggu Sandra sampai sadar. Hanya sampai masa itu, saya janji.”
Finn menoleh dan tersenyum. “Kita berteman. Di negara ini pun Anda memiliki bisnis. Saya dan Sandra akan senang jika sesekali kita saling berkunjung. Jadi, tidak perlu memutus tali silaturahmi.”
“Sandra pernah mengatakan hal tersebut, kalau kita bertiga berteman. Namun, pada waktu itu saya menolak. Tapi, kali ini saya berubah pikiran. Di pikir-pikir, tidak buruk juga.” Alexander menyodorkan tangannya ke arah Finn. “Kita adalah teman.”
Finn menerima uluran tangan tersebut. Kemudian, mereka berdua berpelukan.
Berdamailah dengan waktu. Segala rasa cinta, rindu, luka akan segera sirna dengan seiring bergantinya malam menjadi siang secara terus-menerus. Meski menempuh hal tersebut mungkin butuh masa ribuan hari. Tapi, percayalah kebahagiaan kelak akan menyingsing.
__ADS_1