
Sumber: Musixmatch
Judul: Naik-naik ke Puncak Gunung
Cipt. Ibu Sud
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Kiri, kanan, kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri, kanan, kulihat saja
Banyak pohon cemara
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Naik, naik ke puncak gunung
Tinggi, tinggi sekali
Kiri, kanan, kulihat saja
Banyak pohon cemara
Kiri, kanan, kulihat saja
Banyak pohon cemara
Sepanjang perjalanan Sandra menyanyikan lagu yang berjudul Naik-naik ke Puncak Gunung. Membuat Finn menggelengkan kepala sekaligus tertawa. Ia cukup terhibur dengan polah sang istri.
Gaya dan mimik bak murid TK yang sedang melakukan study tour. Ceria, tidak bisa diam, selain bernyanyi juga terus berceloteh.
Finn mengendarai mobilnya sendiri. Ia benar-benar hanya ingin berdua dengan Sandra.
“Honey, nanti malam kita keluar makan jagung bakar di Warung Patra-Gadog. Pemandangan di sana sangat bagus dan pas sekali menikmatinya bersama orang tersayang, kamu.” Sandra mencium pipi Finn. Membuat pria itu tersenyum senang. “Pulangnya, mampir sebentar ke tempat ubi bakar Cilembu, ya. Aku mau makan yang masih panas.”
“Oke.”
See, terus berbicara. Di mobil hanya berdua, tetapi ramai oleh suara Sandra seorang.
“Besok, pagi-pagi sekali kita ke kebun teh. Jalan kaki berdua, bergandengan tangan, kita kan sedang kasmaran. Pokoknya, dunia ini sementara hanya punya kamu dan aku.” Sandra kembali mengecup pipi Finn. “Lalu, kita cari bubur ayam dengan minum teh hangat tanpa gula. Hm, nikmatnya. Baru membayangkannya saja sudah membuat air liurku hampir menetes.” Ia gemas sendiri.
__ADS_1
“Oke.”
“Sorenya, kita makan sate maranggi dengan sambel oncom. Enaaaaakk sekali!” Sandra mengucapkan dua kata terakhir dengan mata tertutup dan bibir yang mencecap. Seolah-olah tengah merasai makanan tersebut. “Aku sudah tidak sabar lagi.”
Finn menoleh dan mencubit gemas pipi Sandra dengan satu tangan. Kemudian, membelai puncak kepala sang istri. “Oke. Atur saja. Aku menurut.”
Sandra meraih tangan sang suami dan mengecupnya satu kali kemudian melepasnya. “Makin cinta sama kamu. Selama di puncak kita akan bersenang-senang. Jalan-jalan, kulineran, berfoto, menikmati pagi hari dengan udara segar tanpa polusi, menghabiskan malam dengan merasakan hawa dingin puncak. Kamu tahu, Honey? Aku sudah menyusun jadwal untuk kita full selama 5 hari ini.”
“Hanya itu?”
Sandra terlihat berpikir kemudian berkata, “Memang ada yang terlewat, ya?”
“Sepanjang malam di atas ranjang. Kamu dan aku akan menghabiskan waktu membuat dedek bayi. Tanpa istirahat. Sampai puas hingga tertidur pulas.”
Sandra yang sedari tadi berceloteh seketika membisu. Pipinya berona merah dan salah tingkah. Ia mengalihkan pandangan ke arah luar jendela.
Finn melirik Sandra. Ingin sekali ia tertawa melihat sang istri langsung berhenti bicara.
“Bee, kenapa diam?” tanya Finn dengan lembut.
“Harus banget, ya, mempertegas hal tersebut?”
“Loh, harus. Wa-jib. Kalau perlu catat itu di jadwal yang sudah kamu susun. Tulis paling atas, supaya selalu ingat.”
“Honey, iiiihh!”
Finn tertawa. Ia gemas sekali dengan sang istri yang seperti pengantin baru. Padahal, dari tadi juga mencium pipinya terus.
Melangkah bersisian. Sandra bergelayut di lengan Finn dengan erat seraya bersenandung lagu cinta milik Ed Sheeran-Perfect.
“Bee, duduk dengan tenang disini. Aku urus dulu konfirmasi reservasi. Berhenti bernyanyi sampai aku kembali. Jangan umbar suara merdumu. Aku nanti cemburu. Oke.” Finn membelai puncak kepala Sandra.
“Oke, Tuan Posesif.”
Sandra benar-benar menurut. Ia duduk manis.
Sambil menunggu sang suami selesai. Istri Finn itu mengambil benda pipih di dalam tas dan berniat membuka aplikasi game ‘Candy Crush’. Satu-satunya permainan yang ia punya di dalam ponsel.
“Halo, My Lady.”
Suara seseorang dari arah depan membuatnya urung membuka aplikasi permainan. Sandra terdiam sesaat kemudian mendongak. “Alexander!”
Alexander tersenyum. “Apa kabar?”
Sandra tersenyum kikuk. “Baik. Kau sedang apa disini?”
“Bukankah, ini tempat umum.” Alex tertawa kecil. “Ini hotel, My Lady. Tentu aku kesini untuk menginap.”
Sandra mengernyit. “Menginap?”
“Aku ada urusan bisnis di sekitar sini.” Alexander memberi alasan mengada-ada agar Sandra tidak curiga.
__ADS_1
Sandra mengangguk. “Jadi, begitu.”
“Kau sendiri sedang apa disini, My Lady?”
“Honeymoon.” Tiba-tiba, Finn datang dan berkata demikian. Bahkan, langsung menyambar bibir sang istri, menciumnya sebentar. Perbuatan yang memang sengaja ia lakukan.
Hal tersebut memang sukses membuat Alexander panas.
“Honey.” Sandra kaget akan kehadiran Finn dan langsung berdiri.
Finn menatap Alexander dengan santai. Ia cukup tahu siapa pria bule di hadapannya ini. CEO Hamilton Company yang hampir menipunya dengan mengiming-iming proyek besar.
Finn tak menyangka bertemu kembali dengannya. Bahkan, dari kejauhan melihat CEO Hamilton itu mendekati sang istri. Oleh karena itulah, putra Chris Liam itu langsung bergegas menghampiri Sandra.
Alexander pun balas menatap Finn. Namun, memberikan tatapan permusuhan.
Sandra mencoba memutuskan tatapan Finn dan Alexander. Dengan cara saling mengenalkan mereka.
“Alex, perkenalkan ini suamiku, Finn Elard Liam.” Kemudian, Sandra menatap sang suami. “Honey, Alex adalah temanku.” Ia sengaja mempertegas kata terakhir agar tak ada salah paham.
Finn tersenyum. Ia mengulurkan tangan kepada Alexander. “Senang bertemu dengan Anda, Teman. Saya suami dari Sandra Rein, Temanmu," ucap Finn menekankan kata terakhir.
Alexander merasa kata demi kata yang Finn ucapkan adalah ejekan. Tapi, ia harus bisa menguasai diri jika masih ingin dipandang baik oleh Sandra.
Alexander menjabat tangan Finn. “Ya, senang bertemu dengan Anda juga. Saya dan Sandra kebetulan sangat akrab ketika ia kuliah di Bandung. Bukan begitu, Sandra Rein?” Ia sengaja melontarkan kata-kata tersebut agar Finn cemburu.
Sandra tercengang mendengar penuturan blak-blakan Alexander. Ia hanya takut sang suami salah paham. Baru saja ingin meluruskan ucapan pria bule itu, Finn sudah lebih dulu bersuara.
“Sayang sekali,” ucap Finn melemparkan tatapan iba ke arah Alexander.
“Apa maksudmu?” tanya Alexander mulai geram.
Sebelum menjawab pertanyaan Alexander, Finn menoleh ke arah Sandra agar sang istri menjauh. “Aku lupa tadi meminta kunci kepada resepsionis. Boleh aku minta tolong ambilkan, Bee?”
Sandra mengangguk. “Tentu, Honey.”
“Terima kasih, Bee.” Finn mengecup bibir Sandra dan membelai puncak kepala sang istri.
Alexander menatap jengah dengan kelakuan Finn terhadap Sandra. Ia memalingkan wajah sesaat. Enggan melihat adegan tersebut.
Sandra pun langsung bergegas pergi meninggalkan dua pria tersebut.
Finn menghampiri Alexander. Meski kesal, tetapi ia menyembunyikannya dengan bersikap tenang. Agar sang rival tidak merasa menang.
“Sayang sekali, wanita secantik dan luar biasa seperti istriku hanya akrab sebagai teman. Seharusnya, saat itu Anda memanfaatkan kesempatan untuk merebut hatinya agar menjadi milikmu. Karena kalau sekarang ingin mengejar, Anda terlambat. Jangan pernah bermimpi bisa merebut belahan jiwaku, Tuan Alexander Hamilton.” Finn menepuk bahu sang bangsawan.
“Satu lagi, jangan bertanya-tanya kenapa saya bisa tahu. Kita sama-sama seorang pria. Sorot matamu saat memandang istriku terlalu terlihat kalau Anda begitu memujanya,” lanjut Finn. Kemudian, berlalu pergi meninggalkan Alexander.
Alexander menatap kepergian Finn dengan tangan mengepal. Mimik kesal. Hati sebal. Ia pun menyetujui ucapan sang rival. Kalau terlambat mendapatkan Sandra dengan penuh sesal.
__ADS_1