
Suami-istri produktif. Keduanya termasuk orang berkompeten di bidang masing-masing. Jika ditelaah, keahlian mereka saling berkaitan.
Sebuah bangunan yang telah rampung. Akan membutuhkan seorang desainer interior untuk mempercantik isi dari setiap ruangan.
Baik Liam Group atau Field Construction pun sering melempar job yang berkaitan dengan interior kepada Luxury Interior Design. Tidak melulu Sandra yang mengerjakan.
Sandra pun sudah tidak lagi turun ke lapangan. Ia hanya menggambar desain dan memantau dari jauh. Para desainer interior lain yang sekarang sering wara-wiri keluar. Semua atas titah Tristan.
Tristan cukup mengerti. Ia tak ingin Sandra terlalu banyak bekerja sehingga mengabaikan rumah tangganya nanti. Begitu saja, tetap pekerjaan menumpuk membuat sang adik sibuk.
Luxury Interior Design memang sedang meroket. Belum lagi perusahaan raksasa sekelas Liam Group sudah menggaet untuk menjadi partner.
Finn memilih bukan karena keserta-mertaan perusahaan interior itu milik keluarga sang istri. Tapi, memang kinerja mereka selalu bagus dan memuaskan. Semua bekerja secara profesional. Dan, tidak ada yang merugi apa pun.
“Masuk!” seru Sandra setelah suara ketukan pintu terdengar.
“Dek.”
“Tumben punya sopan santun.”
Tristan mendengus. “Ketuk pintu salah. Enggak juga salah.”
Sandra tertawa. “Ada apa?”
“Ada email masuk dari perusahaan asing, Hamilton Company. Mengajak kerjasama. Tapi, belom jelas. Besok kita meeting dengan mereka.”
Hamilton company? Kayak pernah mendengar nama itu. Tapi di mana, ya? Sandra membatin.
“Oke. Urus aja, Bang. Tapi, besok gue absen, ya. Mau ke kantor Finn. Meeting dengan Pak Ryuji. Kayaknya bakal lama.”
Tristan mengangguk. “Gambar untuk PT. Global sudah atau belum?”
“Sudah di tangan Benny. Tinggal di cek sebentar. Semua kerjaan aman kok.”
“Oke.”
__ADS_1
“Bang, kalo gue resign, menurut lo bagaimana?”
Tristan tersenyum. “Itu keputusan tepat. Gue juga lebih suka lo diem-diem di rumah kayak Bunda. Paling sibuknya arisan sama gibah dengan ibu-ibu kompleks.”
“Tapi, apa bisa betah gue ada di rumah aja?”
“Awal pasti sulit. Lo bakal bisa karena terbiasa. Percaya sama gue.” Tristan menghampiri dan menepuk bahu sang adik.
“Lo gak takut rindu sama gue?”
“Zaman sudah canggih, rindu tinggal video call. Mau ketemu tinggal nyamperin lo. Seberapa jauh, sih, rumah danau? Hanya sejam perjalanan dari rumah.”
“Jawaban lo gak sesuai harapan gue. Drama dikit, kek. Buat seolah-olah lo gak bisa jauh dari gue.”
“Korban nonton sinetron dengan jumlah season tak berkesudahan. Jadi, begini, nih.”
Sandra mencebik. “Kemarin Finn meminta gue istirahat di rumah aja supaya cepat hamil.”
“Nah, kan. Sudah, Dek. Menurut aja. Demi kelanggengan rumah tangga lo.”
“Tapi, Bang. Banyak, kok, perempuan bekerja bisa sukses di rumah tangga dan punya banyak anak.”
“Jadi, menurut lo gue egois?”
“Lo pikir aja sendiri.”
Sandra terdiam. Selama ini ia termasuk perempuan yang aktif. Wanita itu tak bisa membayangkan jika hidupnya hanya di rumah saja. Apakah sanggup atau tidak?
Terbiasa berpikir, bekerja, bertemu banyak orang. Sandra hanya dilema, apakah kesepian nanti membuatnya betah? Atau seberapa lamakah bertahan dengan hanya berdiam diri?
Walaupun tak memungkiri, ia sangat menyukai ketenangan suasana rumah danau. Tempat itu seperti tambatan hatinya juga. Sulit untuk berpaling karena kadung sudah jatuh cinta.
🌺🌺🌺
Keesokan hari
__ADS_1
Meeting dengan Luxury Interior Design membuat CEO Hamilton Company bosan. Mengharapkan wanita impian hadir, ternyata hanya angan.
Penjelasan langsung dari CEO Luxury Interior Design seperti masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Tujuan untuk bekerja sama memang hanya sebuah alasan. Yakni, hanya ingin memiliki intensitas bertemu menjadi lebih sering dengan Sandra.
Enggan dibuat penasaran. CEO Hamilton memilih bertanya langsung. “Maaf, aku dengar disini ada desainer interior handal bernama Sandra Rein. Aku hanya ingin wanita tersebut yang menangani proyek ini. Lalu, di mana dia?”
Tristan mengernyit. Menampilkan wajah bingung. Namun, langsung mengembalikan mimik menjadi normal kembali.
“Maaf, Pak Alexander. Jika kita deal dalam proyek ini. Bukan Ibu Sandra yang akan menangani. Kebetulan, ia akan segera resign. Jadi, saya tidak bisa memberikan pekerjaan tersebut kepadanya.”
“Kenapa resign? Apa ia punya masalah?”
“Tidak. Kebetulan Ibu Sandra sudah menikah. Ia ingin mengurus suaminya. Jadi, memilih mengundurkan diri.”
Alexander mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja. Berengsek! Seharusnya aku yang berada di posisi Finn Elard. Mempunyai istri idaman, batinnya kesal.
🌺🌺🌺
Keluar dari gedung perkantoran milik Luxury Interior Design dengan wajah murka. Alex berang. Rencana tinggal rencana. Ia memilih membatalkan proyek dengan alasan hanya ingin orang berkompeten seperti Sandra saja yang boleh mengurus. Lain itu menolak.
Tristan pun tak mau memaksakan kehendak. Ia tak ingin mengorbankan rumah tangga sang adik hanya demi uang. Jadi, menolak permintaan sang ceo dari Hamilton Company. Meskipun proyek itu bernilai miliaran rupiah.
Tiba di mansion, kembali barang-barang hancur. Siapa lagi kalau bukan ulah sang tuan muda.
“John, mulai saja rencana awal kita. Jangan menunda lagi. Hancurkan Finn Elard menjadi berkeping-keping. Hingga Sandra meninggalkannya dengan benci.”
“Tuan Muda, apakah Anda yakin?”
“Tentu saja bodoh!” Alexander mencengkeram kemeja John erat dan menghempasnya secara kasar.
“Maaf, Tuan. Saya hanya ingin yang terbaik untuk Anda saja.”
“Diam bodoh! Aku hanya mau Sandra Rein! Wanita itu sudah yang terbaik! Cepat kerjakan saja apa yang aku suruh! Jangan membantah!”
“Baik, Tuan Muda.”
__ADS_1
John meninggalkan sang tuan muda sendiri.
“Finn Elard, kita mulai berperang. Aku akan menghancurkanmu sampai ke akarnya. Dan, Sandra tidak akan lagi sudi bersamamu.”