
Memanjakan diri dengan perawatan kecantikan. Menghabiskan waktu berdua bersama Vivian. Usai dari salon. Mereka langsung meluncur ke salah satu mal di kawasan Senayan.
“Sand, kita makan dulu, ya. Peliharaan di perut gue udah pada berontak minta asupan.”
“Oke.”
Memasuki salah satu restoran. Memesan beberapa makanan. Kue manis dan asin favorit Sandra pun tak terlewatkan.
Makan sambil berbincang-bincang membicarakan fashion terkini. Bahkan, keduanya sepakat untuk menghadiri salah satu show dari salah satu desainer ternama Tanah Air.
Memiliki seorang sahabat satu server. Memang sangat menyenangkan dan membuat hubungan persahabatan semakin erat. Sejak kecil pun tak pernah ada pertengkaran berarti di antara mereka berdua.
“Vi, ada tas dan sepatu kece banget. Limited! Habis ini, kita langsung cabut ke toko itu, ya.”
“Kembaran, yuk. Udah lama kita gak beli barang sama.”
“Baju, deh. Kita pake sekarang.”
“Clubbing sekalian.”
“Aduh, jangan, deh. Nanti Finn marah.”
“Ah, iya. Gue lupa lo udah merit.”
“Dasar.”
“Nyesel gak nikah muda?”
“Berhubung laki gue itu nyaris sempurna. Jadi, enggak tuh.” Sandra tertawa.
“Hm. Gue mencium aroma jatuh cinta.”
“Gue cinta banget, Vi.”
Vivian tertawa. “Akhirnya, setelah kepala lo puyeng sampe berasap perkara mau merit sama doi. Sekarang jatuh cintrong beneran. Gue ikut bahagia.”
“Harus dong. Lo kudu turut berbahagia.”
Keduanya tertawa senang.
“Sand, gue ke toilet dulu, ya. Mau ganti pembalut.”
__ADS_1
“Oke.”
Sepasang mata yang sedari tadi bukan hanya melihat, tetapi juga memasang telinga. Mengepalkan tangan. Wajahnya mengeras mendengar penuturan cinta secara gamblang dari sang wanita impian.
Ketika Sandra seorang diri. Orang tersebut langsung memanfaatkan peluang. Menghampiri dengan langkah perlahan dan memasang wajah innocent. Berdiri tepat di samping dan berdeham dua kali.
Sandra spontan menoleh. Menampilkan wajah terkejut dengan mata tak berkedip sesaat. Di sampingnya telah berdiri sesosok pria bule tampan blasteran Indonesia-Inggris.
Laki-laki yang masih memiliki garis keturunan darah bangsawan itu menyunggingkan senyum. “Hai, My Lady. Apa kabar?” Sebuah tangan mengulur ke arah Sandra meminta bersalaman.
“Alexander! Ini surprise.” Sandra tersadar dari keterkejutan. Kemudian, berdiri dan menjabat tangan tersebut. “Kabarku baik. Silakan duduk.”
Alexander mengangguk. Mendudukkan diri tepat di depan Sandra.
“Sendirian?”
“Tidak. Bersama sahabatku. Dia sedang ke toilet.”
“Apa aku menganggu?”
“Tidak. Apa kabarmu? Kapan kau kembali ke Indonesia? Kenapa tidak mengabariku?”
Sandra tertawa. “Padahal, aku selalu mencoba mengubahnya. Lalu, masihkah berniat mau menjawab?”
“Tentu, My Lady.”
“Alex, please. Berhentilah memanggilku begitu. Aku bukan wanita bangsawan seperti golonganmu atau memiliki status sosial tinggi. Meskipun di era sekarang, artiannya sudah lebih luas.”
Alexander tersenyum. Wanitanya tetap rendah hati. Salah satu hal yang membuat cinta terus bersemayam.
“Aku senang menyebutmu begitu. Itu artinya aku menghormatimu. Lagi pula, kau cukup cocok mendapat panggilan tersebut.”
“Kau berlebihan. Tapi, terima kasih. Selalu sopan.”
Alex mengangguk. “Dan, kabarku baik. Aku kembali beberapa bulan lalu. Mengenai pertanyaan terakhir ... seharusnya aku yang menanyakan itu kepadamu. Pesan dariku hanya kau baca tanpa membalas.”
Sandra menatap malu Alexander. Ia menjadi lupa dengan pesan tersebut karena Finn meminta skidipapap. Bahkan, benar-benar tak mengingatnya lagi sampai dengan hari ini. Itu pun karena diingatkan.
“Itu ... maaf, Alex. Aku sudah berniat mau membalas, tetapi ... itu ....”
“My Lady, kenapa menjadi gugup? Aku tak apa. Aku memaklumi. Kau pasti sedang sibuk.”
__ADS_1
Sandra tersenyum. “Terima kasih.”
“Aku dengar kau sudah menikah. Selamat, semoga berbahagia selalu.” Terselip senyum misterius dari bibir itu.
“Terima kasih. Maaf, jika tak mengundangmu. Aku tidak tahu keberadaanmu.”
"Tak apa. Itu salahku karena beberapa tahun terakhir sangat sibuk. Sehingga tak sempat memberi kabar.”
“Bukan salahmu. Aku tahu. Kamu pasti sangat sibuk. Lalu, bagaimana kabar si Dark?”
“Semakin gagah. Anak buahku merawatnya dengan baik. Karena, itu adalah milikmu.”
Sandra tertawa. ”Kau ini. Itu kepunyaanmu. Aku hanya menyukai dan menyayanginya saja.”
Alexander tersenyum. “Bagaimana jika si Dark kuberikan kepadamu? Anggap saja sebagai kado pernikahan.”
Sandra menggeleng. “Tidak usah. Terima kasih, Lex. Maaf, bukan menolak. Hanya saja, aku takut tidak memiliki waktu untuk merawatnya.”
“Baiklah, nanti akan aku beri kado lain. Yang berikutnya kau tidak boleh menolak.”
Sandra mengangguk. “Iya.”
“Well, My Lady. Aku harus pergi. Masih ada urusan lain.”
“Oke.”
Alexander berdiri. Meraih tangan Sandra bermaksud untuk mengecup.
Namun, Sandra menarik tangannya menjauh. Kemudian, tersenyum sopan.
Alexander terkejut. Hatinya terasa sakit mendapat perlakuan demikian dari sang wanita impian. Ia menutupi rasa sesak di dada dengan tersenyum. Lalu, berlalu pergi dari hadapan Sandra.
Alexander tidak benar-benar pergi. Anak buahnya memberi kode jika Vivian sudah selesai dengan urusannya di toilet. Oleh sebab itu, ia mengakhiri pembicaraan dengan sang wanita impian.
Alexander masih memandang Sandra dari kejauhan. Penolakan wanita itu membuat hatinya nelangsa.
“Dulu kita begitu dekat, tetapi sekarang seperti berjarak. Aku merindukanmu, Sandra Rein.”
Josh Hartnett (young) as Alexander Hamilton
__ADS_1