ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Alexander Hamilton


__ADS_3

Tamparan keras berkali-kali dilayangkan Alexander kepada Kanaya. Wanita itu sudah lemah tak berdaya di atas lantai.


Wajah mungil Kanaya penuh lebam akibat pukulan tersebut. Berteriak meminta ampun, tetapi pria bule yang masih memiliki darah bangsawan itu tak mengindahkan.


Masih kesal karena belum puas melampiaskan amarah. Rambut Kanaya ditarik oleh Alexander ke atas sangat kencang. Sehingga semakin membuat wanita itu mengaduh kesakitan.


Alexander sangat berang. Mengingat Kanaya kemarin sempat mencoba melarikan diri. Pagi tadi, anak buahnya baru menemukan wanita itu kembali dari tempat persembunyian di sebuah gedung kosong.


“Pelacur sialan! Mencoba kabur dariku, hah!” seru Alexander.


“Ampun, Tuan,” lirih Kanaya seraya berlinang air mata.


“Seharusnya kau mengirimkan foto dan video itu setelah Sandra sampai rumah! Lihat saja! Sampai aku dengar Sandra tak selamat! Aku akan membunuhmu!” geram Alexander.


Alexander mengira, penyebab Sandra kecelakaan karena terkejut melihat video dan foto yang dikirim Kanaya. Jadi, hilang konsentrasi saat mengemudi. Oleh sebab itu, ia begitu marah karena kebodohan mantan dari Tristan tersebut.


“Saya minta maaf, Tuan. Jangan bunuh saya.” Kanaya kembali berkata dengan nada lirih dan ketakutan.

__ADS_1


“Apa katamu? Maaf! Jika Sandra sampai meregang nyawa, jangan harap! Sekarang lebih baik kau berdoa agar wanitaku selamat! Hanya itu satu-satunya harapanmu untuk terus hidup!” Alexander menoleh ke arah pengawal. “Masukkan pelacur itu ke penjara ruang bawah tanah! Jangan sampai ada yang menemukannya termasuk Finn!”


Kanaya berontak dan berteriak, tetapi tiada arti. Karena, kedua tangannya dipegang sangat erat oleh dua pengawal berbadan besar dan berwajah sangar.


Beberapa jam kemudian


Alexander mengembangkan senyum. Sekarang, ia merasa lega. Karena, menurut penuturan mata-matanya di sana, Sandra sudah sadar.


Mereka juga mengatakan perihal keadaan Finn. Bagaimana ia ditolak keluarga Sandra. Rivalnya tersebut telah meninggalkan rumah sakit sejak satu jam lalu.


Kebencian Alexander kepada Finn semakin menjadi kala pengajuan kerjasama tiga proyek beberapa waktu lalu ditolak. Pria bule itu merasa terhina oleh penolakan tersebut.


Kejadian beberapa waktu lalu


Finn tersenyum. Ia menampakkan gesture dan wajah tenang. Tampak berbanding terbalik dengan Alexander yang menampilkan mimik kesal dan tak sabar.


“Jika saya menolak. Apakah Anda tersinggung, Pak Alexander?” tanya Finn dengan suara pelan, tetapi tegas.

__ADS_1


Finn dan Alexander saling melemparkan pandangan. Mimik mereka masih sama seperti sebelumnya.


“Dengan proyek bernilai fantastis, saya rasa Anda tak akan menolak, Pak Finn.” Alexander percaya diri.


Finn tersenyum. “Tapi, maaf. Saya merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam proyek tersebut. Saya tidak mau menjadi tumbal.” Ia berkata dengan tenang.


Alexander kaget, Finn seperti mengetahui rencana jahatnya. Ia menatap suami dari Sandra dengan kilat dendam, tetapi beberapa saat kemudian mengubah sorot mata tersebut menjadi normal kembali.


“Selera humor Anda cukup baik sampai-sampai berpikiran seperti itu.” Alexander tertawa.


Finn tersenyum dan dengan santai berucap, “Saya serius. Di dalam bisnis, jarang sekali saya mau bercanda, Pak Alexander.” Ia menjeda omongan sesaat. “Baiklah, sepertinya sudah tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kalau begitu, saya permisi.”


Finn beranjak bangun dan menghampiri Alexander. Kemudian, berbisik, “Lain kali, pakai cara yang smart jika ingin menjebak saya. Karena, saya cukup pandai membaca situasi dan pola kerjasama aneh yang Anda berikan tersebut. Satu lagi, kita tidak saling mengenal, tetapi dari sorot mata Anda menyiratkan dendam mendalam kepada saya. Well, Anda tahu? Tidak mudah menjatuhkan seorang Finn Elard Liam, Alexander Hamilton.”


Finn menepuk bahu Alexander. Kemudian, berlalu pergi bersama Roy mengekor di belakang.


Sejak saat itu, Alexander semakin menggebu. Ia ingin membuat Finn bagai butiran debu. Kalau perlu mati sampai menjadi abu.

__ADS_1


__ADS_2