ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Balas dendam


__ADS_3

Satu jam!


Dua jam!


Tiga jam!


Belum ada satu pun telepon masuk dari Finn. Sandra sudah mulai uring-uringan dan semakin sedu sedan. Karena rindu semakin menyergap, ia memutuskan untuk menyusul sang suami.


Sandra mengganti pakaian. Mengenakan celana panjang khusus ibu hamil berwarna biru tua dan kemeja lengan panjang digulung sampai lengan warna biru langit. Sneakers putih dan rambut diikat satu melengkapi penampilan. Hari ini, ia ingin berpakaian santai.


Lantas, Sandra mengambil senjata api di dalam brankas kecil. Pistol yang tak pernah tertinggal saat ia pergi ke mana pun. Bukan untuk melukai melainkan menjaga diri. Memasukkan benda tersebut ke dalam tas bersamaan dengan ponsel dan siap berangkat.


Sandra meminta sopir untuk mengantar. Dua pengawal tak ketinggalan, selalu setia menjaga sang nyonya muda.


Namun, nahas sekali, di tengah jalan mobil mogok. Sang sopir turun untuk melihat kondisi. Ternyata, sebuah paku besar sukses menusuk ban. Menyebabkannya kempis seketika.


“Bu, ban mobil melindas paku.” Sang sopir memberi informasi kepada Sandra.


Sandra yang tengah bertelepon, sejenak menyahuti sang sopir. “Lekas telepon mobil derek. Aku naik taksi online saja ke kantor.”


Baru saja turun dari mobil. Merealisasikan rencana pun belum. Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan kendaraan Sandra. Seseorang keluar dari sana dan menghampiri wanita tersebut.


“Ibu Sandra, mobil Anda mogok?”


Sandra cukup terkejut akan kehadiran John. Sangat pas sekali dengan momen insiden kecil yang tengah terjadi. Namun, beberapa detik kemudian tersenyum dan mengangguk. “Iya.”


“Ibu Sandra mau pergi ke mana?”


“Kantor Liam Group.”


“Biar saya antar.”


“Terima kasih, Pak John. Saya mau naik taksi online.”


“Sudah memesan?”


“Belum.”


“Kalau begitu naik mobil saya saja. Kebetulan saya melewati kantor Liam Group.”


“Benarkah?”


“Iya. Mari, Bu.”


“Tapi, pengawal saya ….”


“Ikut saja. Tapi, hanya bisa satu orang.”


Karena, rekam jejak John menurut Sandra baik. Bahkan, pria itu saat berseteru memihaknya. Ia tak banyak berpikir lagi untuk menyetujui usul tersebut.


Sandra yang masih belum mematikan sambungan telepon, lantas meletakkan kembali di telinga. Ia terlibat pembicaraan sesaat dengan seseorang di seberang sana kemudian mengangguk. Melakukan lebih dulu apa yang diperintahkan.


Lalu, tanpa mematikan sambungan telepon lagi, Sandra memasukkan ponsel ke dalam sela celana bagian belakang. Lalu, menutupi dengan kemeja. Menyembunyikannya dengan rapat agar tak terlihat.


Sandra menaiki mobil bersama dengan satu pengawal bersamanya duduk di kursi belakang. Sementara John duduk di samping pengemudi.


“Terima kasih sebelumnya, Pak John.”


“Sama-sama, Ibu Sandra. Saya senang dapat membantu Anda.”


Sandra mengangguk. Mobil pun mulai melaju, bukan dengan tujuan Liam Group, tetapi arah lain.


🌺🌺🌺


Di tengah jalan, Sandra mengernyit. Karena, mobil memasuki kawasan tol arah luar kota.


“Maaf, Pak John. Sepertinya kita salah jalan?” tanya Sandra karena merasa heran.

__ADS_1


“Jalan ini sudah benar, Ibu Sandra.” John menjawab seraya menoleh dan mengacungkan pistol ke arah wanita hamil itu.


Sang pengawal dengan sigap langsung mengeluarkan senjata api juga. Namun, pistol itu dirampas John.


Sang pengawal tak berkutik. Kala pistol lain menempel tepat di belakang kepalanya dan juga sang nyonya muda.


Dua orang anak buah John ternyata bersembunyi di sana. Rencana yang telah tangan kanan Alexander itu susun.


“Lepaskan Ibu Sandra!”


Permintaan dari pengawal tersebut sontak membuat John tertawa.


“Lepaskan pengawal saya. Kau hanya menginginkan saya, bukan?” Sandra angkat bicara. Namun, ia tetap bersikap tenang.


“Ibu Sandra, biarkan saya terus bersama Anda,” pinta sang pengawal.


Baru saja Sandra mau menyahuti sang pengawal, John lebih dulu berbicara. “Tidak akan ada yang dilepaskan!”


Pengawal tersebut ingin membalas ucapan John. Namun, sejurus kemudian diam karena Sandra memintanya demikian.


Sandra memejamkan mata sesaat. Menarik napas panjang dan mengembuskan perlahan. Ia tak menyangka kehidupan yang tenang hanya berjalan singkat. Perseteruan dengan Alexander dan koloninya ternyata belumlah usai. Wanita itu sudah sangat merasa lelah.


“Apa mau Anda?” tanya Sandra kepada John.


“Kematian Anda.”


“Kenapa? Bukankah urusan kita sudah selesai? Saya sudah berbicara empat mata dengan Alex dan tuan muda-mu mengerti. Hal tersebut juga keinginan Anda, bukan? Lalu, apa lagi?” tanya Sandra bertubi-tubi.


“Usai pembicaraan terakhir kalian, tuan muda menjadi murung. Setiap malam bermabuk-mabukan. Hingga pada akhirnya nyaris tewas dan sekarang di rawat di rumah sakit. Semua karena Anda.”


“Jika Alex belum sepenuhnya menerima, mengapa Anda menyalahkan saya?”


“Tuan muda pria yang baik.”


“Saya tahu. Lantas?”


“Saya terlalu lelah berargumentasi. Tolong, tak bisakah kita semua hidup dengan tenang? Lagi pula, tahukah akibat perbuatan kalian dulu? Saya pun nyaris frustrasi, sedih, mental sempat down.”


“Saya tidak ingin mendengar tentang Anda.”


“Saya pikir, Anda pria tua yang bijak, ternyata tidak. Kalian tak lebih dari sekumpulan laki-laki egois. Tak peduli dengan hasil perbuatan yang dilakukan baik dulu ataupun sekarang telah menjatuhkan mental seseorang. Well, saya bukan tipe pendendam. Jika Alex nyaris frustrasi, bagaimana kalau kita menganggapnya impas? Dulu saya pun terserang rasa yang sama. Adil, bukan?”


“Anda pandai berkata rupanya.”


“Terserah. Saya akan menjenguk Alex dan kembali meminta maaf jika itu membuat Anda puas. Tidak perlu ada pertumpahan darah. Bukankah Anda juga menyukai perdamaian, Pak John?”


“Sayangnya, kali ini tidak. Anda lebih baik enyah dari muka bumi ini agar ketentraman hidup tuan muda kembali.”


“Anda yakin ketika saya mati, Alex tak makin frustrasi? Maaf, mengingat tuan muda begitu mencintai saya, siapa tahu ikut menyusul ke alam baka? Semacam bunuh diri. Apakah itu yang Anda inginkan?”


“DIAM!”


Dasar sinting! batin Sandra. Ia enggan menyahuti teriakan tersebut. Wanita hamil itu sungguh-sungguh sudah lelah.


🌺🌺🌺


Mobil sedan memasuki gerbang besi yang terlihat sudah berkarat. Tingginya sekitar kepala orang dewasa dengan tembok beton juga setara. Hanya ada satu penjaga di sana.


Lalu, Sandra dan sang pengawal dipaksa turun. Saat kaki memijak tanah, pandangan tertuju pada sebuah bangunan tua dua lantai yang terpampang di depan mata.


Saat tersebut, dimanfaatkan oleh sang pengawal untuk berontak. Dengan keahlian bela diri yang mumpuni, ia menghajar dua penjaga yang sudah menurunkan todongan pistolnya dari kepala.


Sandra dan John terkejut. Perkelahian di depan mata tengah berlangsung. Sang pengawal berhasil menjatuhkan dua penjaga dan saat ini tengah berkelahi dengan yang lain.


John dengan sigap mengeluarkan senjata api. Mengarahkannya kepada sang pengawal.


Sandra yang melihat hal tersebut tak membiarkan. Wanita itu mendorong tubuh John hingga peluru memeleset.

__ADS_1


Kesal dengan kelakuan Sandra, John bangun dan menarik rambut wanita tersebut. “Perempuan sial!”


Sandra tak tinggal diam. Ia menendang kaki John. Kemudian, meninju lelaki tersebut sambil berdoa di dalam hati semoga sang janin baik-baik saja.


Mendengar keributan, para anak buah John yang berada di dalam mulai keluar. Jumlah mereka ada lumayan banyak.


Sandra pun mulai terserang panik. Ia berpikir sesaat agar salah satu dari mereka minimal bisa selamat supaya bisa membawa bala bantuan.


Sandra menoleh ke arah sang pengawal. Melihatnya masih bertarung. Namun, sangat dekat dengan pintu gerbang.


Saat itu juga, Sandra tahu harus melakukan apa. Meski nanti harus sendirian disekap oleh komplotan tersebut. Akan tetapi, tak ada pilihan lain lagi.


“LARI! SELAMATKAN DIRIMU! PERGILAH MENJAUH! CEPAT!” teriak Sandra.


Sang pengawal menoleh, ia tak lantas pergi. Namun, mendengar teriakan Sandra kembali, terpaksa menurut. Pria itu melompati tembok beton.


Sontak anak buah John menutup mulut dan memegangi kedua tangan Sandra agar diam. Dan, yang lainnya mengejar sang pengawal.


John murka. Ia menghampiri Sandra untuk melampiaskan amarah. Menampar pipi wanita itu dua kali.


Kemudian, John berseru, “Dasar wanita bodoh! Anda menyelamatkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri!”


Sambil menahan nyeri bekas tamparan John, Sandra berkata dengan setengah berteriak, “Manusia bodoh meneriakkan orang lain bodoh! Sungguh memalukan!”


John menahan kesal. Kemudian, memerintahkan anak buahnya membawa masuk Sandra.


🌺🌺🌺


Kaki dan tangan Sandra diikat dengan posisi terduduk di sebuah kursi kayu. Wajah wanita hamil itu tak terlihat gentar sedikit pun. Justru memberi mimik menantang dengan sorot mata tajam terus menatap John.


John menghampiri dan merampas tas Sandra. Mengeluarkan semua isinya. Tercengang sebentar kemudian menatap wanita itu.


“Wah, Ibu Sandra. Rupanya, Anda seorang wanita yang pandai menjaga diri. Sampai pistol saja dibawa ke mana pun. Terlihat feminin ternyata pemberani.” John berujar.


Tatapan mata Sandra berubah sinis.


“Sudah siap untuk mati, Ibu Sandra?” lanjut John.


“Tentu. Bagaimana denganmu? Sudah siap juga kehilangan Alex?”


“Saya akan mencegah hal tersebut terjadi.”


“Kalau begitu, Anda sudah siap menyusul saya?”


John tertawa. “Saya tidak akan secepat itu menghadapi kematian.”


“Sayangnya, jika kematian menjemput saya, Finn tak akan membiarkan Anda hidup. Minimal membusuk di penjara.”


“Anda memang wanita yang tak takut menghadapi apa pun. Pantas tuan muda tergila-gila.”


“Saya memang bukan wanita cengeng.” Oh, demi Tuhan! Apa yang baru saja aku katakan? Padahal, akhir-akhir ini menangis terus hanya perkara rindu kepada Finn.


“Jadi, benar Anda tak takut?”


“Harus takut kepada apa? Kematian? Setiap orang pasti mati. Atau mengharapkan saya ketakutan dengan Anda?” Sandra tertawa. “Jangan bermimpi. Anda tak lebih dari seorang bajingan tengik yang menjijikkan.”


“Perempuan sial!” Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Sandra.


Bukannya takut. Justru Sandra balas dengan meludahi John hingga tepat mengenai wajah. “BERENGSEK!”


Geram oleh ulah Sandra, satu tamparan mendarat lagi. Kali ini, menyebabkan sudut bibir berdarah. Wanita itu menahan rasa sakit.


“Anda benar-benar ingin mempercepat kematian!”


“Jika ingin membunuh, jangan terlalu banyak bicara. Lakukan saja dengan cepat. Atau … posisi kita akan berbalik.”


Sandra dan John bersitatap. Mereka saling melemparkan tatapan membunuh.

__ADS_1


__ADS_2