
Suara ketukan dari stiletto berbunyi di atas lantai marmer gedung perkantoran milik Liam Group. Langkah anggun dengan kedua sudut bibir tertarik ke samping. Bagai seorang aktris, semua mata tertuju hanya kepada istri dari sang ceo.
Menatap kagum akan kecantikan dan keramahan yang hakiki. Wanita cantik itu selalu menjadi sorotan semua mata di sana ketika datang berkunjung.
Seorang pria tampan turut menatap kagum ketika berpapasan. Netra pun tak berkedip sampai menyadari sang wanita telah hilang ditelan kotak besi bernama lift.
“Siapa dia?” tanya pria tadi kepada sekretarisnya. Ia merupakan klien dari Liam Group.
“Istri dari pria yang Anda temui tadi, Pak," jawab sang sekretaris.
“Finn Elard? Jadi, bajingan itu memiliki istri secantik wanita tadi?”
“Betul.”
“Beruntung sekali dia.” Kemudian, melangkah pergi seraya menggeleng tak percaya.
Sandra keluar dari lift langsung menuju ruangan sang suami. Menyapa Roy yang langsung berdiri begitu mengetahui Nyonya Finn Elard datang. Mempersilakan istri bosnya masuk ke ruangan.
“Honey!”
Sandra menghampiri pria pujaan hati. Mendudukkan diri di atas pangkuannya dan mencium pipi yang baru dicukur tadi pagi.
“Merindukan suami tampanmu?”
“Tidak.”
“Bee ....”
Sandra tertawa. Ia turun dari pangkuan Finn. Berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil satu botol air mineral.
“Mau minum?”
“Tidak.”
Sandra duduk tepat di depan Finn. Minum sebentar. Lalu, langsung berfokus pada sang suami yang sibuk dengan laptop.
“Tuan CEO, mana pekerjaan untukku?” tanya Sandra lembut.
__ADS_1
“Tidak usah terburu-buru.” Finn menjawab dengan santai.
“Honey, aku banyak pekerjaan di kantor.”
“Kalau begitu berhentilah. Jadi, pekerjaanmu cukup mengerjaiku saja.”
“Honey, jangan begitu. Kamu kan sudah janji aku boleh bekerja.”
“Mau sampai kapan? Siapa tahu dengan kamu di rumah bisa cepat hamil? Jadi, istirahatlah.”
Sandra terdiam. Ia menunduk. Matanya berkaca-kaca. “Maaf.”
Finn langsung menyadari ucapan barusan. Ia beranjak dan menghampiri sang istri.
“Maaf, aku ....”
“Aku memang istri tak berguna. Sudah tidak pandai mengurusmu. Tidak bisa memasak. Memberikan keturunan pun aku tak sanggup. Maaf.” Sandra menangis.
Finn memutar kursi. Berlutut di depan Sandra. Menghapus air mata sang istri. Kemudian, memeluk dengan erat.
“Aku minta maaf. Aku hanya tak mau kamu kelelahan. Itu saja. Soal kamu belum hamil. Aku pun turut andil. Mungkin intensitas terlalu seringnya berhubungan menjadi penyebab. Kita kan masih hitungan baru menikah. Jadi, hasrat masih menggebu. Sudah, ya, jangan menangis.” Finn mengusap punggung Sandra yang bergetar. Ia merasa bersalah.
“Jika kamu senang. Aku juga. Tapi, kalau tidak, jangan memaksa. Aku ingin wanita bernama sandra Rein selalu bahagia dengan caranya.”
“Kenapa mau menyenangkanku, tetapi mengorbankan perasaanmu?”
“Jangan sok tahu. Aku selama ini baik-baik saja.”
“Honey ....”
“Bee, sudah, ya. Kita langsung bahas pekerjaan saja. Ayo.” Finn melepas pelukan. Menghapus lagi sisa air mata di pipi. Kemudian, menarik tangan sang istri menuju sofa.
Finn memberikan berkas kepada Sandra. “Kamu bisa mempelajarinya lebih dulu. Dalam satu Minggu desain awal harus sudah ada. Nanti tinggal revisi jika ada yang kurang cocok.”
“Iya.”
“Lusa kita meeting dengan Pak Ryuji disini.”
__ADS_1
“Oke.”
“Ini satu lagi. Coba kamu lihat. Menurutku lebih cocok beberapa ruangan dibuat terang. Bagaimana?”
Sandra melihat gambar desain tersebut dengan saksama. “Kalau ingin terlihat terang hanya cocok warna putih saja.”
“Tidak masalah.”
“Oke. Nanti aku ubah. Berarti beberapa furnitur juga harus ada yang diganti.”
“Ya. Lakukan yang menurutmu terbaik.”
“Oke.”
Finn menatap lekat Sandra. Sejak menikah, ini kedua kali melihatnya menangis.
Kali pertama saat di Maldives sewaktu membuka segel sang istri. Dan kedua adalah saat ini.
Finn berjanji tidak akan lagi membicarakan perihal keturunan kepada Sandra. Untuk seorang wanita hal tersebut ternyata cukup sensitif. Sang ceo baru menyadarinya dan ia menyesal.
“Honey, aku kembali ke kantor, ya.”
“Aku antar sampai mobil.”
“Tidak usah. Kamu kan banyak pekerjaan.” Sandra mencium bibir Finn. “Aku pergi dulu.”
“Hati-hati.”
“Iya.”
Finn menatap kepergian sang istri sampai menghilang dari pandangan. Satu Minggu lalu, sang mami sudah bertanya kepadanya kapan punya anak. Jadilah, pertanyaan seputar itu tadi keluar untuk Sandra.
Sudah enam bulan usia pernikahan. Memang belum ada tanda-tanda kalau Sandra hamil. Ingin konsultasi ke dokter. Tapi, sang ceo merasa belum perlu. Karena yakin ia dan istrinya tak memiliki masalah apa pun.
Sebenarnya Finn bukan tipikal pria penuntut. Ia tak mempermasalahkan perihal Sandra belum hamil.
Toh, Finn merasa hidupnya bahagia meski hanya berdua saja dengan Sandra. Hanya, sang mami terus bertanya.
__ADS_1
Setelah kejadian ini. Ia pun berencana akan menelepon sang mami agar tak lagi membicarakan perihal anak. Apalagi, sampai bertanya langsung kepada Sandra. Takut istri tercinta sedih.