ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Impas


__ADS_3

Hening!


Sandra menyimak dengan saksama setiap kata yang meluncur dari bibir seksi sang suami. Ia menarik sebelah sudut bibirnya. Kemudian, mengerjapkan mata. Lalu, menghampiri Finn.


Sandra memegang bahu Finn agar berdiri berhadapan dengannya. Menatap tubuh sang suami.


Sandra mulai memainkan jemarinya di bahu Finn. Terus turun menelusuri lengan berotot sang suami. Hingga sampai menyentuh jari-jari.


Tanpa Sandra sadar kalau kelakuannya telah membangkitkan gairah panas Finn. Ia mulai merasakan geIenyar. Pria itu memejamkan mata untuk menahan gejolak yang mulai terbakar.


Sandra mengangkat tangan kanan Finn. Ia menatap jemari sang suami. Memandangi cincin pernikahan yang memang benar masih tersemat di jari manis.


“Jadi, berkat cincin ini kamu selamat? Aku sungguh terharu, Honey.” Sandra menatap lekat Finn dengan seulas senyum.


Finn membuka mata dan ikut tersenyum. Menatap sang istri dengan kilat bergairah. Suara pun parau. “Iya, My Bee.”


Sandra mendekatkan kepalanya di samping telinga Finn. Kemudian, berbisik, “Lalu, kenapa memberi wanita itu cek 200 juta, Honey?” tanyanya dengan suara sensual seraya meniup kulit leher sang suami.


Finn menelan salivanya susah payah. Sensasi tiupan itu membuatnya frustrasi karena harus mati-matian menahan gairah. Rasa tak sanggup lagi oleh polah genit sang istri. Tapi, mau tak mau harus bertahan.


Sandra menjauhkan wajahnya. Ia menunggu jawaban Finn dengan senyum masih terpatri.


“Wanita itu memiliki video dan foto saat di Club. Ia meminta uang 200 juta. Jika aku tak memberi, perempuan itu mengancam akan memberitahukan kepadamu. Saat itu aku hanya takut kamu tahu dan marah kemudian pergi. Jadi, aku memberikannya.”


“Ternyata pria cerdas sepertimu bisa juga bertindak bodoh.”


“Bee, saat itu aku kalut. Otak sedang tak bisa berpikir jernih. Aku takut kehilanganmu. Aku ....”


Sandra menutup mulut Finn dengan telunjuknya. “Tenang, Honey. Setidaknya aku lega mendengarmu tak tidur dengan perempuan itu. Tapi, kenapa kamu diam saja saat aku menyobek cek tersebut?”


“Aku takut dengan kemarahanmu saat itu. Lagi pula, aku mau menjelaskan semua. Jadi, aku biarkan.”


“O, begitu. Menjelaskan karena kadung aku tahu, huh?”

__ADS_1


“Bee, aku minta maaf. Demi Tuhan, aku menyesal. Aku khilaf. Niat ke club juga bukan untuk main perempuan.”


"Hanya menyegarkan pikiran? Aku tidak yakin."


"Oke. Aku jujur. Aku mau menghindarimu karena masih kesal."


"Benar. Aku juga salah. Aku minta maaf."


"Aku memaafkanmu, Bee."


"Terima kasih. Tapi, aku belum berniat memaafkanmu."


"Bee, please. Aku minta maaf."


Sesaat Sandra tertawa kecil. Lalu, kembali berulah. Ia memegang pipi Finn. Membelai lembut wajah berewok itu. Jemari pun terus turun menyusuri leher dan dada.


“Kamu tahu, Honey? Ada dua hal yang aku tak bisa toleransi dari sebuah pernikahan.” Sandra memberi jeda pada ucapannya. Jemari mulai menari-nari di atas dada bidang sang suami.


“Apa?” jawab Finn singkat dengan balik bertanya. Mengucapkan satu kata itu pun rasanya butuh perjuangan, akibat ulah nakal sang istri. Ia sampai harus berkali-kali mengatur napas agar tetap stabil.


Wajah Finn mulai berubah. Dahi pun sudah mengeluarkan bulir keringat. Ia ketakutan.


Sejenak Finn terdiam kemudian berkata dengan lirih, “Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Please, beri aku kesempatan. Bee ....”


Lagi-lagi, Sandra menutup mulut Finn dengan jari telunjuknya. “Santai, Honey. Tarik napas panjang, embuskan perlahan.” Ia mengusap dada Finn.


“Aku minta maaf.” Finn mulai panik. Matanya memancarkan penyesalan sangat dalam.


“Well, aku bukan wanita pendendam. Bahkan, enggan berbuat kasar kepada siapa pun kalau tidak terpaksa.” Tangan Sandra mulai menyusup ke dalam kaus sang suami. Bermain di perut six-pack itu. Jemarinya semakin liar membelai dengan berputar-putar seperti angka nol. “Kamu mau mendengar yang kedua?”


“Ya.” Finn pasrah. Di matanya kini, Sandra sangat seksi, menggairahkan, sekaligus menakutkan.


“Kedua adalah kekerasan dalam rumah tangga. Tak ada wanita mana pun yang ingin memiliki nasib malang bersuamikan pria tukang memukuli istri. Oh, aku sangat membenci hal tersebut. Tapi, bersyukurnya kamu tak pernah seperti itu.”

__ADS_1


“Tentu. Tidak akan pernah, Bee.”


Sandra tersenyum. Tangannya sudah ia keluarkan dari dalam kaus sang suami.


Saat itu juga terdengar helaan napas lega dari Finn. Karena, belaian sang istri tadi membuat hasrat bergelora, tetapi harus menahan. Dan itu membuatnya tersiksa.


“Aku senang mendengarnya. Tapi ....” Sandra kembali menyusuri dada bidang Finn. “aku ingin impas.”


Finn mengernyit. “Impas?”


“Kamu nyaris berselingkuh dan aku ....” Sandra menatap lekat Finn seraya menurunkan jemari ke area perut. Berhenti bergerak tepat di sana.


Kemudian, satu tinju mengayun. Mendarat sempurna dengan tenaga maksimal tepat di perut Finn. Sehingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.


“Bee ...." Finn menunduk lemah seraya memegangi perut. Ia tak menyangka pukulan sang istri bisa membuat kesakitan. Oh, No! Apakah perempuan yang tengah marah membuat tenaganya naik menjadi berkali-kali lipat? Kalau begitu, tak akan lagi aku membuat wanita berang. Mengerikan!


“Ups! Sorry, Honey. Kita impas.” Duh, tangan sakit juga abis ninju Finn. Itu perut keras banget. Tuhan, aku minta maaf. Karena, telah meninju suamiku. Aku janji ini yang pertama dan terakhir.


“BOS!” Roy berteriak seraya berlarian menghampiri Finn dan Sandra. Kemudian, mengernyit melihat sang atasan yang memegangi perut dengan wajah kesakitan.


“Anda sakit perut? Pasti karena kelaparan, ‘kan? Maaf, Bos. Saya lupa memberikan makanan yang tadi sudah dibeli. Begitu ingat langsung mencari keberadaan Anda. Ternyata ada disini,” lanjut Roy.


“Roy! Kau itu bagaimana, sih? Kenapa bisa lupa memberikan makanan? Lihat suamiku sampai perutnya sakit akibat belum makan! Keterlaluan! Kemarikan bungkusan itu!” Sandra menariknya paksa. Ia hanya pura-pura kesal kepada Roy. “Cepat papah Finn ke ruangannya segera!”


Tanpa merasa bersalah, Sandra berjalan lebih dulu. Meninggalkan Finn dengan wajah melongo.


Kemudian, Finn tertawa kecil. Ah, Bee. Kamu wanita cantik dengan tingkah yang luar biasa menggemaskan. Akting barusan sangat bagus dan meyakinkan sampai Roy pun percaya, batinnya.


“Bos, mau saya gendong punggung?”


“Tidak usah.”


“Kalau begitu biar saya bantu papah.”

__ADS_1


Finn menggeleng. “Aku masih sanggup berjalan sendiri.” Dengan bertatih-tatih, ia berlalu pergi dengan meninggalkan Roy yang berganti melongo.


"Seperti ada yang aneh? Ah, terserahlah!" Roy menyusul Finn dan berjalan mengekor.


__ADS_2