ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Tergoda


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, Finn sudah berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta. Kepergiannya untuk proyek yang sedang ia incar. Sang ceo berharap kedatangannya langsung dapat memenangkan tender.


“Roy, semua sudah kau siapkan?”


“Sudah, Bos. Beres. Semua pakaian Anda pun sudah masuk koper.”


Finn hanya mengangguk, tak berniat menyahut.


Roy laksana istri kedua bagi Finn. Mengurus segala hal, sampai pakaian pun sang asisten yang menyiapkannya. Hal tersebut bukan baru-baru saja dilakukan. Melainkan sudah berjalan selama empat tahun. Semua sudah seperti menjadi tugas wajib bagi pria bertubuh tinggi, tegap, berambut cepak, kulit sawo matang, dan memiliki garis wajah tegas dengan hidung mancung juga bibir yang tipis.


Selama perjalanan, Finn memilih memejamkan mata. Ia masih mengantuk, mengingat waktu tidur semalam baru beberapa jam saja.


🌺🌺🌺


Tepat pukul 13.00, Finn dan Roy sudah memasuki ruang pertemuan. Mereka telah siap berkompetisi dalam perebutan proyek.


Di tengah era agresif ini, industri konstruksi merupakan bisnis yang kompetitif. Dengan skill mumpuni, kontraktor harus pintar memilih proyek.


Owner pun biasanya akan memilih kontraktor secara kriteria umum. Pertama, tawaran dengan harga terendah. Untuk hal tersebut biasanya Finn tidak akan mau. Bagi sang ceo sesuatu yang berkualitas harus dibayar dengan harga sebanding.


Meski tengah berkompetisi, tetapi menurunkan kedua hal tersebut tak akan pernah Finn lakukan. Suami dari Sandra itu pun tak mau mengambil risiko Field Construction dipandang sebagai perusahaan yang kurang kredibilitas.


Kedua, nilai kualifikasi dan harga terbaik. Untuk hal tersebut, Finn sudah mempersiapkan diri agar lolos. Selain lulusan terbaik jurusan arsitektur dari salah satu universitas ternama di Amerika Serikat. Meski tergolong masih muda, ia pun memiliki cukup pengalaman dalam pembangunan. Walaupun tergolong perusahaan kecil, tetapi untuk kualitas bisa dikatakan sejajar dengan yang sudah memiliki nama.


Ketiga, hanya kualifikasi saja.


Merasa percaya diri akan memenangkan tender. Finn terus mengembangkan senyum. Masalah dengan Sandra pun hampir lupa. Lebih tepatnya ia tak memiliki waktu untuk mengingat. Di sela-sela waktu luang, Finn dan Roy akan mengurus Liam Group. Jadi, kekusutan hidup terbunuh oleh kesibukan juga.


Lagi-lagi alasan kesibukan muncul ke permukaan. Terdengar sepele, tetapi ternyata memiliki efek samping mematikan.


Tiga hari kemudian


Butuh waktu beberapa hari untuk mengikuti kompetisi proyek. Kebetulan hari ini adalah waktu terakhir. Tinggal menunggu pengumuan pemenang lusa nanti. Setelah makan malam, Finn dan Roy akan kembali ke Jakarta.


“Bos, tadi pagi Ibu Sandra menelepon. Menanyakan kabar Anda. Saya jawab Anda baik-baik saja. Lalu, bertanya lagi Anda ada di mana dan kapan pulang? Saya menjawab semuanya dengan jujur tentang keberadaan dan kapan kita kembali ke Jakarta.” Roy memberi tahu Finn mengenai pembicaraan dengan Sandra.


Finn yang sedang sibuk dengan dokumen di tangan, menatap Roy sekilas kemudian mengangguk.


“Ibu Sandra bilang, Anda disuruh untuk membuka pesan dan mengangkat teleponnya,” lanjut Roy lagi masih dalam misi menyampaikan amanat.


“Roy, sudah kau rapikan semua keperluan kepulangan kita nanti.” Finn mengalihkan pembicaraan.


“Sudah, Bos. Semua beres.”

__ADS_1


“Jam berapa kita berangkat ke bandara?”


“Jam delapan, Bos.”


Finn mengangguk.


Bandara Soekarno-Hatta


Meskipun lelah mengejar sebuah proyek, tetapi merupakan kesenangan tersendiri bagi Finn. Ia merasa memiliki kepuasan. Apalagi kalau sampai menang tender. Pria itu akan bersorak gembira.


Bukan Finn tak senang atau tak bangga menjadi anak dari pemilik salah satu perusahaan besar. Hanya saja merupakan tantangan sekaligus unjuk gigi membangun usaha dari nol. Jika berhasil mencapai kesuksesan besar adalah suatu kebanggaan.


“Bos, biar saya antar Anda sampai rumah.” Roy menawarkan diri. Ia memang sengaja saat berangkat membawa mobilnya dan memarkir di bandara.


“Tidak usah. Kau pulanglah. Aku bisa naik taksi. Bawakan saja semua barangku bersamamu.”


“Tapi, Bos ....”


“Roy Aldebaran, menurut atau aku potong gajimu.”


“Saya hanya berniat baik, Bos. Saya tahu Anda lelah.”


“Tidak usah sok peduli. Sana cari istri untuk menyalurkan perhatianmu. Jadi, aku tidak perlu lagi mendengar kata-katamu itu.” Usai mengatakan hal tersebut Finn tersenyum ngenas kemudian menggeleng. Menikah? Rumah tanggaku pun tak jelas. Dasar kau bodoh, Finn Elard!


“Ya, sudah. Saya pulang duluan, Bos.”


Finn mengangguk. Ia melangkah menuju salah satu taksi biru. Menaikinya dan meminta sang supir mengantar ke Club.


Satu jam kemudian


Ingar-bingar-musik terdengar menyenangkan di telinga Finn. Sudah lama pria itu tak bertandang ke Club.


“Finn Elard!”


Finn menoleh dan tersenyum. “James! Wah, surprise sekali lo ada disini.”


“Terbalik. Harusnya gue yang terkejut. Mentang-mentang sudah nikah lupa sama club.”


“Sorry. Gue sibuk banget.”


“Sibuk mengeloni istri di rumah, huh?”


Finn tertawa kecil. Ia tak menjawab pertanyaan James. “Beri gue wine. Enggak pake lama. Gue duduk di sana.” Tunjuk Finn lewat ekor mata seraya menepuk bahu sang pemilik club.

__ADS_1


“Oke.” James memberikan dua jempolnya.


Selang beberapa menit, James datang membawa satu botol wine. Ia menuangkan ke dalam gelas untuk Finn.


“Lo gak ikut minum?”


“Sorry, Finn. Gue banyak kerjaan. Bisa berabe kalo gue minum.”


Finn mengangguk.


“Gimana kabar lo, Finn? Makin sukses aja, nih,” lanjut James.


Finn hanya tersenyum. Tak berniat menyahut.


“Gue cabut dulu, Finn. Sorry, biasa mau akhir bulan. Kerjaan banyak,” pamit James.


“Oke. Thanks minumannya. Enak dan menyegarkan.”


“Buat lo harus yang terbaik.” James menepuk bahu Finn kemudian berlalu pergi.


Finn butuh penyegaran agar otaknya tidak meledak. Jadi, ia memutuskan ketika sampai bandara untuk berkunjung ke Club.


Sengaja Finn tidak memberi tahu Roy. Ia tak mau sang asisten mengikuti.


“Boleh ikut bergabung?”


Finn mendongak mendengar suara lembut tersebut. Di depannya kini berdiri sesosok wanita berkulit putih, semampai, memiliki wajah mungil dengan hidung kecil dan bibir tipis. Perempuan tersebut mengenakan pakaian yang cukup menantang. Rambut ikalnya tergerai dengan indah sampai bahu.


Finn mengamati dari atas sampai bawah. Tersenyum dan mengangguk. Ia mempersilakan wanita tersebut duduk di sebelahnya.


Finn meminta salah seorang pelayan memberi satu gelas lagi. Setelah itu sang ceo menuangkan wine ke dalam gelas kosong tersebut. Keduanya bersulang seraya saling menatap lekat dan melempar senyuman.


Tak terasa satu jam mereka bersenda gurau. Finn meladeni jokes wanita tersebut dengan tertawa. Ia cukup terhibur.


“Mau bermalam denganku, Tuan Tampan? Aku pastikan kau tak akan melupakan malam ini seumur hidupmu,” ucap sang wanita dengan aksen manja. Tangan pun bergerilya menyentuh lengan Finn sampai ke jemari. Menautkan kedua jari mereka kemudian tersenyum menggoda.


Finn membiarkan kelakuan genit wanita tersebut. Kemudian, tersenyum dengan sorot mata berkabut gairah.


“Menarik.”


Perempuan berpakaian seksi itu tersenyum penuh kemenangan. “Ayo!” Wanita tersebut beranjak bangun dan menarik tangan Finn agar mengikutinya. Masuk ke kamar yang memang tersedia di Club.


Sementara di tempat lain, di sebuah rumah yang berdampingan dengan danau buatan. Seorang wanita tengah menatap langit malam lewat balkon kamar. Wajah tersebut menyiratkan kesedihan.

__ADS_1


“Honey, kamu di mana? Aku rindu.” Air mata pun mulai meluncur bebas.


__ADS_2