ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Bertaruh


__ADS_3

Desakan terbesar kepada Finn dan Sandra untuk segera menikah memang memiliki latar belakang. Salah satunya adalah karena Diana dan Helena ikut arisan istri-istri pengusaha.


Setiap satu bulan sekali rutin dilakukan dengan bergilir. Kegiatan pada umumnya saja. Siapa nama yang keluar, bulan depan berkumpul di rumah sang pemenang.


Secara kebetulan, Diana dan Helena ikut nimbrung di tempat perkumpulan yang sama. Keduanya selalu merasa keki sekaligus jealous ketika teman-teman arisan mereka bergosip atau membanggakan para menantu.


Pasalnya, Diana dan Helena juga ingin melakukan hal yang sama seperti mereka. Namun, tidak bisa.


Bahkan, banyak di antara teman-temannya menceritakan cucu-cucu yang menggemaskan. Pembicaraan tersebut semakin membuat keduanya tak sabar untuk menyuruh sang anak menikah.


“Jeng Diana, kenapa gak menjodohkan saja putranya dengan putri Jeng Helena? Kan mereka sama-sama masih single.”


Diana dan Helena saling melemparkan pandangan dengan pemikiran masing-masing.


Maunya juga begitu. Tapi, apa anak baik dan sopan seperti Sandra setuju dijodohkan? Secara si Finn playboy kelas kakap. Kasihan nanti kalau hanya menjadi permainan saja. Duh, memang bikin emosi saja anak itu. Entah menurun dari mana memiliki sifat buruk begitu? Diana membatin, kesal.


Jeng Diana ini istri pengusaha sukses. Anaknya dengar-dengar CEO. Apa mau sama Sandra? Anggun enggak. Berisik, iya. Mana ribut terus sama Tristan. Mau bilang ‘iya’ juga tahu diri. Pasti putranya akan menolak. Helena membatin.


🌺🌺🌺




Suara tembakan terus berbunyi. Papan sasaran di depan menjadi tempat mata berfokus. Olahraga yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Kesabaran dan ketelitian juga sama diperlukan untuk membidik target agar tepat sasaran.


“Good, Sandra!” puji Pak Wira, Instruktur Profesional yang mendampingi Sandra.


“Wow! Mataku mulai panas. Padahal baru 20 peluru.” Sandra tertawa.


Pak Wira menepuk bahu Sandra. “Sudah banyak kemajuan. Caramu menembak semakin baik.”


“Berarti sebentar lagi aku bisa memiliki senjata api, ya, Pak Wira?”


“Tentu. Kalau sudah memilikinya gunakan dengan bijak.”


“Siap.”


“Ayo, kita mulai lagi!”


“Oke.”


Sandra mulai membidik lagi target di depan. Satu kali tembakan berhasil mengenai tepat di tengah.


Kerja keras Sandra mendapat tepuk tangan meriah. Seseorang yang berdiri tak jauh dari sang desainer interior yang melakukannya.


Sandra menoleh. Ia tercengang melihat siapa sosok tersebut.


“Finn! Apa kabar?” sapa Wira.


“Kabar baik, Pak Wira.”


“Sudah lama tak kesini? Sibuk sekali rupanya CEO kita ini.”


Finn tertawa. “Begitulah.” Kemudian Finn menatap Sandra. “Apa kabar, Sandra?”


“Loh, kalian saling mengenal?” tanya Wira.


“Iya. Bahkan, kita berdua sangat dekat. Bukan begitu, Sandra Rein?” jawab Finn dan balik bertanya ke arah sang desainer interior.

__ADS_1


“Ah, kau itu Finn, selalu pintar memilih wanita. Tapi, kali ini kau harus berhati-hati. Berani menyakitinya, bisa di dor kepalamu. Bukan begitu, Sandra?”


“Ya, Pak Wira. Aku akan pastikan peluru menembus kepalanya jika bermain-main dengan Sandra Rein.” Sang desainer interior berkata dengan nada dingin.


“Kau menyeramkan, Sandra.” Wira tertawa. Menganggap hal tersebut hanya bercanda. “Baiklah, aku tinggal kalian sebentar.” Ia menepuk bahu Finn dan Sandra, pamit.


Finn dan Sandra mengangguk.


“Aku cukup merinding mendengar ucapanmu, Baby.”


“Kalau begitu, sebelum terjadi lebih baik menjauhlah.”


“Tidak akan pernah, Baby.”


Sandra menahan geram. Ia mengabaikan Finn kemudian membidik kembali. Melepaskan lagi tembakan dengan tepat.


“Well, kamu hebat.”


“Tentu saja.”


“Bagaimana kalau kita bertanding? Siapa yang menang harus mentraktir makan.”


“Tidak!”


“Tak bernyali rupanya,” provokasi Finn dengan sengaja.


Sandra menatap Finn tajam. "Ka ....”


“Ah, maaf agak lama, Sandra, Finn!” Wira datang dengan membawa ear protector untuk sang ceo.


“Tak apa, Pak Wira. Kita sedang berdiskusi untuk bertanding dan Anda wasitnya."


“Ayo, kalian bertanding!” Kemudian, Wira menatap sang ceo. “Finn, meskipun kau jago menembak, tetapi jangan meremehkan Sandra. Ia sudah semakin mahir.”


“Ya. Sepertinya, kali ini lawanku sangat tangguh.”


Keduanya saling melempar pandangan. Sandra dengan tatapan tajam. Sementara Finn justru tersenyum manis seraya mengerling.


“Ayo, kita mulai saja!” Wira bersemangat.


Sandra dan Finn sudah mulai dengan senjata mereka masing-masing. Begitu mendengar suara Wira, keduanya secara berbarengan menembak.


Tepuk tangan dari Wira menggema. Keduanya berhasil mengenai sasaran dengan tepat.


“Good job, Sandra! Finn! Kita mulai lagi!”


Sebelum melakukan tembakan kedua, Sandra dan Finn saling bersitatap. Lalu, berfokus kembali ke depan dan bersiap menembak.


Untuk kedua kali, Sandra dan Finn kembali mengenai sasaran dengan tepat.


“Satu kali lagi. Bersiaplah. Konsentrasi. Semangat Sandra! Finn! Mulai!”


Peluru memelesat lurus ke depan. Finn tepat mengenai sasaran, tetapi hasil tembakan Sandra meminggir.


“O, Baby. I’m so sorry. You lose."


Sandra menghela napas berat. “Selamat.” Ia menatap Finn datar.


“Thanks.”

__ADS_1


“Selamat, Finn! Selalu juara.” Wira menyalami sang ceo.


“Thanks.”


Kemudian, Wira beralih menatap Sandra. “Sandra, kau juga hebat. Next time, kalian bisa bertanding lagi.”


“Ini pertandingan pertama dan terakhir, Pak Wira.” Sandra menegaskan.


“Jangan begitu. Apa kamu sedih karena kalah sehingga kapok? Taruhan kita pun tidak besar.” Finn memanasi.


“Apa taruhan kalian?” tanya Wira penasaran.


“Traktir makan,” jawab Finn.


Wira menggeleng. Memilih tak mau menyahut. Ia tak mau ikut campur urusan mereka berdua. Pasalnya, instruktur itu cukup tahu kalau taruhan tersebut pasti hanya akal-akalan Finn saja.


“Baiklah, Sandra. Latihan kita cukup sampai disini.”


“Terima kasih, Pak Wira.”


“Thanks, Pak Wira.”


“Ya. Bersenang-senanglah kalian. Aku pergi dulu.” Wira menepuk bahu Sandra dan Finn. Kemudian, berlalu pergi.


Keduanya hanya menganggukkan kepala tanpa menyahut.


“Well, Baby. Mau mentraktirku di mana?”


“Bisa berhenti memanggilku ‘Baby’? Aku tidak suka.”


“Tergantung situasi.”


Sandra berdecak. “Menyebalkan!” Ia berlalu pergi.


Finn mengekor di belakang.


🌺🌺🌺


Sandra menepati janji untuk mentraktir. Walaupun ia merasa hanya Finn yang menyetujui taruhan tersebut. Tapi, mereka sudah melakukan pertandingan. Itu artinya secara tak langsung ikut setuju.


“Kamu suka kue manis dan asin?” Finn bertanya bukan hanya sekadar berbasa-basi. Karena, pesanan Sandra hampir rata sama banyaknya.


“Keduanya harus seimbang. Setelah makan manis, aku pasti meneruskan mencicipi yang gurih. Berlaku juga sebaliknya.”


Finn mengangguk. “Aku akan mengingat itu, Baby. Dan, terima kasih untuk traktirannya.”


“Tentu. Aku cukup bangga bisa mentraktir pria kaya sepertimu. Pasti ini pertama kali untukmu ditraktir oleh seorang wanita, 'kan?”


Finn tertawa. “Tebakanmu benar. Kamu orang pertama.”


Finn dan Sandra memilih tempat santai yang menyediakan menu coffee and pastry.


Tiga puluh menit kemudian


Satu pesan masuk di aplikasi hijau milik Finn. Setelah membuka, wajahnya langsung menampilkan mimik bingung. Menolak alamat sang mami akan murka. Menerima itu artinya meninggalkan Sandra.


[Jemput Mami]


Selang beberapa menit kemudian, satu pesan masuk juga berbunyi di aplikasi hijau milik Sandra. Membuka dan melihat. Ia justru antusias. Itu kesempatan untuk pergi dari Finn.

__ADS_1


[Jemput Bunda]


__ADS_2