
Satu bulan yang lalu
Diana dan Chris tiba di rumah sakit. Mereka berjalan cukup cepat menuju Ruang ICU. Dari kejauhan, keduanya melihat sang putra duduk di lantai. Menyandarkan tubuh di depan pintu tersebut dengan Roy menemani.
Begitu mendekat, tanpa rasa belas kasih, Diana menyuruh Finn bangun. Kemudian, menampar wajah sang putra. Pukulan pun dengan buas diberikan. Luapan emosi tak terelakkan.
Sementara Finn hanya diam. Ia menerima semua yang Diana lakukan.
“Sudah Mami bilang jangan pernah menyakiti istrimu! Sudah memberi Sandra sakit hati dengan berselingkuh. Sekarang lihat! Kamu membuatnya celaka! Anak kurang ajar! Suami macam apa kamu, Finn? Gusti! Dosa apa aku memiliki putra bajingan seperti ini?” Diana setengah berteriak.
“Mi, Finn tidak berselingkuh.”
Satu tamparan kembali mendarat. Chris melerai dengan memegangi Diana agar berhenti memukul Finn.
“Papi! Jangan menghalangi Mami menghajar anak ini! Biar dia sadar!” Kemudian, Diana menatap tajam Finn. Melepaskan tangan sang suami secara kasar. Saat terlepas, ibu satu orang anak itu mengambil sebuah ponsel. Ia memperlihatkan video dan foto yang dikirim dari orang yang tidak dikenal. “Lihat ini! Kamu bermain dengan jalang! Sungguh memalukan!”
Finn tercengang melihat foto dan video tersebut. “Mami, Finn bisa menjelaskan.”
Namun, semua terlambat ketika Helena datang dan mengambil ponsel tersebut. Ia dan suami melihat dengan mata melotot berkabut amarah.
Helena menampar Finn. Memegang erat baju sang menantu. Mengguncangkan secara kasar.
“Apa salah putriku? Kenapa sedemikian rupa kamu menyakitinya, Finn? Atau kecelakaan ini kerja sama antara kamu dan Kanaya agar kalian bisa bersama?” Rentetan pertanyaan beserta tuduhan dengan setengah berteriak dilayangkan Helena. Tentu, ia sangat mengenal siapa aktris dalam foto dan video tersebut.
Diana dan Helena cukup sadar mereka berada di depan Ruang ICU. Jadi, tak berani memberi suara dengan nada sangat tinggi.
“Bunda, Finn bisa menjelaskan.”
“Mau menjelaskan apa lagi kamu, hah?” tanya Helena kesal.
Lalu, suara teriakan histeris dari Diana menggema. Mengalihkan kemarahan Helena. Theo anfal dengan tangan memegangi bagian dada. Bersyukur Chris melihat dan langsung menangkapnya sehingga tak sampai jatuh ke lantai.
“AYAH!” Helena turut histeris.
Finn refleks ingin membopong sang mertua, tetapi ditepis Helena. Bunda Sandra itu tak mengizinkan sang menantu menyentuh suaminya.
Akhirnya, Roy yang sedari tadi diam karena tak berani ikut campur. Mengangkat Theo menuju ruang UGD. Helena mengekor.
“Mami, segera hubungi Papi jika keadaan Theo memburuk. Papi disini akan menemani Finn lebih dulu.”
Diana mengangguk dan segera menyusul Roy dan Helena.
__ADS_1
Chris menuntun sang putra agar duduk. Finn menurut.
Beberapa saat dalam keheningan. Sampai akhirnya suara Chris mulai memecah sunyi.
“Apa kabarmu, Nak?” tanya Chris menatap lekat sang putra.
Finn menoleh. “Buruk.” Kemudian, menunduk lemah.
“Kamu sudah makan?”
Finn menggeleng. “Aku tak berselera.”
Chris terdiam sejenak. “Papi tahu kamu pria yang kuat. Saatnya bertanggung jawab atas semua ulahmu sendiri.”
“Aku tidak berselingkuh, Pi. Aku berani sumpah.” Finn menggeleng lemah, menahan frustrasi.
“Jadi, bukti video dan foto itu ... menurutmu palsu?”
Finn terdiam sejenak. Kemudian, berkata lirih, “Itu benar.” Ia menyesali kebodohannya.
“Kalian tidur bersama?”
Chris menepuk bahu Finn pelan dan mengacak rambut sang putra. “Kamu punya musuh?”
Finn berdiri tegak dan kembali menatap lekat sang papi. “Musuh?”
Finn dan Chris saling melempar pandangan. Mata mereka menyiratkan sesuatu.
Beberapa saat dalam keheningan
“Kita bicara berdua, empat mata. Semuanya, Papi harus tahu.”
“Aku sangat membencimu, Pi. Kenapa tidak pernah memarahi atau memukulku jika berbuat salah? Seperti apa yang Mami lakukan tadi. Malah selalu mengajakku berbicara.”
Kemarahan dan pukulan tidak akan menyelesaikan masalah, Nak, batin Chris.
“Jadi, kamu sudah mengakui salah?”
“Iya, Pi. Tapi, aku tidak tidur dengannya. Terserah Papi percaya atau tidak.”
“Dengan reputasi bajingan yang melekat. Apakah menurutmu layak mendapatkan kepercayaan?”
__ADS_1
“Pi, aku sedang cemas memikirkan Sandra dan Ayah Theo. Bisakah kita berbicara nanti?”
“Papi ingin kamu membuat surat dan video pengunduran diri sebagai CEO Liam Group secara resmi. Buat segera, hari ini. Besok pagi akan Papi rilis di depan media. Jadi, kamu tidak perlu muncul langsung di hadapan mereka,” titah Theo dan mengabaikan permintaan Finn.
Finn tersenyum sinis. Ia tidak kaget, hanya heran saja. Lagi pula, sejak awal memang tak menginginkan posisi tersebut.
“Papi yang meminta sampai memaksa agar aku menjadi CEO Liam Group. Lalu, sekarang Papi juga yang menginginkan aku mundur.”
Chris tersenyum misterius. “Segera kerjakan apa yang Papi perintahkan. Suruh Roy membantumu.” Ia tidak berniat menyahuti perkataan keheranan sang putra.
Finn menatap lekat Chris dengan dahi berkerut. Karena, ditanggapi seolah-olah cuek oleh pria paruh baya yang tak pernah meninggikan suara di depan istri dan anaknya itu.
Pembicaraan antara laki-laki kembali bergulir. Mimik Chris tak pernah berubah, selalu tenang dan santai. Padahal, obrolan serius tersebut termasuk kategori berat.
Gesture yang diam-diam selalu Finn tiru sejak kecil sampai saat ini. Meskipun baru saja mengutarakan kebencian, tetapi itu bukan dalam artian sebenarnya. Ia mengatakan hal tersebut karena merasa kesal.
Pasalnya, tak pernah bisa memiliki ketenangan yang sama seperti Chris. Dan, itu menimbulkan rasa benci. Kenapa ia tak bisa sepenuhnya sama seperti sang papi?
Dalam diam pun, Finn sangat mengagumi Chris. Orang tua yang selalu bisa menenangkan gejolak emosinya dengan baik lewat pembawaan tenang. Masalah seberat apa pun seolah-olah tak bisa menembusi kemarahan sang papi.
Oleh sebab itu, ketika memiliki masalah keuangan dalam pembangunan. Finn enggan meminta bantuan.
Karena, Chris selalu mengatakan kepada sang putra jika memilki kesulitan ekonomi dan meminta bantuannya. Finn harus menyatukan Field Construction dan Liam Group. Syarat yang diartikan oleh suami dari Sandra itu seperti ancaman.
Jika protes pun percuma. Karena, sang papi akan menanggapi dengan santai dan tentu tenang, tetapi dengan pendirian yang kukuh.
“Well, pembicaraan kita cukup sampai disini. Untuk ke depan, mungkin akan terasa berat, Nak. Tapi, kamu memang harus menerima konsekuensi atas semua perbuatan. Atau butuh bantuan Papi?”
Finn langsung menggeleng cepat. “Tidak, Pi. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri.” Sisi egoisnya kembali bermain.
“Oke. Papi tidak akan turut campur. Yang penting, Papi sudah memperingatkanmu. Sesusah apa pun kamu nanti, Papi akan diam. Jika sudah tidak tahan dengan kemiskinan, kamu bisa menghubungi Papi." Chris tersenyum dan mengerling. Ia menggoda sang putra.
“Papi, aku tidak akan jatuh miskin.” Finn berkata penuh percaya diri.
“Kalau begitu bagus. Buktikanlah. Tapi, sekarang waktunya bersiap.” Chris tersenyum. Kemudian, menepuk kepala Finn lembut.
"Asal Sandra tetap berada di sisiku. Aku siap, Pi."
"Untuk hal tersebut kamu harus berjuang sendiri. Ingat, jangan bermain kasar. Meskipun nanti mereka akan melakukan hal sebaliknya kepadamu. Hadapilah mertuamu sendiri untuk merebut Sandra. Papi hanya akan menjadi penonton."
Finn menghela napas berat. Sial! Masalah semakin berat saja. Sandra, aku harap kamu selalu dan selamanya tetap berada di sisi pria bodoh ini, batinnya.
__ADS_1