ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Tanda berwarna merah


__ADS_3

Besok libur, ya, Guys 😉


HAPPY WEEKEND 💞


HAPPY READING 🤗


Kuy, cekidot 😊


Baru saja orang yang ditunggu turun dari mobil. Vivian dan Tristan berteriak. Meneriakkan nama Sandra.


Tristan dan Vivian memang sengaja menunggu Sandra di luar pagar rumah. Setelah sebelumnya, mencari ke sana-kemari. Namun, hasilnya nihil.


Vivian pun langsung berlari kepelukan Sandra. “Lo ke mana, sih, Sand? Sumpah gue khawatir banget.”


“Tristan, sorry gue bawa Sandra,” ucap Finn merasa tak enak hati.


“Vi, bawa Sandra ke dalam,” pinta Tristan.


“Iya. Ayo, Sand.”


Sandra mengangguk.


Setelah memastikan mereka masuk. Tristan berdiri menghadap Finn seraya bertolak pinggang dengan wajah mengeras. Nada bicara pun cukup tinggi. “Lo bawa ke mana Sandra?”


Finn menceritakan perihal masalah di Club. Lalu, meminta maaf kepada Tristan karena tak tahu jika Sandra bersama Vivian.


Finn baru mendengarkan dengan baik cerita Sandra saat perjalanan pulang. Saat itu juga ia langsung merasa bersalah.


Mendengar hal tersebut, wajah Tristan mulai santai kembali. Ia bersandar pada mobil Finn dan kembali menyimak penjelasan CEO itu.


Finn melanjutkan cerita. Ia memberi tahu Tristan kalau baru saja mengajak Sandra ke Rumah Danau. Tempat berteduh untuk sang calon istri dan keluarganya kelak. Terakhir, tentang lamaran dadakan.


“Lo melamar Sandra?” tanya Tristan sudah menurunkan ritme bicaranya menjadi normal.


“Iya, tetapi Sandra masih ragu. Padahal kalo aja adek lo bilang ‘iya’, hari ini juga gue bawa nyokap-bokap untuk meresmikan”


“Jadi, ditolak?”


“Entah. Sandra hanya bilang masih ragu karena reputasi playboy gue.”


Tristan tertawa. “Finn, sorry, nih. Bukan mau mengecilkan semangat lo. Tapi, cowok kayak lo bakal susah mendapatkan Sandra. Dia punya trauma dengan perselingkuhan.”


“Trauma?”


Tristan menceritakan perihal semua kisah asmara sang adik yang selalu berakhir tragis. Putus dalam keadaan selalu si pria berselingkuh. Dan, itu membuat Sandra enggan berdekatan dengan lelaki playboy.


“Pantes, dari awal Sandra udah sinis sama gue.”


“Adek gue memang lagi dikejar-kejar nyokap buat nikah. Tapi, gue rasa Sandra tetap pada keinginannya itu. Mencari lelaki setia. Lo sendiri memang kaya raya tajir melintir. Muka juga ganteng. Sandra pun kebenaran hobinya shopping, traveling, ya, wanita pada umumnya aja. Tapi, doi pake duit sendiri. Jarang nyusahin bokap gue.” Tristan menerangkan.

__ADS_1


Tristan menepuk bahu Finn satu kali. “Jadi, percuma kalo lo mendekatinya dengan limpahan harta. Sampe kasih lihat rumah segala. Gue rasa, Sandra cukup punya cowok pekerja keras dan setia aja pasti mau. Sayangnya citra lo itu playboy.” Lanjutnya.


“Gue udah insaf. Sandra pasti mau, 'kan?”


Tristan mengangkat kedua bahunya. “Mungkin. Memang lo serius sama Sandra? Doi berisik, hobinya teriak. Yakin betah lo sama model begitu?”


Finn tertawa. “Lo lagi membicarakan adek sendiri, Trist. Bukan cerita yang bagus-bagus malah menjatuhkan.”


“Apa adanya lebih baik. Daripada lu mikirnya adek gue macam bidadari lemah lembut. Gue kasih tahu, ya. Jauh, Finn! Sandra tu Mak Lampir.”


Tristan dan Finn tertawa.


“Tapi, gue suka Sandra. Lo kasih gue lampu hijau gak, nih?”


“Bolehlah. Asal kasih gue banyak proyek.”


“Beres.”


Keduanya tertawa kembali.


Tristan menghentikan tawanya dan memasang wajah serius. “Lo lihat Sandra dari segi apa? Sorry, Finn. Setahu gue barisan mantan lo rata-rata cantik. Kalo gak model, artis, ya, anak pejabat, atau anak pengusaha besar. Walaupun gue heran, mereka kece aja bakal mainan lo doang. Apa kabar adek gue? Hanya cewek dan anak pebisnis biasa.”


“Sandra cantik banget, Trist. Justru gue semakin bangga kalo bisa dapet memiliki doi. Gue gak bakal mempermainkan adek lo. Lagi pula, berita begitu lo pasti tahu dari media, ‘kan?”


“Terus?”


Wanita-wanita yang sakit hati karena diputus begitu saja pun, tak jarang berbicara di media yang tidak-tidak. Finn tak pernah mengklarifikasi kebenaran. Karena, menurutnya tak penting. Lagi pula, ia tak suka membuang-buang waktu mengurusi kisah asmara palsu.


Di sebut don juan, casanova, playboy, bajingan, berengsek, atau lady killer pun, Finn tak peduli. Bahkan, banyak yang menyebutnya sering gonta-ganti pasangan tidur setiap malam saja, ia mengabaikannya.


“Gini, Trist. Kalo lo tanya apa yang gue lihat dari Sandra. Jujur gue juga bingung jawabnya apa. Yang jelas dia berbeda dari yang lain. Otak dan hati gue pun entah kenapa selalu ada adek lo. Dan, itu berlangsung sejak pertama kali kita bertemu sampai detik ini.”


Tristan menertawakan Finn. “Omongan lo macam playboy insaf beneran.”


“Kan tadi gue bilang. Gue udah insaf.” Hah! Kena batunya juga. Akibat keisengan sering bermain-main dengan banyak perempuan. Kapok sudah! Sandra harus menjadi wanita terakhir. Harus!


“Abis lo di tangan gue. Kalo sampe Sandra nanti nangis karena lo selingkuh.”


Finn tersenyum. “Baru kali ini ada yang mengancam dan gue gak marah. Tapi, ya, lo boleh melakukan apa aja sama gue kalo itu sampe terjadi.”


“Gue pegang omongan lo. Laki pantang ingkar.”


“Oke.”


Keduanya bersalaman, tanda kesepakatan beres.


“Okelah. Balik, deh. Jangan sampe nyokap gue lihat. Bisa gak dapet restu lo, bawa pulang anak gadisnya pagi buta gini. Eh, tetapi ini pertama dan terakhir. Next time, gak ada toleransi.”


“Oke. Gue gak bakal mengulang. Thanks, Trist.”

__ADS_1


Tristan mengangguk. “Selamat berjuang menaklukkan Mak Lampir.”


Finn tertawa. “Oke.”


Tristan tersenyum. Setelah mobil Finn melaju ia masuk ke rumah.


🌺🌺🌺


“Lo utang cerita sama gue.”


“Apa?”


“Siapa tu cowok keren nan ganteng bin seksi?”


Sandra memutar bola matanya malas. Ia masuk ke kamar mandi dan mengabaikan pertanyaan unfaedah dari Vivian.


Lima belas menit kemudian


Sandra keluar dengan sudah berganti pakaian. Ia hanya mencuci muka dan menyikat gigi. Mengikat rambut dengan gaya cepol. Kemudian, mendudukkan diri di samping Vivian di atas kasur.


“Nginep?”


“Baliklah.”


“Terus?”


“Lo belom jawab pertanyaan gue.”


“Pertanyaan lo gak penting buat gue jawab.”


Vivian memajukan bibirnya. Duduk menghadap Sandra dan melotot. “Pacar lo?”


Sandra berdecak dan tidak menjawab.


Tiba-tiba, Vivian mengubah mimik wajahnya. Menyipitkan mata kemudian memajukan kepala. Lalu, menunjuk dan menyentuh dengan jemari ke arah leher Sandra. Mencoba menghapus jejak merah, tetapi tak hilang.


“Apaan, sih, Vi?” tanya Sandra heran dengan kelakuan Vivian seraya menepis tangan sang sohib.


Vivian menatap Sandra curiga. Lalu, menunjuk jidat sohib sejak masih janin dengan telunjuk dan mendorong perlahan. Spontan adik dari Tristan memundurkan kepala.


“Lo ... berbuat mesum sama tu cowok?”


Sandra tercengang oleh pertanyaan konyol yang terdengar lebih ke arah tuduhan. Kemudian, menepis telunjuk Vivian agar menjauh.


“Gila lo! Enak aja. Mana ada begitu.”


“Tu buktinya leher lo ada bekasan sedot bibir doi.”


“Hah!” Sandra beranjak bangun dan melihat lehernya di cermin. Memandang, memeriksa. Kemudian, menggelegarlah teriakan sang desainer interior. “FINN ELARD!”

__ADS_1


__ADS_2