ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Tawaran kerja sama


__ADS_3

Atas titah sang ceo. Seluruh petinggi perusahaan beserta para ahli IT Hamilton Company mengadakan rapat secara mendadak. Setelah kemarin tiga kali database server mereka diserang virus. Harus ada langkah baru untuk mengantisipasi kejadian serupa agar tak terulang.


Kemarin, kejadian tersebut membuat Alexander sepanjang waktu murka. Sampai hari ini pun ia masih terlihat berang. Semua orang tanpa terkecuali menjadi santapan kemarahan sang ceo.


Di ruang rapat, Alexander juga menguarkan aroma horor hingga menimbulkan atmosfer menegangkan. Semua yang hadir, hampir rata mengeluarkan bulir keringat. Bahkan, AC yang cukup dingin tak menolong mereka sama sekali.


Sampai detik ini, orang-orang profesional di perusahan tersebut tak mampu mengetahui siapa sang tersangka. Sudah bisa ditebak, Alexander semakin menjadi monster bertaring tajam yang siap mengoyak-ngoyak para peserta rapat.


Siapa yang berani melawan sosok mengerikan di hadapan mereka. Untuk menatap saja rasanya tak sanggup, seperti ada ribuan jarum yang menghujani. Karena, sorot mata sang ceo sangat tajam.


Alexander memerintah dengan penuh penekanan agar semua bekerja dengan benar. Juga menyuruh mereka mengupayakan agar tak diserang virus kembali. Sang ceo pun mengancam, ‘jika sampai itu terjadi lagi, ia akan membuat mereka angkat kaki dari Hamilton Company secara tidak hormat’.


Semua menyahut serempak ‘mengerti’ disertai anggukan kepala. Namun, tatapan dialihkan ke mana pun asal tidak bertabrakan dengan sang ceo.


Ketika sang tuan muda sudah tak lagi berbicara, John mendekati Alexander dan berbisik, “Tuan Muda, Lady Sandra ada di lobi ingin bertemu dengan Anda.”


“APA?” Alexander refleks meneriakkan satu pertanyaan karena kaget.


“Iya, Tuan Muda. Apakah Anda bersedia menemuinya?”


“Tentu saja, Bodoh! Bawa Sandra ke ruanganku.” Alexander langsung beranjak bangun. Tanpa berbasa-basi pamit, langsung keluar ruang rapat.


Namun, tak berapa lama ia membalikkan badan. Hampir saja John yang persis berada di belakang menabrak.


“Iya, Tuan Muda. Apakah Anda berubah pikiran?”


“Tidak-tidak. Lihatlah pakaianku, rambut, wajah, atau apa pun. Apakah ada yang berantakan?”


John langsung menggeleng. “Semua sempurna, Tuan Muda.”


“Ah, begitu. Aku memang selalu tampan.” Alexander berjalan kembali. Wajah murka tadi telah berubah semringah.


Akan tetapi, kembali langkahnya terhenti. Kali ini, John sudah waspada dengan membuat jarak lima langkah di belakang sang tuan muda.


“Iya, Tuan Muda.”


“Beri suguhan berbagai kue manis dan asin. Calon istriku sangat menyukainya.”


John terdiam sejenak. Kata ‘calon istri’ sangat mengganggu indra pendengaran sang tangan kanan. Tapi, siapalah dia yang hanya seorang bawahan. Mengangguk patuh mutlak harus dilakukan agar selamat.


“Baik, Tuan Muda.”


“John, pastikan ruanganku bersih, wangi, dan rapi. Jangan membuatku malu.”


“Iya, Tuan Muda. Segera saya akan menyuruh seseorang untuk mengecek semua.”


“Bagus.” Alexander menepuk bahu sang tangan kanan. “Sepertinya aku gugup, John.”


“Tuan Muda, semua akan berjalan baik. Jadi, tidak perlu gugup.” John sendiri pun tak mengerti akan ucapannya barusan. Entahlah, apa yang berjalan baik? Ia hanya asal bicara.


Alexander mengangguk. “Suruh Sandra menunggu sebentar. Aku mau merapikan lagi pakaianku di toilet lain.”


“Baik, Tuan Muda.”


🌺🌺🌺


Lobi Hamilton Company


“Sand, lo yakin? Kok, gue deg-degan, ya?”


“Lo kenapa? Cupu kumat?”


“Bukan gilak! Lo lihat dong, ini kantor mevvah. Doi orkay. Pasti pengawalnya banyak. Pulang aja, deh. Daripada cari mati. Gue takut kita gak bisa keluar lagi dari sini.”


“Percaya, deh, Alex tu baik banget.”

__ADS_1


“Percaya sama Tuhan, Sand. Bukan sama elo.”


“Itu juga gue tahu. Lo serius dikit kenapa, sih?”


“Gue serius. Ini pertama kalinya gue resah. Berasa mau ke medan perang tahu, gak?”


“Lebay lo.”


“Beneran, Sand. Gue ….”


Ucapan Vivian terpotong oleh suara seseorang yang memanggil nama sang sohib.


“Ibu Sandra!”


Sandra menoleh. “Iya, saya.”


“Perkenalkan, nama saya John Beck. Asisten Pak Alexander, beliau meminta saya untuk mengantar Anda ke ruangannya.”


“Saya Sandra Rein.” Kemudian, memperkenalkan sang sahabat. “Ini vivian.”


John mengangguk. Lalu, meminta Sandra dan Vivian untuk mengikuti.


Sandra mengangguk. Ia dan Vivian mengekor John.


🌺🌺🌺


John mempersilakan masuk Sandra dan Vivian. Ia pun meminta mereka untuk duduk di sofa tamu dan menunggu sebentar sang tuan muda.


Mata Vivian berkeliling. Ia terperangah melihat ruang kantor CEO Hamilton Company yang mewah dan luas.


“Sand, lo yakin dulu hanya temenan sama Alex. Doi gak naksir gitu sama lo atau sebaliknya, mungkin?”


“Apa, sih, Vi? Melantur aja kalo ngomong. Gue sama Alex pure hanya teman.”


Beberapa menit kemudian suara pintu terbuka terdengar. Alexander melangkah mantap menuju sofa. John mengekor sang tuan muda. Beberapa office boy pun mengikuti di belakang menaruh makanan dan minuman pesanan atasan mereka.


My Lady? Gue berasa berada di ruang lingkup keluarga bangsawan Inggris. Vivian membatin.


Sandra refleks berdiri dan menjabat tangan Alexander. Kemudian, menyenggol kaki Vivian dengan sepatunya agar mengikutinya.


Vivian yang mengerti langsung beranjak bangun. Ia ikut menjabat tangan Alexander seraya memperkenalkan diri. Sang bule bangsawan mengangguk dan tersenyum.


Wangiiii beneeerrrr! Gue rasa parfum ini harganya mehong dan bukan lagi disemprot, tetapi diguyur. Ini bule fix metroseksual, klimis kinyis-kinyis banget. Kembali Vivian membatin.


“Apa kabarmu, My Lady?” tanya Alexander setelah mempersilakan Sandra dan Vivian duduk.


“Sandra, Lex. Jangan panggil ‘My Lady’,” protes Sandra.


“Iya, benar. Jangan panggil begitu. Kurang cocok sama muka Sandra yang Asia banget,” gamblang Vivian.


“Vi, please.” Sandra menggeleng. Vivian pun mengalah untuk diam.


“Surprise sekali kau datang kesini, Sandra.” Alexander mengubah panggilannya. Tapi, ia akan kembali memanggil ‘My Lady’ begitu berdua saja dengan sang wanita tercinta.


“Maaf mengejutkanmu, Lex,” ucap Sandra.


“No. Aku justru senang dengan kedatanganmu.” Alexander memberi sanggahan.


Sandra tersenyum. “Terima kasih.”


“Well, ada yang bisa aku bantu?” tanya Alexander.


“Aku ingin mengajukan kerja sama dengan Hamilton Company atas nama Field Construction. Aku dengar, perusahaanmu sedang membangun beberapa proyek. Mungkin kami bisa ikut terlibat di dalam. Ini berkas pengajuannya.” Sandra memberikan kepada Alexander. “Kau bisa membaca lebih dulu dengan cermat, barangkali berminat.”


Alexander mengambil berkas tersebut dan membacanya sekilas.

__ADS_1


“Beberapa bulan lalu, aku pernah mengajak kerja sama Field Construction. Namun, sayang ditolak sang owner, Finn Elard Liam.”


Sandra tersenyum. “Lalu, apakah sekarang bisa dipertimbangkan lagi? Barangkali, kau berubah pikiran?”


“Maaf, Sandra. Proyek itu sudah jalan.”


“Sayang sekali. Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu. Maaf, mengganggu waktumu, Lex.”


Alexander terlihat tidak senang melihat Sandra menunjukkan mimik kecewa kepadanya. Ia ingin membuat sang tercinta selalu bahagia ketika berada di dekatnya. Bukan malah menampilkan wajah tersebut. Apalagi, baru saja bertemu sudah mau pulang saja.


“John, coba kau cek mansion-ku. Sepertinya aku butuh seseorang untuk renovasi beberapa ruangan,” titah Alexander.


“Baik, Tuan Muda. Sebentar saya akan mengecek orang rumah Anda.” John kemudian pamit keluar ruangan.


“Kau desainer interior andal. Bagaimana jika mendesain beberapa ruang di mansion-ku? Aku butuh penyegaran.”


“Akan aku pertimbangkan, Lex.”


“Aku akan membayar mahal jika kau menyetujui.”


“Sungguh?”


“Tentu saja.”


“Baiklah kalau begitu. Kau kirim saja gambar ruang mansion-mu ke alamat email Field Construction. Nanti akan aku lihat. Apakah tertarik atau tidak? Karena, aku tahu kau seorang bangsawan yang memiliki selera tinggi. Takutnya, apa yang aku desain tak cocok denganmu.”


“Tidak-tidak. Apa pun yang akan kau buat nanti, aku pasti menyukainya.”


“Begitukah?”


“Iya.”


Sementara Vivian tak sedikit pun melepas pandangan dari Alexander. Ia menyimak setiap mimik dan perkataan sang bule. Menyimpannya di ruang kosong dalam otak agar tak berserak-serak.


“Oke. Sepertinya menarik. Aku akan membicarakan hal ini kepada bos-ku di kantor.”


“Bos? Bukankah kantor itu milik Finn?”


“Iya. Kalau di kantor, Finn adalah atasanku.”


Alexander mengangguk, mengerti.


Beberapa saat mereka berbincang-bincang. Kemudian, Sandra dan Vivian pamit pulang.


Setelah kepergian Sandra dan Vivian. Alexander memanggil John.


“Iya, Tuan Muda.”


“Kirim email kepada Field Construction. Minta desainer interiornya merenovasi kamarku dan ruang keluarga.”


“Baik, Tuan Muda.”


“John, urungkan niat untuk membunuh Finn. Aku ingin lelaki itu menyaksikan langsung pernikahan sang bangsawan tampan ini bersanding dengan mantan istrinya nanti. Dia harus merasakan sakit hati yang sama sepertiku.”


“Baik, Tuan Muda.” John merasa lega sang atasan mengurungkan niat jahatnya. Meski tetap tak menyukai rencana Alexander yang lain.


“Sandra Rein, ternyata begitu mudah menggenggammu ketimbang Finn Elard. Seharusnya dari awal, aku berfokus kepadamu saja.” Alexander menatap sang tangan kanan. “John, kemenanganku di depan mata.”


John tak menyahut. Ia malah menatap sang bos dengan pandangan tak terbaca. Kemudian, pamit undur diri.


🌺🌺🌺


Baru keluar dari lift dan ingin menuju lobi. Vivian terlebih dahulu meminta ke toilet. Sandra mengangguk.


Saat Sandra tengah menunggu Vivian di depan toilet, seseorang menghampiri. Lalu, orang tersebut mengatakan sesuatu yang membuat istri dari Finn itu menampilkan wajah terkejut.

__ADS_1


Sandra menyimak setiap kata yang keluar dari orang tersebut dan bergumam, tidak mungkin.


__ADS_2