ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)

ASMARA SANG CEO (Finn & Sandra)
Ruang rindu


__ADS_3

Episode kali ini mengambil sudut pandang dari Sandra.


Keesokan harinya


Ketika sadar dari kritis. Aku menatap satu per satu orang-orang di dalam ruangan. Dua keluarga kumplet, beserta Manda, Ramon, dan Vivian. Namun, Finn tak menampakkan batang hidungnya.


Ingin bertanya, tetapi enggan. Aku terlalu lelah berspekulasi jika jawaban dari apa yang ditanya nanti akan menimbulkan kecurigaan baru kepada Finn. Jadi, membisu adalah pilihan terbaik.


Satu pertanyaan saja aku ajukan. Mengenai janin yang tengah kukandung. Namun, mereka semua menunduk. Seolah-olah tak ada yang berani mengatakan tentang kebenaran.


Gesture dan raut wajah mereka cukup untuk kumengerti. Aku paham kalau janin tersebut pasti keguguran. Aku kembali diam.


Saat kecelakaan terjadi, aku sudah yakin janin tersebut pasti tak akan kuat. Mengingat kami bergulingan dengan sangat keras. Meski begitu, aku tak menangis atau berteriak histeris. Sekali lagi, aku memilih tenggelam dalam keheningan.


Semua memelukku. Tentu melakukannya satu per satu. Mereka menampakkan raut bahagia. Mungkin merasa lega karena aku masih hidup.


Namun, aku memasang wajah datar. Bibir pun hanya membentuk garis lurus. Aku terlalu capek jika harus tersenyum palsu.


Kata Bunda yang mencoba mengajakku bicara. Aku hampir 24 jam tak sadarkan diri. Aku hanya mendengarkan tanpa berniat menyahut.


Berbagai alat yang entah apa aku tak mengerti nama peralatan itu. Terpasang sempurna di beberapa bagian tubuhku. Kepala, kaki, tanganku pun dibalut perban. Aku sudah berada di ruang perawatan.


Tubuh seksiku nyaris tak bisa bergerak. Menyedihkan, bukan? Mungkin juga jika berkaca, wajah cantikku sekarang lebih mirip dengan zombi. Penuh luka. Ah, sepertinya selama beberapa saat, aku harus menghindari cermin.


Aku pun masih menunggu kedatangan Finn. Berharap suamiku mau menemui di tengah masa kesakitan dan kehilangan calon buah hati. Akan tetapi, sehari ... dua hari ... tiga hari ... sampai satu bulan tetap tak muncul.


Dokter tak mengizinkanku pulang dengan cepat. Mengingat kondisiku jauh dari kata pulih. Oleh sebab itu, aku harus di rawat inap.

__ADS_1


Dua keluarga pun sepakat memindahkanku ke salah satu rumah sakit terbaik di Jakarta. Setelah sebelumnya ingin melakukan recovery ke luar negeri, tetapi aku menolak.


Kondisi tubuhku kini sudah lebih baik. Aku sudah bisa berjalan meski masih tertatih-tatih. Makan sudah mulai terasa enak walaupun selalu bersisa. Luka yang tadi terasa sakit di sekujur tubuh pun berangsur membaik.


Sejak sadar sampai saat ini, aku hanya berbicara seperlunya. Di ajak mengobrol pun aku hanya diam.


Dengan memilih membisu. Sepertinya orangtua dan mertuaku khawatir. Oleh karena itu, mereka mendatangkan psikolog. Namun, aku tetap tak bersuara dan mengabaikan para ahli tersebut.


Aku tidak gila. Memang frustrasi, tetapi aku masih bisa mengatasinya dengan cara diam.


Lagi pula, aku tak membutuhkan psikolog. Aku hanya butuh ... Finn.


Saat ini, yang aku inginkan hanya cepat pulih dan segera keluar dari rumah sakit. Aku mau menyelesaikan semua masalah bersama Finn. Agar bisa memutuskan kelanjutan hubungan kami secepat mungkin.


Aku pun yakin kedua keluarga sudah mengetahui perihal masalah-masalah. Jadi, aku merasa tak perlu menjelaskan apa pun lagi.


Aku melangkah menuju jendela. Aku tak menatap jutaan bintang atau bulan benderang. Melainkan melihat ke arah bawah.


Kebetulan, jendela kamarku menghadap tepat dengan pemandangan bagian depan rumah sakit. Aku memandangi intens lalu lalang orang, berharap salah satunya adalah Finn.


Aku teringat beberapa hari lalu, Roy menelepon melalui ponsel seorang suster. Entah apa alasan asisten suamiku melakukan hal tersebut? Kenapa tidak langsung menemuiku saja?


Saat itu, dengan tergopoh seorang suster wanita masuk. Wajah suster tersebut menyiratkan ketakutan, seperti takut ketahuan. Karena, sebentar-sebentar menoleh ke arah pintu.


Lalu, suster itu memberikan sebuah ponsel kepadaku. Katanya ada seseorang ingin bicara.


Aku mengernyit, tetapi menerima ponsel tersebut. Menaruh di telinga.

__ADS_1


“Halo,” kataku mengawali pembicaraan.


“Selamat siang, Ibu Sandra. Saya, Roy.”


“Ada apa, Roy?” tanyaku langsung kepada inti. Jujur, hatiku seketika merasa cemas.


Roy menceritakan kepadaku perihal keadaan Finn. Katanya, suamiku sangat lusuh, hancur, dan mulai menutup diri.


Roy mengatakan lagi jika Finn sangat membutuhkan dukunganku. Belum sempat asisten suamiku menjelaskan secara spesifik. Pintu kamar terbuka menampilkan Bundaku. Refleks suster langsung mengambil dan menutup telepon.


Sejak saat itulah, kata-kata Roy selalu terngiang. Pertanyaan-pertanyaan di kepala mulai bermunculan. Kenapa keadaan Finn bisa seperti itu?


Tapi, yang membuat penasaran adalah kenapa Finn tak menemuiku sama sekali? Padahal, aku juga sama hancurnya.


Lalu, sebenarnya ada apa? Aku benci menerka-nerka.


Meski tengah dalam masa kerenggangan hubungan. Namun, ucapan Finn via telepon terakhir kali denganku mengindikasikan cinta masih ada. Aku menggeleng. Tidak-tidak, tetapi masih sangat mencintaiku.


Finn Elard masih mencintaiku. Tapi, kenapa sekarang menghilang?


Finn, kamu baik-baik saja kan? Tanpa sadar air mataku meluruh. Rasa cemas membuatku semakin nelangsa.


Tuhan! Jika kami harus berpisah. Pisahkanlah secara baik-baik. Seperti pernikahan kami yang dilakukan dengan ritual sesuai perintah-Mu.


Namun, jika Kau masih menghendaki kami bersama. Mudahkanlah jalan kami berdua untuk menyelesaikan segala masalah. Sehingga kami bisa bersama kembali.


Aku pasrah dan menerima apa pun kehendak-Mu nanti.

__ADS_1


__ADS_2